Skip to Content

CERITA CINTA ORANG KANEKES

Foto encep abdullah



Dimuat di koran Amanah 1 dan 8 April 2017

Oleh Encep Abdullah

 

Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.

 ADAGIUM itu masih melekat di kepala Sapri—pemuda Kanekes yang sudah beger. Ia sadar, apa yang sedang dipikirkannya itu bisa melanggar hukum Batara Cikal. Tapi, Mirna, perempuan yang dikenalnya semenjak tiga tahun yang lalu itu membikin otaknya oleng sebelah. Sapri mengalami gonjangan batin. Perasaannya meluap-luap. Tak terbendung. Sapri masih memandangi foto Mirna. Diusap. Dielus. Bahkan hampir mau direbus. Katanya biar matang. Biar bisa teriak. Tapi ia tahu itu tak akan mungkin terjadi. Sambil bibirnya menyenyum tak berkesudahan. Ibunya semakin khawatir dengan kondisi Sapri. Takut anaknya sudah tak waras lagi.

“Tuang heula, Jang. Ti tadikan sorangan teu acan tuang.”

Ningali poto iyeu ge tos wareg, Mak.”

“Poto saha?”

“Mirna.”

Seketika ibunya merebut foto yang ada digenggaman Sapri. Tak tampak begitu jelas terlihat—karena di dalam rumah bilik itu memang agak gelap. Rumah sederhana seperti panggung, dan di bawahnya terdapat kayu-kayu yang sudah dipotong kecil-kecil untuk keperluan dapur mereka.

“Timana sorangan kenging poto iyeu?”

“Dipasihan ku Mirna.”

“Emang sorangan  resep ka manehna?”

“Muhun.”

“Tong maksa Mirna bogoh kasorangan, Sap.”

Sapri langsung menunduk. Air mukanya melipat. Ia langsung mengambil foto dari tangan ibunya, kemudian menyelipkan foto itu ke dalam ikat kepala putihnya. Ia berdiri. Berjalan menghampiri golok yang terselip di dinding bilik rumahnya. Wajahnya semakin terlihat kecut. Ibunya memanggil, namun Sapri tak menghiraukan. Ia pun pergi ke ladang menjemput ayahnya yang sudah lebih dulu di sana.

Sapri tak dapat memungkiri bila ia jatuh cinta pada Mirna—orang yang diluar sukunya. Baginya, Mirna adalah cinta pertamanya. Ia masih ingat kejadian yang menimpanya waktu itu, yang kata banyak orang, terjadi Tanjakan Cinta. Sapri, adalah salah satu pemuda yang menerima jasa mengangkut barang para pengunjung yang mau mendaki Gunung Baduy. Kebetulan waktu itu, Mirna dan kawan-kawannya meminta jasa Sapri. Ketika sampai ditanjakan cinta, Sapri terpeleset. Ia terpelanting. Kaki, siku, dan dahinya lecet. Barang-barang berjatuhan. Mirna yang berada di atasnya, turun kembali dengan amat berhati-hati. Mirna membalut dan mengobati luka Sapri. Dari situlah, kedua mata a-be-ge- itu saling bertemu. Mereka saling menunduk. Wajah keduanya memerah dan berseri.

***

            Perbincangan Sapri dan Mirna begitu hangat di dalam bilik. Diterangi lilin-lilin kecil membuat malam semakin puitis. Ketiga adik Sapri yang masih kecil berlari-larian di belakang Mirna. Memain-mainkan rambutnya. Mirna tersenyum senang. Ia tak punya adik-adik seperti ini. Jadi, bocah-bocah itu amat dirindukan kehadirannya dari rahim ibunya. Sayangnya, kedua orangtuanya hanya mencukupi dua anak saja; dua anak lebih baik, seperti yang digalakkan pemerintah. Sedangkan kedua orangtua Sapri hanya diam. Ya, memang para orang tua di Tangtu lebih pemalu daripada di Panamping. Kebanyakan memang anak-anak muda yang sibuk meladeni para wisatawan—kecuali wisatawan asing, mereka dilarang masuk Tangtu, dan hanya boleh berkeliling di sekitar Panamping.

Mirna cemburu melihat kerukunan keluarga Sapri. Ya, adat dan kerukunan warga orang Kanekes memang sangat terjaga. Hukuman terberat adalah jika ada warga yang sampai menumpahkan darah saudara lainnya. Meskipun setetes, itu sudah hal yang dianggap sangat berat. Juga berzina dan berpakaian ala orang kota. Tidak seperti keluarga Mirna yang selalu mengekangnya melakukan hal ini-itu. Namun, ia seringkali melabaraknya. Ia buka tipe perempuan yang pantang menyerah untuk melakukan hal-hal yang diinginkannya.

Mirna semakin jatuh cinta saja kepada Sapri—pada pertemuan kali ini, pertemuan kelima. Wajah Sapri sudah melekat di kepala Mirna. Begitu juga sebaliknya. Diam-diam mereka mengikrarkan diri menjadi sepasang kekasih—umur mereka sudah cukup dewasa. Mirna sudah menyelesaikan kuliahnya pada jurusan Sastra Inggris. Kecintaannya berpetualang bermula dari ia masuk mapala (mahasiswa pecinta alam). Dan petualangannya membuahkan hasil yang tak diduga—mendapatkan lelaki yang berbeda adat, suku, undang-undang, bahkan agama. Kedua orangtua Sapri tak banyak tahu tentang hubungan mereka. Padahal Sapri tahu, adatnya hanya mengenal perjodohan, tidak ada pacar-pacaran. Aturannya, orang tua laki-laki akan bersilaturahmi kepada orang tua perempuan dan memperkenalkan kedua anak mereka masing-masing. Mengingat itu, batinnya tergoncang. Ia memilih hati nuraninya. Meski ada rasa takut yang amat sangat dari adagium nenek moyangnya.

Tak seperti Mirna, ia bebas sesuka hati mencintai Sapri. Yang ia tahu, orang-orang Kenekes orang-orang setia. Mereka hanya boleh mempunyai satu istri sepanjang hidup—kecuali salah satu pasangan meninggal maka boleh menikah lagi. Dari pandangan ini, pikiran Mirna semakin saklek pada Sapri. Ia yakin Sapri tak seperti para lelaki brengsek yang ada di kampusnya, yang hanya mau keindahan tubuhnya, setelah itu dibuang. “Aku bukan ayam kampus,” ujarnya.

Sebelum pulang, Mirna memasangkan sebuah kalung di leher Sapri.

***

Keringat Sapri bercucuran. Ia mencari-cari alamat rumah Mirna ke Jakarta. Sudah biasa ia melakukan perjalanan berjam-jam bahkan berhari-hari dengan hanya berjalan kaki asal pekerjaan di ladangnya memang sudah tidak banyak. Kakinya memang teramat besar dan kuat—terutama pada betis. Wajar, setiap hari ia selalu bolak-balik naik-turun gunung untuk mencari rezeki: menjual durian, asam keranji, madu hutan, dan gula kawung atau aren melalui para tengkulak.

Sapri memang tidak bisa membaca dengan lancar. Ia bertanya pada setiap orang yang lewat untuk mencari alamat yang Mirna berikan. Ini untuk yang kesepuluh kalinya ia ke kota. Biasanya ia berkeliling sambil berjualan barang-barang khasnya dari Baduy—yang disimpan di dalam tas. Kali ini tujuannya hanya satu: Mirna. Meski seringkali ia ditangkap aparat setempat karena dikira teroris dengan pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Kadangkala Sapri masuk mal. Masuk restoran. Dan ia mengerti, kapan ia harus membeli, kapan ia harus membayar. Ia sudah tidak gagap kota. Tidak seperti kawan-kawannya yang lain di kampungnya—Cibeo.

Sapri juga lancar berbahasa Indonesia. Ia banyak belajar dari para pengunjung yang rata-rata anak muda. Salah satu yang mengajari banyak hal adalah Mirna. Sudah tujuh kali Mirna ke Tangtu. Bertemu Sapri dan keluarganya. Perawakan keluarga Sapri memang tampan. Wajar, bila Mirna kepincut dengan paras Sapri yang aduhai—juga kebaikannya. Selain Mirna, banyak pula perempuan yang menggoda Sapri. Namun, semenjak mengenal Mirna, semua perempuan tak ada yang sempurna di matanya, juga perempuan yang ada di kampungnya.

“Teroris!”

“Teroriiss…!”

“Teroriiiiiss…!”

Lagi-lagi orang-orang sekitar meneriaki Sapri. Satu per satu orang berdatangan. Sapri ditangkap. Dibekap. Diikat di tiang listrik. Ia tak melawan. Ia hanya menjelaskan bila ia orang Kanekes. Orang Baduy. Meski berkali-kali ke kota, masih banyak orang yang tabu terhadapnya—karena memang paling aneh dan nyentrik sendiri di tengah hiruk-pikuk bising kota.

Terik matahari menusuk kulit putih Sapri. Orang-orang semakin merubunginya. Malah menjadi tontonan yang tidak enak dipandang. Anak-anak kecil melemparinya dengan botol plastik, kulit pisang, bahkan batu. Barangkali mereka mengira Sapri orang gila yang nyasar. Polisi pun datang. Sapri dibawa ke kantor. Ia menjelaskan bahwa dirinya orang Kanekes. Polisi itu akhirnya paham dari apa yang dijelaskannya—rasa-rasanya memang pernah beberapa kali polisi itu menangkap orang semacam ini di Jakarta. Sapri memberikan alamat rumah Mirna. Di alamat itu tertera nomor telepon. Sapri tak tahu kalau ada nomor telepon itu (dibalik kertas). Polisi pun menghubungi Mirna untuk segera datang ke kantor.

Selang beberapa jam, Mirna datang dengan mengendarai sebuah mobil. Kedua mata mereka bertemu kembali. Keduanya saling merindu. Mereka berpeluk mesra. Polisi seisi kantor menatap amat heran. Sapri pun ditarik Mirna menuju mobil. Ia hendak berbicara sesuatu, namun Mirna tak menghiraukan. Sapri resah. Ia sudah melakukan kesalahan fatal: naik kendaraan.

***

“Ngapain kamu bawa-bawa orang gila ini ke rumah?” tanya kakak Mirna.

“Kamu sudah amnesia, yah?” timpal ibunya.

“Dasar tak punya otak!” timpal lagi ayahnya.

Mirna bingung setengah mati. Tak ada yang membelanya meski ia berkali-kali menjelaskan bahwa Sapri orang baik-baik. Orang selatan, dari negeri Kanekes. Kedua orang tuanya baru menyadari kalau Kanekes adalah orang suku Baduy.

“Yang Ayah tahu, masyarakat orang ini masyarakat terasing, terpencil, masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Kamu mau mencoreng nama baik kita sebagai orang kota hanya karena orang aneh ini?” sambil menunjuk Sapri.

“Aku tahu ini hal konyol. Tapi, untuk kali ini saja aku mohon turuti permintaanku.”

“Kamu anak perempuan Mama satu-satunya. Mama nggak rela kamu menikah dengan orang yang tak sederajat dengan kita.”

“Jangan memandang mereka dengan sebelah mata. Mereka sebenarnya orang berada, hanya mereka tidak hidup seperti kita, yang bermewah-mewahan dengan rumah dan mobil.”

“Sekarang kamu melawan ya, sama orang tua. Tidak tahu diri!” tangan ayahnya hampir mengenai wajah Mirna, untung ibunya menahan tamparan itu. “Sekarang kamu keluar! Keluar dari rumah ini!”

“Jangan Mirna! Jangan…!” Ibunya memegang tangan Mirna, berusaha mencegah. Tapi percuma, Mirna menarik kembali tangannya dari genggaman ibunya. Sapri tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menunduk, sedikit-sedikit melirik menyaksikan pertengkaran itu.

“Baik, aku keluar dari rumah ini!”

Mirna menarik tangan Sapri. Keduanya bersegera keluar rumah. Mereka kabur menuju Kanekes. Ibunya tak bisa mencegah mereka—kakak Mirna menahan tangan ibunya untuk menyusul Mirna. Tak ada upaya dari seorang ibu yang sebenarnya masih mengharapkan kehadiran anak perempuannya di rumah meski hanya sekadar menemaninya bergosip.

Sepanjang perjalanan di mobil. Rasanya otak Mirna ingin segera diledakkan. Membaginya kepada Sapri. Sayangnya, ada hal yang terlupakan; keduanya lupa telah melakukan kesalahan fatal: lagi-lagi naik kendaraan—terutama untuk Sapri. Anehnya Sapri tak menolak ajakan Mirna. Barangkali Batara Cikal sudah siap mengutuknya, entahlah.

“Sap, bisa kamu nikahi aku segera?” tiba-tiba Mirna memohon.

“Apa? menikah?” Sapri terkejut sambil melengos ke arah Mirna yang sedang menyetir mobil.

“Iya, menikah.”

“Tak semudah itu saya menikahi kamu, Mir. Adat kita berbeda. Ayah-ibu kamu juga tidak setuju dengan saya.”

“Aku tidak peduli. Aku mencintaimu, Sap.”

“Iya, saya pun sama. Tapi, tidak mungkin kita hidup di sana. Pasti saya diusir ke luar karena melangar hukum. Orang kami mengutamakan menikah dengan sebangsa kami. Tapi, jujur saya tidak mau. Saya juga cinta sama kamu.”

Sapri mengalami tekanan batin yang teramat sangat. Ia tidak bisa membohongi perasaannya. Ia memberanikan diri melakukan hal ini karena bercermin pada beberapa orang di Kanekes yang berani keluar dari adat dan menikah dengan orang luar—entah bahagia atau tidak, tak ada yang tahu, karena orang Kanekes yang harus dibawa ke luar kampung. Ia juga tahu, ada salah seorang warga yang keluar dan mencalonkan diri menjadi Bupati. Sayangnya, yang teramat berat baginya, ia adalah salah satu pemuda yang cukup diandalkan di Kanekes. Pemuda yang dianggap paling berjasa dan mampu menyebarkan aturan adat ke anak-anak kecil dengan cara lisan—ya, tak ada aturan tertulis di Kanekes, nenek moyang mereka mengajarkan turun-temurun kepada anak cucu secara lisan. Sapri hanya takut, apa yang akan orang-orang katakan tentangnya bila tahu ia telah melanggar banyak aturan adat sukunya. Walaupun ia juga yakin, keluarganya pasti memasrahkan keadaan karena dalam hal apa pun tak ada paksaan bila memang berniat ingin keluar dari aturan Baduy dan menjadi orang luar seperti kebanyakan orang lainnya. Menikmati kendaraan, listrik, pakaian-pakaian kota, dan sebagainya.

“Lebih baik kita bicarakan ini dengan kedua orang tua saya,” ujar Sapri.

***

Sepasang sejoli itu dibawa oleh kedua orang tua Sapri ke rumah Jaro setempat. Membeberkan segala perihal yang terjadi dengan Sapri. Tak ada yang harus disembunyikan bila memang harus diselesaikan dengan baik-baik. Meski kedua orang tua Sapri terpukul dari apa yang sudah dilakukan anaknya, mereka hanya pasrah. Karena mereka tahu hidup adalah pilihan. Pilihan anak, adalah pilihan yang baik pula untuk mereka—orang tuanya.

“Apa yang sudah kamu lakukan sudah melanggar aturan yang cukup berat. Kamu main perempuan di luar sana tanpa sepengetahuan kami. Kamu sudah berkendara di mobil. Juga ikut menyaksikan perkelahian kedua orang tua Mirna di rumahnya yang seharusnya tidak kamu saksikan.”

“Saya cinta sama Mirna, Jaro. Saya sangat minta maaf.”

 “Apa kata Batara Cikal di sana dari apa yang telah kamu perbuat. Jangan sampai ketidakjujuranmu itu berakibat fatal akan laknat dari para dewa.”

 “Aku juga cinta sama, Sapri,” sela Mirna di antara perbincangan Jaro dan Sapri.

 “Iya, saya tahu kalian saling mencintai. Tapi, tetap saja aturan adat harus dilaksanakan. Pelanggaran Sapri sudah berat, menurut hukum ia harus dimasukan ke dalam rumah tahanan adat selama empat puluh hari. Setelah bebas, saya akan tanyakan lagi apakah Sapri ini masih mau berada di Tangtu atau mau keluar ke Panamping atau keluar menikah denganmu, Mirna. Dan tentu saja harus berhadapan dulu dengan kami, juga Puun.”

 “Adakah hukuman yang lebih ringan dari itu, Jaro?” tanya Mirna cemas.

 “Tidak ada.”

***

Mirna merasakan kesepian. Empat puluh hari baginya teramat lama. Ia juga tak mungkin pulang ke rumah. Barangkali orangtuanya sudah murka. Yang bisa ia lakukan hanya menangis di rumah kontrakan—dengan uang seadanya. Ia keluar pun hanya untuk menjenguk Sapri. Itu pun seminggu sekali. Tak mungkin ia tinggal bersama orangtua Sapri di Baduy, tak boleh ada wisatawan yang menginap lebih dari satu malam berturut-turut, terkecuali terseling meski satu malam. Hatinya ingin segera dimiliki Sapri seutuhnya. Ia menyadari, apa yang dilakukannya itu adalah hal yang aneh. Hal yang tak bisa ia jelaskan sendiri. Padahal masih banyak lelaki di luar sana yang masih seiman dengannya. Berkali-kali ia gagal cinta, maka yang kini ia cari adalah sebuah kesetiaan. Cinta yang tulus. Cinta yang murni. Seperti Sapri.

Barangkali murni baginya, tapi tidak untuk orangtuanya. Ibunya di sana selalu menangisi kepergian Mirna. Sang ayah tak memedulikannya, barangkali karena ayah tiri. Sang kakak juga amat bangga adik yang selalu bertengkar dengannya itu pergi. Ia bisa menguasai seisi rumah dengan leluasa, tidak seperti sebelum-sebelumnya, yang apa-apa selalu diganggu adiknya.

 “Mas, aku ingin bertemu Mirna!” ujar Ibu Mirna.

 “Biarkan ia di sana. Ia sudah memilih jalan hidupnya sendiri.”

 “Tapi, ia di sana makan apa? Hidup sama siapa? Aku tidak mau tahu, aku harus ke sana!”

 “Terserah kamu. Silakan jemput ia sendiri. Aku tidak mau menginjakkan kaki di tempat seperti itu.”

 “Mas, kamu jahat! Tak punya perasaan! Meski ia bukan anak kandungmu, tapi seharusnya kamu tidak memperlakukan ia seperti ini.  Aku tahu kamu tidak suka dengan gaya dan ulahnya. Tapi, Ia darah dagingku, Mas. Darah dagingku.”

 Ibu Mirna pergi di antar sopir. Ia sama sekali tidak tahu daerah Kanekes—juga sopirnya. Ini untuk kali pertama keduanya ke sana dengan amat terpaksa. Tak ada yang bisa dikontak. Terutama Mirna. Anaknya sudah berganti nomor telepon semenjak ia tak lagi menginjakkan kaki di rumah. Ibunya sangat khawatir. Rasa was-was tampak di seraut wajahnya. Sang sopir melirik-lirik majikannya itu dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.

 “Berapa menit lagi kita sampai, Jang?”

 “Saya kurang tahu, Nya. Tapi ini sudah sampai Alun-alun Rangkasbitung.”

 “Coba tanyakan lagi ke orang yang di depan itu.”

Setelah mendapatkan alamat yang jelas. Ujang melajukan mobil semakin kencang. Cuaca sedang tidak bersahabat. Langit sudah teramat gelap. Di depan mata, hujan mulai berjatuhan. Keduanya harus menghadapi jalanan berkerikil dan berlubang. Apalagi nanti hujan semakin deras, air akan menggenangi seluruh lubang di jalan dan membikin perjalanan mereka tersendat.

“Apa tidak sebaiknya kita tunda perjalanan kita malam ini, Nya?”

“Pokoknya saya tidak mau tahu, malam ini harus sampai ke lokasi.”

“Tapi kita kan tidak tahu tempatnya, Nya. Dalam cuaca begini pula. Sangat berbahaya.”

“Jangan banyak bicara. Turuti saja perintah saya atau kamu saya pecat!”

Ujang langsung diam. Ia tak bisa mengelak. Tak punya pilihan. Ia paling takut bila majikannya itu marah. Dalam batinnya, malaikat Izrail sedang siap-siap menjaring nyawa dari atas kepala mereka.

***

Sapri sudah keluar dari tahanan adat. Mirna tak berselera hidup setelah mendegar penjelasan Jaro. Pernikahan tidak akan berlangsung bila belum ada kesepakatan dari kedua belah pihak—keluarga laki-laki dan keluarga perempuan—, kemudian dilanjutkan dengan proses tiga kali pelamaran. Pertama, orang tua laki-laki melapor ke Jaro dengan membawa daun sirih, buah pinang dan gambir secukupnya. Selanjutnya, pelamaran dilengkapi dengan cincin yang terbuat dari baja putih sebagai mas kawinnya. Terakhir, mempersiapkan alat-alat kebutuhan rumah tangga, baju serta seserahan pernikahan untuk pihak perempuan.

Mirna terpaksa harus pulang dan menjemput kedua orangtuanya. Jaro tak akan merestui walaupun ia tahu bila hubungan Mirna dengan orangtuanya sedang retak. Ia tak mau Batara Cikal mengutuk kampung adat. Entah apa yang akan Mirna katakan nanti. Pikirannya terombang-ambing. Ia tak tahu kalau ibunya mencari keberadaannya.

Di tengah perjalanan Mirna melihat orang-orang berkerumun menengok dasar sungai—dari atas jembatan. Sebuah mobil berpelat merah anjlok dari ketinggian lima puluh meter. Korban belum sempat dievakuasi warga karena menunggu polisi datang. Mirna mengerutkan kening melihatnya.

“Sepertinya aku kenal mobil itu.”

 

                                                                                                       Serang Banten, 2013—2015

 

 

Biodata Penulis

 Encep Abdullah, alumnus Untirta Banten dan bergiat di Kubah Budaya. Tulisannya dimuat di Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Republika, Riau Pos, dan lain-lain.

 

 

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler