Skip to Content

dia yang terlupakan

Foto Dame Tobing

----------DIA YANG TERLUPAKAN-----------

Dari jendela bus yang sedang ngetem menuju tempat tugas ku,mataku terpana  pada sosok
kakek pengayuh sepeda sport model dulu.Bukan hanya kali ini lagi aku sebenarnya melihat beliau boleh dikata sering kami berpapasan dijalan raya itu .Dengan  kaki
tua yang berbalut kaos kaki dan sepatu olahraga tua.Dia  santai saja mengayuh kedua pedal sepedanya
berpegang pada stang melaju kedepan tanpa acuh pada yang melewatinya.
                                                                                                                       Garis ketuaan jelas tergurat dikening dan pipi sang kakek pertanda sudah lansi,tanpa dihias janggut maupun kumis.Rahang nya terkatup rapat dengan bibir tipis bagaikan tersenyum dengan sorot pandang masih jelas tanpa lensa putih .Dileher tergantung handuk kecil dengan kaus oblong putih  dan celana potong  bahan jeans biru tua membalut sekujur tubuhnya .
Segumpal kain bekas terbungkus rapi pada sebuah goni plastic putih ,terletak pada boncengan sepeda ,tak terlupa ada sebuah payung hitam datasnya.
                                                                                       Hampir setengah jam telah terlewatkan terminal bus aku merenung dalam guncangan bus yang kutompangi aku hanya menjawab sekedar saja pada orang yang menyapaku dalam bus.Mungkin aku dikata cuek,sombong,sok entahlah itu terserah mereka saja.Mataku jauh memandang keluar jendela bus.Sawah ladang pepohonan dan lereng gunung yang kulewati bagiku semua indah ditambah lagi dengan sungai kecil yang jernih tanpa polusi mengalir diantara bebatuan melantunkan suara gemercik bagai alunan lagu.Tak membuatku jenuh melihatnyaTetapi.derit rem bus yang tiba-tiba membuat pandanganku beralih kedepan ,kulihat pak sopir sedang menghindar dari truk balok yang melaju dari depan ,hampir serentak penompang mengerutu kecuali aku. Entah mengapa bayang wajah kakek bersepeda tadi
melintas dibenakku dan aku tertanya Mengapa tiada hentinya dia bersepeda  sepanjang hari menyusuri jalan dikota kecil kami itu.Jelas dia bukan sport untuk jantung sehat  seperti beberapa  pegawai kantoran atau anggota dewan yang menghidar dari stroke.
Lalu siapa dia ,mengapa dan dimana tinggalnya,siapa sanak keluarganya, itulah focus tanya bagiku,dan tanpa
kusadari  pak sopir berteiak
                  -“ Bu…kita udah nyampe ni …
                      Oh…ya  ..jawabku singkat seraya turun dari bus menuju kantor sekolahku.
 Kulihat white board yang tergantung di dinding bersih ,kusimpulkan dalam hati takada
pengumuman dari atasan lalu kulirik jam pertanda lima menit lagi untuk tukar jam mengajar.Seperti biasa rutinitas mengajarku hampir tak banyak perobahan dalam  akhir
ini sebab pimpinan baru  menerima laporan semester dari para guru .
                                                                                                               Jam 2.30 proses belajar mengajar disekolah ku usai ,sudah tentu aku kan pulang kerumah .Di tepi jalan raya kutunggu lagi bus arah kekota.Dari kejauhan terdengar suara bus dan tiada berapa lama telah berenti didepanku tanpa dstop.dengan senyum dan rayuan kernet menyambut
kami para penompang.Bebagai celoteh dan gurauan yang hampir tak bermakna  kedengaran disana.kadang diselingi lagu daerah dari cd bus yang sama kedengarannya dengan deru mesin bus namun tak berpengaruh banyak bagi para penompang.Dengan mata yang hampir terpejam rapat menahan rasa kantuk…..
                                                                          -“ terminal….terminal  suara lantang kernet
membangunkanku untuk turun segera.Kusodorkan lembar sepuluh ribu padanya lalu
 menuju
           parkiran angkot kekota.
                                      ehhh ,diseberang jalan dekat rumahku kakek bersepeda  telah duduk santai  sambil menikmati hisapan sebatang kretek diantara jari nya.dengan sepeda .bersandar dipagar rumah.
                                          - “ Mama….. teriak anaku Arimbi seraya berlari dan kugendong
sambil masuk kerumah,
                                     Demikian juga dengan kedua anak ku Roma dan Romi asyik bermain dengan mobil-mobilan yang baru kubeli kemarin.Suami ku Bram masih asyik membaca Koran  terbitan pagi tadi.Suasana rumah  kulihat bersih dan rapi.tidak seperti yang kutinggalkan tadi pagi.Memang sudah satu pekerjaan rutinitas bagi ku dan Bram membagi kerjaan dirumah walaupun tanpa ada schudel kerja.Bram sangat mengerti akan keadaanku sebagai ibu yang dwifungsi dalam menghidupi rumah tangga kami.Namun dalam hal ini bukan nya Bram pengangguran hanya tidak bekerja secara menetap.Bagiku hal tersebut sudah sangat menguntungkan karena ketiga anak kami yang masih balita terawasi dengan baik sesaat aku kerja.Bram juga sangat memperhatikan dan selalu memelihara kerapian dan kebersihan rumah kami.Sehingga setengah kerjaan rumah sebagai tugasku dapat diambl alih Bram.
                                            - “ Aku ….keluar dulu ya ,kamu tiggal masak dan ngangkat
                                                  kain jemuran .
                                             - “Ya….jawabku dengan singkat sambil senyum padanya
sambil mengiringi nya kepintu depan.Diluar kulihat lagi si kakek telah bersiap siap pula
hendak menaiki sepedanya kearah kota kembali menyusuri jalan raya seperti tadi pagi
Aku kembali keruang dapur sambil merapikan meja makan sambil berceloteh dengan anak-anaku yang kadang tertawa dan nangis yang selalu meramaikan suasana .Setelah
mereka tidur siang aku pun istarahat sambil menikmati alunan lagu kesayanganku dan mataku memandang suasana ruangan yang tertatarapi  indah    dengan  mebeul yang
sederhana namun bagiku  itu sudah cukup .Entah bagaimana suasana yang seperti ini
selalu kucari.Karena ketenangan dan kedamaian pada saat seperti inilah kutemukan setelah seharian aku kerja bahkan yang kujalani scara rutin  yang sudah tentu akan menimbulkan
kejenuhan.Untunglah Bram sangat memahami aku sehingga boleh dikata dialah suami yang baik .Bila kubandingkan dengan suami rekan sekerjaku yang kadan kami saling
curhat .Tetapi walaupun demikian manusia lah namanya toh punya kelemahan dan
kekurangan jua.Bram orangnya pendiam , sehingga aku sebagai istri harus hati-hati dalam
mengambil suatu keputusan.,sering sekali diserahkan padaku.Kadang diluar acc nya keputusan kuambil dan haslnya kadang fatal ,akhirnya timbul penyesalan dan kemudian dapat memicu pertengkaran.lalu saling membisu Jika hal seperi  ini muncul  aku sering menangis dalam kesendirianku sebab Bram sering tidak memperhatikan  ku lagi .
Namun  rutinitas kerja kami tetap bejalan seperti biasa.Bolak balik aku berfikir ,seribu Tanya seribu jawab berurai dibenak dan hatiku  terkadang buntu dan kesal bercampur aduk
bak adonan yang diuleni sampai kalis.Dalam hal seperi inilah kadang aku butuh dengan Bram berbagi dalam mencari solusi pada suatu masalah .Tetapi itu jarang kutemukan.dan sudah tentu mebuatku dongkol kesal dan apatis.Mungkinkah seterurusnya begini ?....
                   Kumandang   suara Azan dimesjid diseberang rumahku bergema nyaring mengingatkanku    advis rekan-rekan sekerja menyelinap dihatiku.kulihat anak-anaku  sudah semakin bertambah umurnya.tentu mebutuhkan aku  agar semakin dewasa.berfikir
                -“ Bagaimana …….perlu dibantu ? Tiba-tiba suara Bram lembut tepat dibelakang
telingaku ,nafasnya menghalau beberapa helai rambutku.sakin dekatnya padaku saat aku  menyetrika.Aku masih diam ,lalu diambilnya strikaan dari tanganku
               -“Shalat dulu ,kamu nanti lanjutkan.kau masih marah padaku ?..katanya sambil menatapku dengan senyum nya yang khas .Terpaksa aku balas menatap nya dan diluar dugaan ku.Bram memelukku dan aku diam. Walau Bram tidak banyak mengumbar rayuan atau perdebatan dari sikap yang ditunjukkan dan sinar matanya  telah dapat kubaca .Masalah  harus selesai.Aku bersyukur Allah mengbulkan doaku aku segera ber udhuk dan sholat Ashar.
                     Malam itu tidurku agak terlambat walau mataku terkatup  pikaranku melayang tanpa kusadari sosok kakek pengayuh sepeda terlintas lagi dibenakku,dan hatiku tertanya siapa dia ,dimana rumahnya siapa keluarganya dan mengapa dia selalu mengayuh sepeda menyusuri jalan tanpa jenuh.Sudah tentu alam khayalku yang beraneka ragam  akhirnya membawaku ke pinggiran kota kelahiranku disebuah gang yang penghuninya para pendatang dari  luar kampungku .Salah satu rumah diantaranya amat berkesan  karena disanalah kutemukan sebuah cinta yang tak pernah sirna dihatiku dan tak kuduga
Pranacitra telah didepanku aku tersipu malu menatap wajahnya yang tersenyum dengan sinar mata cemerlang .
                                   “ Kemana Dian ? Tanya Prana seraya meraih tanganku
                                   “ Biasa lah ,cari Ratih dari tadi siang belum pulang kerumah.
                                   “Yang benar,….atau cari aku.
                                   “ Uhhh…..enak aja  emang nya  kau siapa,? kataku seraya
 mencubitnya.Suasana ceria dan akrab  tercipta seketika.Memang  Prana adalah seorang
kekasih bagiku karena sebelumnya Prana telah mengungkapkan rasa cinta padaku.meskipun aku tiada menjawab pasti ,namun telah terungkap dari sikapku yang selalu akrab dengannya.baik dikala susah maupun senang.Prana adalah sosok penuh perhatian padaku.aku sering tersanjung dan sudah pasti aku suka bemanja padanya.meskipun kawanku menilai nya kurang gantenglah,gendut,pendek ,aku cuek.
Sampai suatu saat  “Dian aku harus berangkat lusa ke Batam
                               “Kenapa.tapi katamu kau cari kerja disini
                               “Yah …pamanku bilang di Batam dia butuh  tenaga kerja.dari pada
                                  orang lain bagusan kau ,kata nya.
Terasa goyah tempatku berpijak mendengar ucapan Prana.artinya aku akan kehilangan Prana  yang telah menyatu dihatiku dan membuatku terdiam membisu memandang riak air
selokan yang mengalir dihadapanku ,..tanpa kusadari aku menangis
                          
  “Mengapa ,Dian ? kau…….Prana menatapku dalam seakan menembus relung hatiku.Kebisuanku adalah jawaban yang sudah dapat dibaca Prana .Pelukannya erat dipundak ku airmataku semakin deras menetes
                               “Percayalah …aku kan kembali lagi
                               “Ya…..kau kan kunanti ….kataku seraya melepas pelukan Prana
Tiba-tiba angin bertiup kencang,awan bergerak cepat sekelilingku memutih terlingkup embun aku seakan terbang entah kemana.mataku nanar mencari Prana diantara orang yang lalu lalang  sayang, tiada kulihat lagi. Aku terduduk lunglai  dipojok jembatan tempat aku dan Prana kencan.Semilir angin malam dingin menusuk aku menggigil tak karuan
                              “Ma….kau sakit ? nih selimut .
                              “Hmmmm…….apa? .mataku terbuka kulihat Bram menyelimuti ku
yang mana saat tidur tadi tanpa selimut.Kuingat kembali tadi Prana keasih yang tak pernah hilang dari ingatanku entah mengapa bagiku terlau indahbuat kulupakan bayangwajahnya
sering muncul saat aku terlupa kenangan manis bersamanya selalu bermain dipelupuk mataku.meskipun sekian tahun tlah berlalu.
                              Senja diufuk barat terlukis indah langit jingga merah bercampur ungu bak gordin teater
Untuk mementaskan drama cinta ,mentari menurun perlahan kembali keperaduan malam
Pepohonan,ranting dan gedung bertingkat bak gambar silhuet diiringi kicuan burung kembali kesarang.,dan malam pun turun diam diam .semelir agin sejuk menerpa relung hati  para pencinta alam.Subahanallah..Pujian akan ALLAH  meluncur dari bibirku.tanpa kuduga ……..
       Pak tua diseberang teras rumahku juga terduduk santai.Raut wajahnya ceria,bibirnya yang tipis seakan tersenyum memandang keufuk barat.Sepeda tua tersender dipagar si Aseng pedagang  onderdil Honda Pak tua  tidak peduli akan orang yang lalu lalang juga deru mobil dan Honda yang melintas didepannya.Apa gerangan yang tergambar di memori ingatannya. Adakah dia sama denganku ? atau ……..ah entahlah……………………….
       Pelahan pak tua bangkit dari duduknya berkemas merapikan bawaannya ,tangan tua itu  mengangkat beban dan menaruhnya pada boncengan.Kemudian  berpindah kestang sepeda berputar kearah jalan raya .Pelahan tapi pasti sepeda paktua melaju dicelah
Keramaian jalan hingga menghilang di tikungan jalan………
-          “ Itulah ..kejadiannya  pak tua itu tak beryawa lagi.Sepedanya
         Tersender digardu PLN.
Pembicaraan itu lah terdengar telingaku saat aku mengetem angkot ketempat kerjaku .Jantungku berdegup keras..segera aku bergabung pada sumber cerita tersebut berbagai Tanya gencar aku ajukan pada mereka hampir tak beda rasaku dengan wartawaan
Yang sedang memburu berita.…Roda angkot melaju kencang diatasa aspal hitam membawaku ketempat tugas ,pemandangan yang slalu mempesona hampir tak menarik perhatianku lagi.sosok paktua dengan sepedanya bak gambar tv yang sedang kutonton.Hatiku terenyuh pilu mendengar paktua meregang nyawa di  teras sebuah toko yang sering dijadikannya istrahat,tanpa ada yang menunggui nya.Siapa dia gerangan.siapa sanak keluarganya dimana gerangan rumahnya.itu lagi pertanyaan yang menghantui ku  aku jadi penasaran.
-          Pinggir….suara lantang seorang ibu terdengar dibelakangku pertanda dia akan turun di perkampungan tersebut
-          Ada  pesta  Eda  ?......suara Tanya nyaring dan aku menoleh kesamping sumber suara.
-          Bukan Eda kami melayat paman yang meninggal kemarin…
-          Ooo…..begitu Eda…(panggilan kakak suku Batak) jawab  seorang ibu dibelakangku.menyertai turunnya dua penumpang
Dari mereka akhirnya kutau itulah tempat paktua bersepeda itu disemayamkan.
Yang mana selama ini selalu kulewati jika akau pergi kerja.Setelah selesai tugas ,kusempatkan melayat ke kampung paktua tadi,aku bergabung dengan para pelayat yang boleh dikata hanya terhitung jari.Paktua terbaring kaku diatas pembaringan tua selembar ulos batak sibolang menyelimuti badan nya .Raut awjahnya damai dan tenang kini seakan tidur dibuai mimpi.Semoga engkau paktua tenang di alam sana bersama NYA.
.         Ditengah alunan lagu rohani yang dipandu pendeta gereja setempat mataku nanar menyapu dinding rumah paktua pandanganku terhenti pada sebuah photo berukuran 5 inch berbingkai kayu dan disebelah sudut bawah ada sebuah poto 4x6 menyatu dalam satu bingkai.darahku berdesir photo tersebut mengingatkanku pada Prana.dan poto disudut bawah
Seorang gadis berkepang dua  hampir sama pada photo ketika aku masih di SMU.pikiranku semakin galau tapi ,…..bagaimana keberadaan Prana?.....Hubungan apa
Dengan paktua?........
Benarkah itu poto Prana dan aku?....kuperhatikan dengan cermat tanpa mencurigakan orang banyak.Benarkah dugaanku…….
 Akhirnya dengan seribu tanya dan seribu jawab bercampur aduk
Dalam benakku .Memang sejak kepergian Prana keBatam Prana sirna bagaikan bias mentari pagi ,bagaikan embun pagi sirna disinar mentari tak berbekas.aku terpuruk menanti dalam kerinduan waktu yang tak ada batas dan yang tak kunjung padam .
Sampai hari ketiga wafatnya paktua .sepanjang jalan kampung 
Terparkir berbagai mobil mewah .Teratak  berhias kain gordin dan suara keyboard  berdentang nyaring,asap dari perapian mengepul  perih dimata para pelayat berlalu lalang
Dengan pakain hitam dan berselendang ulos Batak menandakan pemakamam secara adat  istiadat Batak akan dilaksanakan.
                                                      Entah magnet apa ,entah naluri apa yang menarikku untuk melayat terakhir ke paktua yang menyimpan misteri bagiku.dengan langkah hati hati aku menuruni tangga tanah liat menuju arah rumah pak tua disemayamkan.dengan rumah
Kampung yang tidak menunjukkan sedikit pun kemewahan dibanding dengan mobil mewah yang terparkir dijalan.
                                                Dibawah teraktak ditengah halaman rumah,pak tua
Terbujur kaku dalam peti berukir indah.berhias bunga anggrek disekeliling peti dengan kainputih berenda biru muda.paktua berjas hitam kemeja putih dengan berhias dasi kupu-kupu mengantongi bunga angrek bulan berwarna ungu disudut dada kiri  kedua tangan medekap erat.Elegant dan berwibawa bak seorang pejabat.dikelilingi para sanak keluarga
Berjas berkebaya serba hitam  tak lupa ulos batak tersandang dibahu ibu-ibu dengan sanggul Bangkok yang anggun.Sebelum acara dimulai seorang bapa yang berusia empat puluhan turun dari rumah paktua diikuti seorang ibu muda berwajah cantik dengan makeup salon berhias emas bak tokomas berjalan .Acara demi acara berlalu sampai tiba  
pada acara makan bersama. Kulirik jam ditanganku jam lima sudah tiba.aku menggamit tangan Aida mengajak pulang.dan kakiku kembali menaiki tangga tanah liat kearah jalan
    -Ida tolong pegang tananganku ,..Id ….kataku seraya menjulurkan tangan keatas  tanpa menoleh ke  Ida.Spontan kupeluk Ida sesampai diatas.Tetapi betapa kagetnya aku saat itu bukan
            Aida yang dihadapanku .aku diam terpaku memnatap wajah yang tepat didepanku       .                                –“Prana…..desisku setelah satu menit berlalu
                                 -“Yaaa…..aku Prana.
                                 -“Kau…………kataku terbata dan tak mampu  berkata-kata lagi selain membisu dan  saling beradu pandang, hanya hati  lah saling bicara  siapa sebenarnya paktua dengan sepeda nya ………………
   @dame tobing

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler