Skip to Content

Cerpen Deri Hudaya; Cerita Carut-Marut dari Kampung Hitut

Foto Deri Hudaya

Cerita Carut-Marut Dari Kampung Hitut [1]

Kelelawar yang baru saja keluar dari sarang persembunyiannya terbang ke sana-kemari seperti tangan yang mencakari langit. Mega-mega merah membara. Angin yang entah datang dari mana dan entah hendak pergi ke mana terdengar hanya desah panjang lelahnya. Terdengar juga bunyi-bunyian aneh dan bising, seperti seperangkat gamelan yang dimainkan sembarang, ditingkahi pekik dan jeritan orang-orang. Hewan meraung-raung. Hamparan sawah gagal panen, hutan kering-kerontang di kampung itu, bersenandung pilu. Balai Agung, bangunan paling jangkung dan mentereng, seperti sesosok bingung yang terjebak di tengah kekacauan kampung. Kampung Hitut namanya.

Pangeras suara di atap Balai Agung berdenging.

“Kacau, Brow! Parah sangat, Pemiarsa! Kita telah lupa akan hakikat waktu! Nanti kita bisa lupa segala-galanyah! Celaka, euy! Nanti Sunan Ambu bisa uring-uringan lagi! Ke manakah perginya para Batara?” Suara dari pengeras suara membahana. Hewan-hewan langsung bungkam. Pohon-pohon membungkam. Orang-orang di sekitar Balai Agung, di mana-mana, seperti kena tenung.

“Hey, siapa itu?”

“Itu siapa?”

“Haduh, pusiiing, aing. Kepalaku pennniiing... annnjing...”

“Sttt!”

Orang-orang berjinjit. Mengepung Balai Agung. Beberapa di antaranya melongokkan kepala dari jendela.

“Goblok!” seru salah seorang di jendela sebelum menepis tangan pengganggu yang memegangi pundaknya dari belakang.

“Heh, siapa yang goblok?” tanya orang di belakangnya.

“Dasar edan!” lanjut orang yang masih melongokkan kepalanya itu.

“Hati-hati kalau ngomong!” ancam orang di belakangnya.

“Tidak punya otak!” serunya lagi.

“Sejak kapan otak berguna?” desis orang di belakangnya sebelum menyarangkan tendangan ke pantat.

“Si Eta! Si…” kata-katanya tidak selesai karena amarahnya telah sampai di ubun-ubun. Baginya, kata-kata tak begitu berarti jika dibandingkan dengan tendangan balasan.

Maka keributan pun diteruskan. Saling hantam seperti tadi. Saling sikut seperti kemarin. Seperti yang sudah rutin terjadi. Tak ubahnya api bertemu sumbu minyak. Perkelahian menjalar begitu cepat. Tanpa komando. Tanpa kendali. Entah sedari kapan, perkelahian menjadi milik bersama di kampung Hitut. Seperti pesta yang harus disambut semua orang. Hanya hewan-hewan yang mengaduh di kejauhan, hanya pepohonan yang tercengang di kebun-kebun kerontang, di hutan-hutan rompal.

“Hadirin semuanyah, Batara Kala tentu marah sama kita-kita orang. Akan turun hujan kutukan. Akan ada banjir bandang. Angin topan bakal mengobrak-abrik kampung Hitut yang amat sangat kita cintai ini melebihi rasa cinta kita kepada tai. Celaka, Luuuur!” seru seseorang dari pangeras suara.

“Gawat, gawat! Waktu hanya sehari ini lagi! Sisa waktu nyaris tidak ada... Dan demi waktu, sesungguhnya manusialah yang merugi seribu kali! Menderita karena bacotannya sendiri! Hidup tak ada artinya lagi, tai! Orang-orang terbakar dalam mimpinya sendiri! Hidup taiii!”

Hening. Semuanya terpaku di tempat masing-masing. Suara Si Eta dan pengeras suara seperti mengandung sesuatu. Langgamnya aneh. Seperti sedang bersenandung. Seperti sedang meratap. Kadang-kadang Si Eta meniru langgam asmarandana, meniru cengkok dangdut Pantura dan langgam nadoman.

Si Eta, orang biasa memanggilnya demikian, sebab tak ada yang tahu pasti siapa nama sebenarnya. Manusia sebatang kara. Tanpa ada yang tahu apa pekerjaannya. Orang tahu belaka bahwa dirinya sering bersenandung tak kenal waktu dan tempat. Kali ini suaranya agak parau, lebih mendekati perih. Semakin lama suaranya semakin menyerupai gesekan tarawangsa.

**

Mega-mega terbakar. Langit makin membara. Jalan aspal semakin merah. Jalan-jalan kampung digenangi darah. Darah semua orang. Bekas pertengkaran semua orang. Bekas perkelahian semua orang. Anjing liar meraung pilu dari gunung.

“Ahuuuung! Ahuuung! Ahuuung! Matahari hampir padam. Mari kita pikirkan dengan kepala jernih. Mikir atuh koploook!” Si Eta bicara lagi dari pangeras suara setelah jeda cukup lama.

“Dari mana memikirkannya?”

“Harus bagaimana kita?”

“Kalau aku mikirnya sambil memiringkan kepala ke kiri boleh?”

Ternyata, semua penghuni kampung Hitut telah memenuhi Balai Agung. Ada yang duduk bersila. Ada yang harus berbaring karena cedera. Perempuan.  Laki-laki. Tua dan muda. Ada beberapa hewan yang juga turut serta. Begitu juga pohon-pohon.

“Kalau mikir mesti pakai otak, yah!” ujar Si Eta.

“Kalau begitu laki-laki sajah! Perempuan harus dikandangin! Terlalu banyak pakai hati!” seru seorang laki-laki kekar berkepala botak. “Nanti kalian mewek lagi!”

“Kontol buntung! Mikir juga mesti diimbangi dengan hati, tolol!” hardik seorang perempuan. “Ngomong di depan aku harus pakai hati, sayang!”

Yang laki-laki mencerocos. Perempuannya tidak tinggal diam. Caci-maki berbalas umpatan. Laki-lakinya melotot. Perempuannya berkacak pinggang.

“Bagaimana ini teh kawan-kawanku sekalian? Diajak berpikir, diajak diskusi, kok  malah pada ribut! Kalian mesti malu sama binatang. Mesti malu sama pepohonan. Mesti malu dengan kepercayaan yang kalian pegang erat-erat, lebih erat daripada saat kalian memegang balon lima warna, bukan? Apakah kita-kita ini masih punya rasa hormat pada kebijaksaanaan para leluhur dan utusan Hyang Widi? Bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi, betul? Malu lah sebentar! Lima menit, laaah, kalian punya rasa maluuu!” Si Eta naik ke atas mimbar. “Cuma lima meniiit, koplak! Anggap saja iklan!”

Matahari masih membara di atas gunung, membakar menara Balai Agung.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan?” tanya seekor anjing kampung yang mendekam di pojok belakang.

“Gue mah bingung banget, Lur! Nyerrraaah!” ujar pohon kiara di sebelahnya.

“Pasang kuping kalian, yah!” ujar Si Eta. “Kita sudah tak mungkin lagi mengandalkan hati, dan tidak bisa mengandalkan pikiran saja. Tak perlu diskusi untuk hari ini. Musyawarah telah mati tadi pagi!”

“Nah, kalau begitu, mau pakai lutut? Pakai bogem mentah lagi? Capek! Dari kemarin belum istirahat. Tapi kalau kalian jual, buatku pantang tujuh turunan untuk tidak membeli!” seru seorang pemuda gondrong dari dekat pintu.

“Mari kita pelajari ketenteraman yang pernah terlupakan, Saudaraku,” tegah Si Eta. “Ketenteraman yang akan memberi tempat bagi seorang adil di tengah-tengah kita.”

“Apa kau bilang, heh?” tanya salah seorang perempuan. “Orang adil itu makhluk macam apa?”

“Alah, ujung-ujungnya pasti pemimpin! Omong kosong! Aku sudah banyak makan asam garam!” seru lelaki paruh baya. “Lebih baik seperti sekarang ini, bebas. Setiap orang memimpin dirinya sendiri!”

“Mau seperti ini terus? Yakin?” celetuk seekor kura-kura yang mendekam di depan Si Eta. “Manusia bisa cepat punah, Lur. Sebab waktu-waktu terbaik untuk bercinta malah kalian habiskan untuk huru-hara. Kalian bisa cepat musnah dari muka bumi karena susah punya turunan!”

“Tennnaaang! Harap tennnaaang. Ada kabar gembira yang dapat dipercaya, Lur, bahwa kita akan tiba pada suatu hari yang bahagia, pada suatu ketika yang telah lama kita impikan bersama.” Si Eta berselang batuk. “Kita akan kedatangan seorang bajik nan bijaksana, Tuan dan Puan, seseorang yang akan menyelamatkan kampung kita, desa kita, kecamatan kita, negara kita dari jurang kenistaan. Bumi yang kita pijak akan kembali gemah ripah lohjinawi karena beliau akan menumpas kebatilan sampai ke akar-akarnya. Masa depan adalah kertas putih. Suci tanpa noda, anjiiirrrr!”

“Mentang-mentang lidah tidak bertulang,” sanggah seorang perempuan.

“Jangan-jangan benar,” potong seorang perempuan tua. “Dengarkan dulu. Dia ini orang aneh. Jangan menilainya dengan mata picek. Dia berbeda dengan kita. Dia tidak punya keluarga. Dia tidak punya teman. Dia tidak pernah ikut-ikutan berkelahi. Dia muncul begitu saja di kampung kita seperti diturunkan langsung dari langit. Dia seperti seorang utusan.”

“Yah, seperti utusan!” timpal seekor beo yang bertengger di gagang pintu.

Orang-orang berpandangan. Manggut-manggut. Cicak yang sedang menempel di langit-langit akhirnya angkat bicara, “Bagaimana tampangnya orang itu? Mungkin aku pernah melihatnya. Aku akan mencarikannya demi kalian semua. Gratisss!”

“Baiklah, baiklah. Jika ingin tenteram, adil dan hidup bahagia... Eh, kalian harus mulai menyiapkan segalanya dari sekarang. Kalian harus menyambut kedatangannya dengan pantas. Raga memang bukanlah batin, kawan-kawanku sekalian. Wujud bisa bertolak belakang dengan ruh, betul? Kalian boleh ragu pada kata-kataku. Tapi mari kita buktikan dulu. Bersiaplah, Luuur!” ujar Si Eta sambil mengepalkan tinju. “Rahayuuu!”

Orang-orang bubar meninggalkan Balai Agung. Ada yang lantas membuat umbul-umbul. Ada yang hilir mudik menyiapkan upacara adat. Sebagian di antaranya khusyuk berlatih gamelan. Sebagian lagi sibuk mempersiapkan macam-macam hidangan. Dan ada pula yang lekas-lekas mendirikan panggung besar di halaman depan Balai Agung.

**

Kampung Hitut semakin lama semakin sibuk. Gamelan tak henti-henti dimainkan. Terompet ditiup bergiliran. Bendera berkibaran. Para penari tampil dengan begitu menawan di sekitar gapura. Asap kemenyan berpulun-pulun. Jalan utama ditaburi macam-macam kembang. Para sepuh, bocah-bocah, perempuan dan laki-laki, semuanya mengenakan pakaian terbaik. Rajah pamuka, mantra pembuka, didendangkan terus dan terus.

Matahari masih tetap. Matahari yang membara. Matahari yang luput dari perhatian semua orang. Sebab yang ditunggu masih harus ditunggu. Waktu seperti batu. Mereka yang menunggu mulai dijalari lumut. Beberapa di antaranya terkantuk-kantuk. Bahkan ada beberapa yang tergelatak mati tanpa seorang pun merasa perlu peduli. Semakin lama kampung Hitut semakin bau busuk. Dan Si Eta entah di mana. Setelah meninggalkan Balai Agung, ia menghilang bersama angin. Dan tiada seorang pun mencarinya. Semua orang berkonsentrasi pada upacara penyambutan akbar.

Tapi setelah sekian lama. Ada yang tergesa-gesa meninggalkan gunung akhirnya, menuju kampung Hitut, menuju orang-orang yang setia menunggu. Pakaiannya serba putih. Kepalanya dililit iket putih. Janggutnya putih. Tongkat ruyung di tangan kiri. Tasbih panjang di tangan kanan. Sepintas, orang tidak akan curiga bahwa orang itu adalah Si Eta. Dan di sepanjang jalan, bibirnya berkomat-kamit terus seperti sedang merapal ayat-ayat sakral: “Bang Toyiiib... Bang Toyiiib kenapa nggak pulang-pulaaang. Anakmu, anakmuuu, panggil-panggil namamu!” (***)

Singajaya, 2018.

 

 

Deri Hudaya. Lahir di Singajaya, 3 September 1989. Karyanya pernah dimuat di Basabasi, Pikiran Rakyat, Jurnal Sajak, Sastra Digital, Tribun Jabar, Mangle, dll. Pernah belajar menulis di Majelis Sastra Bandung, Bengkel Ngarang Basa Sunda, dan Turus. Novel Déng (Penerbit Layung, 2016) Godi Suwarna adalah buku terjemahannya yang telah terbit. Ia juga menerbitkan buku kumpulan cerpen bahasa Sunda, Lalakon Kadalon-Dalon (Kentja Press, 2018). Buku terakhirnya berjudul Lalayaran Luhureun Heulang (Kentja Press, 2020) yang menghimpun karya enam penyair muda yang menulis dalam bahasa Sunda. Bersama Poesual Art, ia  bereksperimen membuat film-puisi. Sehari-hari bekerja sebagai petani dan juga mengajar di Universitas Garut.

 


[1] Kali pertama dipublikasikan dalam antologi sastra "Individu" (Unkown People, 2020) yang disusun oleh Anon untuk memperingati Hari Buruh Internasional.

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler