Skip to Content

SERIAL WIRO SABLENG PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 EPISODE 121: TIGA MAKAM SETAN

Foto SIHALOHOLISTICK
files/user/3199/WS121.jpg
WS121.jpg

SATU

 

Malam hari di satu pekuburan dekat Candi Pawan.

Bidadari Angin Timur sesaat masih menatap wajah cantik gadis bermata biru di hadapannya. Setelah itu tanpa bicara dan menunggu lebih lama dia segera berlalu, membuat rasa tidak enak dalam hati orang yang ditinggalkan.

Ratu Duyung menghela nafas dalam. “Kukira sejak pertemuan terakhir hatinya benar­benar polos terhadapku. Agaknya dia masih menyimpan ganjalan…”

Ratu Duyung menghela nafas dalam. “Kukira sejak pertemuan terakhir hatinya benar­benar polos terhadapku. Agaknya dia masih menyimpan ganjalan…”

Sambil berkata sendirian seperti itu Ratu Duyung melirik ke lubang yang terkuak akibat dijebol kaki Bidadari Angin Timur.

Bola mata biru sang Ratu mendadak membesar. Tanah kubur yang kini membentuk lobang itu dilihatnya bergerak-gerak, seolah ada sesuatu yang hidup di bawah permukaannya. Ratu Duyung mengerenyit, bungkukkan badan sedikit. Memperhatikan lebih tajam, tak berkesip. Tiba-tiba satu tangan mencuat keluar dari dalam makam. Ratu Duyung terpekik keras. Nyawanya serasa terbang dan tubuhnya laksana didorong sampai tiga langkah ke belakang.

Tangan yang mencuat dari dalam kubur itu adalah sebuah tangan kiri. Keluar makin panjang, bergerak naik ke atas. Lalu muncul menyeruak sebuah bahu. Bahu ini bergerak pula ke atas, tangan yang menjulur mengapai-gapai. Tanah kuburan mumbul naik ke atas, terbelah menguak. Bersaman dengan itu satu sosok entah masih bernama manusia entah setan melesat keluar dibarengi suara jeritan dahsyat!

Ratu Duyung terpekik, tersurut hampir jatuh duduk di tanah. Dua bola matanya terpentang lebar. Walau diketahui dia adalah seorang gadis sakti berkepandaian tinggi, namun menyaksikan apa yang ada di hadapannya, tengkuknya terasa dingin. Sekujur tubuhnya dijalari rasa takut luar biasa. Tangan kanannya serta merta bergerak ke pinggang, memegang gagang cermin sakti. Bersikap waspada terhadap makhluk aneh mengerikan di atas lubang kuburan.

Di hadapan Ratu Duyung saat itu tegak satu makhluk berujud nenek luar biasa menyeramkan. Dia mengenakan sehelai jubah hijau yang tak pantas lagi disebut pakaian karena tersingkap robek di sana-sini. Selain itu tubuhnya mulai dari rambut sampai ke kaki tertutup tanah kuburan. Kulit muka, dada dan perutnya yang tidak tertutup tanah memutih mengelupas. Hidungnya hanya merupakan satu gerumpungan besar. Lalu mata kanannya hanya berbentuk satu rongga lebar, sebagian tersumpal tanah kuburan.

Makhluk ini tidak memiliki tangan kanan alias buntung. Tetapi di keningnya menempel satu potongan tangan yang ternyata adalah kutungan tanan kanannya sendiri!

Ratu Duyung tidak dapat memastikan makhluk apa sebenarnya yang ada di depannya saat itu. Jika manusia, mengapa keadannya seperti itu. Kalau setan apa perlunya mendekam di dalam makam lalu unjukkan diri!

Makhluk yang dua kakinya masih berada sebatas betis di dalam tanah kuburan itu gerakkan tangan kiri untuk membuang tumpukan tanah yang menutupi mata kirinya. Mata yang cuma satu itu lalu bergerak liar jelalatan. Sepertinya dia masih belum melihat atau belum menyadari kalau ada Ratu Duyung tegak dalam gelap, beberapa langkah di hadapannya.

Tiba-tiba makhluk ini menyembur. Membuat Ratu Duyung kembali tersentak kaget dan tekap mulutnya menahan pekik. Rupanya ada tanah yang menyumpal dalam mulut mahkluk di atas kuburan.

“Malam hari … Gelap… Aku berada di mana…?” mahkluk nenek menyeramkan keluarkan suara.

Ratu Duyung merasa nafasnya seolah terhenti. “Astaga, setan ini ternyata bisa bicara… Dia mengucapkan sesuatu. Tidak tahu berada di mana. Aneh…” kata Ratu Duyung tercekat dalam hati.

Tangan kiri mahkluk seram bergerak sekali lagi memebersihkan tanah yang menutupi wajahnya. Semakin tersingkap muka itu, semakin menggidikkan kelihatan gerumpung hidung dan bolongan mata kananya. Lalu dari mulutnya kembali terdengar suara. “Kekasihku… di mana kau…?”

Ratu Duyung melengak dalam kejutnya.

“Kekasihku?” Ratu Duyung berucap dalam hati, ada rasa heran di bawah tindihan rasa takutnya. “Dia mencari kekasihnya?! Setan apa ini? Tangan kanan di atas kening. Aku… Di kubur ini tadi Bidadari Angin Timur kulihat melakukan sesuatu. Apa dia punya ilmu memelihara setan hendak mencelakai diriku? Aku…”

Tiba-tiba untuk pertama kalinya mata kiri mahkluk mengerikan itu membentur sosok Ratu Duyung. Mata itu memancarkan kilatan menggidikkan.

“Kau siapa?!” satu bentakan menyembur dari mulut si nenek muka setan.

“Kau yang siapa?!” Entah bagaimana dalam takutnya Ratu Duyung malah bisa balas menghardik.

“Eh?!” Mahkluk yang dihardik sesaat terdiam. Tapi matanya makin berkilat menyoroti Ratu Duyung. Perlahan-lahan dia keluarkan dua kakinya yang masih menancap di dalam tanah kuburan. Ratu Duyung mengawasi gerakan orang tanpa berkedip. Bukan mustahil makhluk ini tiba-tiba melompatinya, mencekiknya atau menggigit leher dan menghisap darahnya!

Berdiri di tepi kuburan si makhluk seram diam tak bergerak, kembali pandangi Ratu Duyung.

“Matamu sama biru, wajahmu sama cantik. Tapi kau bukan Peri Angsa Putih…”

“Siapa Peri Angsa Putih?!” Ratu Duyung beranikan diri bertanya.

“Kau tidak tahu siapa Peri Angsa Putih… ini adalah aneh. Berarti saat ini aku…” Si nenek muka setan palingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Matanya yang cuma satu berputar angker lalu menatap ke arah Ratu Duyung.

“Kau sendiri tidak mau memberitahu siapa dirimu. Jangan kira aku tak bisa memaksa. Tapi saat ini aku ingin tahu satu hal! Lekas katakan diamana aku berada?!”

“Kau lihat sendiri, kau berada di kawasan pekuburan. Kau barusan keluar dari dalam makam itu!” Ratu Duyung menjawab.

“Walau mataku cuma satu tapi aku tidak buta!” bentak makhluk di pinggir kubur. “Aku tahu aku berada di pekuburan. Malam hari… Tapi… Katamu aku barusan keluar dari dalam kubur? Hah?! Apa yang terjadi?! Apa aku sudah mati? Kalau sudah mati mengapa bisa hidup lagi?!” Mata kiri si nenek menatap garang.

“Kau jangan menipuku!” membentak si nenek setan.

“Memangnya aku menipu apa?!” sahut Ratu Duyung seraya perlahan-lahan bangkit berdiri. Lalu dia berucap. “Kau yang menipuku dengan ujud anehmu! Kau ini manusia atau setan kuburan atau roh yang tidak diterima alam gaib?!”

Si nenek keluarkan suara menggembor. Dia hendak mendamprat, tapi mendadak ingat seseorang.

“Kekasihku… Dimana kau…” Si nenek kembali memandang berkeliling dengan matanya yang cuma satu. “Tak ada siapa-siapa di tempat ini selain dirimu… Kalau aku masih berada di…”

“Kekasihku?” membatin Ratu Duyung. “Setan bangkai tua ini punya kekasih? Aku harus cepat mengetahui siapa dirinya”.

“Makhluk aneh, tangan di atas kening! Terangkan siapa kau adanya? Setan atau roh yang kesasar atau memang masih bisa kusebut menusia?!”

“Perduli setan semua pertanyaanmu. Aku juga tak kenal dirimu. Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Aku tadi bertanya. Kau tidak menjawab. Jika kau tidak mau memberitahu berarti kau minta celaka!” Si nenek maju satu langkah.

“Makhluk salah kaprah! Jika kau setan atau roh sesat harap kembali ke alammu. Tapi jika kau memang manusia adanya jangan berani mengancam diriku. Segera tinggalkan tempat ini!”

“Kau tidak mau mengancam tapi bicara mengancam! Hik… hik… hik! Walau kau cantik tapi lama-lama aku muak juga melihatmu. Coba kau layani dulu sentilan jariku ini!” Begitu ucapannya berakhir si nenek sentilkan jari telunjuk tangan kirinya.

“Wuttt!”

Selarik sinar hitam menderu ke arah Ratu Duyung.

Untungnya sejak tadi sang Ratu telah berlaku waspada. Begitu sinar hitam berkelebat disertai deru keras, tangan kananya yang telah menggenggam gagang cermin bulat bergerak. Cermin sakti itu sengaja tidak dikeluarkannya dari balik pakaian, hanya diputar menghadap ke arah datangnya serangan sinar hitam.

“Wussss!”

Serangkum cahaya putih berkiblat. Pekuburan itu sesaat menjadi terang benderang. Lalu menggelegar satu letusan keras begitu cahaya putih yang keluar dari cermin sakti beradu dengan sinar hitam sentilan si nenek setan.

Ratu Duyung terjajar surut sampai tiga langkah. Cermin bulatnya bergetar hebat. Tangannya yang menggenggam gagang cermin terasa panas. Dadanya seperti ditindih sesuatu. Cepat dia atur jalan darah dan alirkan hawa sakti ke tangan kanan.

Di depan sana makhluk berujud nenek menyeramkan terpental, keluarkan jeritan keras lalu terhenyak jatuh di atas sebuah kubur, mematahkan papan nisannya yang sudah rapuh. Sekali lagi si nenek menjerit lalu tubuhnya melompat. Di lain saat dia sudah berdiri lagi hanya tujuh langkah dari hadapan Ratu Duyung. Jubah hijaunya mengepulkan asap, hangus di beberapa bagian! Mata kiri si nenek laksana dikobari api, memandang menggidikkan ke arah Ratu Duyung.

Ratu Duyung sendiri saat itu sempat tertegun heran. “Luar biasa. Orang lain bagaimanapun tingkat kesaktiannya pasti akan cidera dihantam cahaya putih cermin saktiku. Makhluk ini hanya hangus pakaiannya. Tadi aku hanya mengerahkan sepertiga tenaga dalam dan hawa sakti. Mungkin aku harus melipat gandakan kekuatan….”

“Matamu sama biru dengan mata Peri Angsa Putih… Cahaya putih ilmu kesaktianmu sama hebatnya dengan pukulan sakti Peri Angsa Putih. Apa hubunganmu dengan Peri itu?!”

“Aku tidak kenal dengan makhluk yang kau sebutkan itu!” jawab Ratu Duyung. Penuh waspada dia lipat gandakan tenaga dalam dan alirkan ke tangan kanan yang memegang gagang cermin bulat sakti.

“Kalau begitu siapa kau sebenarnya?!”

“Nenek setan! Kau yang harus menerangkan siapa dirimu adanya!” bentak Ratu Duyung. Kau pasti peliharaan atau kaki tangan Bidadari Angin Timur yang hendak mencelakai diriku!”

“Bidadari Angin Timur?” Mata kiri si nenek berputar. “Kau menyebut nama yang aku tidak kenal….”

“Kalau begitu lekas terangkan siapa dirimu! Atau aku akan merubah dirimu menjadi jerangkong hitam hangus!” Ratu Duyung sudah salurkan hampir setengah tenaga dalamnya ke tangan kanan yang memegang cermin.

“Mata biru, keberanianmu menantangku luar biasa! Aku sudah puluhan kali menghadapi kematian! Jangan kira aku takut menghadapi dirimu! Sayang, saat ini aku lebih mementingkan mencari kekasihku. Kalau tidak, akupun sanggup membuat wajahmu yang cantik menjadi tengkorak tak berguna, tubuhmu yang bagus menjadi tulang belulang memutih! Kekasihmu akan meratap sampai sejuta sehari! Hik… hik… hik!”

“Aku tidak punya kekasih!” Entah bagaimana ucapan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut Ratu Duyung.

“Kau tidak punya kekasih? Sungguh aneh? Di dunia mana aku sebenarnya saat ini berada? Makhluk apa kau sebenarnya? Aku tua bangka dan buruk menyeramkan saja masih punya kekasih! Tapi kau yang cantik jelita, muda remaja dengan tubuh bagus menggairahkan mengaku tidak punya kekasih! Hik… hik… hik! Sungguh aneh!”

“Tutup mulutmu!” bentak Ratu Duyung yang menjadi jengkel pada diri sendiri karena ketelepasan bicara tadi. Dia melangkah mendekati.

Melihat gerakan orang, si nenek cepat bangkit berdiri.

“Mata biru, aku akan mencari kekasihku. Jika tidak bertemu aku akan mencarimu kembali! Jika kau tidak mau memberi keterangan apa yang kuminta, akan kucabut putus lidahmu! Hik… hik… hik!” Lalu tanpa acuh lagi si nenek putar tubuhnya. Ketika sosoknya membelakangi Ratu Duyung siap hendak menghantam. Tapi dia tidak mau berlaku pengecut. Menyerang orang dari belakang.

“Aku harus menghalangi jangan sampai dia pergi! Aku harus tahu siapa dia adanya!” Saat berucap dalam hati itulah tak sengaja sepasang mata Ratu Duyung yang tajam melihat satu benda aneh di balik daun telinga kanan si nenek. Di belakang daun telinga itu ada satu benda merah, menyerupai daging tumbuh sebesar ujung jari kelingking. Namun Ratu Duyung tidak bisa berpikir lebih lama. Si nenek sudah siap berkelebat pergi.

“Tunggu! Jangan kau berani meninggalkan tempat ini sebelum memberi keterangan!” bentak Ratu Duyung. Lalu dia berkelebat ke hadapan si nenek. Menghadang jalan.

“Mata biru! Kau minta kematian di usia muda!”

Ratu Duyung mendengus. Si nenek menyeringai. Tanpa perdulikan si gadis dia teruskan gerakannya melangkah.

Melihat si nenek begerak hendak meninggalkan tempat itu Ratu Duyung cepat gerakkan tangannya yang memegang gagang cermin sakti.

Untuk kedua kalinya kawasan pekuburan itu terang benderan oleh cahaya putih.

“Wussss!”

“Braaaakkkk… byaaarrr!”

Makam di mana si nenek tadi berada hancur berantakan. Tanah kuburan dan isinya termasuk tulang belulang penghuni yang sudah terkubur belasan tahun berhamburan mental ke udara! Tapi si nenek sendiri saat itu tak ada lagi di tempat itu. Yang terlihat kini hanya kubur menganga, merupakan satu lobang besar akibat hantaman cahaya puttih yang menyembur dari cermin sakti sang Ratu.

Tak jauh dari tempat itu. Di atas sebuah pohon, berdiri di salah satu cabang, tersembunyi di balik kegelapan, sosok nenek berhidung gerumpung, memandang dengan matanya yang cuma satu ke arah Ratu Duyung.

“Kesaktian gadis itu sungguh luar biasa. Terlambat saja tadi aku menyingkir, pasti dia benar-benar membuat diriku menjadi jerangkong hangus!”

***

 

DUA

 

Di dalam goa di lamping jurang karang, makhluk tinggi besar berkepala singa merah melangkah mundar mandir. Sesekali dia berpaling, memandang geram ke arah sosok yang terkapar di lantai goa.

“Pangeran jahanam! Mungkin Kitab Wasiat Malaikat memang tidak ada padanya. Tapi Kitab Wasiat Iblis pasti disembuyikan di satu tempat. Dua hari dua malam di pingsan. Kalau dia siuman dan masih tidak mau memberitahu dimana beradanya kitab itu, kurasa percuma membuang waktu. Enam ratus hari aku menunggu, aku tidak mau menghadapi kesia-siaan. Lebih baik kuputuskan menamatkan riwayatnya saja. Kalau tidak dihabisi sekarang-sekarang mungkin menjadi racun malapetaka di kemudian hari…”

Di pintu goa makhluk kepala singa bernama Jolo Pengging dan dalam rimba persilatan Tanah Jawa belakangan ini dikenal dengan julukan Singo Abang memandang ke seantero pinggiran jurang. Dari tenpatnya berada dia bisa melihat kawasan atas jurang dengan jelas. Sebaliknya seseorang yang berada di pinggiran jurang sebelah atas sana sulit untuk melihatnya karena selain goa iu berada dalam satu cekungan dinding karang, juga tersembunyi di balik semak belukar lebat.

Singo Abang ingat kejadian tiga hari sebelumnya. “Rimba persilatan Tanah Jawa semakin kacau. Banyak bermunculan tokoh-tokoh baru… Sepasang Momok Dempet Berkaki Kuda… Kemunculan mereka pasti ada sangkut pautnya dengan kitab-kitab sakti itu. Kalua aku sampai keduluan…” Singo Abang mengeram jika ingat bagaimana tiga hari lalu dia dibuat babak belur oleh Momok Dempet waktu terjadi perkelahian di pinggir jurang sana. (Baca Episode pertama berjudul “Kembali Ke Tanah Jawa”). “Tiga hari lalu aku juga melihat Pendekar 212 Wiro Sableng di tepi jurang. Memandang ke bawah sini seperti menyelidik. Apakah telah terjadi satu bentrokan antara murid Sinto Gendeng itu dengan Momok Dempet? Kalau Wiro Sableng masih sempat mendekam di pinggir jurang, berarti dia berhasil mempecundangi dua manusia galah jahanam itu. Dua tahun pendekar itu melenyapkan diri. Apa yang dilakukannya? Menambah ilmu kesaktian? Aku benar-benar harus bertindak cepat. Kalau tidak aku hanya akan menghisap jempol butut seumur-umur. Karena Pendekar 212 pasti juga mencari Kitab Wasiat Malaikat itu….”

Singo Abang kembali memperhatikan sosok yang tergelimpang di lantai goa. Hatinya lagi-lagi merutuk. “Sialan! Berapa lama lagi aku harus menunggu sampai dia siuman!”

Singo Abang meludah lalu arahkan lagi pandangannya ke arah atas jurang. Saat itu di belakangnya, tanpa diketahui, salah satu mata orang yang tergeletak di lantai goa perlahan-lahan terbuka, menatap ke arah punggung Singo Abang lalu seringai setan mengejek menyeruak di mukanya yang pencong. Dalam hati dia berkata. “Singo Abang, kau menunggu kesempatan. Aku Pangeran Matahari yang selalu kau panggil dengan sebutan Pangeran Miring juga mengintai kesempatan. Siapa lengah akan mengalami kekalahan. Itu Kelak akan menjadi bagianmu karena pikiran dan hatimu dilanda kekalutan sedang aku tidak! Aku Pangeran Matahari! Siapa bisa mengalahkan aku Pangeran Segala Cerdik, Segala Akal, Segala Ilmu, Segala Licik, Segala Congkak!” Ketika Singo Abang membalikkan badannya, orang ini cepat pejamkan matanya kembali. Namun seringai masih membayang di wajahnya. Justru hal ini sempat terlihat oleh Singo Abang.

“Pangeran Miring, murid keparat!” bentak Singo Abang gusar. “Aku tahu kau menipuku! Aku tahu kau sebenarnya sudah siuman! Mari kita buktikan!” Rambut merah yang menutupi wajah dan kepala sampai ke tengkuk mengembang berjingkrak.

Kaki kanan makhluk tinggi besar itu bergerak ke arah punggung orang yang tergeletak di hadapannya.

“Bukkk!”

Sosok Pangeran Miring terpental dan brukkk! Menghantam dinding karang. Sosok ini menggeliat beberapa kali lalu terdengar keluhan. Singo Abang jambak rambut gondrong sang Pangeran lalu hempaskan tubuhnya ke dinding hingga terhenyak duduk dengan wajah mengerenyit menahan sakit.

“Kau boleh meneruskan kepura-puraanmu kalau ingin segera mampus!”

“Guru….”

Ucapan Pangeran Miring terputus karena kaki kanan Singo Abang tiba-tiba sekali sudah menempel dan menekan batang lehernya.

“Umurmu hanya tinggal satu gerakan saja! Jika kau tetap tidak mau membuka mulut, memberitahu dimana kau sembunyikan dua benda yang kutanyakan, sekali injakan saja tulang lehermu akan patah! Nyawamu amblas!”

“Gu… guru… Apa yang ingin kau tanyakan…?”

“Jangan berpura-pura tidak tahu!”

“Guru, kalau kau menanyakan tentang Kitab Wasiat Malaikat, aku bersumpah aku tidak memilikinya. Juga tidak tahu dimana beradanya…”

“Bagaimana dengan Kitab Wasiat Iblis? Aku tahu! Semua orang di rimba persilatan tahu kitab itu ada padamu!”

“Kalau kau memang keliwat memaksa, aku… Aku bersedia mengalah…”

“Apa maksudmu dengan ucapan itu?!” tanya Singo Abang dengan mata mendelik.

“Aku… aku sadar kalau aku punya hutang budi dan nyawa padamu. Kalau tidak kau yang menolong diriku, dua tahun lalu aku sudah menjadi bangkai di dasar jurang ini akibat hantaman musuh besarku Pendekar 212 Wiro Sableng…” (Baca serial Wiro Sableng berjudul “Kiamat Di Pangandaran”).

“Jika kau memang merasa berhutang budi dan nyawa, apa lagi aku sudah memberi ilmu kesaktian padamu. Lalau apa balasamu terhadapku?!”

“Maafkan aku guru, aku akan memeberitahu padamu mengenai Kitab Wasiat Iblis itu…”

Kerenyit di kening Singo Abang lenyap. Rambut di kepalanya yang merah berjingkrak perlahan-lahan bergerak turun. Namun sepasang matanya tetap berkilat mencorong menatap sang murid. Mulutnya beucap. “Aku gembira mendengar kata-katamu. Tetapi jangan kau berani menipu!”

“Kalau murid terbukti menipu, nyawaku jadi imbalannya,” kata Pengeran Miring pula.

Perlahan-lahan Singo Abang tarik kaki kanannya yang dipakai menginjak leher orang. Sang Pangeran menarik nafas lega.

“Tunggu apa lagi! Lekas katakan dimana kitab yang kau sebutkan itu! Aku sudah memeriksa dirimu dan goa itu. Kitab itu tidak aku temukan…”

“Kitab Wasiat Iblis memang tidak ada di goa ini, guru. Aku menyembunyikannya di satu tempat…”

“Dimana?!” tanya Singo Abang menyentak tidak sabaran.

“Sebelum pecah pertempuran hebat para tokoh di Pangandaran dua tahun silam, kitab itu aku sembunyikan di pinggir jurang karang. Di satu lorong sempit. Di bawah sebuah batu besar. Kubungkus dengan daun kayu besi hingga tahan terhadap air dan panas…”

“Kalau begitu, sekarang juga kita keluar dari goa. Naik ke atas jurang! Kau harus segera tunjukkan dan ambil kitab itu…”

“Aku menurut perintah guru. Tapi keadaanku lemah sekali. Mana mungkin aku bisa naik ke atas jurang sana…”

Singo Abang dekati Pangeran Miring. Lalu letakkan tangannya kiri kanan di atas bahu pemuda itu sambil alirkan hawa sakti. Sesaat kemudian dia membuat beberapa totokan di bagian tubuh Pangeran Miring untuk memperlancar aliran darah.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Singo Abang.

“Rasa berat dan pening di kepala hilang. Tubuhku terasa enteng. Ada satu kekuatan baru dalam diriku…” jawab Pangeran Miring. Tapi dalam hati dia berkata. “Makhluk tolol! Rasakan! Kau kena tipuanku! Kini aku memiliki kekuatan berlipat ganda!”

“Kalau begitu kau sudah siap. Ikuti aku! Kita segera naik ke atas jurang!”

Singo Abang keluar dari dalam goa. Pangeran Miring mengikuti. Dengan ilmu kepandaian tinggi yang mereka miliki tidak sulit bagi keduanya untuk naik ke atas jurang yang sangat terjal itu. Sampai di atas sana, di pinggiran jurang Pangeran Miring memandang berkeliling. Di kejauhan terdengar suara deburan ombak sementara angin dari arah laut bertiup cukup kencang.

Singo Abang kembali tidak sabaran. “Dimana Pangeran? Di bagian mana tepi jurang kitab itu kau senbunyikan?!”

Pangeran Miring menunjuk ke arah barat jurang. Di situ tumbuh satu pohon besar. Tak jauh dari pohon ada sederetan batu-batu karang menonjol runcing. Pangeran Miring menunjuk ke arah batu-batu karang itu. Tanpa tunggu lebih lama Singo Abang mendahului lari ke tempat yang ditunjuk. Begitu Pangeran Miring sampi dia segera berkata.

“Aku tidak melihat lorong. Tidak melihat batu besar yang kau katakan!”

“Dari tempatmu berdiri tentu saja tidak kelihatan,” jawab Pangeran Miring. “Letaknya di sebelah bawah sana. Ikuti aku….”

Pangeran Miring lalu melangkah ke kanan, menyusuri tepi jurang. Di satu tempat dia hentikan langkah dan memberi isyarat pada gurunya seraya menunjuk ke depan. Singo Abang mendekat dan memandang ke arah yang ditunjuk. Dia memang melihat satu lorong sempit antara dua batu karang berbentuk tonggak besar. Lorong itu merupakan satu celah sempit sepemasukan tubuh orang berukuran sedang. Sosok sebesar Singo Abang sulit untuk memasuki celah. Di ujung celah terlihat jelas sebuah batu berwarna kelabu kehitaman.

“Guru, harap kau menunggu di sini. Aku akan masuk ke dalam celah…”

“Kau tunjukkan saja tempat pastinya kitab itu kau tanam. Aku akan mengambilnya…”

“Guru, celah itu sempit. Tubuhmu terlalu besar untuk bisa melewatinya…”

“Kalau begitu biar aku hantam dengan pukulan sakti agar celah mmebesar…”

“Jangan lakukan hal itu…” kata Pangeran Miring.

“Mengapa? Kau tak suka aku yang mengambil kitab itu? Kau…’

“Bukan begitu Guru! Kau lihat sendiri. Bagian tanah di sekitar sini agak kering, tidak mempunyai kedudukan keras. Jika dihantam dengan pukulan, celah batu bisa saja terbuka tapi dudukan tanah akan bergeser. Aku kawatir terjadi longsor. Kita berdua bisa celaka…”

Singo Abang pencongkan mulutnya. “Baik, kau saja yang pergi mengambil. Begitu kitab berada di tanganmu lekas kau serahkan padaku!”

“Jangan kawatir guru. Aku akan memberikan kitab yang kau minta itu sebagai balas budi dan hutang nyawaku padamu!” kata Pangeran Miring pula. Dia membuat gerakan seperti hendak memasuki celah batu karang. Tapi sesaat dia hentikan langkah dan berpaling berputar.

“Ada apa?” tanya Singo Abang merasa heran.

“Guru, sebelum aku memasuki celah, apa boleh aku memperlihatkan padamu jurus pukulan sakti yang pernah kau ajarkan padaku. Yakni Dua Singa Berebut Matahari.”

“Gila! Dalam keadaan seperti ini kau hendak melakukan hal itu? Apa maksudmu?!” Singo Abang menjadi curiga.

Pangeran Miring dongakkan kepalanya lalu tertawa panjang membuat Singo Abang menjadi tidak enak dan juga curiga. Saat itu dia berada sangat dekat dengan tepi jurang sementara muridnya berdiri di bagian ketinggian beberapa langkah di hadapannya.

“Hentikan tawamu!” teriak Singo Abang marah.

Pangeran Miring hentikan tawanya. Lalu mulutnya berucap. “Singo Abang, kau mengajarkan jurus pukulan Dua Singa Berebut Matahari padaku! Sekarang pukulan itu akan aku kembalikan padamu!”

“Kurang ajar! Kau hendak berbuat apa?!” Untuk pertama kalinya Singo Abang menyadari kedudukannya yang berbahaya di tepi jurang. Kalau dia diserang, walau sanggup menangkis tapi dua kakinya tak boleh bergeser terlalu jauh ke belakang.

Dua lutut Pangeran Miring menekuk. Tubuhnya mengkerut ke bawah. Tiba-tiba didahului satu bentakan garang tubuhnya yang merunduk melesat ke depan. Dua tangannya yang membentuk kepalan berubah menjadi lebih besar, membeset ke arah dada dan perut Singo Abang! Yang dilancarkan Pangeran Matahari ternyata bukan jurus pukulan Dua Singa Berebut Matahari!

Walau ternyata serangan itu hanya tipuan belaka namun Singo Abang mengetahui kehebatannya. Dia cepat bergerak.

“Jahanam! Kau menipuku! Kau berani menyerangku!” teriak makhluk kepala singa itu marah sekali sampai rambut merahnya berjingkrak kaku. Sambil maju satu langkah untuk menghindari dua kakinya bergeser ke tepi jurang bertanah rapuh dia pukulkan dua tangannya menangkis. Dia kerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.

“Wuuttt… wuuut!”

Tangkisan Singo Abang hanya mengenai tempat kosong.

Pangeran Miring tertawa bergelak. Saat itu tubuhnya tiba-tiba menukik ke bawah. Dua tangannya kembali menghantam. Kali ini Singo Abang tak bisa lagi menangkis atau menghindar karena saat itu tubuhnya masih dalam keadaan terdorong ke depan akbiat tadi menangkis di udara kosong!

“Bukkk! Bukkk!”

Suara dahsyat seperti auman singa menggelegar dari mulut Singo Abang bersama semburan darah.

Tubuhnya yang tinggi besar bergoncang keras. Dia kerahkan seluruh daya agar tidak terdorong ke belakang. Tapi tanah rapuh yang dipijaknya bergetar keras lalu longsor. Tak ampun lagi sosok Singo Abang terjungkal ke belakang lalu jatuh masuk ke dalam jurang batu karang! Jeritan maut makhluk berkepala singa ini tenggelam tertindih suara tawa bekakakan Pangeran Miring alias Pangeran Matahari!

Mendadak tawa sang Pangeran lenyap seperti direnggut setan. Dari mulutnya keluar seruan kaget tertahan. Dari dalam jurang dimana barusan Singo Abang terpental jatuh, melesat tiga larik sinar masing-masing berwarna kuning, hitam, dan merah.

“Pukulan Gerhana Matahari!” teriak Pangeran Miring kaget luar biasa. Lalu dia cepat melompat ke belakang. Di depannya pinggiran jurang karang yang terkena hantaman tiga sinar hancur berantakan lalu bergemuruh longsor ke bawah. “Gila! Kalau memang Singo Abang yang melancarkan pukulan itu, bagaimana dia bisa mendapatkannya!” membatin Pangeran Miring dengan wajah berubah. “Berarti selama di dalam goa, diam-diam dia telah mempelajari. Dia mencuri ilmu itu dariku! Tapi bagaimana mungkin?! Edan! Bisa saja dia menenung diriku. Sekarang biar dia tahu rasa! Saat ini tubuhnya pasti sudah remuk hancur di dasar jurang!”

***

 

TIGA

 

Suara kecimpung air diseling gelak tawa segar membuat Pangeran Matahari hentikan larinya. Dia memandang ke arah datangnya suara itu.

“Suara tawa perempuan…” kata sang Pangeran dalam hati. “Ratusan hari aku tidak pernah mendengar suara tawa perempuan. Ratusan hari aku tidak pernah melihat wajah dan sosok perempuan, apalagi menyentuhnya…” Sekujur tubuh Pangeran Matahari tiba-tiba menjadi kencang. Darahnya mengalir lebih cepat dan hawa panas merayapi badannya mulai dari ubun­ubun sampai ke kaki. Di mulutnya menyungging seringai penuh arti. Tidak menunggu lebih lama dia segera berkelebat ke arah datangnya suara kecimpung air dan gelak tawa tadi.

Di balik satu pohon besar, di belakang rerumpunan semak belukar lebat, Pangeran Matahari mendekam tak bergerak, matanya membesar tak berkeseip. Di depan sana, di leguk tanah yang agak menurun, tiga orang gadis tengah bersenda gurau di dalam sebuah telaga kecil berair jernih dan sejuk. Ketiganya berwajah lumayan cantik. Mereka hanya mengenakan kain yang dikemben demikian rupa.

Pangeran Matahari menelan ludah melihat punggung, bahu bagian atas serta dada yang putih tersingkap. Tiga gadis itu tinggal di satu desa tak jauh dari situ. Mereka memang sering datang pagi hari ke telaga untuk mencuci. Selesai mencuci mereka mandi membersihkan diri sambil bersenda gurau.

Karena mengira di tempat itu hanya mereka bertiga saja, para gadis di dalam telaga bergurau sampai-sampai melewati batas. Salah seorang dari mereka dengan jahil menarik lepas kemben kawannya hingga tubuh gadis ini tersingkap polos sampai ke pusar. Dua kawannya tertawa bergelak sementara si gadis yang dijahili kelabakan menggapai kain panjangnya. Melihat hal ini Pangeran Matahari tidak tahan lagi. Sekali melompat saja dia sudah berada di tepi telaga, tegak di atas sebuah batu besar.

“Sahabatku, tiga gadis cantik! Apa aku boleh ikut mandi dan bersenda gurau dengan kalian?”

Tiga gadis di dalam telaga tentu saja tersentak kaget. Yang tadi lepas kain panjangnya terpekik keras, untung dia sudah berhasil menangkap ujung kainnya dan cepat-cepat menutupi auratnya yang tersingkap. Tiga gadis itu serentak saling mendekat, memandang ke arah orang di atas batu penuh rasa kejut dan juga takut.

“Rumini,” bisik gadis di ujung kanan. “Kau kenal siapa orang di atas batu itu?”

Rumini, gadis di atas batu gelengkan kepala. Kawan di sebelahnya berkata. “Baru sekali ini aku melihatnya. Agaknya dia tidak tinggal di sekitar desa kita…”

“Kalian tidak menjawab! Berarti aku boleh ikut mandi bersama! Ha… ha… ha…!”

Tanpa menunggu lebih lama Pangeran Matahari langsung ceburkan diri masuk ke dalam telaga.

Tiga gadis menjerit, cepar-cepat jauhkan diri. Salah seorang dari mereka yang bernama Sumirah berteriak.

“Pemuda lancang! Siapa kau! Lekas pergi dari sini!”

“Betul! Kalau kami beritahu pada Kepala Desa. Kau pasti akan dihajar habis-habisan!” ikut berteriak gadis ketiga bernama Ramilah.

Pengeran Matahari mendongak lalu tertawa.

“Aku biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran Matahari! Kalian bertiga harus merasa beruntung karena aku yang Pangeran sudi mandi di telaga bersama kalian!”

“Pangeran? Kau seorang Pangeran! Huh!” mendengus Rumini.

“Pangeran tak tahu diuntung!’ menyemprot Sumirah. “Berkaca dulu ke air telaga! Lihat tampangmu! Pakaianmu compang-camping dan bau!”

“Berani mengaku Pangeran!” menyambungi Ramilah, “Pangeran mana ada yang buruk sepertimu! Muka pencong, hidung bengkok, mata mendem! Hik… hik… hik! Otakmu pasti miring mengaku seorang Pangeran!”

Di dalam air, Pangeran Matahari melengak kaget. Tampangnya mengelam. Seumur hidup baru kali ini dia menerima hinaan seperti itu. Dia mengusap wajahnya. Rahangnya menggembung.

“Gadis kurang ajar! Kau berani menghina diriku! Kau korbanku yang pertama!” teriak Pangeran Matahari. Sekali bergerak dia sudah berada di hadapan Ramilah, langsung merangkul gadis ini penuh amarah tapi juga penuh nafsu.

“Pemuda kurang ajar! Lepaskan! Lepaskan!” teriak Ramilah. Dua kakinya melejang­lejang dan tangannya dipukulkan ke punggung sang Pangeran ketika Pangeran Matahari memanggul tubuhnya. Dua temannya coba menolong. Sambil menyeringai Pangeran Matahari berkata. “Kalian tunggu di sini. Pada saatnya satu-satu kalian akan mendapat giliran!”

Tangan kiri Pangeran Matahari bergerak cepat dua kali berturut-turut. Saat itu juga Rumini dan Sumirah tertegun kaku, tak bisa bergerak tak bisa bersuara. Yang bisa dilakukan dua gadis ini hanya mengikuti dengan pandangan mata ngeri, apa yang kemudian dilakukan Pangeran Matahari dan apa yag selanjutnya terjadi atas diri kawan mereka.

Sambil tertawa bergelak Pangeran Matahari memanggul tubuh Ramilah ke tepi telaga. Di satu tempat yang rata gadis itu dilemparkannya ke tanah. Sambil menahan sakit Ramilah berusaha bangkit melarikan diri tapi sosok sang Pangeran lebih cepat datang menindihnya. Di dalam telaga Sumirah dan Rumini pejamkan mata tak kuasa menyaksikan kekejian yang dilakukan Pangeran Matahari terhadap kawan mereka. Lebih gneri lagi membayangkan bahwa kekejian itu pasti segera pula akan terjadi atas diri mereka.

Puas melampiaskan nafsu bejatnya atas diri Ramilah, Pangeran Matahari masuk kembali ke dalam telaga. Dia mendekati Rumini. Melepaskan totokan yang membuat kaku serta gagu si gadis. Begitu totokan terlepas