Skip to Content

PUISI-PUISI JE. TATENGKENG

Foto Sastra Seratus Kilometer

O KATA

Sudah genap …
O kata
Dua patah,
Yang dikata dengan nyata,
Oleh badan payah patah.
Itu kata
Ada berita,
Terbesar dari sewarta,
Karna oleh kata nyata
Tuhan menang segala titah!
Karna kata,
Aku serta
Oleh Allah diberi harta
Selamat alam semesta

 

PANGGILAN PAGI MINGGU

Sedang kududuk di ruang bilik,
Bermain kembang di ujung jari,
Yang tadi pagi telah kupetik,
Akan teman sepanjang hari.
Kudengar amat perlahan,
Mendengung di ombak udara,
Menerusi daun dan dahan,
Bunyi lonceng di atas menara.
Katanya :
Kupanggil yang hidup, Kukui apang biahe,
Kutangisi yang mati, Lulungkang u apang nate
Pinta jiwa jangan ditutup,
Luaskan Aku masuk ke hati
Masuklah, ya, Tuhan dalam hatiku!

 

SEPANTUN LAUT

Duduk di pantai waktu senja,
Naik di rakit buaian ombak,
Sambil bercermin di air kaca,
Lagi diayunkan lagu ombak.
Lautan besar bagai bermimpi,
Tidak gerak, tetap berbaring
Tapi pandang karang di tepi,
Di sana ombak memecah nyaring
Gerak dalam diam,
Diam dalam gerak,
Menangis dalam gelak,
Gelak dalam bermuram,
Demikian sukma menerima alam,
Bercinta, meratap, merindu dendam

 

BERIKAN DAKU BELUKAR

Terhanyut oleh aliran zaman, Indahlah taman,
Aku terdampar di dalam taman, Indahlah taman,
Kuheran amat, Di mata zaman!
Memandang tempat! . . . . . . . . . . . . .
Di situ nyata kuasa otak, Dan kalau hari sudah petang,
Taman dibagi berpetak-petak, Ribuan orang ke taman datang,
Empat segi, tiga segi . . . . . . . . . . . . .
Yang coreng-moreng tak ada lagi. Berikan daku Belukar saja,
Rumput digunting serata-rata. Tempat aku memuji Rasa!
Licin sebagai birun kaca.
Bunga ditanam beratur-atur,
Tegak sebagai bijian catur.
Jalan digaris selurus-lurus,
Bersih, sehari disapu terus!

 

DI BAWAH POHON

Daunan kayu permainan angin,
Sinarnya syamsu hinggap di dahan,
Wayu berembusan hawa yang dingin,
Semerbak bunga berkelimpahan.
Duduk berdua dalam percintaan,
Lupakan alam makhluk semua.
S’mbari merangkai tali kerinduan,
Hubungkan sukma kami berdua.
Adindaku! Di sini kita senang,
Kini cinta berlimpah di mata,
Kasih yang merindu susah ditahan;
Untung selamat selalu dikenang,
Persatuan jiwa bertambah nyata,
Yang kekalan, anugrah Tuhan.

 

BULAN TERANG

Sunyi lengang alam terbentang,
Udara jernih tenang.
Di langit mengerlip ribuan bintang,
Bulan memancar caya senang.
Angin mengembus tertahan-tahan,
Dan berbisik rasa kesukaan.
Bulan beralih perlahan-lahan,
Menuju magrib tempat peraduan.
Hati yang masygul menjadi senang,
Sukma riang terbang melayang,
Karna lahir Kerinduan semalam:
Ribaan Hua yang kukenang,
Kudapat t’rang, kasih dan sayang,
Serta damai hati di dalam

 

DI PANTAI, WAKTU PETANG

Mercak-mercik ombak kecil memecah,
Gerlap-gerlip sri syamsu mengerling,
Tenang-menyenang terang cuaca,
Biru kemerahan pegunungan keliling.
Berkawan-kawan perahu nelayan,
Tinggalkan teluk masuk harungan,
Merawan-rawan lagunya nelayan,
Bayangan cinta kenang-kenangan.
Syamsu menghintai di balik gunung,
Bulan naik tersenyum simpul.
Hati pengarang renung termenung,
Memuji rasa-sajak terkumpul.
Makin alam lengang dan sunyi,
Makin merindu Sukma menyanyi

 

SUKMA PUJANGGA

O lepaskan daku dari kurungan,
Terus menjelma, Ke Indah Kata!
Biarkan daku terbang melayang,
Melampaui gunung, nyebrang harungan,
Mencari Cinta, Kasih dan Sayang.
Aku tak ingin dipagari rupa!
Kusuka terbang tinggi ke atas,
Meninjau hidup aneka puspa,
Dalam alam yang tak terbatas …
Tak mau diikat erat-erat,
Kusuka merdeka mengabdi seni,
Kuturut hanya semacam syarat,
Syarat gerak sukma seni.
Kusuka hidup! Gerakan sukma,
Yang terpancaran dalam mata.

 

PERASAAN SENI

Bagaikan banjir gulung gemulung,
Bagaikan topan seruh menderuh,

Demikian rasa
Datang semasa,

Mengalir, menimbun, mendesak mengepung
Memenuhi sukma, menawan tubuh.

Serasa manis sejuknya embun
Selagu merdu dersiknya angin,

Demikian Rasa
datang sesama,

Membisik, mengajak, aku berpantun,
Mendayung jiwa ke tempat dingin.

Jika kau datang sekuat raksasa,
Atau kau menjelma secantik juita,

Kusedia hati
Akan berbakti,

Dalam tubuh kau berkuasa,
Dalam dada kau bertakhta !

 

KUCARI JAWAB

Di mata air, di dasar kolam,
Kucari jawab teka-teki 'alam.

Di kawan awan kian kemari,
di situ juga jawabnya kucari.

Di warna bunga yang kembang.
Kubaca jawab, penghilang bimbang,

Kepada gunung penjaga waktu.
kutanya jawab kebenaran tentu,

Pada bintang lahir semula,
Kutangis jawab teka-teki Allah.

Ke dalam hati, jiwa sendiri,
Kuselam jawab! Tiada tercerai

Ya, Allah yang Maha - dalam,
Berikan jawab teka-teki alam.

0, Tuhan yang Maha - tinggi,
Kunanti jawab petang dan pagi'

Hatiku haus 'kan kebenaran,
Berikan jawab di hatiku sekarang ..............

DI LERANG GUNUNG

Di lerang gunung,
Aku termenung,
Duduk di sisi,
Kekasih hati.

Kamu berpandangan sejurus lama,
Dan mengerti bisikan sukma.

Dada yang debar,
Terang menggambar,
Keadaan hati,
Sesudah menanti,

Sekian lama akan waktu,
Di mana jiwa kami bersatu.......

0, Hidup! Betapa indah,
Kalau kasih ta' diperintah,
hanya dengan sendiri
itu datang memberi !

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler