Skip to Content

PUISI-PUISI AFRIZAL MALNA

Foto SIHALOHOLISTICK

PENYAIR ANWAR  

 

Aku mengaji, anwar anwar
Hidup dari pasar terbuka dalam tubuh
Orang tanah yang ditutup senja, anwar anwar
Berlari seperti kura tak henti membawa jagat
Irama abad, anwar anwar
Berdentang-dentang dalam dagingku
Minta perawan dalam sesaji langit yang jauh
Anwar membelah tubuh jadi kota mengalir
Menyimpan tanah dari hujan dan padi-padi
Anwar mengirim tubuh kaku ke daging-daging
Dihembus pasar ke pohon-pohon sunyi
Jadi penyair seribu tahun. O
Makani Tuhan dalam kuburmu anwar anwar
Aku orang sunyi berlalu dalam cerita

 

EKSTASE WAKTU

 

Dunia membuka dunia menutup tak jadi manusia
Aku kejar ujung jalan menyebelah maut ke mana aku kejar
Dunia sendiri tanpa manusia
Berlari
Seperti perahu tak berkemudi
Terlepas dari jarak:
Beri aku orang!
Aku mau bangun di atas kemakhlukan ini
O matahari membuka matahari menutup tak jadi manusia
Berdiri di kesunyian tubuh aku kejar ke mana aku kejar
Sampai mabuk ketinggian makhluk
Direguk sampai habis tenggorok
Jiwa membuka
Seperti api menghabiskan nyala

 

BERI AKU KEKUASAAN

 

Mereka pernah berjalan dalam taman itu, membuat wortel, semangka, juga pepaya. tetapi aku buat juga ikan-ikan plastik, angsa-angsa kayu dari Bali, juga seorang presiden dari boneka di Afrika. Kemana saja kau bawa kolonialisme itu, dan kau beri nama : Jakarta 1945 yang terancam. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk berkuasa.
Kau lihat juga tema-tema berlepasan, dari Pulo gadung ke Sukarno Hatta, atau di Gambir : Jakarta 1957 yang risau. Sepatuku goyah di situ. Orang bicara tentang revolusi, konfrontasi Malaysia, Amerika dan Inggris dibenci pula. Sejarahku seperti anak-anak lahir, dari kapal kolonial yang terbakar. Mereka mencari tema-tema pembebasan, tetapi bukan ayam goreng dari Amerika, atau sampah dari Jerman.
Begitu saja aku pahami, seperti mendorong malam ke sebuah stasiun, membuka toko, bank dan hotel di situ pula. Kini aku huni kota-kota dengan televisi, penuh obat dan sikat gigi. Siapakah yang bisa membunuh ilmu pengetahuan siang ini, dari orang-orang yang tak tergantikan dengan apapun. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk kekuasaan. tetapi sepatuku goyah, menyimpan dirimu.
Mereka pernah masuki tema-tema itu, bendera terbakar, letusan di balik pintu, jerit tangis anak-anak, dan dansa-dansi di malam hari. Lalu : Siapakah yang mengusung tubuhmu , pada setiap kata............

1991

 

DAFTAR INDEKS

 

dan berjalan. Dan tidur. Dan melupakan. Dan menyapu. Dan makan.

Dan mengambil jemuran. Dan memotret pernikahan orang lain di

sebuah kafe di Shanghai. Dan membaca. Dan memotong kuku. Dan

memotret kucing kawin di rumah Lely. Dan menengok kuburan

temanku di surabaya. Dan anaknya sudah kuliah. Dan anaknya men-

girim sms, siapa bapakku? Dan anaknya tidak tidur dalam kamar

ibunya. Dan namanya Dya Ginting. Dan membakar sampah. Dan

memotong rumput. Dan mengambil kantong plastik yang dibuang

orang di pinggir jalan. Dan mencium anak anjing. Dan menengok

teman yang menangis di depan laptopnya. Dan ingin hidup dalam

suara Maria Callas. Dan tak punya uang. Dan menunggu honor dari

puisi. Dan bertemu mayat Caligula dalam bahasa. Dan mandi. Dan

ingin mengatakan padamu bahwa aku sudah mengatakannya.

 

 

 

ANTRI UANG DI BANK

 

Seseorang datang menemui punggungku

Membicarakan sesuatu, menghitung sesuatu,

seperti kasur yang terbakar dan hanyut di sungai.

Lalu ia meletakkan batu es dalam botol mineralku

 

 

SEMINAR PUISI DI SELAT SUNDA

Untuk Goenawan Mohamad

 

Sebuah meja malam dari kayu, bekas puntung rokok

yang hangus di permukaannya. Kita makan bersama.

Malam yang samar-samar di tengah kota. Sebuah

revolusi yang berganti kaki, di atas sebuah kapal

perang yang diparkir di Selat Sunda. Sebuah

perundingan untuk menjemput diri sendiri: Kaki-kaki

kanan buntung – kaki-kaki kiri buntung. Tidak tahu,

atau berjalan atau tidak berjalan. Tidak tahu, atau

duduk atau berdiri. Bau belerang dari punggung

krakatau, melukis kembali peta-peta di atas kata-kata

yang menggerutu.

 

Sebuah kemerdekaan tidak dirancang dengan

berteriak: musuh sudah ada di luar pagar, tetapi juga

sudah ada di dalam pagar. Sebuah republik yang

terbayang di pintu belakang. Seorang lelaki di pintu

kaca: tidak tahu, apakah ia berjalan keluar atau

berjalan masuk. Hilir-mudik para peneliti Indonesia

yang kurang tidur, dalam bahasa Indonesia yang

lelah. Sebuah bank di antara tentara-tentara

perdamaian. Aku bersamamu, dalam satu mobil

tua, lelaki seperti pohon nangka itu, saling menatap

tetapi tidak saling melihat. Sebuah buku puisi,

di pangkuan seorang perempuan.

 

“Di manakah kita, melihat kata, sebagai kematian

seorang ibu.”

 

Sebuah pintu, entah di belakang rumah entah di

depan rumah. Sebuah pintu kaca untuk melihat

ke luar untuk melihat ke dalam. Sebuah kata untuk

membungkam selogan. Seorang Sukarnois yang me-

nyimpan kartu pos patung liberty di saku

mantelnya. Sebuah nyanyian cinta dari Leonard

Cohen yang parau: Dance me to the end of love.

Asap rokok tentang pendidikan para pemimpin, di

antara korek api dan badai sebuah pesta. Seorang

lelaki yang menggenggam tangisnya di sudut sebuah

restoran. “Aku melangkah dari sebuah koran lokal,

sejak masa remajaku, di sebuah desa, antara revolusi

3 kota. Dan sebuah novel tentang kejahatan tentara

gerilya, di halaman-halaman yang dipasangi alarem.”

 

Sebuah poster pertunjukan. Di luar atau di dalamkah

pertunjukan itu berlangsung? Bagaimanakah Kunti

menghanyutkan anaknya? Karna, bagaimanakah,

Karna? Bagaimanakah matahari menciptakanmu

dari anak-anak panah, dan menjemputmu kembali

di sebuah pagi yang merah. Bagaimanakah Caligula

membenamkan akal sehat ke dalam keuangan

negara? Ceritakanlah sekali lagi, Caesonia, bagaimanakah

aku menitipkan cinta dalam pelukanmu, ketika semua

telah menjadi gila di tangan suamimu. Kekuasaan

telah mengambil cahaya bulan dari ladang pikiran

kita. Bagaimanakah puisi membuat kita bisa berjalan

bersama bayangan sendiri, melewati diri kita sendiri

yang masih tertidur di sebuah kereta.

 

Seorang penjaga tiket pertunjukan, juga seorang

penjual air bersih di sebuah kantor majalah. Seorang

wartawan yang membidik dengan kata. Sebuah

kamera di dasar bahasa. Dan seorang lelaki di jen-

dela kaca. Sebuah kantor majalah yang

kontruksinya tertanam di abad 19, sebelum perang

dunia, sebelum menukar rempah-rempah dengan

sebuah bangsa. Jalan gula yang membuat jalur kereta

dari Klaten ke Amsterdam. Lelaki itu, bayangannya

di luar dan bayangannya di dalam. Bau tembakau

mengubah kenangan tentang mantel yang dikena-

kannya, antara warna tanah dan lebih kelam lagi dari

warna pasir. Warna yang mengecat sejarah kembali

ke warna yang sama. Bau tembakau yang menggeng-

gam kesedihan dalam sebuah lubang pentilasi.

 

“Apakah aku telah berdurhaka padamu, ibu, agar

kau tidak lagi melahirkan seorang pembunuh.”

 

Udara AC jam 2 malam mengingatkannya tentang

sebuah hutan kata-kata. Sebuah republik di lantai

dua, bukan? Dan pertengkaran tentang di mana letak

tangga itu untuk naik ke lantai dua, antara musim

hujan dan perkebunan tebu yang sudah kita bakar.

Sebuah revolusi di antara kaki-kaki yang berganti.

Sebuah malam yang aku sisipkan dalam buku sejarah

puisi Indonesia modern. Dingin yang tak tercatat di

halaman itu. Dan sisa-sisa cahaya bulan sebelum

gerhana. Cukup dengan 1000 slogan untuk

menggenggam kesedihan yang menggenang di lantai

dua. Cahaya matahari pagi bertahan di atasnya.

Untuk harapan, untuk ibu-ibu penjual nasi bungkus

di pasar rakyat. Apakah. Apakah materialisme sejarah

telah mati, dalam sebuah mata kuliah psikologi

tentang kelas sosial? Apakah. Apakah revolusi telah

dihapus, dalam sebuah kapal dagang yang berlayar

di jalur api? Menciptakan milisi jadi-jadian untuk

meruntuhkan daya hidup bersama. Apakah. Tentang.

Tetapi.

 

Lelaki itu berdiri di atas tangga dan turun ke lantai

bawah. Dia seperti terus berjalan di tangga itu. Setiap

dia melangkah, anak-anak tangga itu seperti terus

bertambah, hampir lebih cepat dari langkahnya sendiri.

Langkah yang menciptakan anak-anak tangga

daripada melalui anak-anak tangga itu sendiri.

Apakah dia sedang turun – apakah dia sedang naik.

Menambahkan waktu dalam sebuah kereta pada

setiap langkahnya. Berikan aku sebuah kata, untuk

tidak mengatakan apapun tentang luka yang

tumbuh di halaman pertama sejarah kebangsaan.

Dan tentang diriku sendiri yang masih mencium bau

pikiran dari topi yang pernah kau kenakan. Pikiran

yang berusaha mengubah sebuah tangisan menjadi

gerimis, sore yang samar-samar di antara daun-daun

yang tumbuh merambat. Kebebasan yang dirawat

dalam sebuah perjudian antara Duryudana dan

Yudhistira.

 

Aku mengenal lelaki itu. Seseorang yang berjalan

seperti dengan suara kertas koran yang diremas.

Suara antara puisi dan puing-puing kata. Dia seperti

sebuah pagi, di antara kerumunan malam yang

samar-samar. Dia ingin menjemput kembali revolusi

itu, dengan sebauh opera tentang kesunyian.

 

“Kita telah melihat, seorang ibu membuat sebuah

luka di mulut seekor harimau.” Untuk para sahabat,

dan sebuah kata yang tidak bisa mengatakan: angin

yang mengirim garam, menjaga musim hujan di

Utara. Di sini.

 

 

MENGGODA TUJUH KUPU-KUPU

 

Aku tidak berjalan dengan mata melek. Kau pergi dengan mata

tidur. Orang di sini membawa beban berat. Bukan soal melihat.

Dalam beban itu isinya sampah. Bukan pergi dan tidak tidur. Kita

sibuk mencari tempat membuang sampah itu untuk mengisinya

kembali dengan sampah. Kau pergi dengan mata tidur. Aku tidak

berjalan dengan mata melek dan tidak mengukur yang terlihat.

Kau latihan yoga dan menjadi tujuh kupu-kupu. Aku melihat kau

terbang dan tidak bisa ikut masuk ke dalam kupu-kupumu. Ke-

adaan seperti gas padat dalam lemari es. Tetapi tidak ada ledakan.

Aku tidak mendengar suara ledakan dalam puisi ini. Di sini hidup

menjadi mudah, karena memang hidup sudah tidak ada. Menjadi

benar oleh kebohongan-kebohongannya. Menjadi indah oleh

kerusakan-kerusakannya. Aku di dalam pelukanmu dan di luar

terbangmu. Membayangkan tujuh kupu-kupu mulai menanamkan

sayapnya dan menanamkan terbangnya. Mengganti bumi pertama

dengan rute sungai Marne yang membelah mimpi-mimpimu.

 

 

DI SEBERANG SELEMBAR DAUN

 

Aku bukan seluruh daun di pohon ini. Aku hanya

selembar daun di pohon ini. Hanya pohon ini dan

hanya selembar daun. Aku hanya selembar daun

yang tumbuh di leherku. Hanya berwarna hijau sep-

erti selembar daun. Aku hanya selembar daun yang

berbicara menggunakan mulutku. Maksudku,

mulutku adalah selembar daun yang berbicara

menggunakan mulutku. Maksudku, aku hanya

selembar daun yang selembar daun. Jangan rayu aku

untuk menjadi pohon walau kau berikan tuhan kepa-

daku. Jangan rayu aku untuk menjadi seluruh daun

pada pohon ini walau kau berikan janji kematian pa-

daku. Aku bukan soal kematian dan soal tuhan. Aku

mirip, maksudku mirip dengan pertanyaan aku hidup

bukan untuk seluruh yang kau katakan setelah

kematian. Setelah kematian aku bukan hidup dan ke-

matian bukan selembar daun yang mewakili seluruh

daun di pohon ini.

 

Aku hanya selembar warna hijau dari pohon yang

aku tak tahu namanya. Pohon yang membuat aku

tahu aku berada di sini dan hidup di sini. Maksudku,

jangan kau takuti aku seperti kanak-kanak yang

berlari di seberang kematian. Aku mengingatnya,

waktu-waktu, dan, lihatlah di luar sana, lihatlah

orang-orang berjalan dengan kakinya, pohon-pohon

tumbuh, anak-anak bermain merasakan kebahagiaan

memiliki tawa, langit yang dibuat dari rambut

perempuan. Aku adalah selembar daun yang dijahit

pada sebatang pohon.

 

 

PROPOSAL POLITIK UNTUK POLISI

 

          “Toean-toean, saja mendjamin bahwa pemerintahan kita

          tidak lagi popoeler, baik di antara rakjat ketjil maoepoen

          pedjabat boemiputra rendahan ataoe pedjabat tinggi …

          rasa tidak puas jang merebak, baik di kalangan para bang-

          sawan maoepoen rakjat djelata, terhadap bagaimana tjara

          pemerintah dikelola dan keadilan ditegakkan. Sedjak akhir

          1900, muntjul sematjam gerakan terorisme … ataoepoen

          gerakan perlawanan terhadap pemerintah. Tampaknja di

          pusat birokrasi pemerintahan tidak memahami makna ini

          semua.” (P.J.F. van Heutsz, 1904-06)

 

Aku dilanda kedatangan diriku sendiri, di sana dan di sini. Melihat

kegagalan yang terus-terang di setiap yang kuciptakan. Antara

mesin-mesin dan sistem dalam lubang kesunyian, pembelian dan

penjualan yang saling membuang. Hiburan dan barang-barang

yang dibeli di sana dan di sini. Kenangan dalam puing-puing

perubahan. Sisa-sisa hutang dalam peti mati tak terkunci. Pidato

musim hujan di semua saluran keadilan yang tenggelam. Tanah

dan suara api di atas meja makan. Kau dan aku berdiri di sini.

Tetapi tidak pernah berdiri bersama.

 

Aku memotret telapak tanganku sendiri, seperti memotret sebuah

kepulauan terbuat dari bubur kertas. Pengeluaran terus-menerus

di sana dan di sini, lebih panjang dari jalan yang kulalui ke depan

dan ke belakang. Suara gesekan butir-butir beras dalam panci,

seperti data-data ekonomi yang kehilangan mesin hitung. Hatiku

tenggelam dalam permainan sejarah dan baju untuk masuk surga.

Laporan keuangan yang berjalan-jalan di akhir tahun. Daya hidup

yang menjadi puing-puing dalam perdagangan ilmu pengetahuan,

data-data di sana dan di sini. Kesehatan yang diramalkan vitamin C

dan sikat gigi. Aku dilanda kedatangan diriku sendiri,

untuk membeli kesunyian, udara bersih dan lapangan

kerja.

 

Tuan-tuan, bisakah kegagalan dipotret, untuk melihat

bagaimana caranya kita tertawa dan tersenyum.

Bisakah kita memotret sikat gigi di tengah puing-

puing daya hidup yang terus digempur dari sana dan

dari sini. Daya hidup yang menjadi mainan pendaya-

gunaan kekerasan. Laporan pertumbuhan penduduk

yang menjadi api pada jam makan malam kita.

 

Tuan-tuan, bisakah kita membaca sekali lagi, dari

huruf-huruf tak bermakna. Dan mereka menciptakan

bahasa, dari setiap kegagalan, dari setiap sejarah luka

di sana dan di sini, dari dansa perpisahan di malam

minggu. Berdirilah kita di sini, seperti tanaman yang

menunggu tukang kebun. Tidak membiarkan sebuah

kepulauan menjadi saluran got bersama.

 

Tuan-tuan. Di sana dan di sini. Musim hujan yang

telah berwarna biru di kotamu.

 

 

MESIN PENGHANCUR DOKUMEN

 

Ayo, minumlah. Tidak. Saya tidak sedang es kelapa

muda. Makanlah kalau begitu, tolonglah. Tidak. Saya

tidak sedang nasi rames. Masuklah ke kamar mandi

saya, tolonglah kalau tidak haus, kalau tidak lapar,

kalau bosan makan. Perkenankan aku memberikan

keramahan padamu, untuk seluruh kerinduan yang

menghancurkan dinding-dinding egoku. Bagaimana

aku bisa keluar kalau kamu tidak masuk.

 

Kamu bisa mendengar kamar mandiku memandikan

tata bahasa, di tangan penggoda seorang penyiar TV.

Perkenankan aku membimbing tanganmu. Masuk-

lah di sini yang di sana. Masakini yang di masalalu.

Masuklah kalau kamu tak suka tata bahasa. Tolonglah

kalau begitu, ganti bajumu dengan bajuku. Mesin

cuci telah mencucinya setelah aku mabuk, setelah

aku menangis, setelah aku bunuh diri 12 menit yang

lalu. Bayangkan tubuhku dalam baju kekosongan itu.

Tolonglah bacakan kesedihan-kesedihanmu:

 

“Kemarin aku bosan, hari ini aku bosan, besok akan

kembali lagi bosan yang kemarin.” Apa tata bahasa

harus diubah menjadi museum es krim supaya kamu

tidak bosan. Tolonglah. Semua yang dilakukan atas

nama bahasa, adalah topeng api. Pasar yang

mengganti tubuhmu menjadi mesin penghancur

dokumen. Tolonglah, aku hanya seseorang dalam

prosa-prosa seperti ini, seorang pelancong yang

meledak dalam sebuah kamus. Sebuah puisi murung

dalam mulut mayat seorang penyair.

Tolonglah, tidurkan aku dalam kesunyianmu yang

tak terjemahkan. Mesin penghancur dokumen yang

sendirian dalam kisah-kisahmu.

 

 

MANTEL HUJAN DUA KOTA

 

Kota itu telah jadi Semarang sejak air laut ingin

mendaki bukit, dan pesta tahun baru di ruang dalam

bangunan-bangunan kolonial. Minum persahabatan

dan melukis fotomu pada dinding musim hujan.

Sepanjang malam ia mengenakan mantel dari listrik:

kota yang mengapung 45 derajat di atas sejarah.

Dalam mantelnya, rokok kretek dan kartu atm.

Mahasiswa bergerombol di warung kopi, mengambil

ilmu sastra, ilmu komunikasi, antropologi dan

jam-jam belajar dari pecahan kaca. Akulah anak

muda yang bisa memainkan bas elektrik, blues

dengan sisa-sisa kerusuhan dan sisir yang patah. Aku

telah banjir di lapangan kerja dan kenaikan gaji

pegawai negeri. Para arsitek yang membuat desain

kota bersama air laut dan hujan.

 

Biarlah aku sampai ke batas tepi ini, untuk jejak yang

membuat lubangnya sendiri.

 

Kereta keluar dari mulut stasiun Yogyakarta, bau

tembakau dari pesta seni rupa dan sapi goreng. Aku

kembali bernapas setelah ribuan billboard kota

adalah mataku yang terus berputar, waktu yang

terasa perih. Rel kereta api masih menyimpan saham-

saham VOC sampai Semarang. Tanah keraton yang

menyimpan telur ayam, mantel biru masih

menyanyikan keroncong Portugis. Bau tebu, bau padi,

bata merah yang dibakar. Aku telah Yogyakarta

setelah berhasil menjadi orang sibuk tidak mandi 2

hari, menggunakan excel untuk agenda-agenda

padat. Dan bir dingin di antara janji-janji.

Aku telah dua kota dalam perjalanan dua jam

bersambung sepeda 6 jam pagi. Biarlah aku sampai

ke batas tepi ini. Sebuah kota yang terbuat dari jam

6 pagi, dan aku mempercayainya seperti genta yang

berbunyi tanpa berbunyi, bayangan gunung sebelum

biru dan sebelum kelabu dan sebelum di sini.

 

 

TEKNIK MENGHIBUR PENONTON

 

Kebahagiaan peti mati mengucapkan selamat tahun baru.

Maksudku, peti mati dan tahun baru.

Kata-kata melintasinya dan jatuh seperti burung yang

ditembaki dalam mata pelajaran biologi.

Intelektualitas yang merasa bisa menjadi mediator

antara tubuh dan realitas, terjungkal dari rak buku.

Maksudku terjungkal dan rak buku.

Titik dan koma tersesat dalam perangkap titik dan koma.

Kata-kata telah ditundukkan oleh badai kamus.

Dipisahkan lagi antara badai dan kamus.

Sebuah bossanoba di tengah api perpustakaan.

Dipisahkan lagi antara musik dan api dalam perpustakaan.

“Tuan penghibur,” kataku, untuk melihat rohku

di antara kumpulan harga apartemen dan tiket

pertandingan sepak bola.

Baskom dalam timbunan penduduk kota.

Tepuk tangan para pembuat parfum

dan mesin pencetak dari rumah sakit.

 

Thank you.

Tuan penghibur.

Thank you.

 

 

TUBUH LUBLINSKIE DI LORONG ES HITAM

Untuk gas

 

Musim panas berjalan-jalan di luar bajumu.

Dari seluruh warna merah yang dipadatkan.

Baju dengan jahitan tentang ketakutan

dan kesedihan. Lorong es hitam pelarian Yahudi

di Grodzka, jadi jalan turis.

Musim panas yang masih menjahit gerimis,

setiap jendela cuaca dibukan dan ditutup.

Tidak tentang yang terkunci di luar atau di dalam.

Tentang bibirmu

meninggalkan biji cengkeh di lidahku.

Membisikkan puisi-puisi Wislawa Szymborska,

dengan tas koper terus memunguti bayangan kita

di belakang. Tidak memisahkan kalimat dengan koma,

setelah masa lalu dan masa kini.

Kita meminjam sayap burung untuk tidak

berbahasa lagi seperti manusia.

Terbang.

Seperti dalam ruang di luar suhu kematian.

Seperti matahari menawarkan ilusi tentang bayangan,

dan sebuah bis yang membawa malam ke Warsawa.

 

Malam yang terus direnovasi dalam lampu-lampu

kota yang sedih.

Menggeser musim panas ke tangga menuju

kastil-kastil kesunyian,

kafe-kafe yang menyembunyikan teriakan

dari tenggorokan terluka.

Mata lelaki dalam kantong plastik

mulai berkerumun di taman kota.

Pelayan kafe membawa menu sejarah,

secangkir kopi dan ice cream tentang kita.

Lukisan sejarah perang dan kunci besi

di Museum Lublinskie.

Kita berjalan di sebuah kota yang telah menjadi

selembar menu makanan.

 

Deru pesawat dan kereta masih merenovasi pelukan

kita, antara passport, peta perjalanan dan gereja-

gereja tua. Aku tidak tahu lagi bedanya antara

memeluk dan bersujud memuja kesedihanmu.

Di tas koperku masih peti mati yang meminta visa

untuk kebebasan bernapas.

 

Sayangku, tidur tidak bisa mengecat mimpi kita.

Lublin telah menjadi piano kesunyian di luar malam.

 

 

WORKSHOP 5: TAWANAN AKU

 

gema suaranya kembali lagi membuat dinding bunyi

dari suaranya

berdiri melingkar

di depan bulatan penuh perangkap waktu

jari-jari yang menggenggam tikus

dan perangkapnya di belakang membuat makan malam

seperti bayangan yang meninggalkan bentuknya

memecah, tertawa, kisah-kisah perang yang

dimuntahkan kembali dari ketakutannya

cermin yang menjadi buta ketika melihat

dinding di dalamnya

dan selembar rambut di atas koran pagi

air yang menyeberang di atas jembatan

melintasi sungai

melintasi tetesannya

tanpa prasangka di hadapan daun kering yang

menyimpan gema dari

 

hutannya

 

 

JEMBATAN REMPAH-REMPAH

 

Adas manis · Akar wangi · Andaliman · Asam jawa ·

Asam kandis · Bangle · Bawang bombay · Bunga la-

wang · Bawang merah · Bawang putih · Cabe · Ceng-

keh · Cendana · Damar · Daun bawang · Daun pandan

· Daun salam · Jembatan dari bumbu dapur ke darah

Colombus · Gaharu · Gambir · Jahe · Jeruk limo · Jeruk

nipis · Jeruk purut · Jintan · Kapulaga · Kayu manis ·

Kayu putih · Kayu mesoyi · Kecombrang · Kemenyan ·

Kemiri · Kenanga · Kencur · Kesumba · Ketumbar · Ko-

pal · Kunyit · Lada · Jembatan dari parfum ke darah

Vasco da Gama Tabasco · Laurel · Lempuyang · Leng-

kuas · Mawar · Merica · Mustar · Pala · Pandan wangi ·

Secang · Selasih · Serai · Suji · Tarum · Temu giring ·

Temu hitam · Temu kunci · Temu lawak · Temu mang-

ga · Temu putih · Temu putri · Temu rapet · Jembatan

dari obat-obatan ke benteng perempuan berkalung

mawar merah · Adas manis · Akar wangi · Andaliman ·

Asam jawa · Asam kandis · Bangle · Bunga lawang ·

Bawang putih · Cabe · Cengkeh · Cendana · Damar ·

Temu tis · Vanila · Wijen · Jembatan dari Diogo Lopes

de Mesquita ke darah Ternate · Gaharu · Gambir ·

Jahe · Jeruk nipis · Jintan · Kapulaga · Kayu manis ·

Kayu putih · Kemenyan · Kemiri · Kenanga · Kencur ·

Kesumba · Ketumbar · Kunyit · Lada · Jembatan api

yang terus mengirim kapal ke arsip-arsipmu.

 

CHANEL OO

 

Permisi,

saya sedang bunuh diri sebentar,

Bunga dan bensin di halaman

 

Teruslah mengaji,

dalam televisi berwarna itu,

dada.

 

1983

 

 

KEBIASAAN KECIL MAKAN COKLAT

 

Aku tak suka kakimu berbunyi.”

Ini coklat, seperti cintaku padamu.”

 

James Saunders membuat drama dari kereta dan permen coklat  di situ, menyusun persahabatan dari orang-orang yang tak bisa saling menemani: Kita adalah kegugupan bersama, sejak berusaha mencari arti lewat permen coklat, dan kutu pada lipatan baju. Jangan menyusun flu di situ, seperti menyusun jendela kereta dari dialog-dialog Romeo. Tetapi Suyatna ingin menemani sebuah dunia, sebuah pentas, dengan dekor dan baju-baju, pita- pita pada jalinan rambut sebahu.

 

Tak ada stasiun kereta pada kerut keningmu, seperti kegelisahan membuat pesta di malam hari. Lihat di luar sana, orang masih percaya pada semacam kebahagiaan, seperti memasukkan seni  peran dalam tas koper. Tetapi kenapa kau tinggalkan dirimu dalam toilet. Jangan ledakkan sapu tanganmu, dari kebiasaan  kecil seperti itu.

 

Aih, biarlah kaki itu terus berbunyi, makan coklat terus berlalu, kutu-kutu di baju, cinta yang penuh kegugupan ditonton orang. Tetapi jangan simpan terus ia di situ, seperti dewa-dewa berdebu dalam koper, berusaha memberi arti dengan mengisap permen gula.

 

Ini coklat untukmu.

 

Jangan mengenang diri seperti itu.

 

1994

 

 

 

WARISAN KITA

 

Bicara lagi kambingku, pisauku, ladangku, komporku, rumahku, payungku, gergajiku, empang ikanku, genting kacaku, emberku, geretan gasku. Bicara lagi cerminku, kampakku, meja makanku, alat-alat tulisku, gelas minumku, album foto keluargaku, ayam-ayamku, lumbung berasku, ani-aniku.

 

Bicara lagi suara nenek-moyangku, linggisku, kambingku, kitab-kitabku, piring makanku, pompa airku, paluku, paculku, gudangku, sangkar burungku, sepedaku, bunga-bungaku, talang airku, ranjang tidurku. Bicara lagi kerbauku, lampu senterku, para kerabat-tetanggaku, guntingku, pahatku, lemariku, gerobakku, sandal jepitku, penyerut kayuku, ani-aniku.

 

Bicara lagi kursi tamuku, penggorenganku, tembakauku, pe-numbuk padiku, selimutku, baju dinginku, panci masakku, to-  piku. Bicara lagi kucing-kucingku... pisau

 

1989

 

 

MASYARAKAT ROSA

 

Dari manakah aku belajar jadi seseorang yang tidak aku kenal, seperti belajar menyimpan diri sendiri. Dan seperti usiamu kini, mereka mulai mengira dan meyakini orang banyak, bahwa aku bernama Rosa.

 

Tetapi Rosa hanyalah penyanyi dangdut, yang menghisap keyakinan baru setelah memiliki kartu nama. Di situ Rosa menjelma, dimiliki setiap orang. Mahluk baru itu kian membesar jadi se-  jumlah pabrik, hotel, dan lintasan kabel-kabel telpon. Rosa membuat aku menggigil saat mendendangkan sebuah lagu, menghisap siapa pun yang mendengarnya. Rosa membesar jadi sebuah dunia, seperti Rosa mengecil jadi dirimu.

 

Ayahku bernama Rosa pula, ibuku bernama Rosa pula, seperti para kekasihku pula bernama Rosa. Mereka memanggilku pula sebagai Rosa, seperti memanggil diri dan anak-anak mereka.   Dan aku beli diriku setiap saat, agar aku jadi seseorang yang  selalu baru.

 

Rosa berhembus dari gaun biru dan rambut basah, dari bibir yang memahami setiap kata, lalu menyebarkan berlembar-lembar cermin jadi Rosa. Tetapi jari-jemarinya kemudian basah dan membiru, ketika menggenggam mikropon yang menghisap dirinya. Di depan layar televisi, ia menggenang: “Itu adalah Rosa, seperti menyerupai diriku.” Gelombang Rosa berhembus, turun seperti pecahan-pecahan kaca. Rosa menjelma jadi lelaki di situ, seperti perempuan yang menjelma jadi Rosa.

 

Rosa, tontonlah aku. Rosa tidak akan pernah ada tanpa kamera  dan fotocopy. Tetapi kemudian Rosa berbicara mengenai kemanusiaan, nasionalisme, keadilan dan kemakmuran, seperti me- nyebut nama-nama jalan dari sebuah kota yang telah melahirkannya. Semua nama-nama jalan itu, kini telah bernama Rosa pula.

 

Hujan kemudian turun bersama Rosa, mengucuri tubuh sendiri. Orang-orang bernama Rosa, menepi saling memperbanyak diri. Mereka bertatapan: Rosa ... dunia wanita dan lelaki   itu, mengenakan kacamata hitam. Mereka mengunyah permen  karet, turun dari layar-layar film, dan bernyanyi: seperti lagu, yang menyimpan suaramu dalam mikropon pecah itu.

 

1989   

 

 

LEMBU YANG BERJALAN

 

Aku bersalaman. Burung berita telah terbang memeluk sayapnya sendiri. Kota telah pergi jauh sampai ke senja. Aku bersalaman. Matahari yang bukan lagi pusat, waktu yang bukan lagi hitungan. Angin telah pergi, tidak lagi ucapkan kotamu, tak lagi ucapkan namamu. Aku bersalaman. Mengecup pesawat TV sendiri... tak ada lagi, berita manusia.

 

1984

 

 

MITOS-MITOS KECEMASAN

 

Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang akan kembali membuat cerita, saat- saat kami kesepian. Kami telah belajar membaca dan menulis    di situ. Tetapi kami sering mengalami kebutaan, saat merambahi hari-hari gelap gulita. Lalu kami berdoa, seluruh kerbau bergoyang menggetarkan tanah ini. burung-burung beterbangan memburu langit, mengarak gunung-gunung keliling kota.

 

Negeri kami menunggu hotel-hotel bergerak membelah waktu, mengucap diri dengan bahasa asing. O, impian yang sedang membagi diri dengan daerah-daerah tak dikenal, siapakah  pengusaha besar yang memborong tanah ini. Kami ingin tahu di mana anak-anak kami dilebur jadi bensin. Jalan-jalan bergetar, membuat kota-kota baru sepanjang hari.

 

Radio menyampaikan suara-suara ganjil di situ, dari kecemasan menggenang, seperti tak ada, yang bisa disapa lagi esok pagi.

 

1985

 

 

MIGRASI DARI KAMAR MANDI

 

Kita lihat Sartre malam itu, lewat Pintu Tertutup: menawarkan manusia mati dalam sejarah orang lain. Tetapi wajah-wajah Dunia Ketiga yang memerankannya, masih merasa heran dengan ke- matian dalam pikiran: “Neraka adalah orang-orang lain.” Tak ada yang memberi tahu di situ, bagaimana masa lalu berjalan, memposisikan mereka di sudut sana. Lalu aku kutip butir-butir kacang dari atas pangkuanmu: Mereka telah melebihi diriku sendiri.

 

Wajahmu penuh cerita malam itu, menyempatkan aku mengingat juga: sebuah revolusi setelah hari-hari kemerdekaan, di Peka-   longan, Tegal, Brebes; yang mengubah tatanan lama dari tebu, udang dan batik. Kita minum orange juice tanpa masa lalu di situ, di bawah tatapan Sartre yang menurunkan kapak, rantai penyiksa, alat-alat pembakar bahasa. Tetapi mikropon meraihku, mengumumkan migrasi berbahaya, dari kamar mandi ke jalan-jalan tak terduga.

 

Di Ciledug, Sidoarjo, Denpasar, orang-orang berbenah meninggallkan dirinya sendiri. Migrasi telah kehilangan waktu, kekasihku. Dan aku sibuk mencari lenganmu di situ, dari rotasi-rotasi yang hilang, dari sebuah puisi, yang mengirim kamar mandi ke dalam sejarah orang lain.

 

1993

 

 

GADIS KITA

 

O gadisku ke mana gadisku. Kau telah pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota parfum gadisku. Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramaian pasar gadisku. Ja-  ngan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku. Nanti engkau dibawa laut, nanti engkau dibawa sabun. Jangan tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku. Nanti polisi marah. Nanti polisi marah. Nanti kucing menggigit kuning pita rambutmu. Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni gadisku. Tubuhmu madu, tubuhmu candu. Nanti kita semua tidak punya tuhan, nanti kita semua dibawa hantu gadisku. Kita semua cinta padamu. Kita semua cinta padamu. Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati.

 

1985

 

 

BUKU HARIAN DARI GURINDAM DUABELAS

 

Kau telah ambil lenganku dari sungai Siak, sebelum Raja Ali Haji berkata: Bismillah permulaan kalam.”  Dan kapal-kapal bergerak membawa Islam, membawa para nabi, sutra, barang-barang elektronik juga. Tetapi seseorang mencarimu hingga Piz Gloria, kubah-kubah putih yang mengirimku hingga Senggigi. 150 tahun kematian Friedrich Holderlin, jadi penyair lagi di    situ, hanya untuk menjaga cinta. Gerimis membawa kota-kota lain lagi, tanaman palma dan kenangan di jendela: Siti berlari-lari, menyapu halaman jadi buah mangga, apel, dan kecapi juga.

 

Kini dia bukan lagi kisah batu-batu, pelarian tempo dulu, atau  seorang biu mengajar menyapu. Kini setiap tubhnya membaca Gurindam Duabelas, mengirim buku harian, untuk masa silam  seluruh unggas. Kita saling mencari, di antara pikiran yang dicurigai, lebih dari letusan, menumbangkan sebuah bahasa di malam hari. “Puan-puan dan Tuan-tuan,” kata Siti,”aku melayu dari Pejanggi.” ... Dan sungai Siak jadi sepi, jadi lebih dalam lagi dari Gurindam Duabelas.

 

Lenganmu, membuat bahasa lain lagi di situ; untuk orang-orang di pelabuhan, menjual beras, sayuran, radio, ikan-ikan juga. Dan aku berlari-lari. Ada rumah di situ, setelah jalan berkelok.Ini untukmu, bahasa dari letusan itu, penuh suaramu melulu.

 

1993

 

 

ASIA MEMBACA

 

Matahari telah berlepasan dari dekor-dekornya. Tapi kami masih hadapi langit yang sama, tanah yang sama. Asia. Setelah dewa-dewa pergi, jadi batu dalam pesawat-pesawat TV; setelah waktu-waktu yang menghancurkan, dan cerita lama memanggili lagi  dari negeri lain, setiap kata jadi berbau bensin di situ. Dan kami terurai lagi lewat baju-baju lain. Asia. Kapal-kapal membuka  pasar, mengganti naga dan lembu dengan minyak bumi. Membawa kami ke depan telpon berdering.

 

Di situ kami meranggas, dalam taruhan berbagai kekuatan.Mengantar pembisuan jadi jalan-jalan di malam hari. Asia. Lalu kami masuki dekor-dekor baru, bendera-bendera baru, cinta yang lain  lagi, mendapatkan hari yang melebihi waktu: Membaca yang tak boleh dibaca, menulis yang tak boleh ditulis.

 

Tanah berkaca-kaca di situ, mencium bau manusia, menyimpan kami dari segala jaman. Asia. Kami pahami lagi debur laut, tempat para leluhur mengirim burung-burung, mencipta kata. Asia hanya ditemui, seperti malam-malam mencari segumpal tanah yang hilang: Tempat bahasa dilahirkan.

 

Asia.

 

1985  

 

 

TENTANG AFRIZAL MALNA

 

Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Sejak menamatkan SLA pada tahun 1976, Afrizal Malna tidak melanjutkan sekolah. Pada tahun 1981, ia belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, sebagai mahasiswa khusus hingga pertengahan dikeluarkan pada tahun 1983. Pada usia 27 tahun, Afrizal Malna menikah. Selama kurang lebih sepuluh tahun ia pernah bekerja di perusahaan kontraktor bangunan, ekspedisi muatan kapal laut, dan asuransi jiwa. Sekarang lebih banyak berkiprah di bidang seni, sebagai sutradara pertunjukan seni, kurator seni instalasi, penyair dan penulis. Bukunya antara lain: Abad Yang Berlari (1984), Perdebatan Sastra kontekstual (1986), Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990), Arsitektur Hujan (1995), Biography of Reading (1995), Kalung Dari Teman (1998), Sesuatu Indonesia, Esei-esei dari pembaca yang tak bersih (2000), Seperti Sebuah Novel yang Malas Mengisahkan Manusia, kumpulan prosa (2003), Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2003), Novel Yang Malas Menceritakan Manusia (2004), Lubang dari Separuh Langit (2005). Penghargaan yang pernah diterima: Kincir Perunggu untuk naskah monolog dari Radio Nederland Wereldomroep (1981), Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika, harian Republika (1994), Esei majalah Sastra Horison (1997), Dewan Kesenian Jakarta (1984).

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler