Skip to Content

Dua Ratus Kalimat Cinta untuk Mey

Foto Hidayatul Khomaria

Lantunan ayat-ayat cinta itu kembali hadir dalam kemarau hatiku yang kian gersang, dua ratus ayat cinta itu menggantikan sembilan puluh delapan harapan yang hanya menjadi kenangan yang kian menyesakkan. Kini seratus dua harapan baru telah menjemputku untuk menjadi wanita yang paling sempurna setelah jubah hitam sempat menyelimutiku saat aku merasa benar-benar rapuh.
Mahkota indah yang terjuntai panjang telah aku pangkas habis, setelah kekecewaanku yang teramat dalam terhadap sosok indah yang menggerogoti hatiku. Aku menjadi sosok yang sangat berbeda, rokok dan bir menjadi teman yang paling setiaku, dengan mereka aku mampu untuk melupakan hari-hari yang kian menyesakkan.
Aku tak lagi mencintai laki-laki, bagiku mereka adalah kebrengsekkan dunia yang hanya membuatku semakin rapuh. Aku lebih suka menelanjangi perempuan dalam ranjang meski tanpa menyentuhnya sedikitpun. Tak sulit untukku mendapatkan perempuan-perempuan seperti ini di kota-kota besar. Mungkin aku lebih brengsek dari pelacur-pelacur jalanan, tapi aku tak pernah ambil pusing dengan semua ini, karena aku tak pernah menganggu kepentingan orang lain.
Aku semakin liar saat mulai mengenal sosok indah Netha, perempuan cantik dengan gingu merah marun. Kami selalu menghabiskan waktu bersama meski hanya sekadar membagi kisah kelam. Kami adalah korban cinta laki-laki bertopeng putih, ah sudahlah masalalu tak akan pernah kembali meskipun kami menangis darah sekalipun. Kadang kecemburuanku menjadi, ketika Netha berkencan dengan kekasihnya. Kami menjalin hubungan tanpa cinta, karena tujuan utama kami bukan cinta, tapi kenyamana. Aku merasa sebagai kekasih gelap Netha.
Lima bulan sudah aku menjalin hubungan dengan Netha, selama itu pula Netha membagi tubuhnya denganku dan kekasihnya. Aku tak bisa menekan dia untuk memberikan tubuhnya sepenuhnya kepadaku, karena tak ada cinta di antara kami. Hari ini aku dan Netha janjian untuk menghabiskan malam di diskotik kota, aku menunggunya di bar, aku memesan segelas wine. Tiba-tiba ada laki-laki berambut gondrong dengan baju acak-acakan mendekatiku.
“Sendirian mbak?.”
“Iya.” Jawabku singkat, lalu aku menyulut rokok.
“Mau aku temanin?.”
“Tak perlu.”
“Oh iya kenalkan namaku Fardhan.”
“Mey.”
Ada satu pesan masuk, ternyata dari Netha.
From : Netha
Maaf ya, malam ini aku tak bisa menemani kamu, aku ada urusan dengan Rendi. Nanti aku hubungi lagi. Love you.
Aku tak ingin membalas pesan dari Netha, aku kecewa dengannya malam ini. Aku meneguk segelas wine di depanku. Fardhan diam-diam memperhatikanku.
“Ada apa?.” Tanyaku sinis
“Tak ada kok mbak.”
Entah bagaimana awalnya hingga aku merasa nyaman dengan sosok laki-laki yang baru aku kenal ini. Aku mulai tertarik dengannya, tapi bukan berarti aku mencintainya. Aku faham betul laki-laki dan perempuan yang datang ke diskotik ini untuk apa. Akhirnya Fardhan mengantarku pulang ke kontrakan.
“Anjirr…!!!”
“Kenapa Mey?.”
“Kunciku gak ada.”
“Jatuh?, sudahlah kamu tidur di kontrakkanku, aku tak akan berbuat aneh-aneh kok.”
“Iya, lagian aku juga gak nafsu sama kamu. Hahaha…”
“Awas kamu Mey, kalau sampai jatuh cinta padaku.”
“Gak takut.” Jawabku sekenanya.
Malam ini untuk pertamanya aku tidur di kontrakkan laki-laki yang baru aku kenal, ada suasana hangat yang aku rindukan di kamar berukuran 3x2 meter ini. Tiba-tiba Fardhan memelukku, kehangatan yang telah lama aku rindukan kini aku dapatkan dari sosok yang baru aku kenal. Aku terlelap dalam pelukkannya.
“Mey, mey, bangun. Makan dulu yuk, itu udah aku siapkan sarapan.”
“Nanti aja, aku masih males.” Aku menggeliat di kasur.
“Ayo, ini udah aku masakkin, masak kamu gak mau makan sih.”
“Iya, iya.”
Fardhan mengambilkan aku baskom untuk cuci tangan, dia melihatku dengan tatapan yang aneh. Aku berhenti makan, lalu dia keluar meninggalkanku sendiri di kamar. Fardhan kembali ke kamar dengan sebotol teh. Aku minta Fardhan mengantarkanku ke kontrakkan, dia seolah tak ingin melepaskanku, dia kembali memelukku untuk yang kedua kalinya, dia membacakan puisi di telingaku. Aku bergidik, karena aku tak suka dengan puisi. Aku tak suka dengan kata-kata yang romantis. Aku bukan perempuan yang suka dengan puisi dan bunga. Aku lebih suka dengan rokok dan bir.
Aku kembali menyulut rokok, Fardhan mengambilnya dari tanganku, aku menggamparnya. Dia merasa kesakitan, lalu aku mengusap pipinya dan minta maaf, aku kecup pipinya dengan mesra. Lalu dia memberikan rokokku kembali, aku minta pulang.
Sejak aku mengenal Fardhan, aku semakin menjauh dari Netha, siapa suruh dia memilih laki-laki berengsek itu daripada aku. Kami saling memiliki tapi tak ada cinta di antara kita. Fardhan kembali mengajakku ke kontrakkannya, kami saling berpelukkan, tapi aku tak ingin Fardhan mengecup bibirku.
“Untuk kali ini ya, pliss.” Fardhan memohon padaku.
“Jangan, karena aku masih perawan, aku belum pernah melakukannya dengan siapapun.”
“Sumpah?.” Dia terbelalak mendengar pengakuanku.
“Sumpah, karena aku tak ingin memberikan keperawananku kepada lelaki selain suamiku kelak, tak ada yang bisa kuberi selain ini.”
“Iya, aku faham, aku akan menjaganya demi kamu.”
“Tapi jangan ada cinta di antara kita, jika suatu saat nanti aku dimiliki orang lain, kita akan tetap berteman kan?. Kau harus mengikhlaskanku.”
“Iya sayang.”
Waktu terus bergulir entah sampai mana kedekatanku dengan Fardhan, aku merasa Fardhan hanya baik padaku bila dia membutuhkanku, aku semakin muak dengannya. Aku menjauh darinya sedikit-demi sedikit, setiap kali dia ingin bertemu denganku, aku selalu memberinya seribu alasan agar aku tak bertemu dengannya.
Tak ada yang menenangkan dari sebatang rokok, dimana setiap kenikmatan akan aku rasakan setiap kali menghisapnya. Aku berjalan gontai di gang menuju kontrakkanku, seorang laki-laki dengan baju koko putih dan sarung kotak-kotak hijau tersenyum padaku di sela-sela mengajarkan huruf hijaiyah kepada anak-anak didiknya. Aku tersenyum padanya, ada desir yang entah datang darimana.
Hampir setiap hari aku sengaja lewat gang itu hanya untuk menikmati senyuman dari sosok laki-laki yang entahlah, aku sendiri tak tau namanya. Aku memutuskan hubunganku dengan Netha secara sepihak, Netha menangis sejadi-jadinya, kekasihnya aku jadikan alasan untuk menjauh darinya. Aku tak ingin tubuh Netha di bagi dengan orang lain. Padahal aku sendiri tak mengerti kenapa aku suka menikmati tubuh Netha saat tanpa busana, meskipun tak sekalipun aku menyentuhnya.
Aku tak menghiraukan kata manis dari mulut Fardhan, karena Fardhan hanya menginginkan kepuasan pribadinya tanpa memedulikan aku, setiap kali Fardhan bertanya apakah aku menikmatinya?, apakah aku merasa dirugikan?, aku selalu berkata bahwa aku tak pernah menikmatinya, karena aku tak bernafsu dengan laki-laki dan aku sangat merasa dirugikan, meski hanya dipeluk olehnya. Karena aku tak mencintainya, aku hanya ingin mencari teman dalam sepiku.
Aku berdiri di depan cermin, aku melihat bayanganku sendiri, aku menangis untuk yang pertama kalinya, rambutku kini semakin panjang. Aku mengikatnya, aku mengambil jilbab dan aku mulai mengenakannya. Aku menangis sejadinya, aku perempuan pendosa yang lebih berengsek dari pelacur-pelacur jalanan. Kenapa takdirku seperti ini?.
Aku berjalan di gang tempatku menemukan jati diriku kembali, lalu laki-laki yang selalu memberikan senyumnya kepadaku itu memberiku Al-Qur’an. Aku menerimanya, lalu dia berkata, “Carilah dua ratus kalimat cinta dalam Al-Qur’an itu dan kembalilah padaku jika mbak telah menemukannya.”
“Maksudnya apa?”. Aku semakin bingung dengan perkataannya.
Dia hanya tersenyum dan kembali ke TPQ tempat dia mengajar, aku mengambil wudhu dan mencoba mencari dua ratus ayat cinta yang dikatakan itu, aku tak faham maksudnya apa. Tapi aku lebih suka membaca surat Maryam, setiap kali aku membacanya aku merasa tenang. Aku tak lagi keluar malam, aku tak bergantung pada rokok dan bir. Netha dan Fardhan telah terhapus dari ingatanku. Laki-laki yang memberiku Al-Qur’an ini?, ada desir yang senantiasa aku tampik. Aku tak peduli dengan mereka, aku ingin mencari ketenangan yang hakiki, aku mencari kebahagiaanku sendiri tanpa bergantung dengan orang lain. Aku pun tak pernah lewat gang itu, jika dia yang terindah pasti dia akan datang untuk mengahampiriku dengan cinta tulusnya.
Satu bulan sudah aku mencari dua ratus kalimat cinta itu, tapi tak ada hasil, mungkin dia hanya mempermainkan aku, batinku. Aku membaca surat Al-Imron yang berjumlah dua ratus ayat, apakah ini yang dimaksud ustad itu. Entah keberanian apa yang membuatku menghampirinya di TPQ.
“Maaf mas ustad, apakah yang mas maksud dengan dua ratus kalimat cinta itu surat Al-Imron?.”
Dia hanya tersenyum, aku semakin geram dengannya, aku memutuskan untuk pulang, dia mengejarku.
“Iya ning, dua ratus cinta yang aku maksud itu surat Al-Imron, bolehkan aku berkunjung ke rumah Ning untuk meminta Ning untuk menyempurnakan hidup saya, maukah ning menjadi istri dan ibu dari anak-anakku kelak?.”
Aku menangis, tak tau harus berkata apa, aku perempuan kotor yang tak mungkin mendapatkan mutiara putih. Dia meyakinkan aku bahwa sekalipun aku air keruh, bila diolah dengan baik akan menjadi air yang bisa diminum

Komentar

Foto Anang Kurniawan

Wah keren Cerpenya....

Wah keren Cerpenya....

Foto Eni Sherry

Luar biasa.. Aku menjadi

Luar biasa.. Aku menjadi sangat termotivasi setelah membaca cerpen ini

Foto Eni Sherry

Bagus, bahasanya lurus

Bagus, bahasanya lurus sehingga mudah di mengerti.

Foto Angin Dalam Hutan

http://www.jendelasastra.com/

http://www.jendelasastra.com/karya/puisi/hampa-2

Foto nahwan pasangio

mantap...

mantap...

gospenlopito.blogspot.com

Foto Eni Sherry

komentar

Mantap karya nya. Bagus-bagus bangat.

Mampir juga di gubuk kecil ku ya sahabat

http://nofri-pratama.blogspot.com

Foto Rahmat adianto

kebaranian sejati dari

kebaranian sejati dari seorang perempuan, dengan tulisan yang berterus terang adalah salah satu kenyataan yang memotivasi.Tapi satu hal yanng menjadi kelamahan dalam cerpen ini, yakni penggunaan kalimat yang penjang,membuat pembaca menghabiskan satu kalimat dengen sekali napas.

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler