Skip to Content

SERIAL WIRO SABLENG PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 EPISODE 063: NERAKA KRAKATAU

Foto SIHALOHOLISTICK
files/user/3199/WS063.jpg
WS063.jpg

SATU

 

Mata manusia biasa akan melihatnya sebagai suatu hal yang tidak dapat dipercaya. Namun ini adalah kenyataan. Sebuah perahu kecil meluncur deras seolah membelah air laut di selat Sunda menuju ke arah Barat Laut. Saat itu tengah hari tepat.

Sang surya memancarkan sinarnya yang paling panas pada puncak ketinggiannya. Di atas perahu tampak duduk seorang nenek berwajah angker. Tubuhnya kurus kering. Mukanya seperti tengkorak karena hanya tinggal kulit pembalut tulang. Dia mengenakan pakaian warna hijau tua.

Perempuan tua ini memeang sebuah pendayung di tangan kirinya. Sikapnya mendayung acuh tak acuh saja. Tetapi kekuatan dayungannya membuat perahu yang ditumpanginya melesat deras di permukaan air laut yang bergelombang. Rambutnya yang putih panjang riap-riapan ditiup angin.

Sambil mendayung mulutnya yang perot terdengar menyanyi. Syair nyanyiannya terasa aneh.

Dosa muda salah kaprah

Jangan harap ampunan pasrah

Tujuh samudera akan kutempuh

Seribu badai akan kutantang

Yang berdosa berpura lupa

Berlagak bodoh seolah gagah

Kalau tak muncul perlihatkan dada

Anak turunan kujadikan mangsa

Sang istri sudah kudapat

Menyusul kini anak keempat

Satu persatu kubuat sekarat

Agar terkikis dendam berkarat

Ketika matahari muali bergeser ke Baat di kejauhan mulai kelihatan pantai Pulau Rakata. Lebih jauh lagi ke pedalaman menjulang Gunung Krakatau. Agaknya pulau inilah yang menjadi tujuan nenek angker itu. Si nenek menyeringai. Aneh!

Meski sudah berusia hampr 70 tahun tapi dia memiliki deretan gigi yang masih lengkap atas bawah. Hanya saja dua taringnya sebelah atas tampak lebih panjang seperti taring srigala hutan dan membuat tampangnya tambah mengerikan.

Nenek itu kembali tampak menyeringai. Dia memandang ke lantai perahu. Astaga! Ternyata di atas perahu itu dia tidak sendirian. Sesosok tubuh lelaki berusia sekitar 40 tahun tergeletak tak bergerak. Wajah dan dadanya yang tidak tertutup baju kelihatan penuh dngan guratan-guratan luka yang dalam dan mengerikan. Tidak dapat dipastikan apakah lelaki ini masih hidup atau sudah mati. Rupanya dia hanya pingsan.

Sesaat terdengar orang ini siuman dan mengerang.

“Air….tolong….” terdengar suaranya meminta, sangat perlahan.

“Apa? Kau haus? Minta minum? Baik! Akan kuberi minum!”

Dari lantai perahu nenek ini mengambil sebuah batok kelapa. Dengan batok ini diciduknya air laut. “Ini! Minumlah!” Lalu isi batok diguyurkan ke dalam mulut orang yang terbuka setengah mati menderita haus itu!

Air laut asin itu tentu saja tidak akan melepas dahaga orang yang meminta. Sebaliknya orang ini malah keluarkan suara tercekik. Kedua matanya sejak tadi terpejam kini terbuka mendelik. Suara cekikan disusul dengan suara erangan tertahan. Air asin seolah mencekik tenggorokannya. Lalu sepasang mata itu tidak bergerak lagi dan hanya bagian putihnya saja yang kelihatan. Mati! Orang yang menggeletak di lantai perahu itu telah menemui ajalnya!

Anehnya si nenek tertawa mengekeh mengetahui orang itu mati. Seolah dia sangat membenci orang tua itu dan sama sekali tidak perduli akan kematiannya.

“Kau akhirnya mampus juga Sampan! Aku sebenarnya kasihan padamu. Kau hanya anak yang menerima celaka karena dosa orang tuamu! Tapi tidak usah khawatir. Masih ada lima orang manusia lagi yang punya pertalian darah sangat dekat denganmu yang bakal menerima kematiannya! Hik….hik….hik! Kau tak usah cemas Sampan. Bukankah kau bakal berkumpul dengan kau punya ibu walau tidak satu liang kubur?! Hik…hik…hik!”

Si nenek mengayuh lagi perahunya acuh tak acuh. Pantai Pulau Rakata semakin dekat. Dari mulutnya kembali terdengar suara nyanyian tadi.

Jangan harap ampunan pasrah

Tujuh samudera akan kutempuh

Seribu badai akan kutantang

Serombongan burung camar tampak terbang cerai berai ketika seekor elang besar tiba-tiba muncul dan menyerbu. Pada saat itulah perahu si nenek angker mencapai tepi pantai Pulau Rakata pada sebuah teluk yang sempit. Perempuan ini melompat turun ke darat. Masih sambil menyanyi-nyanyi dia menarik perahu ke bawah sebatang pohon kelapa di tepi pasir.

Beberapa lama sebelum nenek dan perahunya mendarat di Pulau Rakata, dua orang leleaki berpakaian serba merah berlari cepat dari arah gunung.

“Kita sudah memeriksa hampir seluruh tepian kawah!” berkata orang yang di sebelah kanan. Namanya Supit Jagal. Di pinggangnya ada sebuah golok besar berbentuk segi empat seperti golok tukang jagal. “Jangan-jangan ceita tentang batumustika itu hanya tipuan belaka!”

Kawannya berhenti berlari. “Coba kita lihat lagi peta rahasia itu!” katanya lalu mengeluarkan satu lipatan kertas dari kantong baju merahnya. Lipatan kertas dibukanya kemudian dibentangkannya di atas pasir. Pada kertas yang terkembang itu terlihat gambar kasar Pulau Rakata lengkap dengan Gunung Krakatau. Di sekitar kawah ada tanda-tanda silang. Tanda silang itu juga terlihat pada beberapa bagian peta yang menghadap ke Selat Sunda. “Tanda silang di sebelah ujung kawah sini merupakan bagian pulau yang belum kita selidiki. Bagaimana kalau kita menyelidik ke bagian tanda silang sebelah kanan. Tampatnya tak berapa jauh dari sini….”

“Aku setuju Tubagus Singagarang. Agaknya kita tadi terlalu jauh mendarat ke sebelah utara. Ini gara-gara angin keras di selat tadi….”

Tubagus Singagarang melipat peta itu kembali dan menyimpannya di dalam saku. Bersama Supit Jagal dia bergerak ke arah tenggara Pulau Rakata. Angin laut bertiup kencang memapas arah lari mereka. Di satu tempat Tubagus Singagarang hentikan larinya. Dia menunjuk ke arah deretan bagian kawah paling gersang dan agak mendaki di bagian Timur.

“Supit, kau lihat benda-benda aneh yang bersusun di sebelah sana?”

“Ya, aku melihat. Aneh. Benda apa itu? Berbebtuk seperti perahu-perahu kecil. Tampaknya terbuat dari potongan pohon-pohon kelapa.”

“Ada tujuh semuanya…..” kata Supit pula.

“Bukan mustahil di sana tersembunyinya batu mustika yang kita cari. Mari kita periksa!”

“Mari!” sahut Supit Jagal.

Kedua orang ini segera lari ke arah deretan benda yang mereka lihat. Begitu sampai di tempat yang dituju ternyata yang mereka lihat dari kejauhan tadi adalah gabungan-gabungan dua batang kelapa yang tengahnya dilubang seperti perahu.

“Apa ini?” ujar Tubagus Sungagarang. “Kotak bukan perahu bukan” Lalu dia melangkah mengikuti jejeran batang-batang kelapa itu sambil menghitung.

“Satu…dua…tiga…empat…lima…enam…” Memasuki hitungan ketujuh yaitu di hadapan batang kelapa yang ketujuh hitungan Tubagus Singagarang terhenti.

Langkahnya justru kini tersurut. Mukanya yang garang mendadak menjadi pucat. Supit Jagal mendatangi dari belakang seraya bertanya.

“Ada apa Tubagus? Kau seperti melihat setan!”

“Lihat….” Suara Tubagus Singagarang agak bergetar dan jarinya menunjuk ke dalam lobang pada gabungan batang kelapa ke tujuh.

Supit Jagal maju mendekat beberapa langkah.

“Astaga!” Orang inipun tampak terkejut dan berubah air mukanya!

***

 

DUA

 

Di dalam lubang batang kelapa yang terletak paling ujung itu terbaring satu sosok tubuh perempuan tua mengenakan baju kebaya putih dan kain panjang. Kedua matanya terpejam. Keadaannya demikian rupa hingga kalau tidak diperiksa tidak diketahui apakah dia dalam keadaan tidur nyenyak, pingsan atau sudah jadi mayat!

Sekujur tubuhnya mulai dari rambut sampai ke ujung kaki diselimuti oleh sejenis minyak. Batang kelapa dimana dia tebaring penuh dengan kerumunan semut. Tetapi binatang-binatang ini tidak satupun yang menyentuh tubuhnya. Kedua orang lelaki itu memperkirakan minyak pada tubuh perempuan tua itulah yang menyebabkan semuttidak berani menyentuhnya.

“Coba kau periksa denyut jantungnya,” kata Tubagus Singagarang.

“Kau saja,” jawab Supit Jagal menolak. Diam-diam dia merasa ngeri.

Dari kedua bersahabat itu Tubagus Singagarang memang lebih berani. Dia melangkah mendekati batang kelapa lalu mengulurkan tangan memegang lengan kiri perempuan tua di dalam lubang kelapa.

“Tak ada denyut ndi….” Berucap Tubagus Singagarang setelah memegang dan merasa-rasa beberapa ketika. Dilepaskannya pegangannya. Fia membungkuk lalu meletakkan telinga kanannya setengah kuku di atas dada orang dalam lunbang.

Kemudian dia menggeleng dan melirik pada Supit Jagal. “Detak jantungnyapun tidak kudengar”

“Berarti orang ini memang sudah mati!” kata Supit Jagal.

Tubagus Singagarang ingin memastikan. Diulurkannya tangan kanannya. Jari-jari tangannya membalikkan kelopak mata kiri orang dalam lubang. Tak ada hitamnya. Keseluruhan matanya hanya putih belaka.

“Yang kita lihat memang mayat!” kata Tubagus Singagarang. Tangannya yang basah oleh minyak yang menyelimuti tubuh orang dalam lubang digosok-gosokkan pada pakaiannya. Lalu dia coba mencium tangannya itu. Dia mencium sesuatu.

“Minyak serai bercampur jelaga kayu besi,” katanya. “Jelas mayat ini sengaja diberi minyak itu untuk diawetkan!”

Supit Jagal tentu saja heran mendengar ucapan kawannya itu. “Benar-benar aneh. Kita mencari batu mustika. Yang kita temui di Krakatau ini mayat perempuan tua yang diawetkan. Untuk apa? Siapa yang punya pekerjaan?” Dia bertanya sambil memandang ke bwah, ke arah kawah Gunung Krakatau yang mengepulkan asap berkepanjangan.

“Pertanyaan lain siapa adanya perempuan tua ini?” sambung Tubagus Singagarang. “Memang aneh…”

“Kau lihat sendiri Tubagus. Ada tujuh batang kelapa berlubang di tempat ini. Satu berisi mayat. Berarti bakal ada emnam mayat lagi yang akan dimasukkan pada enam batang kelapa ini!”

“Dugaanmu mungkin benar….” Sahut Tubagus Singagarang. Dua sahabat ini saling pandang. Di balik rasa heran mereka jelas ada bayangan rasa ngeri. “Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Lebih baik lekas-lekas meninggalkan kawasan kawah unung Krakatau ini…” jawab Supit Jagal.

“Lalu bagaimana dengan usaha kita mencari batu mustika itu?” tanya Tubagus Singagarang dan hendak mengeluarkan kembali peta yang ada dalam saku pakaiannya.

Tapi tak jadi ketika mendengar sahabatnya berkata.

“Lupakan saja hal itu. Aku merasa tidak enak. Ada yang tidak beres di tempat ini Tubagus. Aku mencium bahaya. Bahaya maut!”

“Aku juga merasakan begiut,” sahut Tubagus Singagarang. “Tapi kau lihat sendiri. Pulau ini sepi-sepi saja. Tak ada orang selain kita. Kecuali mayat perempuan tua ini”

“Tidak mungkin Tubagus! Aku yakin sekali pasti ada orang lain di sini. Mayat itu tidak mungkin berjalan sendiri sampai kemari! Ada orang yang membawanya. Mengawetkannya dengan minyak serai bercampur jelaga….”

“Tapi untuk apa? Pekerjaan apa ini sebenarnya?” ujar Tubagus Singagarang pula. “Bagaimana kalau kita bersembunyi dan menginati?”

“Terus terang nyaliku mulai leleh. Kau silahkan saja mengintai, aku biar turun ke bawah terus ke pantai. Aku akan menunggumu di perahu. Jika sampai rembang petang kau tak muncul terpaksa aku meninggalkan kau dan menyeberang kembali ke Jawa seorang diri!”

Tubagus Singagarang jadi berpikir mendengar kata-kata kawannya itu. Lalu dia berkata “Kita sahabat dan saudara seperguruan. Jika senang sama senang. Kalau susah sama susah. Berarti matipun harus sama-sama! Aku mengalah. Aku ikut bersamamu. Memang sebaiknya kita pulang saja. Bukan mustahil cerita dan peta tentang batu mustika itu hanya dibuat-buat orang saja. Hendak mengacau dunia persilatan!”

Setelah memandang sekali ke arah sosok mayat dalam lubang pohon kelapa, Tubagus Singagarang dan Supit Jagal segera hendak berkelebat tinggalkan tepi kawah Gunung Krakatau itu. Tapi baru saja mereka bergerak tiba-tiba terdengar suara orang menyanyi di kejauhan.

Dosa muda salah kaprah

Jangan harap ampunan pasrah

Tujuh samudera akan kutempuh

Seribu badai akan kutantang

Tubagus Singagarang dan Supit Jagal jadi terkesiap saling pandang. “Ada orang menyanyi. Apa kataku. Ternyata memang ada orang lain di pulau ini!” berbisik Supit Jagal. Lalu di kejauhan kembali terdengar suara nyanyian orang tadi

Berlagak bodoh seolah gagah

Kalau tak muncul perlihatkan dada

Anak turunan kujadikan mangsa

Sang istri sudah kudapat

Menyusul kini anak keempat

Satu persatu kubuat sekarat

Agar terkikis dendam berkarat

“Siapa yang menyanyi…?” bisik Supit Jagal. “Syair lagunya aneh mengerikan. Berbau maut!”

“Suaranya suara perempuan. Dari puncak sini kita belum dapat melihatnya. Kalau tidak memiliki tenaga dalam tinggi tidak mungkin suaranya terdengar sampai ke sini….”

“Mungkin sekali….Jangan-jangan orang itu tengah menuju ke sini….” Ujar Supit Jagal pula.

“Bagaimana kalau kita menyingkir saja dari sini?”

“Baik! Dari pada mencari urusan….!” Jawab Supit Jagal. Lalu saudara seperguruan itu segera hendak berkelebat. Namun dari bawah kaki gunung telah lebihdulu kelihatan seorang berpakaian hijau tua berlari sangat kencang menuju puncak Gunung Krakatau. Di bahu kirinya dia memanggul sesosok tubuh. Tidak mudah memanggul orang naik ke puncak kawah gunung. Apalagi berlari dan sambil membawa beban berat seperti itu.

“Kita berhadapan dengan orang pandai, Tubagus. Kita tak punya kesempatan untuk kabur. Ayo lekas sembunyi di balik batang kelapa di ujung kiri sana”

Baru saja kedua bersahabat itu menjatuhkan diri sama rata dengan tanah gunung hingga terlindung oleh batang kelapa berlubang, dari bawah gunung muncul orang berbaju hijau tadi. Tubagus dan Supit Jagal yang coba mengintai sama terkejut ketika menyaksikan bahwa yang muncul adalah seorang nenek berwajah angker seperti tengkorak dengan rambut putih panjang riap-riapan. Di bahu kirinya ada seorang lelaki yang menurut dugaan Tubagus dan Supit sudah tidak bernyawa lagi.

Mereka memperhatikan terus. Si nenek angker melangkah mendekati batangan berlubang di sebelah kiri batang kelapa yang ada mayatnya.Seperti melempar bungkusan atau kayu, nenek berambut putih lemparkan sosok tubuh lelaki yangdipanggulnya ke dalam lubang batang kelapa. Dipandangnya sosok tubuh itu sesaat lalu dia tertawa terkekeh-kekeh. Disusul dengan nyanyian.

Sang istri sudah kudapat

Menyusul kini anak keempat

Satu persatu kubuat sekarat

Agar terkikis dendam berkarat

Habis bernyanyi si nenek kembali tertawa panjang. “Anak dan ibu sudah kudapat. Hik…hik…hik. Masih ada lima nyawa lagi. Masih ada lima mayat lagi pengisi lobang neraka itu! Ha…ha…ha! Awas kalian! Awas kau jahanam Giri Arsana! Kau berada dalam daftar kematian yang terakhir. Agar kau bisa menyaksikan dan merasakan pahit perihnya melihat kematian orang-orang yang kau cintai! Bila sudah lengkap kau akan kuundang ke tempat ini! Hik…hik…hik! Lalu kau akan  kujadikan korban terakhir pengisi liang neraka batang kelapa! Hik…hik…hik!”

Dari dalam sebuah kantong yang ada di pinggang dan selalu dibawanya kemana-mana nenek angker itu keluarkan sebuah tabung bambu. Dia membuka penutup tabung lalu melangkah lebih dekat ke batang kelapa tempat tadi diamelemparkan orang yang dipanggulnya. Dari tabung itu diguyurkannya sejenis cairanke seluruh bagian tubuh dalam batang kelapa.

“Kau lihat,” bisik Tubagus Singagarang. “Dia mengguyurkan minyak pengawet. Berarti orang yang barusan dicampakannya ke dalam lubang memang sudah tidak bernyawa lagi!”

“Hemmm…Apa yang harus kita lakukan sekarang?” bertanya Supit Jagal.

“Kita tunggu saja sampai nenk itu pergi,” sahut Tubagus Singagarang.

“Kalau dia tidak pergi-pergi dan berada di sini samapi besok…?”

“Tidak mungkin. Dia tidak mungkin bermalam di sini. Tidak ada tempat untuk menginap….” jawab Tubagus Singagarang.

“Jangan terlalu yakin. Kita harus waspada. Kita bukan berhadapan dengan seorang tua bangka biasa. Sepertinya dia mendekam dendam kesumat yang amat besar. Turut nyanyiannya tadi, ada lima orang lagi yang bakal dibunuhnya!”

Tubagus Singagarang jadi gelisah. Bersama sahabatnya untuk beberapap lama dia hanya bisa berdiam diri. Di nenek rupanya sudah selesai menuangkan cairan pengawet di tubuh mayat. Tabung bambu disimpannya kembali. Tiba-tiba, tidak terduga oleh dua orang yang bersembunyi si nenek di ujung keluarkan bentakan menggeledek.

“Permainan kalian sudah selesai! Aku menunggu sudah cukup lama! Lekas keluar dari balik batang kelapa dan berlutut di hadapanku!”

***

 

TIGA

 

Tubagus Singagarang dan Supit Jagal sama-sama tersentak kaget.

“Dia sudah tahu kita di sini, bagaimana sekarang?” berbisik Supit Jagal.

“Tak ada jalan lain. Kita keluar saja,” jawab Tubagus Singagarang. Lalu dia mendahului berdiri. Dengan hati agak kecut Supit Jagal mengikuti.

“Hemmm… Dua ekor monyet berpakaian merah yang tidak aku kenal! Lekas datang ke hadapanku dan berlutut!” bentak si nenek sambil tolak pinggang dan memandang mendelik ke arah dua orang saudara seperguruan itu.

Tubagus Singagarang dan Supit Jagal memang melangkah mendekati nenek angker itu. Tapi untuk berlutut mana mereka mau! Jelas si nenek menunjukkan tampang dan sosok angker. Namun sebagai orang-orang persilatan, dua lelaki berpakaian merah itu mampu menguasai diri, menekan perasaan takut dan akhirnya muncul keberanian.

“Eh! Mengapa masih belum berlutut?! Apa kalian tuli tidak mendengar perintahku?!”

“Nenek tua,” kata Tubagus Singagarang. “Kami tidak kenal kau, kau tidak kenal kami. Mengapa bersikap begitu keras?!”

“Ah monyet jelek! Rupanya kau tidak tuli dan juga tidak bisu. Siapa aku kau tidak perlu tahu. Kalian telah melakukan kesalahan! Apa kalian masih tidak mengerti?!”

“Tentu saja! Kesalahan apa yang telah kami lakukan?!” sahut Tubagus Singagarang.

“Seluruh kawasan Gunung Krakatau ini adalah daerah kekuasaanku! Siapa saja yang berada di sini tanpa izinku berarti mampus! Dan kalian berdua jelas-jelas tadi mengintai apa yang telah aku lakukan! Dosa kalian tidak bisa diampunkan! Lekas berlutut untuk menerima kematian!”

Tubagus Singagarang dan Supit Jagal jadi saling pandang. Sambil menekan gagang golok empat persegi yang terselip di pinggangnya Supit Jagal membuka mulut untuk pertama kali.

“Kami berdua sudah lima puluh tahun hidup. Belum pernah mendengar bahwa Gunung Krakatau ini ada penguasanya. Turut yang kami tahu daerah ini daerah bebas yang bisa didatangi siapa saja!”

“Itu turut pengetahuanmu, monyet busuk! Tapi turut kekuasaanku kau yang akan mati lebih dulu!” membentak si nenek.

Dihina seperti itu Supit Jagal jadi kalap. Dia mendengus lalu menyahuti “Mati hidup di tangan Tuhan! Kalau ada makhluk yang hampir jadi bangkai hendak membunuh kami, masakan kami hanya bertumpang dagu?!”

Si nenek mendongak ke langit lalu tertawa panjang.

“Daerah ini harus bebas dari mayat siapapun. Kecuali tujuh mayat yang sudah ditakdirkan berkubur di sini. Kalian berdua hanya cukup pantas untuk jadi umpan kawah Krakatau!”

Si nenek turunkan kepalanya. Bersamaan dengan itu di ulurkan kedua tangannya ke depan. Tubagus Singagarang dan Supit Jagal tersirap darah mereka ketika menyaksikan bagaimana dari sepuluh jari tangan si nenek yang kurus kering itu mencuat keluar sepuluh kuku panjang hitam dan runcing!

“Sepuluh Kuku Iblis!” teriak dua lelaki berpakaian merah itu berbarengan. Keduanya sama tersurut mundur denga paras berubah! Si nenek tertawa mengekeh. “Sekarang kalian sudah tahu siapa aku!” katanya

“Hik…hik…hik!”

Suara tawa si nenek lenyap. Dari mulutnya keluar suara deperti lolongan srigala. Tubuhnya melesat ke arah Supit Jagal. Tangan kanannya berkelebat. Lima garis hitam berkiblat di udara. Supit Jagal berseru tegang. Dia melompat mundur dan cepat cabut golok besarnya. Dengan senjata itu dia memapaki serangan lima kuku.

Traakk….tarakk…traaakk!

Golok besar itu berhasil membabat tiga dari lima kuku tangan kanan si nenek. Tapi apa yang terjadi? Si nenek hanya ganda tertawa. Mata golok yang dipegang Supit Jagal tampak somplak besar di tiga bagian!

Selagi Supti Jagal tertegun ketakutan, tangan kiri si nenek menderu dari samping. Terdengar jeritan Supit Jagal. Mukanya sebelah kiri sampai leher koyak besar. Dari lehernya menyembur darah karena salah satu urat besarnya tersambar putus oleh cakaran kuku iblis si nenek! Nyawanya tak tertolong lagi. Belum puas si nenek lantas tendang tubuh Supit Jagal hingga terpental dan melayang jatuh ke dalam kawah!

Bagaimanapun ngerinya Tubagus Singagarang melihat kejadian itu namun apa yang terjadi dengan sahabatnya membuat dia kalap. Tubuhnya melayang di udara. Kaki kanannya menderu ke tubuh si nenek dan dengan telak menghantam perutnya!

Si nenek terlempar empat langakh, tersandar pada batang kelapa yang keempat. Tapi dia tidak tampak kesakitan malah tertawa-tawa dan usap-usap perutnya dengan sikap mengejek.

“Monyet jelek! Kau barusan menendangku atau cuma menggelitik!”

Kejut Tubagus Singagarang bukan kepalang. Orang lain pasti sudah hancur perutnya dihantam tendangannya tadi. Si nenek bukan saja tidak merasa apa-apa malah masih sanggup mempermainkannya!

“Dia bukan lawanku. Aku harus cari selamat!” membatin Tubagus Singagarang. Dia melirik ke arah Supit Jagal. Sahabatnya tampak menggeliat-geliat di tanah sambil pegangi mukanya yang koyak dan mengucurkan darah. Lukanya kelihatan mulai menghitam tanda mengandung racun jaha. Nyawanya pasti tidak tertolong lagi.

Rupanya si nenek yang bergelar Sepuluh Kuku Iblis dapat membaca apa yang ada di pikiran Tubagus Singagarang. Karena baru saja dia bergerak hendak melarikan diri, perempuan tua ini sudah melompat menghadang langakhnya.

“Monyet jelek! Kau mau lari kemana?!” bentak si nenek. Kedua tangannya dihantamkan ke depan. Tubagus Singagarang cepat membungkuk. Sepuluh larik sinar hitam menderu di atas kepalanya. Dengan tenaga dalam penuh Tubagus lepaskan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Satu sinar kemerahan menggebubu ke arah dada si nenek. Begitu dadanya terkena pukulan sakti tersebut, Sepuluh Kuku Iblis tertawa mengekeh. Dia melangkah maju. Dengan kesaktian yang dimilikinya dia mendorong sinr pukulan lawan, membuat Tubagus Singagarang merasa tangannya tergetar hebat dan tubuhnya kini terdorong.

Si nenek tiba-tiba membentak dan hentakkan kaki kanannya ke tanah. Tanah tebing kawah Gunung Krakatau itu bergetar hebat. Tubuh Tubagus Singagarang terlempar dua kaki ke atas. Orang ini berteriak keras ketika menyadari dirinya jatuh tidak lagi di atas tebing yang sama, tetapi masuk ke bagisn kawah. Dia berusaha membuat lompatan jungkir balik. Namun terlambat. Tubuhnya sudah keburu jatuh ke bawah, lalu berguling deras menuju kawah panas di bawah sana! Si nenek tertawa melengking. Dia melangakh mendekati tubuh Supit Jagal.

 “Susul temanmu sana!” bentak perempuan tua ini. Lalu ditendangnya tubuh yang sudah tak bernafas itu hingga mencelat mental dan terlempar jatuh ke dalam kawah Gunung Krakatau.

***

 

EMPAT

 

Perguruan Silat Melati Putih pada masa itu merupakan salah satu perguruan yang besar di kawasan Barat Pulau Jawa. Sejak didirikan sekitar delapan tahun lalu perguruan ini diketuai oleh Sampan Gayana, putera seorang tokoh silat bernama Giri Arsana yang bergelar Dewa Berpaung Hitam berusia hampir 70 tahun. Sejak beebrapa bulan belakangan ini Giri Arsana seolah lenyap dari rimba persilatan. Dimana dia berada atau apa yang dilakukannya tidak seorangpun tahu. Sampan Gayana sendiri tidak berusaha menyelidiki. Selain kesibukannya mengurus lebih dari dua ratus murid perguruan, dia juga tahu kalau ayanhnya suka-suka berlaku aneh. Dan tingkah laku aneh seorang toko silat bukan merupakan hal yang luar biasa.

Malam itu udara terasa dingin, lebih dingin dari biasanya. Dua puluh orang anak murid perguruan kelas dua tengah berlatih silat di halaman. Tanah tempat latihan ini cukup luas dan dikelilingi oleh empat bangunan panjang yang menjadi tempat tinggal semua murid. Tak jauh dari empat bangunan panjang itu terdapat sebuah rumah papan. Di sinilah sang Ketua Perguruan tinggal seorang diri karena sampai saat itu usianya yang 45 tahun Sampan Gayana masih belum mempunyai istri.

Selagi dua puluh murid itu berlatih di bawah penerangan lampu-lampu minayk yang tergantung di bawah cucuran atap empat bangunan panjang, tiba-tiba terdengar suara nyanyian mengumandang di seantero lapangan latihan.

Dosa muda salah kaprah

Jangan harap ampunan pasrah

Tujuh samudera akan kutempuh

Seribu badai akan kutantang

Yang berdosa berpura lupa

Berlagak bodoh seolah gagah

Kalau tak muncul perlihatkan dada

Anak turunan kujadikan mangsa

Sang istri sudah kudapat

Menyusul kini anak keempat

Satu persatu kubuat sekarat

Agar terkikis dendam berkarat

Suara nyanyian sirap. Mendadak ada bayangan berkelebat. Lalu tahu-tahu di tengah kalangan latihan telah berdiri seorang nenek bertubuh tinggi kurus, berwajah seperti tengkorak, berambut putih riap-riapan. Dua puluh murid peruruan sesaat tercekam, lalu mencium sesuatu yang tidak beres, mereka bergerak menyebar sehingga si nenek terkurung di tengah-tengah. Si nenek memandang berkeliling. Wajah tengkoraknya tampak menyeringai.

“Apa benar ini Perguruan Silat Melati Putih?!” si nenek tiba-tiba ajukan pertanyaan.

Mula-mula tak ada yang mau menjawab. Namun salah seorang murid akhirnya menyahut membenarkan.

“Apa benar Ketua Perguruan seorang bernama Sampan Gayana?!” si nenek bertanya lagi.

“Betul. Ketua kami memang Sampan Gayana,” jawab murid peruguran tadi. Lalu seorang murid lain bertanya. “Orang tua harap bari tahu kau siapa dan ada keperluan apa datang kemari?!”

“Siapa aku bukan urusanmu budak jembel!” si muka tengkorak membentak yang membuat semua anak murid perguruan jadi terkejut. “Aku datang mencari Ketua kalian! Panggil dia! Suruh datang ke hadapanku!”

“Ketua kami sedang beristirahat. Jika memang ada keperluan besok pagi saja datang kemari”

“Hemmmm…. Jadi kalian tak mau turut perintahku. Tidak mau memanggil Sampan Gayana! Bagus! Aku mau lihat apa kalian benar-benar tidak perduli!”

Habis berkata begitu tubuh si nenek berkelebat. Empat pekikan terdengar serentak merobek kesunyian dan langit gelap. Empat anak murid perguruan terpental. Begitu jatuh ke tanah keempatnya tidak berkutik lagi. Semua telah putus nyawa dengan kepala pecah!

Serta merta kegemparan melanda tempat itu. Beberapa orang murid perguruan yang menjadi marah melihat kematian empat teman mereka segera hendak menyerbu. Tapi gerakan mereka terhenti ketika si nenek keluarkan suara tawa melengking.

“Hanya orang-orang bodoh yang ingin mampus lebih cepat!” ujar si nenek sambil tegak bertolak pinggang. Kedua matanya memandang angker. Membuat para murid yang tadi hendak nekad menyerang kini hanya bisa tertegun di tempat masing-masing. Mereka sama maklum kalau tamu tidak diundang ini memiliki kepandaian sangat tinggi dan bukan tandingan mereka. Lalu terdengar seseorang berteriak.

“Lekas panggil Ketua!”

Dua orang murid berkelebat tinggalkan tempat itu.

Si nenek menyeringai. “Dasar manusia-manusia tolol!” katanya. “Kalau tadi-tadi saja kalian turuti perintahku tak akan ada nyawa melayang! Goblok!”

Sampan Gayana yang tengah tertidur lelap tersentak kaget ketika dibangunkan. Ketua Perguruan ini tambah kaget sewaktu diberitahu apa yang terjadi. Cepat dia berganti pakaian lalu keluar dari rumah papan mendahului dua orang murid yang melapor. Sementara itu seluruh murid perguruan dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi kini telah terbangun dan mereka semua menghambur ke tanah lapang. Para murid memberi jalan begitu Ketua mereka muncul. Sesaat kemudian Sampan Gayana telah berada di tengah lapangan. Sesaat dia memperhatikan empat orang muridnya yang bergeletak mati di tanah. Lalu dia memandang ke arah si nenek.

“Nenek, aku tidak kenal dirimu. Pasal apa membuat kau membunuh empat murid Perguruan?”

Si nenek tidak segera menjawab. Dia memperhatikan lelaki di hadapannya mulai dari ujung rambut sampai ke kaki baru membuka mulut.

“Apa benar kau orangnya yang bernama Sampang Gayana, anak dari Giri Arsana?”

“Kau tidak salah. Aku memang Sampan Gayana, putera Giri Arsana. Sekarang harap kau memberitahu siapa dirimu.”

Si nenek tidak menjawab. Dia mendongak lalu keluarkan suara tawa panjang. Sampan Gayana yang merasa dianggap rendah maju satu langkah. “Nenek, kau muncul malam buta. Membunuh murid-muridku tanpa diketahui apa dosa dan kesalahannya. Tidak ada silang sengketa di antara kita….”

“Apa yang kau ucapkan itu benar! Tak ada dosa, tak ada kesalahan dan tidak ada silang sengketa. Tapi aku beri tahu padamu anak manusia. Kau menanggung dosa turunan! Dosa keji yang pernah dibuat ayahmu!”

Kening Ketua Perguruan Silat Melati Putih itu tampak berkerut. “Aku tidak mengerti maksud kata-katamu!”

“Aku kemari memang tidak membuat kau mengerti! Kau tidak perlu mengerti. Aku hanya ingin satu orang mengerti. Keluar dari sarang persembunyiannya untuk menerima pembalasan sakit hati. Selama dia masih bersembunyi secara pengecut, selama itu pula aku akan mengambil korban satu demi satu orang-orang yang terdekat dengan dia!”

“Siapa yang kau maksudkan dengan dia itu?!” bentak Sampan Gayana.

Si nenek menyeringai lalu menjawab. “Giri Arsana! Bapak moyangmu!”

“Aku makin tidak mengerti dengan juntrunganmu ini!” kata Sampan Gayana.

“Kesabaranku sudah hilang! Aku terpaksa menangkapmu karena telah membunuh empat murid perguruan!”

Si nenek tertawa. “Sebelum kau menangkapku lekas kau beri tahu dulu di mana bapak moyangmu itu bersembunyi! Enam bulan aku sudah mencarinya. Sampai saat ini dia berlaku pengecut tidak mau memunculkan diri dalam dunia persilatan.”

“Ada urusan apa kau mencari ayahku?” tanya Sampan Gayana.

“Sudah aku bilang, kau punya dosa turunan. Berarti bapak moyangmu itu punya kesalahan besar. Sangat besar! Nah sekarang cepat beritahu di mana dia berada!”

“Kalaupun aku tahu, tidak akan kukatakan padamu!” jawab Sampan ayana hilang kesabaran.

“Kalau begitu terpaksa aku membunuh anak ular untuk memancing keluar bapak ular. Rupanya sudah jadi takdir seluruh keluargamu harus kuhabisi lebih dulu baru giliran bapak moyangnu itu!” si nenek tertawa panjang.

Sampan Gayana tidak dapat mengendalikan amarahnya lagi. Kesabarannya habis. Didahului dengan bentakan keras dia menghantam ke arah muak si nenek. Yang diserang ganda tertawa. Tangan kanannya diangkat.

Wuuuttt!

Sampan Gayana terkejut ketika merasakan angin dingin yang menyambar keluar dari tangan si nenek. Serta merta dia sadar bahwa lawan memiliki tenaga dalam yang jauh lebih tinggi. Maka cepat-cepat dia menghindarkan terjadinya bentrokan puklan. Sampan berkelit ke samping. Dari samping dia kirimkan pukulan berupa sodokan ke leher si nenek. Rupanya Ketua Perguruan Silat Melati Putih ini sengaja mengeluarkan jurus-jurus andalan dan mengandung maut agar dapat menghantam lawannya dengan cepat.

Si nenek masih tampak tertawa-tawa. Lima jurus dia sengaja membiarkan dirinya diserang habis-habisan. Jurus keenam Sampan Gayana berhasil memukul bahu perempuan tua ini. Orang lain pasti akan terpenatl paling tidak akan melintir tubuhnya dihantam pukulan yang berkekuatan hampir liam puluh kati itu! Tapi si nenek sedikitpun tidak bergeming. Malah Sampan Gayana merasakan tangannya yang memukul menjadi pedas.

“Sudah saatnya kau menyusul ibumu Sampan Gayana!” berkata si nenek sambil mundur dan pentang tangan kanannya ke depan.

Ketua Perguruan Silat Melati Putih itu tentu saja terkejut mendengar ucapan si nenek. Tapi sekaligus dia juga tidak mengerti.

“Apa maksudmu?!” tanyanya membentak.

Si nenek tertawa. “Ibumu sudah lebih dulu mampus di tanganku! Kau korbanku yang kedua. Jika bapak moyangmu masih belum mau keluar dari persembunyiannya untuk mempertanggung jawabkan dosa, korban selanjutnya akan jatuh! Begitu seterusnya sampai bapak moyangmu muncul!”

“Manusia keparat! Jadi kau telah membunuh ibuku!” teriak Sampan Gayana.

Si nenek balas dengan tawa cekikikan. “Jangan kawatir. Aku akan bawa kau ke tempat maya ibumu tergeletak. Kalian masih bisa berjumpa dalam