Skip to Content

Festival Drama Basa Sunda (FDBS) Pelajar Tahun 2011 Digelar

Foto Hikmat

Teater Sunda Kiwari (TSK) Bandung bekerja sama dengan HU Pikiran Rakyat menggelar FDBS Pelajar tahun 2011 di Gedung Kesenian (GK) Rumentangsiang, Jln. Baranangsiang Bandung, 7-27 Februari 2011.

Animo Tinggi, Tapi Kurang Mendapat Dukungan

Tingginya minat peserta Festival Drama Basa Sunda (FDBS) setiap tahun harus membuat panitia berpikir keras.

"Di satu sisi, kami bangga dengan animo para pelajar dan masyarakat mengikuti FDBS. Di sisi lain, kami kebingungan untuk mengakomodir keinginan para peserta, terutama mencari tempat pertunjukan (lomba)," ungkap panitia FDBS Pelajar yang juga Ketua TSK Bandung, Dadi P. Danusubrata yang ditemui di sela-sela pembukaan FDBS Pelajar 2011 di GK Rumentangsiang, Senin (7/2).

Untuk FDBS pelajar tahun ini, jumlah peserta mencapai 47 sekolah, namun dua di antaranya mengundurkan diri karena tidak ada izin dari kepala sekolah yang bersangkutan. Banyaknya peserta untuk sebuah festival drama tingkat pelajar yang pertama cukup berhasil, namun kurang mendapat dukungan terutama tempat penyelenggaraan, baik dari Pemerintah Kota Bandung maupun Pemprov Jabar.

Hingga saat ini, Kota Bandung belum atau bahkan tidak mempunyai gedung kesenian yang representatif untuk sebuah pergelaran drama dan FDBS, yang melibatkan puluhan bahkan ratusan orang. GK Rumentangsiang yang selama ini dijadikan tempat pementasan dan festival, dinilai sudah tidak layak lagi.

Ini pula yang dikeluhkan Dadi pada saat pembukaan FDBS Pelajar tahun 2011. Kondisi gedung yang sudah tak layak dan kedap suaranya sudah hilang, sehingga sering terdengar suara bising dari luar ketika pementasan berlangsung. "Untuk sebuah pementasan drama maupun festival dibutuhkan suasana hening, agar apresiasi dari penonton muncul tanpa terganggu suara dari luar," ujarnya.

Tidak hanya itu, Dadi pun mengeluhkan kurangnya naskah drama yang akan diperlombakan pada FDBS pelajar. Kebanyakan naskah drama lebih menceritakan tentang kisah orang dewasa (umum), sehingga kurang pas dimainkan oleh kalangan pelajar.

Untuk mengakalinya, TSK bersama Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) selalu menyelenggarakan sayembara penulisan naskah drama berbahasa Sunda, namun tetap saja kekurangan. Tahun ini tambahnya, hanya empat naskah yang diikutkan lomba FDBS pelajar.

Dadi mengaku, untuk menggelar sayembara naskah drama bahasa Sunda membutuhkan dana besar sebagai perangsang. Namun tetap saja, peserta sayembara jumlahnya sedikit.

Dadi pun mengaku cukup bangga setiap kali penyelenggaraan festival, jumlah pesertanya selalu membeludak. Ini artinya apresiasi dan minat masyarakat, terutama kalangan generasi muda pada drama basa Sunda cukup tinggi.

Masih diapresiasi

Karena itu Dadi pun menolak jika ada anggapan, bahwa bahasa Sunda sudah tidak digunakan dan diapresiasi oleh kalangan generasi muda. Menurutnya, setiap tahun jumlah peserta FDBS selalu meningkat, dengan demikian bahasa Sunda masih digunakan dan diapresiasi masyarakat. "Untuk satu grup saja minimal 30 orang. Jika dikalkulasikan dengan jumlah peserta, sudah berapa siswa yang mau belajar bahasa Sunda," ujarnya.

Namun sayang masih ada salah persepsi di kalangan kepala sekolah, sehingga tidak mengizinkan para siswanya mengikuti FDBS pelajar. Padahal, para siswa sudah berlatih keras dan mau belajar bahasa Sunda. "Ini menandakan kurang perhatian dari kepala sekolah, dan kurang dukungan dari dinas pendidikan di daerah," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Jabar, Uu Rukmana menyebutkan, teater drama basa Sunda adalah potret masyarakat Sunda yang sudah jarang ditemui. Sedangkan potret kekinian atau masa lalu, tergantung naskah yang dimainkan oleh grup teater. "Teater maupun FDBS adalah wadah untuk membangun jatidiri bangsa," katanya.

Sedangkan perwakilan HU Pikiran Rakyat, Soni Farid Maulana mengatakan, gedung pertunjukan kesenian di Bandung maupun di Jawa Barat sangat kurang, dan kalaupun ada keberadaannya kurang representatif.

Padahal Kota Bandung disebut-sebut sebagai etalase budaya Jawa Barat, namun tidak memiliki gedung yang representatif. "Saya minta, Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung mulai peduli pada gedung-gedung kesenian yang ada, bukannya membuat yang baru," katanya.

Hari pertama FDBS Pelajar menampilkan Teater Antix SMKN 1 Cimahi, membawakan judul "Nu Jaradi Korban" karya Hidayat Suryalaga dan Teater Tasbe B SMAN 1 Baleendah Kab. Bandung membawakan "Si Kabayan Jadi Dukun" karya Moh. Ambry.

FDBS pelajar ini diikuti 45 sekolah atau grup, dan akan berlangsung hingga 23 Februari 2011 mendatang di GK Rumentangsiang mulai pukul 10.00-17.00 WIB. (kiki kurnia/"GM")**


Galamedia (klik-galamedia.com), 08 Februari 2011

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.