Skip to Content

(DUHA) YG TERLUPA

duha bergulir diantara subuh-subuh yang terlupa

merangkak merobek celah mega merah

tersungkur bersimpuh diantara butir-butir tasbih

seperti penuh cahaya,

Pada Sebuah Dermaga Seusai Hujan


usai seruntun hujan
masih menyisakan dingin
kebekuan dermaga tua

tak ada angin di sini
juga kau

hanya lumut
menghitami bangkai kapal

Hari 1, Di Kota Ini Suatu Hari Nanti

Sore ini aku duduk diatas sebuah batang pohon yang sudah jadi bangku,

melepas batas yang selama ini mendindingi netra juga rasa Itu laut,

Malin Kundang Bukan Anak Durhaka Kata Ibunya.

Pantai Air Manis, manusia batu, kutukan ibu, dan anak durhaka adalah sebagian perkataan yang tak mudah dihapus dari ingatan wanita yang bernama Rubayah binti Haji Mahmud. Ia dipanggil Mande Rubayah atau Mande Malin (mande artinya ibu).

Reni NA._sP(DUHA) YG TERLUPAAndha AlwyPada Sebuah Dermaga ...
Serenade Kembang PeteHari 1, Di Kota Ini ...Jufran HelmiMalin Kundang Bukan ...

Karya Sastra

Lirih Hujan

Lirih Hujan 

di ujung malam yang masih perawan

 

aku dengar

derai-derai yang membisu dicelah rintik hujan yang turun perlahan

diam dan diam

KABAR DARI ANGIN

KABAR DARI ANGIN

dirimu di mata angin

hanya dengan seketik tulisan aku bisa tau kabar

Empat Senandung Bulan, Dan, Ada yang Hilang, Ada yang Pulang

 

EMPAT SENANDUNG BULAN

Senandung seluang

yang putih kekuningan berpasang mata jernih

bergerak bebas bersama menempuh arus

Sebuah Ruang Bernama Keheningan

Pada pepohonan merunduk

tersimpan kisah tentang angin

hujan panas dan unggas

patah sayap di sisi hari

Awan mendadak

tersibak matahari

 

Asa & Rasa

Kala waktu telah hilang

Waktu asa mulai pudar

perjalanan kita

sudah sampai dimana perjalanan kita, kawan?

 

bukankah kita belum lagi kemana - mana

 

DUA KUTUB

ketika kaum ortodox tersudut
di ruang sempit era keterbukaan
tangan-tangan gurita
pemuja kemewahan benda-benda
menyumbat setiap celah
mengebiri teriakan menghujat

Bukaku,Buka Kita

Perih melilit

mengungkap nafsu terbelenggu

puasa ku,puasa anak kecil

 

Deburan,di sisi laut

mengabadikan kebersamaan saat itu

Sebentar Berfilsafat

Cinta kebenaran

Cinta kebijaksanaan

Permulaan cinta

bumi yang hampar

manusia jualah yang tertampar

 

Iblis Manakah Yang Pecundang Itu

Dalam ritual yang kau persembahkan

Seolah-olah maha yang tak terselipkan

dengan secuil kata yang kau pendam

untuk sekali saja kau torehkan

langit-langit kebiruan

Sindikasi materi

Bookmark Pranala Luar



Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler