Skip to Content

Alakadar

Foto Zed

Jika bukan karena pengetahuanku tentang kesederhanaan yang kupahami dan kujadikan dasar pijakan, maka aku menganggap kemegahan dan kesenangan hidupmu itu alakadar. Menjadi seorang hartawan yang sekaligus dermawan hanya segelintir orang yang menyandang. Sekalipun banyak, pasti alih-alih karena ingin dibilang baik dan tidak pelit. Atau menjadi seorang yang cukup atas ketidakmampuan saudaranya pun kadang masih sering memperhitungkan; baiknya untuk diri sendiri harus lebih dan kurangnya oranglain, biar saja ia merintih. Memiliki kelebihan atas materi seharusnya tidak membuat seseorang berubah menjadi binatang.

 

Jika tidak hebat dalam melakukan sesuatu dan merasa bangga karena pencapaian terhadap sesuatu itu aku memilih menjadi penilai, maka aku sampaikan kepada diriku sendiri bahwa itu semua alakadar. Karena yang sedikit kuketahui, kewenangan atas suatu perkara pasti selalu ada intriknya. Entah berada di pihak dan jalur yang diuntungkan, atau malah sama sekali tak mau dirugikan. Entah karena takut tidak mejadi tenar, atau malah sangat khawatir mendapat nyinyiran sekitar. Kebanggaan karena mendapatkan sesuatu tak kalah hebatnya dengan menjaga setelahnya. Berusaha tetap mencintai tanpa membenci dan merangkul tanpa memukul.

 

Lalu, jika hanya karena aku yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang seperti ini aku merasa benar, tentu kau segera menudingku dengan pendiktean yang sesumbar, karena ini bisa menjadi sumber kekacauan--pusat perkambinghitaman. Tapi, aku tak mau, jika sementara kau mau menuding dan mencucuki aku yang masih amatiran ini dengan kuasamu, sedang kau sendiri malah tak mau mencoba mencari pembenaran dari apa yang kau lakukan-apa yang kau sampaikan-padaku. Aku tak ingin, jika apa yang kau curi dengar tentangku dari oranglain itu belum sepenuhnya benar dan masih butuh perbaikan. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa soal kewajaran dan alakadarnya kita itu seringkali membuat salahsatu diantara kita mudah tersinggung dan baperan. Karena, sesuka hati dan dengan hati itu beda persepsi. Sesuka-nya dan dengan-nya itu beda aliran. Air beriak tanda tak dalam.

 

Ruang berpikir kita dipersempit oleh perasaan kita sendiri yang selalu mentok pada ungkapan "ah, alakadarnya saja". Selalu pening jika hal-hal yang tidak diinginkan merambat secara liar. Maka, ke-alakadaran itu yang sering kita budayakan. Membudayakan kadar kemunafikan kita pada jelmaan pelepah kesantunan, membiasakan diri menjadi sosok yang seolah-olah tahu toto-kromo, tahu kasih sayang cinta dan kepedulian, tahu bahwa perbedaan yang ada adalah rahmat dan karunia Tuhan alam semesta. Pengetahuan yang mewujud "sok", pengetahuan yang alakadarnya tok. Jadilah alakadar; ala-ala kang arep modar.

-

 

Tangerang, 2017.

Komentar

Foto Gilang Angkasa

So, Wise and satire :)

So, Wise and satire :)

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler