Skip to Content

PUISI-PUISI TAUFIQ ISMAIL

Foto SIHALOHOLISTICK

TAKUT 66, TAKUT 98

Mahasiswa takut pada dosen

Dosen takut pada dekan

Dekan takut pada rektor

Rektor takut pada menteri

Menteri takut pada presiden

Presiden takut pada mahasiswa.

1998

 

12 MEI, 1998

Mengenang elang Mulya, Hery Hertanto,

Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan

 

Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata

tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan

dan simaklah itu sedu-sedan,

 

Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi

karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-

sahabatmu beribu menderu-deru,

 

Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.

Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu,

 

Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di

Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani

mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan

darah arteri sendiri,

 

Merah putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang

matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama

bersembunyi,

 

Tapi perluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama, dan

kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih

jauh dan kita perlukan peta dari tuhan.

1998

 

TENTANG JOKI JAM SEMBILAN PAGI

Beras berkata kepada saya, bahwa kacang kedele dan kelapa sawit, ayam daging, sapi inseminasi, ikan laut, dan ikan daratan, semua dalam keadaan segar bugar tidak kurang suatu apa. Dia tidak menyebut mengenai apa yang dihasilkan hutan yang lama terbakar dan saya lupa pula menanyakannya,

 

Mesin giling menelponku baru-baru ini, bilang bahwa industri elektronika, komponen cip, kimia dasar, seluloid, otomotif, telekomunikasi, alat-alat berat, kereta api, kapal laut an kapal terbang dalam situasi menyenangkan dan sehat-sehat. Dia tidak berkisah tentang orang-orang yang berhasil menggerek lobang-lobang besar di bawah lantai bank dan rasanya aku sudah tahu jalan ceritanya,

 

Aspal bertanya kepada saya apa hubungan semua ini dengan kesenian. Seorang anak kecil yang jadi joki jam sembilan pagi di jalan Thamrin cepat menjawab, “oom aspal, kesenian itu bagian dari kebudayaan, ekonomi bagian dari kebudayaan, sehinggamengacungkan jari di tepi jalan seperti saya ini juga bentuk seni, agar saya dapat uang seribu sebagai joki untuk mendapat ekonomi.”

 

“Anak bijak, siap gerangan namamu?” tanya saya.

“Ronggowarsito,” jawabnya segera

“Ah, kamu,” kata saya. Dia bersiul-siul.

“Siapa namamu?”

“Ronggowarsito,” jawabnya pelan. Dia bersiul-siul, lalu mengumam lagu.*)

 

JAMAN EDAN

Amenangi jaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Melu edan ora tahan

Yen tan melu anglakoni

Boya keduman melik

Kaliren wekasanipun

Dilalah kersaning Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih begja kang eling lan waspada

 

ZAMAN EDAN

 

Hidup di zaman edan

Suasana jadi serba sulit

Ikut edan tak tahan

Tak ikut

Tak kebagian

Malah dapat kesengsaraan

Begitulah kehendak Allah

Sebahagia-bahagia orang lupa

Lebih bahagia orang sadar dan waspada

 

Kemudian saya berjalan dengan sahabatku Ronggo mengurus bisnis ke Sudirman Central Business District, menyeberang ke Panin Centre, masuk ke Parkview Apartment, mencari logo di Jakarta Design Centre, lalu Ronggo minum milk shake dan aku makan banana split di Pondok Indah Mall, memikirkan keuangan dunia di Jakarta Stock Exchange Building, makan angin di Royal Sentul Highland, memeriksakan mata di Jakarta Eye Centre, mencari kontrakan rumah di Luxury California Town Houses, kemudian mandi-mandi di Lido Lake Resort. Edan.

 

Kemudian saya berjalan dengan sahabatku Ronggo ke pekuburan di pinggiran kota, suram berkabut suasananya, kambojanya kering-kering kulit dahannya, rumpun bambunya gemersik ditegur angin yang kurang bersemangat melakukan tiupannya, aneh aku berpikir tentang di mana gerangan mahkamah pengadilan ketika melihat nisan berjajar, ada yang bertulisan R.I.P., ada yang berkaligrafi alif-lam-wau-alif-lam-ra, dan kubaca nama Abadi, Pedoman, Indonesia Raya, KAMI, Sinar Harapan, Prioritas, Tempo, editor, DeTik. Di mana alamat mahkamah pengadilan, berapa nomor teleponnya dan tolong beri saya nomo faksimilenya? Edan.

Lalu saya mengingat Perburuan, Mastodon dan Burung Kondor, Wasdri, Sam Pek Eng Tay, Opera Kecoa, Pak Kanjeng, Demi Orang-orang Rangkasbitung, dan demikian panjang daftar pencekalan, yang penjelasannya pada satu meja berbunyi A, di meja lain A-aksen, di meja berikutnya A-dua aksen. Edan.

Kemudian debu Galunggung, Kedung Ombo, SDSB, Gamalama, Liwa, Nipah, Timor Timur, Marsinah yang masuk kubur, keluar kubur dan masuk kubur lagi, Palestina, Bosnia, Chechnya yang tiada reda-redanya. Edan.

Memasuki mesin waktu saya berlari bersama sahabatku Ronggo menghindari badai prahara yang memutar suasana, menjepit dan menggencet semua. Mereka mengejar-ngejar orang, melarang buku, merampoki perpustakaan, menimbun dan membakari buku, memaksakan ideologi seni, membabat penerbit independen dan membawa panji tujuan menghalalkan cara. Kemudian prahara reda, orang-orang bekerja, tapi ada juga yang mencoba membengkokkan sejarah dan bila diluruskan kembali, ini disebut membalas dendam. Edan.

Mas Ronggo, selamat jalan. Dia melengkapi kendaraan 3-dalam-1. Mas Ronggo, selamat jalan mengais nafkah yang jernih dan bersih …

***

Sesudah melambai Mas Ronggo saya termangu di pekarangan Cikini Raya 73. Setiap bentuk seni punya masalah yang tak kunjung usai dan selesai. Film makin jauh dari cita-cita menjadi tuan rumah di negeri sendiri, serbuan medium televisi telah mengguncang negeri, seni rupa belum punya Galeri Seni Rupa Nasional, pencekalan kambuhan pementasan teater masih terasa, dikotomi tari daerah dan nasional, musik yang terus mencari dan mencari, dan sastra yang jalan di tempat. Pendidikan tinggi kesenian tak putus-putus mencoba menemukan bentuknya yang tepat guna. Sekeping potret sesaat perlu, tapi tidak sepatutnya kita dibelenggu daftar keluhan, karena modal kita, yaitu cita-cita bersama, masih ada.

Pidato kesenian ini tidak menuliskan resep manjur untuk pelaksanaan praktikal, dia cuma merangsang beberapa dahan perasaan dan fikiran lewat bentuk puisi. Dia menegaskan akar Indonesia dalam tahun ke-50 usia negeri ini. Dia mencoba mengingatkan bahwa dalam gelombang besar materialisme, keserakahan dan rasa tak acuh pada penderitaan manusia di dunia ini, pemberhalaan terhadap apa pun ditolak. Kesenian kita adalah kesenian yang bermanfaat bagi manusia serta lingkungannya dalam dataran bumi, dan bermakna maksimum dalam garis tegak lurus menuju Yang Maha Pencipta Keindahan. Dalam pelaksanaan kesenian seniman tidak dapat mengasing duduk mencangkung di sebuah pulau alit, atau berjalan sendiri tanpa mengindahkan siapa-siapa. Dia percaya pada bentuk kerjasama dan selalu menghargainya. Dia memerlukan kemerdekaan kreatif, dan untuk itu dia tahu bahwa akan ada kemungkinan benturan. Dia percaya pada hati nuraninya dan yakin pada kekuatan doa. Perasaannya akrab dan lekat pada orang-orang malang dan berkekurangan. Seninya adalah untuk mengingatkan.

1995

*) Abad 19, Bait ketujuh Serat Kalatida, terjemahan Slamet Sukirnanto

 

 

MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA

I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga

Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima enam itulah tahunnya

Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia 


Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia 


Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia


Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan mendapat Ph.D. dari Rice University

Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Mengapa sering benar aku merunduk kini 


II
Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor

satu,


Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang

curang susah dicari tandingan, 


Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara

hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,


Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk

kantung jas safari,


Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar

orangtua mereka bersenang hati,


Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-

sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-

besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,


Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan

sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak

putus dilarang-larang,


Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat

belanja modal raksasa,


Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang

saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan

pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan

diinjak dan dilunyah lumat-lumat, 


Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak

rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya

dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek

Jakarta secara resmi,


Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima

belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,


Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,


Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror

penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil

bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor

pertandingan yang disetujui bersama,


Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala

Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala

Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina,

India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah

Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,


Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat

terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur

Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula

pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta

terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,

dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai

saksi terang-terangan, 


Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam

kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di

tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.
1998

 

DOA ORANG KUBANGAN

di hilir pemandian masih saja Kau sediakan logam mulia sebagai pancuran dan bejana platina bergagang emas tempat kami membasuh getah membilas dahak menguliti lendir mengikis selaput nanah menyadap barah ludah yang bertetesan berguguran berserakan di genangan yang jadi kubangan menggerakkan cairan isi lambung bertukak insisi pada hepar dijerat lemak dengan aroma yang menggilas dedaunan jadi kuning kering berguguran dan bermilyar insekta bunuh diri bersama


kami pun sejadi-jadi mandi, serasa untuk terakhir kali


setiap kerak lumpur gugur penyesalan macam cengkeram dengan sembilu seribu


ada kultus dinyanyikan ada kultus berbayang-bayang ada pula tiada mana kentara beda lumpur selutut atau luluk bepercikan telah ke tangan dan muka


dan bejana ini kami tating bersama ada hangat air dari mata dan telapak kaki bergerak ke hulu terasa sejuk penuh di atas lantai pualam pemandian dengan air pancuran hening bening bercucuran.

1998

 

SAJADAH PANJANG

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini

Diselingi sekedar interupsi
Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau
Sepenuhnya.
1984
(dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo)

 

 

PEGAWAI  NEGERI

Setiap kami menyaksikan berbagai penghargaan diberikan
Di istana negara, dalam macam-macam upacara
Satu saja yang tak tampak di layar kaca
Penyerahan medali dan selempang warni-warna pada

                  Pegawai  Negeri
                  Paling        Jujur
                  Tahun           Ini

Wakil dari mereka yang tak pernah kecukupan dalam rezeki
Wakil dari mereka yang sudah luluh dalam keluh
Anak-anak berlahiran juga, nafkah selalu payah
Dalam pemilihan umum selalu diancam macam-macam
Tak pandai ngobyek, tak disertakan dalam proyek
Dalam kalkulasi hidup mana pernah bisa cukup
Tapi ajaib tak sampai terdengar bergeletakan kelaparan
Ada saja jalan keluar yang meringankan beban
Anak-anak pun tahu diri orang tua pegawai negeri
Susah payah sekolah dan kuliah, dan kok ya jadi
Insinyur, dokter, pengacara, S-dua dan Pi-Eic-Di
Lumayanlah, walau tak sangat banyak barangkali
Apabila di dunia ada tujuh macam keajaiban
Maka fenomena pegawai negeri sini mesti yang ke delapan
Menurut teori mutakhir administrasi dan metoda renumerasi
Mestinya di awal karier dulu dari dunia sudah permisi
Memang ada yang terlibat proyek dan bersiram komisi
Tapi itu ‘kan jumlahnya terbatas sekali, yakni
Mereka yang berkerumun di sekitar keran pembangunan

Selebihnya hidup rutin ya begitu itu
Dan pastilah ada juga yang jujur secara sejati
Yang membuat lentur tegang-kakunya prosedur
Bukan mempersukar-sukar, justru memudahkan urusan
Yang betul-betul melayani rakyat, bukan budak kekuasaan
Yang susah payah istikomah di dalam kehalalan rezeki
Yang menahankan pedihnya susah nafkah
Yang masih saja bisa bertahan dilanda arus materi
Mereka tak tampak oleh mata kami
Mereka bukan tipe mengeluh-mengadu ke sana ke mari
Mungkin karena maqamnya sudah mirip orang sufi
Siapa tahu mereka lah sebenar penyangga struktur ini
Yang begitu lapuk rayap dan roboh sudah mesti
Tapi sampai sekarang masih juga berdiri
Mereka sungguh kami hormati
Terutama para guru yang begitu sabar menyebar ilmu
Dan semua yang berdedikasi sejati di struktur birokrasi
Masih tetap bertahan diterjang gelombang hidup serba materi
Kalian tidak nampak, karena memang merundukkan diri.   

1998

 

LONCENG TINJU

Setiap kali lonceng berkleneng

Tanda putaran dimulai

Setiap kali mereka bangkit

Dan mengepalkan tinju

Setiap teriakan histeria

Bergemuruh suaranya

Aku kelu

Dan merasa di pojok

Sendirian

 

Setiap lonceng berklenengan

Dan tinju mulai berlayangan

Meremuk kepala lawan

Terkilas dalam ingatan

Nenekku dulu berkata

“Jangan kamu mengadu ayam”

Dan bila aku menuntut ilmu

Di Kedokteran Hewan

Guruku menasihatkan

“Jangan kamu mengadu hewan”

 

Kini lagi, bel itu berklenengan

Aku tersudut, bisu

Dan makin merasa

Sendirian

1987

 

LONDON, ABAD SEMBILAN BELAS

1
Pada ronde ke-99 yang berdarah-darah
Petinju Simon Byrne selesai sudah
Dia mati memuaskan penontonnya

Tinju maut Si Tuli James Burke
Diacung-acungkan wasit
Para penonton berteriak gembira
Polisi Inggeris datang bertugas
Peraturan langsung menjerat kedua tangannya
Tapi anehnya dia dibebaskan, tak lama
Inilah ejekan pada undang-undang
Walau pun ada manusia masih terlarang
Putusan pengadilan bisa diperjual-belikan

2
Lalu tengoklah berbondong-bondong penonton
Naik kereta api dari Setasiun Jambatan London
Menuju tempat rahasia, 25 mil jauhnya
Inilah pertandingan pertama antarbangsa
Tom Sayers juara Britania
Diadu John Heenan jagoan Amerika
Sastrawan Dickens dan Thackeray menonton juga
Sesudah 42 putaran adu manusia
Keduanya berdarah-darah, lebam, habis daya
Tak berketentuan wasit apa keputusannya
Para penonton berteriak dalam histeria
Mengacung-acungkan tinju ke udara
Polisi melakukan interupsi
Para juri dipisuhi, wasit dimaki-maki
Penonton-penonton tak puas jadi buas
Mereka lalu bertinju sesama mereka
Mereka bergigitan seperti serigala
Melolong bagai gorila
Pertunjukan jadi lengkap
Dan lumayan biadab

3
Itulah adegan abad sembilan belas
Asal-usul adu manusia yang kita tidak tahu
Tapi ujungnya kita tiru-tiru
Sebagai bangsa minder apa saja dari Eropa dan Amerika
Seperti kawanan bebek diturut dan ditirukan saja
Sudah jelas ini adu manusia mereka bilang olahraga
Seperti kambing mengembik kita setuju pula
Inilah budaya tanpa pikir kita jiplak begitu saja

Dari abad 19 orang masuk ke abad 20
Di awal abad, adu manusia di sana dilarang undang-undang
Tapi pemilik modal si orang kaya membeli undang-undang
Disobek dicincang itu dokumen undang-undang
Sebagai sampah hukum masuk keranjang
Adu manusia jadi tidak lagi terlarang
Lengkaplah bagian biadab budaya barat
Yang garang, bringasan dan tamak pada uang
Menjalar ke negeri sini, ditiru dan diulang-ulang
Sudahlah minder, ditambah gebleg, kita tak kepalang

4
Pada hari ini akhir abad dua puluh
Kakiku satu sudah masuk abad dua puluh satu
Kita ketemu
Kau ajak aku balik ke abad sembilan belas
Lho tapi, kita ‘kan mau menembus abad 21
Kenapa kau bujuk aku balik ke abad 19 lagi
Mana aku mau

Tapi kau berkeras balik kanan juga
Kau tetap mau ditipu, adu manusia itu olahraga
Kau menanam bibit kekerasan dan kebringasan
Sudah berapa puluh tahun jangka waktunya
Kau sudah panen lama kau mana tahu itu
Bibitmu tumbuh, menyebar dan membesar
Karena kau rabun mana bisa itu kau baca
Ke masyarakatmu tak pernah kau berkaca
Dan kau berkeras balik kanan juga

Kau tak tahu sudah kusiapkan tali rafia biru
Diam-diam kuikat kedua pergelangan tanganmu
Kuseret kau masuk abad 21
Masih saja kau berteriak tak tahu malu
“Tidak mau! Tidak mau!”
Tengoklah anak-anak yang berpikir itu
Mereka terheran-heran melihat kamu.
1989

 

PELAJARAN TATABAHASA DAN MENGARANG

“Murid-murid, pada hari Senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus berlatih mengarang
Bukalah buku pelajaran kalian
Halaman enam puluh sembilan

“Ini ada kalimat menarik hati, berbunyi
‘Mengeritik itu boleh, asal membangun’
Nah anak-anak, renungkanlah makna ungkapan itu
Kemudian buat kalimat baru dengan kata-katamu sendiri.”

Demikianlah kelas itu sepuluh menit dimasuki sunyi
Murid-murid itu termenung sendiri-sendiri
Ada yang memutar-mutar pensil dan bolpoin
Ada yang meletakkan ibu jari di dahi
Ada yang salah tingkah, duduk gelisah
Memikirkan sejumlah kata yang bisa serasi
Menjawab pertanyaan Pak Guru ini

“Ayo siapa yang sudah siap?”
Maka tak ada seorang mengacungkan tangan
Kalau tidak menunduk sembunyi dari incaran guru
Murid-murid itu saling berpandangan saja

Akhirnya ada seorang disuruh maju ke depan
Dan dia pun memberi jawaban

“Mengeritik itu boleh, asal membangun
Membangun itu boleh, asal mengeritik
Mengeritik itu tidak boleh, asal tidak membangun
Membangun itu tidak asal, mengeritik itu boleh tidak
Membangun mengeritik itu boleh asal
Mengeritik membangun itu asal boleh
Mengeritik itu membangun
Membangun itu mengeritik
Asal boleh mengeritik, boleh itu asal
Asal boleh membangun, asal itu boleh
Asal boleh itu mengeritik boleh asal
Itu boleh asal membangun asal boleh
Boleh itu asal
Asal itu boleh
Boleh boleh
Asal asal
Itu itu
Itu.”

“Nah anak-anak, itulah karya temanmu
Sudah kalian dengarkan ‘kan
Apa komentar kamu tentang karyanya tadi?”

Kelas itu tiga menit dimasuki sunyi
Tak seorang mengangkat tangan
Kalau tidak menunduk di muka guru
Murid-murid itu cuma berpandang-pandangan
Tapi tiba-tiba mereka bersama menyanyi:

“Mengeritik itu membangun boleh asal
Membangun itu mengeritik asal boleh
Bangun bangun membangun kritik mengeritik
Mengeritik membangun asal mengeritik

“Dang ding dung ding dang ding dung
Ding dang ding dung
Dang ding dung ding dang ding dang
Ding dang ding dung.”

“Anak-anak, bapak bilang tadi
Mengarang itu harus dengan kata-kata sendiri
Tapi tadi tidak ada kosa kata lain sama sekali
Kalian cuma mengulang bolak-balik yang itu-itu juga
Itu kelemahan kalian yang pertama
Dan kelemahan kalian yang kedua
Kalian anemi referensi dan melarat bahan perbandingan
Itu karena malas baca buku apalagi karya sastra.”


“Wahai Pak Guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan kosa kata
Selama ini kami ‘kan diajar menghafal dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak Guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama dan rabun puisi
Tapi mata kami ‘kan nyalang bila menonton televisi.”
1997

 

PALESTINA, BAGAIMANA AKU MELUPAKANMU

Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh
menderu, serasa pasir dan batu bata dinding kamartidurku
bertebaran di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan
mengepulkan debu yang berdarah.

 

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat
sebesar saputangan lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari
kantor agraria, serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan
khatulistiwa, yang dirampas mereka.

 

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah
tanah dan sepatu sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita
semua, serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil
belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi

 

air
mataku
,

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu,

 

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun  bilangan umur mereka,
menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi
pergelangan tangan dan lengannya, siapakah yang tak menjerit serasa
anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka – tapi saksikan
tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan
rantai amat panjangnya, pembelit leher lawan mereka, penyeret
tubuh si zalim ke neraka.

 

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim
Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang
dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami semua berdegup
dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu,
darah kamipun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi

 

‘Allahu Akbar!’

dan

‘Bebaskan Palestina!’

 

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta,
menebarkannya ke media cetak dan elektronika, mengoyaki
tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara,
membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia,
membantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser Arafat,
Ahmad Yassin dan semua pejuang negeri anda, aku pun
berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia: doakan
kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang
menapak jalanNya, yang ditembaki dan kini dalam penjara,
lalu dengan kukuh kita bacalah

 

‘la quwwatta illa bi-Llah!’

 

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometernya, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terngiang-ngian di telingaku.
1989

 

AIR KOPI MENYIRAM HUTAN

Tiga juta hektar
Halaman surat kabar
Telah dirayapi api
Terbit pagi ini
Panjang empat jari
Dua kolom tegaklurus
Dibongkar dari pik-ap
Subuh dari percetakan
Ditumpuk tepi jalan
Dibereskan agen koran
Sebelum matahari dimunculkan
Dilempar ke pekarangan
Dipungut oleh pelayan
Ditaruh di mejamakan
Ditengok secara sambilan
Dasi tengah diluruskan
Rambut isteri kekusutan
Empat anak bersliweran
Pagi penuh kesibukan
Selai di ujung tangan
Roti dalam panggangan
Ketika tangan bersilangan
Kopi tumpah di bacaan
Menyiram tigajutahektar koran
Dua kolom kepanjangan
Apipadam menutup hutan
Koranbasah dilipat empat
Keranjang plastik anyaman
Tempat dia dibuangkan
Tepat pagi itu
Jam setengah delapan.
1988

 

BERI DAKU SUMBA

di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
aneh, aku jadi ingat pada Umbu


Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
1970

 

 

SYAIR UNTUK SEORANG PETANI DARI WAIMITAL, PULAU SERAM, YANG PADA HARI INI PULANG KE ALMAMATERNYA

I
Dia mahasiswa tingkat terakhir
ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram
untuk tugas membina masyarakat tani di sana.
Dia menghilang
15 tahun lamanya.
Orangtuanya di Langsa
memintanya pulang.
IPB memanggilnya
untuk merampungkan studinya,
tapi semua 
sia-sia.

II
Dia di Waimital jadi petani
Dia menyemai benih padi
Orang-orang menyemai benih padi
Dia membenamkan pupuk di bumi
Orang-orang membenamkan pupuk di bumi
Dia menggariskan strategi irigasi
Dia menakar klimatologi hujan
Orang-orang menampung curah hujan
Dia membesarkan anak cengkeh
Orang kampung panen raya kebun cengkeh
Dia mengukur cuaca musim kemarau
Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau
Dia meransum gizi sapi Bali
Orang-orang menggemukkan sapi Bali
Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah 
Orang-orang memasang dinding dan atapnya
Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka
Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika
Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

Kasim Arifin, di Waimital
Jadi petani.

III
Dia berkaus oblong
Dia bersandal jepit
Dia berjalan kaki
20 kilometer sehari
Sesudah meriksa padi
Dan tata palawija
Sawah dan ladang
Orang-orang desa
Dia melintas hutan
Dia menyeberang sungai
Terasa kelepak elang
Bunyi serangga siang
Sengangar tengah hari
Cericit tikus bumi
Teduh pohonan rimba
Siang makan sagu
Air sungai jernih
Minum dan wudhukmu
Bayang-bayang miring
Siul burung tekukur
Bunga alang-alang
Luka-luka kaki
Angin sore-sore
Mandi gebyar-gebyur
Simak suara azan
Jamaah menggesek bumi
Anak petani diajarnya
Logika dan matematika
Lampu petromaks bergoyang
Angin malam menggoyang
Kasim merebah badan
Di pelupuh bambu
Tidur tidak berkasur.

IV
Dia berdiri memandang ladang-ladang
Yang ditebas dari hutan rimba
Di kakinya terjepit sepasang sandal
Yang dipakainya sepanjang Waimital
Ada bukit-bukit yang dulu lama kering
Awan tergantung di atasnya
Mengacungkan tinju kemarau yang panjang
Ada bukit-bukit yang kini basah
Dengan wana sapuan yang indah
Sepanjang mata memandang
Dan perladangan yang sangat panjang
Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu
Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya
Bersama puluhan transmigran
Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang
Dan air pun berpacu-pacu
Delapan kilometer panjangnya
Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja
Mengairi tanah 300 hektar luasnya
Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ
Muhammad Kasim Arifin, di sana,
Berdiri memandang ladang-ladang
Yang telah dikupasnya dari hutan rimba
Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor
Di padang rumput itu
Rumput gajah yang gemuk-gemuk
Sayur-sayuran yang subur-subur
Awan tergantung di atas pulau Seram
Dikepung lautan biru yang amat cantiknya
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami …
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.
1979

 

Catatan: Bagian IV puisi ini saya bacakan pada hari wisuda Institut Pertanian Bogor di kampus Darmaga, Sabtu, 22 September 1979, sesudah M. Kasim Arifin menerima gelar Insinyur Pertanian. Sebelumnya, Kasim yang sudah 15 tahun dikabarkan hilang, tapi ternyata menanam akar di Waimital enggan memenuhi panggilan Rektor Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion. Pada kali ketiga kedatangan utusan Rektor, yaitu sahabatnya Saleh Widodo, baru Kasim mau datang ke Bogor. Dia terharu karena penghargaan alma maternya, tapi pada hakekatnya dia tidak memerlukan gelar akademik. Pada hari wisuda itu Kasim yang berbelas tahun berkaus oblong dan bersandal jepit saja, kegerahan karena mengenakan jas, dasi dan sepatu, hadiah patungan sahabat-sahabatnya.

Mahasiswa-mahasiswa IPB mengerumuninya selalu dan mengaguminya sebagai teladan keikhlasan pengamalan ilmu pertanian di pedesaan. Berbagai tawaran pekerjaan disampaikan padanya, tapi dia kembali lagi ke desa Waimital sesudah wisuda. Baru sesudah itu dia menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, di tanah asalnya. Tawaran meninjau pertanian di Amerika Serikat ditolaknya. Ketika ditanya kenapa kesempatan jalan-jalan ke A.S. itu tak diterimanya, sambil tertawa Kasim berkata bahwa pertama-tama jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesianya saja sudah banyak lupa. Kemudian yang penting lagi, katanya, apa manfaatnya meninjau pertanian di sana, yang berbeda sekali dengan pertanian kita di sini. Kesempatan meninjau sambil liburan tamasya ke A.S. itu tak menarik hatinya.

 

SEJARUM PENITI, SEPUNGGUNG GUNUNG

Puisi punya kepentingan besar terhadap bertrilyun daunan yang terpasang

tepat dan rimbun pada pepohonan

pada bermilyar pepohonan yang terpancang rapi

di permukaan bukit, pegunungan, lembah dan dataran pantai

Yang dialiri beratus juta kilometer kubik

air berbentuk padat,cair dan gas

dalam gerakan dinamik yang kau tak habis kagumi ruwetnya:

tegak lurus dari atas ke bawah, tegak lurus dari bawah ke atas

miring terjal miring landai,

beringsut dari kiri ke kanan, bergulir dari kanan ke kiri

menembus permukaan daun, meluncuri serat-serat kayu

mendaki akar, menaiki elevator serambut

yang tersusun rapi dalam batang kayu

menguap gaib lewat noktah-noktah jendela mikroskopis

lalu bergabung dalam substansi gas-gas yang tak dapat

kau sentuh, kau cium, kau tatap, beribu-ribu klasifikasinya

semua tersusun dalam komposisi yang begitu rumit

tapi demikian teraturnya, yang memungkinkan kau

menengadah ke atas sana, dan tersiuk berkata

waduh

biru

bersih

betul

langit itu

dan tengoklah serpihan-serpihan bulu domba berserak di angkasa

dengarlah angin telah berganti baju jadi musik gesek instrumental

yang melatarbelakangi semua ini, dan kulihat kau menitikkan

dua

tetes

cairan

dari kedua sudut kelopak mata kau itu.

 

Puisi punya kepentingan besar terhadap air yang tersedia

dalam berbagai ukuran bejana bumi

mengalir melalui bermacam format saluran tanah

dihuni oleh perenang-perenang sejati yang berukuran

mulai dari

sejarum peniti sampai sepunggung gunung

dengan warna-warni panorama bawah laut

yang luar biasa menakjubkan

bayangan dan penafsiran dari angkasa penuh cahaya

yang menaunginya

yang di atasnya mengapung dan mengepak

berjuta penerbang bersayap dengan gerakan matematis

bercumbu dengan angin dan bercakap-cakap dengan cuaca.

 

Puisi punya kepentingan besar terhadap unggas-unggas itu

yang ketika mengapung di atas sana

hinggap di dahan atau mengais tanah

berdialog dengan seluruh makhluk penghuni bumi

melata dia merangkak dia berjalan dua kaki dia

menyusupi rumput dia menyelami tanah dia

dan paru-paru mereka berdenyut, jantung mereka berdetak

susunan syaraf mereka memberi sinyal-sinyal cendekia

dalam sirkulasi zat asam yang siklusnya ruwet

tapi dapat dijelaskan lewat bahasa apa pun

dan susunan angka-angka apa pun

sehingga dapat kita raba

peradaban

dan budaya.

 

Puisi mencatatnya semua, menyampaikannya kembali

dengan sentuhan yang indah dan penuh keterharuan

mengulangi ini lewat daurnya sendiri-sendiri

berabad lamanya beriringan

denyut zikir tiada putusnya tegak lurus ke arah

Asal

Ini

Semua.

 

Puisi dengan penuh rasa khawatir, curiga dan cemburu

menyaksikan dedaunan, pepohonan, unggas, ikan,

cuaca, zat asam, susunan syaraf, sungai, danau, lautan

bercakap serak dan gagu dengan sesamanya

bagi kawanan makhluk yang telah dilucuti kesempurnaannya

dalam harmoni yang dulu tiada tertandingi.

Huruf-huruf kapital telah mengeja keserakahan,

mengejek kemiskinan, mencetak kekerasan, melestarikan penindasan,

menyebarkan kejahilan, semua dalam bentuk baru

yang tanpa bandingan sepanjang umur sejarah,

menerjemahkannya ke setiap bahasa

lengkap dengan petunjuk pelaksanaannya

secara kolektif melakukan penghancuran peradaban

mula-mula dalam kecepatan perlahan, dan kini

dalam percepatan yang seperti tiada dapat tertahankan.

 

Puisi menangisinya, mencatatnya

dengan huruf-huruf sedih, sesak nafas, geram dan naik darah.

 

Puisi menepuk bahu dan mencoba mengingatkan.      

1990

 

PANTUN TERANG BULAN DI MIDWEST

Sebuah bulan sempurna 

Bersinar agak merah 

Lingkarannya di sana 

Awan menggaris bawah

Sungai Mississippi

Lebar dan keruh 

Bunyi-bunyi sepi 

Amat gemuruh

Ladang-ladang jagung 

Rawa-rawa dukana 

Serangga mendengung 

Sampaikah suara

Cuaca musim gugur 

Bukit membisu 

Asap yang hancur

Biru abu-abu

Danau yang di sana 

Seribu burung belibis 

Lereng pohon pina 

Angin pun gerimis

 1971

 

BUNGA ALANG - ALANG

Bunga alang-alang
Di tebing kemarau
Menggelombang

Mengantar

Bisik cemara
Dalam getar

Di jalan setapak
Engkau berjalan

Sendiri

Ketika pepohon damar
Menjajari
Bintang pagi

Sesudah topan
Membarut
Warna jingga

Dan seribu kalong
Bergayut
Di puncak randu

Di bawah bungur
Kaupungut

Bunga rindu

Sementara awan
Menyapu-nyapu

Flamboyan

Kemarau pun
Berangkat
Dengan kaki tergesa

Dalam angin
Yang menerbangkan
Serbuk bunga.

 1963

 

 DI TELUK IKAN PUTIH

Di Teluk Ikan Putih, telah terjangkar jasmaniku di pelabuhannya 

Pada kapal-kapal yang masuk dan tertambat sehari-hari 

Anak-anak camar bertebar atas arus melancar 

Dan perbukitan dandan perlente pina-pina berduri

Di Teluk Ikan Putih menutup siang musim semi panjang 

Pada langitnya keruh asap, bayang bangunan dan baja 

Di perut kota bangkitlah malam sambil melenggang 

Dan dermaganya hening lelap, berlelehan keristal kaca

Selamat jalan, malam-malam putih berhujan kapas 

Lewati perairan alim dengan pipinya dingin 

Masih ada yang berlinangan di sela gugusan karang 

Ngenangkan musim mengandung belati dalam angin 

Jabatlah teluk kami, persinggahan di tahun datang.

 1957

 

 LAGU UNGGAS LAGU IKAN

Katak rawa-rawa 

Menyanyi sendiri


Pii
Wii

 

Serangga pepohonan 

Daun bermerahan


Angsa menggelepar 

Dan berbunyi


Pii
Wii

 

Ikan danau jauh

Jerami yang luruh


Langit mengental 

Paya-paya kristal

Unggas sembunyi 

Hutan pun mati 

Bunyi yang sunyi

Pii
Wii

 1971

  

ADAKAH SUARA CEMARA

     Ati

 

Adakah suara cemara 

Mendesing menderu padamu 

Adakah melintas sepintas 

Gemersik daunan lepas

Deretan bukit-bukit biru 

Menyeru lagu itu 

Gugusan mega 

Ialah hiasan kencana

Adakah suara cemara 

Mendesing menderu padamu 

Adakah lautan ladang jagung 

Mengombakkan suara itu.

 1972

  

TAMAN DI TENGAH PULAU KARANG

Di tengah Manhattan menjelang musim gugur 

Dalam kepungan rimba baja, pucuknya dalam awan 

Engkau terlalu bersendiri dengan danau kecilmu 

Dan perlahan melepas hijau daunan

Bebangku panjang dan hitam, lusuh dan retak

Seorang lelaki tua duduk menyebar 

Remah roti. Sementara itu berkelepak

Burung-burung merpati

Di lingir Manhattan bergelegar pengorek karang 

Merpati pun kaget beterbangan 

Suara mekanik dan racun rimba baja 

Menjajarkan pohon-pohon duka

Musim panas terengah melepas napas 

Pepohonan meratapinya dengan geletar ranting 

Orang tua itu berkemas dan tersaruk pergi 

Badai pun memutar daunan dalam kerucut 

Makin meninggi.

 1963

  

MUSIM GUGUR TELAH TURUN DI RUSIA

Seekor burung raksasa pada suatu malam cuaca mengembangkan sayap-nya yang perkasa mengibas-ngibaskannya gemuruh dan lena maka rontoklah bulu beledru di langit tua dan biru gugur dan gugur melayang dan berbaur


Musim gugur telah turun di Rusia


Berjuta bintik kapas warna putih angsa pada suatu malam cuaca naik mengambang bersama dan menggeliatlah dia menggelepar menyerakkan warna dan aroma


Musim panas melayang di atas Rusia


Dengan malasnya burung itu terbang sayapnya mengibaskan angin agak dingin daun-daun beriozka jadi berganti warna burung raksasa tiba di atas kutub utara dia berkaca sekilas di laut terus melayang ke bagian bumi yang lain seraya membagi-bagikan angin yang agak dingin


Musim gugur telah turun di Rusia.

 1970

  

TREM BERKLENENGAN DI KOTA SAN FRANCISCO

Pagimu yang cerah, San Francisco, sampai padaku di atas bukit itu, lautmu bagai bubur agar-agar, uap air di langitmu mencecerkan serbuk kabut seperti tepung nilon dan terjela-jela sepanjang jembatan raksasamu tepat seperti kartu pos bergambar yang pernah kubeli di kedai Hindustan duapuluh empat tahun yang silam di Geylang Road ketika aku masih bercelana pendek dan asyik menghafalkan nama-nama hebat dengan huruf-huruf c, v, x, dan y pada pelajaran ilmu bumi di Sekolah Rakyat partikelir.


Matahari terlalu gembira menyinari bukit-bukitmu. Bukit-bukit yang ditumbuhi rumah-rumah Eropah, Meksiko, Habsyi dan Cina, bercat putih beratap merah tua dengan bunga-bungaan yang mekar karena persekutuan akrab dengan musim semi bagai tak kunjung habisnya. Debu segan padamu. Kotoran mekanika dan asam arang kauserahkan sepenuhnya pada Los Angeles si buruk muka. Dia cemburu padamu.


Pasar buah dan rempah-rempah. Trem berklenengan dan meluncur gila pada penurunan bukit-bukit sama-kaki yang sempit. Sebuah peti cat meledak di udara dan warna-warna pun dibagi-bagi pada deretan bangunan dinding trem kota, tulang jembatan, atap, pintu dan jendela. Angin mengeringkannya dan mengaduknya dengan aroma daun-daun perladangan jeruk serta uap perairan dermaga lalu dikibas-kibaskan oleh sayap kawanan burung camar mengatasi muara lautan.


Percintaan bulan dengan lekuk-lekuk tubuhmu semacam percintaan anak-anak muda yang garang kemudian dilukiskan oleh pelukis-pelukis kubistis. Emas yang diburu-buru abad yang lalu dilambangkan dalam cahaya natrium, amat geometris, lewat tingkap-tingkap dan pipa-pipa kaca, simetris dan tidak simetris. Kapal-kapal angkat jangkar.


Di ujung meja panjang terbuat dari kayu mahoni pada suatu bar dekat Market Street seorang tua berambut putih berkumis putih berjanggut putih duduk di atas kursi plastik yang bentuknya seperti bom waktu. “Aku tidak dengar Amerika menyanyi lagi” ujarnya. Pelayan bar memberinya segelas bir.


Amerika tidak menyanyi lagi.

Amerika mengerang.


Di atas bar kayu mahoni berlapis formika hampir biru muda, padang-padang Texas dilipat ke tengah, New York berhamburan ke dalam Grand Canyon, Niagara mengental, California tergulung-gulung. Walt Whitman memeras Amerika bagai sehelai karbon bekas, dan si tua itu menuangkan bir Milwaukee berbusa ke atasnya.



Amerika mengeluarkan bunyi kerupuk kentang kering.

Yang dikunyah lambat-lambat.


Camar-camar teluk San Francisco melayang di atas kedai-kedai bunga tulip, menelisik jaringan kawat trem-trem yang berkenengan dan buang air tepat di atas kantor asuransi.


Selamat jalan c

Selamat jalan v

Selamat jalan x

Selamat jalan y

Selamat jalan.

1972

  

SEORANG KULI TUA DI SETASIUN YOKOHAMA

Seorang kuli tua di setasiun Yokohama 

Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota 

Berdiri agak terbungkuk di depan peron 

Handuk kecil di lehernya

Beratus penumpang turun sepanjang ruangan 

Menari dalam kilau jendela kereta 

Ia pun menjamah koporku setelah menatapku 

Agak lama

Hari itu musim panas di bulan Agustus 

Udara sangat lembab dan angin tak bertiup 

Menyeka dahi ditolaknya lembaran uang 

‘Aku dulu di Semarang’

Dengan hormat diucapkannya selamat jalan 

Ia pun kembali ke setasiun berbata-bata

Berkaus dan bersepatu putih 

Tiba-tiba wajahnya sangat tua

Di kapal kenapa kuingat kakak sepupuku 

Opsir Peta di Jatingaleh berlucut senjata 

Terbunuh dalam pertempuran lima hari

Dua belas tahun yang lalu

Hari itu musim panas di bulan Agustus 

Ketika ekspres tengah hari masuk dari ibukota

Seorang kuli di setasiun Yokohama 

Tiba-tiba wajahnya sangat tua.

 1963

  

PENGKHIANATAN

Siapa lagi sekarang akan ditangkap. Menanti 

Mungkin sebentar lagi mereka akan datang mengetuk pintu 

Mendorong masuk dan menjerembabkan nasib 

Di ambang waktu. Dengan berbagai tuduhan 

Barangkali agen mereka ada di antara kita 

Dengan pestol Browning di pinggang dalam 

Kita tak pernah pasti tahu 

Mengapa engkau pucat sekali? 

Intip cermin di atas lemari 

Di luar angin pepohonan damar masih berseru 

Atau jip-kah itu yang menderu? 

Cek sekali lagi: sudahkah semua dokumen dibakar 

Bersihkan sisa abu di lubang kloset 

Granat dan sten di dinding-papan 

Hapalkan nama-nama palsu kalian

Sudjono! Hentikan goyangan kakimu 

Merokoklah. Merokok di kolong kalau tak tahan 

Udara terlalu pekap di sini, dalam temaram 

Kita makin berpeluh tapi jari kenapa menggigil 

Udara panas bergetah dengan bau ikan sardin 

Seorang bangkit pelan, mengintip di balik gorden


Tiba-tiba aku berteriak, melolong-lolong 

Tjok dan Momo menerkamku tak berbunyi 

Dan menyumbat mulutku

Aku berontak, lepas dalam geliat liar 

Tapi badan mereka bagai sapi Bali 

Lenganku dikunci mereka ke punggung. Badanku 

Dibengkok-busurkan 

Keluh serak dari mulutku

‘Lepaskan dia. Dan kau diam’
Kata Budi
‘Kau terlalu tegang’
Diapun menuding ke sudut kamar
Aku terhuyung ke sana, dua langkah
Dan tiga langkah surut kembali
Dalam gerakan terpincang, kataku serak:
‘Budi, aku telah berkhianat’

Seluruh kamar tegang dan pekat
Halilintar meledak dalam ruangan
Mata mereka nanap, duka perjuangan semakin berat
Angin pepohonan damar menebas tajam bagai kelewang

‘Budi, aku sudah berkhianat’

Aku melihat berkeliling. Mereka diam aneh

Lenganku mula mengulur, lalu bergantungan

Dengan gelisah aku berputar melihat kawan-kawan

Mataku merah dan liar serigala

Meneriakkan ‘Aku pengkhianat!’

Dan aku tersedu, tertengkurap di tengah kamar

Mereka semua diam. Sudjono mematikan rokoknya

Aku menangis seperti anak lima tahun

Yang kehilangan baling-baling kertasnya

‘Tembaklah aku. Mereka sudah tahu semuanya

Sebentar lagi mereka datang

Aku tak tahan Budi, tembaklah aku di sini’


Budi memberi tanda. Senjata-senjata dibongkar dari dinding
Dengan perkasa mereka siap berangkat dalam formasi rahasia
Mereka akan menyelinap lewat gang belakang
Sepanjang urat-urat kota memperjuangkan kemerdekaan
Di sela rapatnya rumah-rumah, meneruskan gerakan di bawah tanah

Budi melucuti belatiku dan pada Momo memberi perintah 

Menggamit Tjok dan Maliki dengan tangan perunggu 

Perlahan yang lain berangkat satu-satu 

Setiap orang memerlukan menoleh padaku sebentar 

Di lantai, aku menekuri jubin sebelah meja 

Dan Momo yang akan menjalankan perintah komandan 

Berdiri dengan belatiku telanjang di tangan.

 1963

  

TENTANG SERSAN NURCHOLIS

Seorang sersan 

Kakinya hilang 

Sepuluh tahun yang lalu

Setiap siang 

Terdengar siulnya 

Di bengkel arloji

Sekali datang 

Teman-temannya 

Sudah orang resmi

Dengan senyum ditolaknya 

Kartu-anggota 

Bekas pejuang

Sersan Nurcholis 

Kakinya hilang 

Di zaman revolusi

Setiap siang 

Terdengar siulnya 

Di bengkel arloji

1958

 

1946: LARUT MALAM SUARA SEBUAH TRUK

Sebuah truk laskar menderu
Masuk kota Salatiga
Mereka menyanyikan lagu
Sudah Bebas Negeri Kita

Di jalan Tuntang seorang anak kecil
Empat tahun, terjaga:
‘Ibu, akan pulangkah bapa,
Dan membawakan pestol buat saya?’

1963

 

 

ODA PADA VAN GOGH  

Pohon sipres. Kafe tua

Di ujung jalan

Sepi. Sepi jua

Langit berombak

Bulan di sana

Sepi. Sepi namanya.
1964

 

DENGAN PUISI, AKU  

Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta

Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang

Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk

Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa

Perkenankanlah kiranya.
1965

 

POTRET DI BERANDA  

Di beranda rumah nenekku, di desa Baruh

Potretku telah tergantung 26 tahun lamanya

Bersama gambar-gambar sulaman ibuku

Dibuatnya tatkala masih perawan

Di dapur rumah nenekku, nenekku renta

Tergolek drum tua pemasak kerupuk kulit

Di atasnya sepasang tanduk hitam berdebu

Kerbau bajak kesayangan kakekku

Kerupuk kulit telah mengirim ibuku

Sekolah ke kota, jadi guru

Padi, lobak dan kentang ditanam kakekku

Yang disulap subur dalam hidayat

Dijunjung dan dipikul ke pasar

Dalam dingin dataran tinggi

Karena ibuku yang mau jadi guru

Dan ibuku bertemu ayahku

Yang dikirim nenekku ke surau menyabit ilmu

Dengan ikan kolam, bawang dan wortel

Di ujung cangkul kakekku kukuh

Yang kembang dan berisi dalam rahmat

Terbungkuk-bungkuk dijunjung di hari pekan

Karena ayahku mau jadi guru

Maka lahirlah kami berenam

Dalam rahman

Dalam kesayangan

Dalam kesukaran

 

Di beranda rumah nenekku, di desa Baruh

Potretku telah tergantung 26 tahun lamanya

Bersama gambar-gambar buatan ibuku

Disulamnya tatkala masih perawan.
1963

 

ALMAMATER  

Di depan gerbangmu tua pada hari ini

Kami menyilangkan tangan ke dada kiri

Tegak tengadah menatap bangunanmu

Genteng hitam dan dinding kusam. Berlumut waktu

Untuk kali penghabisan

Marilah kita kenangkan tahun-tahun dahulu

Hari-hari kuliah di ruang fisika

Mengantuk pada pagi cericit burung gereja

Praktikum. Padang percobaan. Praktek daerah

Corong anastesi dan kilau skalpel di kamar bedah

Suara-suara menjalar sepanjang gang

Suara pasien yang pertama kali kujamah

Di aula ini, aula yang semakin kecil

Kita beragitasi, berpesta dan berkencan

Melupakan sengitnya ujian, tekanan gurubesar

Melepaskannya pada hari-hari perpeloncoan

Pada filem dan musik yang murahan

Ya, kita sesekali butuh juga konser yang baik

Drama Sophocles, Chekov atau ‘Jas Panjang Pesanan’

Memperdebatkan politik, Tuhan dan para negarawan

Tentang filsafat, perempuan serta peperangan

Bayang benua abad dahulu lewat abad yang kini

Di manakah kau sekarang berdiri? Di abad ini

Dan bersyukurlah karena lewat gerbangmu tua

Kau telah dilantik jadi warga Republik Berpikir Bebas

Setelah bertahun diuji kesetiaan dan keberanianmu

Dalam berpikir dan menyatakan kebebasan suara hati

Berpijak di tanah air nusantara

Dan menggarap tahun-tahun kemerdekaan

Dengan penuh kecintaan

 

Dan kami bersyukur pada Tuhan

Yang telah melebarkan gerbang tua ini

Dan kami bersyukur pada ibu bapa

Yang sepanjang malam

Selalu berdoa tulus dan terbungkuk membiayai kami

Dorongan kekasih sepenuh hati

Dan kami berhutang pada manusia

Yang telah menjadi guru-guru kami

Yang membayar pajak selama ini

Serta menjaga sepeda-sepeda kami

 

Pada hari ini di depan gerbangmu tua

Kami kenangkan cemara halamanmu dalam bau formalin

Mikroskop. Kamar obat. Perpustakaan

Gulungan layar di kampung nelayan

Nyanyi pohon-pohon perkebunan

Angin hijau di padang-padang peternakan

Deru kemarau di padang-padang penggembalaan

Dalam mimpi teknologi, kami kini dipanggil

Untuk menggarap tahun-tahun kemerdekaan

Dan mencintai manusianya

Mencintai kebebasannya.
1963

 

 

PEKALONGAN LIMA SORE  

Kleneng bel beca

Debu aspal panggang

Sangar jalan pelabuhan

Terik kota pesisir

Tik-tik persneling Raleigh

Bungkus sarung palekat

Sungai kuning coklat

Nyanyi rumah yatim

Pejaja es lilin

Riuh Kampung Arab

Jembatan loji karatan

Genteng rumah pegadaian

Keringat pasar sepi

Kumis Raj Kapoor

Sengangar lilin batik

Deru pabrik tenun

Bal-balan Bong Cina

Harum tauto Tjarlam

Sirup kopyor dingin

Gorengan kuali tahu

Percikan minyak kelapa

Sisa bungkus megono

Panas teh melati

Tik-tok kuda dokar

Dengung DKW Hummel

Peluit sepur bomel

Klakson Debu Revolusi.
1961

 

ADALAH BEL KECIL DI JENDELA

Sebuah bel kecil tergantung di jendela

Di bulan Juni

Berkelining sepi

Daun asam dan cericit burung gereja

Keletak kuda andong-andong Yogya

Kota tua membentang dalam debu

Sepanjang gang ditaburnya sunyi itu

Sebuah bel kecil tergantung di jendela

Di bulan Juli

Berke-

li-

ning

Sepi.
1965

 

 

SEBUAH JAKET BERLUMUR DARAH  

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai ke mana-mana

Melalui kendaraan yang melintas

Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan

Teriakan-teriakan di atap bis kota, pawai-pawai perkasa

Prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata

Semuanya berkata

LANJUTKAN PERJUANGAN!
1966

 

KARANGAN BUNGA  

Tiga anak kecil

Dalam langkah malu-malu

Datang ke Salemba

Sore itu

‘Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga

Sebab kami ikut berduka

Bagi kakak yang ditembak mati

Siang tadi.’
1966

 

DARI CATATAN SEORANG DEMONSTRAN  

Inilah peperangan

Tanpa jenderal, tanpa senapan

Pada hari-hari yang mendung

Bahkan tanpa harapan

Di sinilah keberanian diuji

Kebenaran dicoba dihancurkan

Pada hari-hari berkabung

Di depan menghadang ribuan lawan.
1966

 

DEPAN SEKRETARIAT NEGARA  

Setelah korban diusung

Tergesa-gesa

Ke luar jalanan

Kami semua menyanyi

‘Gugur Bunga’

Perlahan-lahan

Perajurit ini

Membuka baretnya

Airmata tak tertahan

Di puncak Gayatri

Menunduklah bendera

Di belakangnya segumpal awan.
1966

 

SEORANG TUKANG RAMBUTAN PADA ISTRINYA  

“Tadi siang ada yang mati,

Dan yang mengantar banyak sekali

Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah

Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!

Sampai bensin juga turun harganya

Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula

Mereka kehausan dalam panas bukan main

Terbakar muka di atas truk terbuka

Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu

Biarlah sepuluh ikat juga

Memang sudah rezeki mereka

Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan

Seperti anak-anak kecil

“Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan!”

Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya

Dan ada yang turun dari truk, bu

Mengejar dan menyalami saya

“Hidup pak rambutan!” sorak mereka

 

Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar

“Hidup pak rambutan!” sorak mereka

“Terima kasih, pak, terima kasih!

Bapak setuju kami, bukan?”

Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara

“Doakan perjuangan kami, pak,”

Mereka naik truk kembali

Masih meneriakkan terima kasih mereka

“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”

Saya tersedu, bu. Saya tersedu

Belum pernah seumur hidup

Orang berterima-kasih begitu jujurnya

Pada orang kecil seperti kita.

1966

 

KITA ADALAH PEMILIK SAH REPUBLIK INI  

Tidak ada pilihan lain. Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

“Duli Tuanku?”

Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus

Berjalan terus.
1966

 

ARITHMATIK SEDERHANA

Menyimak Adham Arsyad

Selama ini kita selalu
Ragu-ragu

Dan berkata:
Dua tambah dua
Mudah-mudahan sama dengan empat.
1966

 

BENTENG  

Sesudah siang panas yang meletihkan

Sehabis tembakan-tembakan yang tak bisa kita balas

Dan kita kembali ke kampus ini berlindung

Bersandar dan berbaring, ada yang merenung

Di lantai bungkus nasi bertebaran

Dari para dermawan tidak dikenal

Kulit duku dan pecahan kulit rambutan

Lewatlah di samping Kontingen Bandung

Ada yang berjaket Bogor. Mereka dari mana-mana

Semuanya kumal, semuanya tak bicara

Tapi kita tidak akan terpatahkan

Oleh seribu senjata dan seribu tiran

Tak sempat lagi kita pikirkan

Keperluan-keperluan kecil seharian

Studi, kamar-tumpangan dan percintaan

Kita tak tahu apa yang akan terjadi sebentar malam

Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam.
1966

 

DARI IBU SEORANG DEMONSTRAN  

“Ibu telah merelakan kalian

Untuk berangkat demonstrasi

Karena kalian pergi menyempurnakan

Kemerdekaan negeri ini

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada

Atau gas airmata

Tapi langsung peluru tajam

Tapi itulah yang dihadapi

Ayah kalian almarhum

Delapan belas tahun yang lalu

Pergilah pergi, setiap pagi

Setelah dahi dan pipi kalian

Ibu ciumi

Mungkin ini pelukan penghabisan

(Ibu itu menyeka sudut matanya)

Tapi ingatlah, sekali lagi

Jika logam itu memang memuat nama kalian

(Ibu itu tersedu sesaat)

Ibu relakan

Tapi jangan di saat terakhir

Kauteriakkan kebencian

Atau dendam kesumat

Pada seseorang

Walaupun betapa zalimnya

Orang itu

 

Niatkanlah menegakkan kalimah Allah

Di atas bumi kita ini

Sebelum kalian melangkah setiap pagi

Sunyi dari dendam dan kebencian

Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan

Serta Rasul kita yang tercinta

Pergilah pergi

Iwan, Ida dan Hadi

Pergilah pergi

Pagi ini.

(Mereka telah berpamitan dengan ibu dicinta

Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka

Dan berangkatlah mereka bertiga

Tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata).
1966

 

MEMANG SELALU DEMIKIAN, HADI  

Setiap perjuangan selalu melahirkan

Sejumlah pengkhianat dan para penjilat

Jangan kau gusar, Hadi

Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita

Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang

Jangan kau kecewa, Hadi

Setiap perjuangan yang akan menang

Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian

Dan para jagoan kesiangan

Memang demikianlah halnya, Hadi.
1966

 

BEBERAPA URUSAN KITA  

Tentang nasib angkatan ini

Itu adalah urusan sejarah

Tapi tentang menegakkan kebenaran

Itu urusan kita

Apakah cuaca akan cemas di atas
Hingga selalu kita bernaung mendung
Apakah jantung kita masih berdegup kencang
Dan barisan kita selalu bukit-batu-karang?

Berjagalah terus. Berjagalah!
Siang kita bila berlucut laras senapan
Malam kita bila terancam penyergapan
Berjagalah terus. Berjagalah!

Mungkin kita tak akan melihat hari nanti
Mungkin tidak kau. Tidak aku. Siapa bisa tahu
Tapi itu urusan Tuhan
Masalah kemenangan, ketenteraman tanpa tiran

Tentang nasib angkatan ini

Itu urusan sejarah

Tetapi tentang menegakkan kebenaran

Itu urusan kita.
1966

 

REFLEKSI SEORANG PEJUANG TUA  

Tentara rakyat telah melucuti Kebatilan

Setelah mereka menyimak deru sejarah

Dalam regu perkasa mulailah melangkah

Karena perjuangan pada hari-hari ini

Adalah perjuangan dari kalbu yang murni

Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya

Kecuali dua puluh tahun yang lalu

Mahasiswa telah meninggalkan ruang-kuliahnya

Pelajar muda berlarian ke jalan-jalan raya

Mereka kembali menyeru-nyeru

Nama kau, Kemerdekaan

Seperti dua puluh tahun yang lalu

Spiral sejarah telah mengantarkan kita

Pada titik ini

Tak ada seorang pun tiran

Sanggup di tengah jalan mengangkat tangan

Dan berseru: Berhenti!

Tidak ada. Dan kalau pun ada

Tidak bisa

Karena perjuangan pada hari-hari ini

Adalah perjuangan dimulai dari sunyi

Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya

Kecuali duapuluh tahun yang lalu.
1966

 

TENTANG TAUFIQ ISMAIL

(Baca biodata Taufiq Ismail di sini http://taufiqismail.com/tentang-taufiq-ismail). Taufik Ismail dilahirkan di Bukittinggi, 25 Juni 1935 dan dibesarkan di Pekalongan, ia tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak. Semasa kuliah aktif sebagai Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-1961) dan WaKa Dewan Mahasiswa UI (1961-1962). Di Bogor pernah jadi guru di SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis, juga mengajar di IPB. Karena menandatangani Manifesto Kebudayaan, gagal melanjutkan studi manajemen peternakan di Florida (1964) dan dipecat sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor. Ia menulis di berbagai media, jadi wartawan, salah seorang pendiri Horison (1966), ikut mendirikan DKJ dan jadi pimpinannya, Pj. Direktur TIM, Rektor LPKJ dan Manajer Hubungan Luar Unilever. Penerima beasiswa AFS International Scholarship, sejak 1958 aktif di AFS Indonesia, menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya, penyelenggara pertukaran pelajar antarbangsa yang selama 41 tahun (sejak 1957) telah mengirim 1700 siswa ke 15 negara dan menerima 1600 siswa asing di sini. Taufiq terpilih menjadi anggota Board of Trustees AFSIS di New York, 1974-1976.

Pengkategoriannya sebagai penyair Angkatan '66 oleh Hans Bague Jassin merisaukannya, misalnya dia puas diri lantas proses penulisannya macet. Ia menulis buku kumpulan puisi, seperti Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain. Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka dalam kerja sama. Iapun menulis lirik buat Chrisye, Yan Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya kerja sama semacam ini penting agar jangkauan publik puisi lebih luas.

Taufiq sering membaca puisi di depan umum. Di luar negeri, ia telah baca puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Baginya, puisi baru ‘memperoleh tubuh yang lengkap’ jika setelah ditulis, dibaca di depan orang. Pada April 1993 ia membaca puisi tentang Syekh Yusuf dan Tuan Guru, para pejuang yang dibuang VOC ke Afrika Selatan tiga abad sebelumnya, di 3 tempat di Cape Town (1993), saat apartheid baru dibongkar. Pada Agustus 1994 membaca puisi tentang Laksamana Cheng Ho di masjid kampung kelahiran penjelajah samudra legendaris itu di Yunan, RRC, yang dibacakan juga terjemahan Mandarinnya oleh Chan Maw Yoh.

Bosan dengan kecenderungan puisi Indonesia yang terlalu serius, di awal 1970-an menggarap humor dalam puisinya. Sentuhan humor terasa terutama dalam puisi berkabar atau narasinya. Mungkin dalam hal ini tiada teman baginya di Indonesia. Antologi puisinya berjudul Rendez-Vous diterbitkan di Rusia dalam terjemahan Victor Pogadaev dan dengan ilustrasi oleh Aris Aziz dari Malaysia(Rendez-Vous. Puisi Pilihan Taufiq Ismail. Moskow: Humanitary, 2004.)

Mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Dua kali ia menjadi penyair tamu di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1971-1972 dan 1991-1992), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993).

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler