Sore ini kita bertemu, sahabat abadi, setelah hampir ribuan tahun tak kujamah wajahmu yang selalu bersinar. Dulu, kita sering mencacah waktu dengan gelak tawa bersama-sama. Berangkulan ketika dingin datang, dan berlarian keluar dengan girang menyambut matahari yang baru muncul sambil menguap. Masih kuingat engkau bersin ketika aku meniupkan bunga dandelion ke wajahmu, dan kau mengejarku. Kau tak akan pernah berhenti memburu langkahku sebelum kau menangkapku dan melumuri wajahku dengan madu yang selalu mengalir dari tanganmu.
Tapi semua itu tandas ketika aku menatapmu kini. Kosong.
“Apa lagi yang kau inginkan?” Kau bertanya seakan tidak pernah mengenalku sebelumnya. Cahaya yang selalu membuncah dari wajahmu telah pudar tiada bekas. Senyumanmu yang mengembang manis telah berganti menjadi senyumanmu yang paling pahit.
“Kumohon, tersenyumlah. Aku ingin engkau tersenyum lagi. Seperti dulu. Jangan bersedih. Sedihmu menjadi lukaku. Aku sudah menggunakan berbagai cara untuk membuatmu bahagia, termasuk membuatkan rumah yang paling nyaman untuk beristirahat. Lihatlah, aku membawa bunga yang kau suka, yang akan membuatmu kembali tersenyum.”
Aku menunjukkan puluhan bunga dandelion yang kupetik selama perjalanan pulang. “Bunga-bunga ini masih segar. Ada embun di tiap-tiap ujung benangnya,” aku melemparkan senyumku yang paling manis, berharap akan tertular kepadanya.
Tidak. Ia tidak tersenyum.
“Aku hanya perlu kau untuk bersamaku. Tetapi kau pergi, ketika aku terlelap.”
“Aku hanya pergi sebentar melihat gemintang yang setiap sore jatuh di ujung jalan. Aku hanya ingin melihatnya lebih dekat, memungut salah satunya dan menunjukkannya kepadamu untuk dapat ditempelkan sebagai pelita di langit-langit dinding rumah kita.”
“Kenyataannya kau pergi selama ribuan tahun, dan aku hanya bisa melihat kehidupanmu melalui satu jendela yang terbuka. Tanpamu aku tak bisa keluar rumah. Angin yang kadang tiada berbelas kasihan membuatku luluh.”
“Aku memang terlalu lama pergi. Dan, betapa cerobohnya aku yang telah membiarkan tiara kita tertinggal di perjalanan memungut bintang.”
Kau terdiam, mulai menerka-nerka apa yang menjadi maksudku untuk kembali menemuimu.
“Ya, aku tahu, pada akhirnya aku tidak mendapatkan satu bintang pun, justru malah kehilangan tiara kita.”
“Kini, kau memintaku untuk menemanimu mencarinya?”
Aku mencoba menimbang-nimbang apa yang akan menjadi jawabanku, sesuatu yang mesti kuucapkan.
“Maafkan aku….” Toh, cuma kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutku yang kering.
Aku ingin memeluknya, karena aku yakin hanya itu jawabannya. Tetapi, tatapannya yang dingin membuatku terus berdiri, tak berkutik selangkah pun.
“Tanpa dirimu aku bukanlah aku. Maka, sejauh apapun aku pergi, pasti aku akan kembali melewati hari-hari denganmu lagi.”
“Hari-hari telah ditelan waktu yang ikut bersamamu. Sudah tidak ada hari di sini.”
Aku tercenung. Baru kuingat bahwa aku telah membawa serta waktu bersamaku ketika perjalanan meraih bintang. Keringat membintik di atas pelipisku, perlahan turun menyusuri tebing-tebing wajahku.
“Apakah yang dapat membuatmu kembali tersenyum?”
“Tidak ada. Karena, saat ini aku telah menyatu dengan ketiadaan.”
Aku mengernyitkan keningku. Tak mengerti.
“Apa maksudmu?”
“Sepeninggalmu, sudah banyak yang berubah. Segalanya terhisap dalam ketiadaan. Membinasakan yang sudah ada. Membunuhku.”
“Tapi….”
Belum selesai aku bicara, kau menunjuk ke arah tertentu, tepatnya ke arah kolam.
Dengan diliputi tanda tanya, aku berjalan ragu mendekati kolam yang dulu sempat kubangun bersamamu. Kolam itu telah dipenuhi rumput liar yang terlihat hijau tetapi kering. Bunga-bunga merah yang tumbuh di sekitarnya pun seperti bunga plastik yang tampak dipaksakan hadir sebagai pelengkap warna.
Anehnya, air di kolam itu tetap jernih, seperti kali pertama aku meninggalkannya. Bahkan, aku dapat melihat sampai ke dasar kolam, dan dapat kusaksikan apa saja yang ada di kedalamannya.
Pandanganku terpaku oleh sepasang mata di dasar kolam itu yang menatap ke arahku. Aku mendekatkan wajahku ke bibir kolam, untuk menegaskan pandanganku yang terhalang oleh alang-alang. Senja yang keemasan memantulkan cahayanya di permukaan air yang jernih. Menyakitkan mataku.
Aku memejamkan mataku sesaat, lalu kembali menyisiri dasar kolam. Sepasang mata itu tetap menatapku. Mengapa ia tidak silau oleh sinar matahari senja yang tetap akan mampu menembus ujung retinanya?
Setelah aku dapat melihat dengan jelas, tidak hanya sepasang mata yang kutangkap, tapi kini aku dapat melihat wajah si pemilik mata. Wajah yang bersinar, dan sepertinya cahaya matahari telah terkumpul di wajahnya lalu berpendar menerangi seisi kolam.
Mata dan wajah yang tak asing bagiku, yang sangat dekat, dan menjadi bagian dari diriku. Sebelumnya.
Kini, pakaian yang selalu dikenakannya —hingga saat aku meninggalkannya, kala ia terlelap— membuatku meyakini bahwa sosok di dalam kolam itu adalah kepastian dari apa yang telah kuduga.
Aku berusaha mengelak atas keyakinanku ketika mata itu tidak benar-benar menatapku, hanya seperti menatapku, namun pandangannya hampa. Mata itu tidak pernah berkedip.
Tidak pernah lagi.
Komentar
Tulis komentar baru