Skip to Content

Anak Pertama (A Story by Nair al Saif)

Foto Nair

Anak Pertama

Pelabuhan Tanjung Mas terlihat sangat ramai. Benar-benar ramai. Ribuan manusia memadati pelabuhan itu seperti ada konser saja. Padahal mereka adalah para penumpang kapal yang akan berlayar ke berbagai daerah. Ada sebuah kapal yang tertunda keberangkatannya. Mungkin itu salah satu penyebab padatnya pelabuhan tersebut. Saking padatnya pelabuhan tersebut sampai petugas pelabuhan mendirikan tenda-tenda, sehingga penumpang yang kapalnya tertunda bisa bertahan di tenda-tenda penampungan tersebut.

Diantara ribuan manusia yang memadati pelabuhan tersebut, empat makhluk putih abu-abu berdesak-desakan di sebuah wadah terbuat dari anyaman bambu. Keempat makhluk tersebut sedang asyik menikmati lembaran-lembaran kol mentah tanpa memperdulikan raut muka letih milik seorang wanita yang sudah dua hari melayani keempat makhluk tersebut.

Dalam hati aku mencaci-maki kelinci-kelinci yang tak henti-hentinya makan. Mungkin bagi mereka semua makanan enak. Sampai-sampai daun pisang pembungkus lontong pun dimakannya. Untung kelincinya tersisa empat ekor. Jika tadi tidak hilang tentu akan menambah kerja memberi mereka makan. Di kapal nanti tentu tiak ada jatah bagi mereka. Kehilangan yang menguntungkan. Tapi, tak berapa lama kemudian muncul seorang lelaki membawa benda putih yang tak lain adalah kelinci kami yang telah hilang.

Jangan-jangan orang ini yang mengambil, kataku berprasangka buruk. Memang tidak mungkin bagi kelinci bisa melompati dinding dari bambu tersebut yang ketinggiannya hampir 50 meter. Jadi, kemungkinan ada orang yang telah mengambilnya. Kondisi yang ramai, mudah bagi seseorang mencopet barang termasuk kelinci.

“Assalamu’alaikum,” kata laki-laki tersebut memberi salam. Aku menjawab salamnya singkat. “Ma’af, apakah ini milik kalian?” tanya laki-laki itu dengan tersenyum sambil menyodorkan seekor kelinci.

“Kami kehilangan kelinci, tapi saya tidak tahu apakah itu kelinci kami yang hilang atau bukan,” jawab ibuku pelan.

“Tepat sekali. Kalian kehilangan kelinci, kemungkinan besar ini milik kalian. Saya tidak melihat ada orang lain yang membawa kelinci kecuali kalian,” kata laki-laki itu.

“Benarkah? Anda baik sekali telah menemukan kelinci kami,” kata ibuku sambil menerima kelinci tersebut. “Dimana anda menemukannya?” tanya ibuku.

“Di taman, tak jauh dari sini.”

Aku memperhatikan kelinci itu. Kakinya bersih, tidak ada bekas tanah sedikitpun. Aneh. Aku berjalan menjauh kira-kira lima meter, sambil pura-pura menelpon seseorang kuperhatikan kelinci yang ada di dalam wadah bambu. Tidak kelihatan. Aku segera mendekati wadah bambu itu ketika laki-laki yang menemukan kelinci kami hendak menghamparkan koran untuk alas duduk di dekat kami.

“Ma’af. Sepertinya ini bukan kelinci kami,” kataku cepat sambil mengambil kelinci yang dibawa laki-laki tersebut kemudian menyodorkan kelinci tersebut.

“Tapi kalian kehilangan kelinci…”

“Benar. Tapi saya pikir itu bukan kelinci kami,” kataku cepat memotong kata-katanya. Ibuku hendak berkata tetapi aku segera menyambung, “Sebaiknya serahkan dulu kepada pihak pelabuhan, biar diumumkan. Jika tidak ada yang mengambil dalam 12 jam, bisa diserahkan kepada kami.”

Laki-laki itu terdiam. “Baiklah,” katanya. Sambil tersenyum ia berpamitan dan membawa kelinci tersebut pergi.

“Orang yang mencurigakan, Mi,” kataku ketika laki-laki yang membawa kelinci pergi menjauh. “Bagaimana dia bisa tahu kalau kita membawa kelinci? Jarak lima meter tidak mungkin bagi dia melihat kelinci kita. Aku jadi berpikiran kalau dia yang mengambil kelinci kita.”

“Jangan berprasangka buruk!” kata ibuku.

“Bukan begitu maksudnya. Aku cuma waspada, kalau ada orang yang tidak kita kenali seolah-olah dekat dengan kita. Tadi dia mau ikut duduk dengan kita. Apa perlunya?”

“Mungkin karena dia ga punya teman,” kata ibuku. “Jadi, dia mau cari teman. Itu memang kelinci kita. 12 jam lagi dia pasti kemari.”

“Tidak. Tujuh jam lagi kapal kita berangkat. Jadi, kalau dia mau ngasih kelinci tersebut, dia harus mendatangi kita di tengah laut,” kataku dengan percaya diri.

Namun, sayangnya tujuh jam kemudian terdengar pengumuman bahwa keberangkatan ditunda. Malam itu kami terpaksa harus menerima kembali kelinci kami dan merenima orang laki-laki tersebut bergabug dengan kami. Malam itu, malam terasa panjang. Aku tak berani memicingkan mata barang sekejap. Aku masih belum percaya dengan seorang yang baru kukenal dan sedikit mencurigakan. Keesokan paginya kcurigaanku mulai berkurang ketika laki-laki tersebut berbaik hati bersedia membawakan kelinci kami. Petugas kapal tidak mengijinkan kami membawa masuk kelinci. Kami terpaksa mengambil keptusuan dengan menitipkan kelinci tersebut kepada laki-laki yang ternyata memiliki tujuan yang sama, ke Sampit.

Kini kelinci tersebut telah melahirkan tujuh anak pertama mereka. Laki-laki yang membawakan kelinci kami ternyata adalah seorang guru. Aku tidak pernah menyangka kalau dia adalah seorang guru, guru Bahasa Indonesia kelas X tepatnya. Wajahnya masih terlihat muda, meskipun dia memiliki jenggot pendek di dagunya. Umurnya belum mencapai 27 tahun, tapi Ayu, teman sekelas kami mengira umurnya baru 20 tahun ketika beliau tersenyum.

“Nah, siapa yang bisa menebak umur Bapak?” tanya beliau ketika hari peratma masuk kelas kami.

“25 tahun,” jawabku ingat beliau dulu pernah bilang seperti itu ketika kami bertemu di pelabuhan.

“24 tahun,” jawab siswa lain.

“30 tahun.”

Beliau tersenyum ketika Ayu menjawab 20 tahun.

“Statusnya apa pak?” tanya siswa lainya setelah beliau menyebutkan usia.

“Do’akan, tahun ini bapak punya anak pertama,” jawab beliau singkat.

“Kapan lahirnya pak?” tanya Rafa, teman sebangkuku.

“Pokoknya do’akan saja. Nanti kalau bapak punya anak pertama, kalian bapak traktir semua,” kata beliau diikuti tepuk tangan dan sorak semua siswa.

***

Sepuluh Desember 2012, laki-laki yang dulu membawakan kelinci kami sedang berdiri dengan semangat di depan kelas. Beliau sedang menjelaskan sebuah kompetisi yang akan diadakan setelah ulangan akhir.

“Bapak akan mengadakan sebuah kompetisi. Kompetisi ini wajib diikuti oleh seluruh siswa di kelas ini. Bapak akan mengadakan seleksi cerpen terbaik tahun 2012. Sepuluh cerpen terbaik akan direvisi kemudian diikutkan dalam lomba cerpen tingkat nasional …”

Aku sudah agak ngantuk karena tadi malam harus menjaga ibuku yang sedang sakit. Jadi, apa yang disampaikan oleh guru tersebut tidak kuperhatikan dengan baik. Belum kuperhatikan dengan baik lebih tepatnya, sampai beliau mengatakan tema.

“Temanya apa Pak?” tanya Ayu.

“Anak pertama,” jawab guru itu singkat.

“Kok anak pertama sih?” celetuk seorang siswi.

“Iya, kok anak pertama?” kataku dalam hati.

“Karena sebentar lagi bapak punya anak pertama,” kata guru itu singkat.

“Hore!” sebagian besar siswa bersorak-sorai, sementara yang lainnya ada yang bertepuk tangan.

“Wah, kita bakal ditraktir nih,” kata kata seorang siswa di depanku pada temannya.

“Iya, tapi dimana?” tanya teman sebelahnya.

“Ditraktir apa sih?” Rafa bertaya padaku. “Ditraktir permen mungkin,” katanya menjawab sendiri ketika aku tak menjawab.

“Dengarkan baik-baik,” kata guru tersebut ketika jam hampir berakhir. “Insya Allah, bapak akan traktir kalian tanggal 12 ini, jam delapan pagi. Nanti kalian akan bapak mintakan izin dari sekolah. Jangan lupa, nanti setelah ulangan baru boleh bikin cerpennya.”

Bel pulang telah berbunyi tiga menit yang lalu. Semua siswa sudah selesai mengangkat kursi masing-masing ke meja, kecuali aku dan Rafa. Kami sengaja bertahan beberapa menit karena malas berdesakan di tempat parkir.

“Eh, kamu pernah lihat istrinya Pak Zain ga?” tanyaku pada Rafa.

“Belum pernah,” jawabnya singkat sambil melongok ke luar jendela, memperhatikan siswa-siswi mulai keluar dari parkir.

“Tapi memang beliau sudah menikah ya?”

“Ya,” sahut Rafa. “Tapi, setahuku beliau belum menikah,” lanjutnya.

“Ah yang benar? Beliau sudah mau punya anak. Jadi, tentu sudah menikah,”

“Ehm” suara seseorang di bagian depan kelas membuat kami terkejut. “Ya Tuhan. Pak Zain,” bisikku pelan pada Rafa.

“Mengapa belum pulang?” tanya Pak Zain sambil mendekati kami berdua. Membuaku gugup.

“Menunggu parkirnya lapang, Pak” jawab Rafa singkat.

“Oh, tuh sudah banyak yang pulang,” kata beliau sambil berlalu. Aku pura-pura melihat keluar, kemudian mengangkat kursi.

“Aku jadi kaget. Ternyata beliau masih di depan. Apa yang beliau lakukan?” kata Rafa.

“Entahlah, aku juga terkejut. Ngomong-ngomong anak beliau laki-laki atau perempuan ya?”

“Laki-laki,” jawab sebuah suara, membuat aku dan Rafa terperanjat. Ternyata pak Zain masih berdiri di samping pintu. Kontan muka kami bersemu merah untuk kedua kalinya.

***

Aku paling tidak suka jika harus pergi ke rumah sakit. Bau obat-obatan malah membuat kepalaku terasa pusing. Tapi dalam satu minggu ini aku harus sering ke rumah sakit menemani ibuku yang sedang sakit. Harus aku, bukan anak beliau yang lain. Tentu saja, karena aku adalah satu-satunya anak beliau. Anak pertama yang dilahirkan oleh ibuku.

Anak pertama. Aku jadi teringat tema lomba cerpen. Mengapa tepat sekali dengan kondisiku. Aku anak pertama. Mungkin akan menarik jika menceritakan diriku sendiri. Suka duka anak pertama yang ditinggal mati oleh ayahnya. Tidak tepat, ayahku tidak mati. Anak pertama yang harus membiayai adik-adikya. Tidak tepat, aku tidak punya adik. Suka duka anak pertama dengan ayah tiri. Ini mungkin jika ibuku menikah lagi. Apakah aku akan ditelantarkan seperti ayahku telah meninggalkanku? Di mana dia berada aku tak tahu.

Ide-ide tentang cerpen berterbangan dalam khayalanku hingga tak terasa aku sudah tiba di rumah sakit. Ibuku masih terbaring lemah di ranjang. Ia menyuruhku makan, tapi aku tak mau. Akau tak bisa merasakan makanan jika melihat ibuku yang terbaring seperti hendak mati.

Hari ini, entah mengapa aku merasa sangat bersalah. Suara-suara batinku mulai berbicara. Ini semua salahmu. Kamu terlalu berani dengan ibumu. Melarang beliau menikah, sehingga beliau jatuh sakit. Memang kamu punya hak apa melarang ibuku menikah? Apakah kamu menganggap beliau berkhianat? Jika ibumu berkhianat, apakah kamu pernah melihat ayahmu walaupun sesaat. Bahkan suaranya pun tak pernah kau dengar. Dia pun tak pernah mendengar  atau melihatmu walaupun sedetik. Kamu anak pertama yang durhaka dengan ibumu.

Perlahan-lahan aku keluar ruangan karena menahan air mata. Di dalam toilet aku aku mecoba menghapus air mata. Beberapa menit kemudian setelah aku siap, aku bergegas menuju ruangan ibuku dirawat. Tapi tak kuasa aku menahan isak tangis, ketika aku minta maaf. Maaf? Maaf, kata yang sebenarnya paling tidak disukai oleh ibuku. Permintaan maaf itu tidak perlu kata beliau, yang penting itu jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama.

***

Siapa yang bilang tanggal 12 Desember 2012 adalah hari yang istimewa kalau bukan Pak Zain. Itu karena hari itu beliau akan memiliki seorang anak. Menjelang bel masuk beliau sudah berdiri di dekat pintu gerbang. Beliau sedang piket, karena aku ketua kelas, jadi aku harus membantu beliau pagi itu.

“Bagaimana kabar ibumu?” tanya beliau di sela-sela mengatur siswa yang mulai padat memasuki lingkungan sekolah.

“Alhamdulillah,” jawabku singkat. “Tapi, bagaimana bapak bisa tahu kalau ibu saya sakit?” tanyaku penasaran.

“Itu adalah pertanyaan yang harus kamu jawab sendiri,” jawab beliau sambil tersenyum. Sudah berkali-kali aku mendengar beliau berkata seperti itu. Aku hanya terdiam.

“Oya, nanti nama anak bapak siapa?”

“Nair al Saif”

“Lho? Kok sama dengan nama saya pak?” tayaku.

“Kalau ga mau nanti bapak ganti saja,” jawab Pak Zain sambil tersenyum kemudian berjalan menuju kantor.

***

“Serius?”

“Ya. Mana mungkin beliau bohong. Nama anaknya sama dengan namaku.”

“Jadi, sebentar lagi akan ada dua orang yang namanya sama dengan namamu di kota kita,” kata Rafa.

“Kok bisa? Beliau tidak tinggal di sini.”

“Tinggal di sini. Maksudku belum. Katanya besok beliau baru akan pindah ke sini.”

“Di mana pindahnya?”

“Aku belum tahu. Eh, beliau mau masuk tuh,”

Pak Zain masuk kelas. Beliau tersenyum ketika berkata.

“Sebelum kalian Bapak traktir, kita ke masjid sebelah dulu. Sebab disitu akan ada acara pernikahan. Nah, sekarang kalian berangkat dengan rapi, Bapak tunggu di masjid,”

***

Aku berjalan dengan sedikit malas. Di dekat pintu masjid terhidang berbagai makanan yang dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian khusus untuk laki-laki dan satu bagian yang lain khusus untuk wanita. Ruangan di dalam masjid pun terbagi menjadi dua dan dibatasi oleh hijab hijau. Jadi, aku tidak melihat tamu wanita yang hadir dalam acara tersebut.

Rafa duduk di pojok belakang. Aku menghampirinya.

“Siapa yagn menikah?” tanyaku begitu sampai di samping Rafa.

“Entahlah, kami ga dapat undangan,” jawab Rafa. “Mestinya kami dapat,” lanjutnya.

“Saudaranya Pak Zain mungkin. Nah lihat, beliau kayaknya jadi saksi,” kataku sambil menunjuk Pak Zain yang duduk di bagian depan masjid dengan beberapa orang.

“Saksi kok duduk di samping penghulu ya?”

Belum sempat aku berkata, suara keras pembawa acara mendahului. Kami terdiam. Setelah mengucapkan salam pembawa acara tersebut membacakan susunan acara.

“Pernikahan siapa sih?” tanya Rafa penasaran. “Kok ga disebutkan namanya?”

“Nanti juga ketahuan,” jawabku. “Sepertinya memang pernikahan kerabat Pak Zain. Sebab, dilanjutkan dengan aqiqahan anak beliau.”

“Ya, jadi benar ya anaknya laki-laki. Wah, pasti motong kambing dua ekor,” kata Rafa bersemangat.

“Bener banget. Barusan aku lihat banyak tumpukan sate loh,”

“Hah?”

“Iya. Tadi pasti kamu ga lihat.”

“Iya,”

“Soalnya makanannya baru datang. Banyak banget. Satu mobil.”

“Aku jadi lapar, tadi ga sarapan.”

“Kata siapa? Bukannya kamu tadi makan semur jengkol?”

What?” mata Rafa mendelik.

“Tadi ibumu datang ke rumahku ngasih semur jengkol.”

Rafa tertawa cekikikan kecil. “Eh, kita keluar bentar yuk, aku mau p-i-p-i-s,” katanya kemudian. Kami bergegas ke toilet sebentar. Tapi cuma sebentar. Rupanya Rafa tidak bermaksud buang air kecil, tapi sebenarnya dia mau melihat makanan apa yang terhidang. Dia memang paling suka makan sate.

“Ada sate kelincinya,” bisik Rafa ketika kami sampai di dalam masjid. Saat itu seorang ustadz sedang berkhutbah nikah.

“Yah, sudah selesai akadnya,” sesal Rafa.

“Coba tanya sama orang itu,” bisikku sambil menunjuk seorang berbaju coklat di depan kami.

“Biar saja,” sahut Rafa. “Nanti kita tanya sama Nad, aku mau update status,” lanjutnya sambil membuka ponselnya.

Khutbah berlangsung cukup singkat. Setelah do’a, para undangan dipersilhkan menikmati hidangan yang telah disediakan di depan masjid. Berhubung kami berada paling belakang, jadi kami yang pertama mengambil makanan. Rafa mengambil 10 tusuk sate kambing, 3 tusuk sate ayam dan 5 tusuk sate kelinci, padahal sate kelinci hanya diperbolehkan mengambil satu tusuk. Kami berdua kemudian makan di bawah pohon di ujung halaman masjid, karena susah masuk ke dalam masjid.

***

Detik-detik menjelang habisnya sate yang kami makan, dari depan masjid melangkah perlahan-lahan seorang lelaki mendekati kami.

“Bapak ga makan?” tanya Rafa sambil mengunyah sate.

“Sudah,” jawab Pak Zain. “Enak ga?” tanya beliau.

“Ya, Pak. Sambalnya itu. Pedaasnya ga langsung. Tadi ga terasa pedas, eh sekarang, baru kerasa,” kata Rafa sambil makan, sementara wajahnya mulai mengeluarkan butiran-butiran kecil air.

“Jadi, benar nama anak Bapak Nair al Saif?” tanyaku masih ga percaya.

“Ya, tapi kalau kamu ga suka bisa diganti,” jawab pak Zain sambil tersenyum.

“Ah, ga papa pak. Jadi nanti ada dua orang yang namanya sama dengan saya,” jawabku.

“Maksudnya,” tanya Pak Zain bingung.

“Katanya Bapak mau pindah ke sini. Jadi, nanti ada dua orang yang namanya sama. Saya dan anak bapak. Di mana rumah bapak nanti?”

“Oya Pak, tadi yang menikah siapa?” tanya Rafa memotong pertanyaanku yang belum dijawab pak Zain.

“Bapak dan ibunaya Nair?” jawab Pak Zain agak bingung.

“Lho, bukanya bapak sudah menikah?” tanya Rafa bingung.

“Maksudnya…” aku tak berani melanjutkan kata-kataku. Mataku hanya memandangi laki-laki yang dulu pernah menemukan kelinci kami yang hilang.

Laki-laki itu memandangiku sebentar. Ia berkata, “Bapak tadi tidak melihat kalian ketika akad berlangsung. Bapak tadi menikah dengan ibunya Nair.”

Rafa terkejut, aku lebih terkejut lagi.

“Apa yang telah terjadi denganku?” gumamku tak percaya, kemudian aku membenamkan kepalaku diantara kedua lutut. Aku tak tahu apa yang terjadi. Semua rasa bercampur jadi satu. Sedih, senang, kecewa, terkejut, bingung, pokoknya semua perasaan berkecamuk dalam hatiku. Aku masih tak percaya aku akan menjadi anak pertama seorang laki-laki yang tak pernah kubayangkan.

The End

***

Laki-laki itu tersenyum membaca cerpen yang baru saja selesai dibacanya. Air matanya sampai berderai saking menghayatinya. Ia berkata sambil tersenyum,

“Ada yang salah. Tempat kelinci itu tingginya masak 50 meter, seharusnya 50 cm. Harusnya kelincinya cuma dua, bukan lima. Di rumah sakit, kamu ga nangis. Di pelabuhan harusnya lima hari, bukan cuma tiga hari.  Nah, yang nebak umur Abi 20 tahun itu kan kamu. Kenapa disini ditulis Ayu? Lho, ini yang makan sate paling banyak bukan Rafa, tapi kamu.”

Aku hanya bisa tersenyum. Cerita yang kutulis memang tidak sepenuhnya faktaku sebagai anak pertama, karena tidak banyak yang bisa aku banggakan. Satu-satunya yang aku banggakan adalah, aku adalah anak pertama seorang lelaki yang tidak memandang cinta dari faktor usia.

Selesai

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler