Skip to Content

"Senja di Alun-Alun Kota."

      Mataku masih menerka-nerka, meraba-raba, dan merapat segala hal tentangmu. “Hmm… Aku hanya ingin melupakannya Tuhan.” Ujarku dalam hati sambil menikmati jagung bakar di lesehan senja di sekitar alun-alun kota. Ya, inilah tempat favoritku untuk menyendiri dan sekedar mencari kedamaian yang mengendap.

Pantaskah?

apa yang pantas kau banggakan dariku?

apa yang pantas kau puji dariku?

Cinta bersemi di telaga sunyi

Bagian I

Perkenalan di Hall Pusat Petualangan....

novandanugraha"Senja di Alun-Alun Kota."
nayza el syekiaPantaskah?
Muhamad LuthfiansyahSajak Untuk Cinta
ARZapataCinta bersemi di telaga ...

Prosa

"Senja di Alun-Alun Kota."

      Mataku masih menerka-nerka, meraba-raba, dan merapat segala hal tentangmu. “Hmm… Aku hanya ingin melupakannya Tuhan.” Ujarku dalam hati sambil menikmati jagung bakar di lesehan senja di sekitar alun-alun kota. Ya, inilah tempat favoritku untuk menyendiri dan sekedar mencari kedamaian yang mengendap.

Cinta bersemi di telaga sunyi

Bagian I

Perkenalan di Hall Pusat Petualangan....

demi kekasih abadi

Malam ini udara di dalam terasa panas dan menyesakkan, berita-berita penting hingga picisan kulahap, tanpa rasa kutelan dan tak berapa lama kubuang, karena memang bukan makanan pokokku, hanya sebatas pengisi waktu menunggu....

pesantren dan bangsa ini

Tulisan ini dimuat dalam rengka mengenang perjuangan para santri, sekaligus untuk menangkis pendapat atau opini, bahwa kesufian identik dengan keterbelakangan, anti pembangunan, dan sikap apatis ......

Oleh: Agus Muhammad

bertamasnya ke-10 tempat wisata (GRATIS), mau?

Assalamu’alaikum.
Ada kabar baik untuk para pengunjung setia jendelasastra.com, kami segenap jajaran direksi penari pena writing laboratory akan mengajak anda untuk bertamasya selama sepuluh hari (gratis), kita akan jalan-jalan bersama menjelajahi dunia yang terlupakan, anda tertarik?

KORAN

 


KORAN 

Minggu pagi

Labirin

“Mesjid raya pak?” tanyaku pada supir pete-pete yang hanya dibalas anggukan sekedarnya.

Membuat Kemenangan Bersejarah

Namaku Gusno, bukan Kusno, nama kecil Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Kisahku memiliki awal yang sangat sederhana. Sebagai anak petani, miskin, dan kurang pergaulan, aku memiliki semangat dan tekad sangat tinggi. Kampungku sangat sempit, terisolir, dan sering dinamakan orang “kampung sembunyi”.

Cot Lamkuweuh

Kubuka kembali catatan duka itu setelah kupendam 2,5 tahun lebih sedikit. Ada yang kutoreh pada lembar 27 Desember 2004 menjelang siang itu, ketika kuarungi lautan puing kehancuran sebuah peradaban, menyisir lautan mayat yang bertebaran, tumpang tindih, tersangkut-sangkut, terhimpit-himpit di antara sampah dan reruntuhan, untuk menujumu Cot Lamkuweuh.

Abang Garang Berlidah Pendek

KETIKA laut belakang kampung kami datangkan pasang perbani subuh tadi, pawang segala pawang hanya tercengang-cengang berkacak pinggang di simpang segala simpang. Pawang-pawang kampung sekali ini hilang rangsang. Zaman kejayaan pawang-pawang kampung mendadak saja tergerus, hangus, putus-putus! Peta kuasa pawang-pawang kini terhapuskan sudah!

Sindikasi materi

Bookmark Pranala Luar



Komentar terbaru