Skip to Content

Anak-anak Korban Merapi Pentas Teater

Foto Hikmat

Anak-anak korban bencana Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mementaskan teater bertema "Merapi Masih Tersenyum" di Studio Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (18/6) malam. Pentas dimainkan 30 anak yang menjadi korban bencana erupsi dan banjir lahar dingin Merapi dari Dusun Sirahan, Salakan, Jetis, Ngemplak, Ngampel, Wonolelo, dan Keron.

Pentas teater dengan sutradara Ismanto tersebut digelar di panggung terbuka dengan suasana alami. Dekorasi ditata dengan sederhana dengan beberapa lukisan dari anak-anak sebagai latar belakang.

Pementasan teater dengan durasi sekitar 30 menit tersebut berlangsung cukup menarik, meski anak-anak yang bukan pemain teater. Bahkan, mereka baru berlatih enam kali. Namun, mereka cukup menjiwai peran mereka.

Cerita dalam pementasan tersebut diawali dengan kegiatan anak-anak di sekitar Merapi, ada yang bermain play station, internet, bertelepon, dan menonton televisi. Di tengah kesibukan itu, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari puncak Merapi dan mereka pun kalang kabut untuk menyelamatkan diri. Bantuan pun datang, termasuk bantuan pakaian pantas pakai yang kemudian menjadi rebutan mereka karena barang terbatas.

Bencana Merapi tidak hanya pada erupsi. Mereka juga merasakan bencana banjir lahar dingin, yang telah menghancurkan sejumlah jembatan dan ruas jalan. Menjelang akhir cerita, para pemain satu per satu mengucapkan kata-kata mutiara untuk memotivasi mereka mewujudkan cita-citanya.

Pada penutupan pentas, mereka juga melantumkan lagu berkebun sebagai semangat untuk memulihkan perekonomian di sekitar lereng Merapi.

"Anak-anak bermain dengan senang hati dan mereka bermain bagus, meskipun hanya berlatih beberapa kali," kata budayawan Arswendo Atmowiloto selaku penggagas kegiatan tersebut.

Dikatakan Arswendo, kegiatan ini sebagai jalan budaya bagi korban Merapi, yakni pendekatan melalui budaya dengan ciri adanya dialog, berkarya nyata, menemukan kebebasan serta tidak menganggap pendekatan yang dilakukan menjadi satu-satunya kebenaran. "Ke depan kami mempunyai obsesi untuk menyatukan pentas dari anak-anak korban bencana alam, antara lain dari Merapi, Sidoarjo, dan Nias. Mereka bisa bermain sendiri-sendiri atau bisa juga berkolaborasi," katanya. (Ant/SHA)


Sumber: Liputan6.com, Minggu, 19/06/2011 11:36 WIB

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler