Skip to Content

FATAMOONGANA

Foto taqin majid

KUCING

Perihal kesukaannya pada puisi, teman-teman Kucing memaklumi. Berpuisi adalah berbahasa, mengeong-ngeong dengan puitis di antara mereka tak jadi masalah, malah terdengar unik. Kucing adalah pribadi penyendiri, berpuisi menjadi media komunikasi dengan dunia sunyi. Yang jadi masalah bagi mereka suatu hari Kucing berkesah tentang dirinya yang tengah jatuh, bukan dari ketinggian tapi jatuh cinta. Bila jatuh cinta pada sesama kucing, itu lumrah, tapi jatuh cinta pada bulan, Bulan Purnama?

Dari sini teman-temannya menganggap Kucing mulai sinting.

Begitulah, saat malam tiba ketika teman-teman Kucing pergi mencari nafkah mencukupi kebutuhan masing-masing, ia malah bengong menatap langit kosong; mengharap kehadiran bulan, mengurai rasa terpendam. Kucing tak tahu bulan di awal sabit, muncul dalam waktu yang sempit. Yang ia tahu kian malam hatinya kian terasa terjepit, terjepit kerinduan pada sesuatu yang mengawang di langit.

Pada malam yang lain, saat bulan hadir, hadir dalam wujud sempurna, Kucing tak dapat mengendalikan riang hatinya: berjingkrak-jingkrak sambil melafalkan kalimat-kalimat tak jelas namun bernada gembira. Bahkan, Kucing meniru perilaku serigala ber-auuu-ria terhadap bulan, Bulan Purnama. Semalam suntuk nyaris tanpa jeda.

Menyaksikan kejadian ini teman-temannya makin yakin Kucing telah gila.

Hari ke hari kegemblungan Kucing menjadi-jadi, selain menghabiskan waktu untuk menulis puisi yang ia persembahkan kepada sang bulan, Bulan Purnama, ia mulai bertingkah di luar kewajaran. Seringkali teman-temannya memergoki ia jatuh terkapar dari pohon yang tinggi. Padahal kucing adalah mahluk yang jarang jatuh terjengkang meski meloncat dari ketinggian. Ketika mereka menanyakan kejadian itu, Kucing menjawab dengan jawaban yang makin menyempurnakan keyakinan mereka bahwa kucing benar-benar edan:

“Aku lagi belajar terbang, terbang untuk menggapai bulan, Bulan Purnama.”

 

MEONG

Dari sekian teman Kucing yang begitu prihatin dengan apa yang menimpa diri Kucing, adalah Meong, kucing betina yang pernah mendeklarasikan diri di hadapan kawan betinanya bahwa ia mencintai Kucing sejak sesaat sebelum ia lahir ke dunia. Cici, kawan dekat Meong yang tak pernah meragukan ketulusan cintanya, mendengar deklarasi itu, tertawa terpingkal-pingkal seolah tak percaya.

Walaupun tak pernah diperhatikan oleh Kucing, bagi Meong rasa itu menjelma semacam takdir yang mesti ia tanggung hingga hidup berakhir.

Mendengar temannya makin hari makin kurus kering, suatu hari Meong mengajak Cici berkunjung ke rumah Kucing. Siapa tahu dengan kedatangan mereka kegelisahan Kucing dapat berkurang. Meong sengaja membawa jeruk, buah kesukaan Kucing. Apes bagi Meong, jeruk yang ia bawa berwarna kuning. Di mata Kucing yang tengah kasmaran, jeruk bulat berwarna kuning adalah bulan, Bulan Purnama. Maka yang terjadi selanjutnya ketika Meong hendak mengupaskan jeruk buat Kucing, Kucing langsung menubruk jeruk tersebut, merengkuh dalam dekapannya, mengelus-elus seraya mendendangkan lagu opera “Il Promo Tocco” yang entah ia dapat dari mana. Begitu syahdu, menggetarkan jiwa.

Kelakuan Kucing menjadikan Meong mengelus-elus dada, sementara Cici menggeleng-gelengkan kepala.

Namun bukan Meong namanya, jika hanya karena kejadian itu ia menyerah untuk luluhkan hati Kucing. Bahkan, ia pernah berusaha mempelajari puisi agar bisa memahami semesta diri Kucing yang penuh teka-teki. Waktu itu mereka masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Di kelas, Kucing terkenal sebagai siswa yang nyleneh; Suka menyendiri, selalu menempati bangku di pojok ruangan, tempat dimana ia kalau tidak menulis puisi di buku pelajaran, kegiatannya adalah tidur dengan acuhnya.

Hampir seluruh guru dibuat kesal oleh kelakuan Kucing, tetapi Kucing selalu saja bisa mengatasi kekesalan guru-gurunya dengan cara tak terduga. Suatu hari guru PSPB, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, menyuruh Kucing untuk menulis materi pelajaran di papan tulis, gurunya berpikir bila ia mendiktekan materi itu kepada murid-muridnya, Kucing tetap saja tak mencatat di buku pelajarannya. Dengan menyuruh Kucing menulis di papan tulis, ia bermaksud selain untuk menghukum Kucing, ia dapat bermalas-malasan di kantornya.

Tiga puluh menit berlalu, guru tersebut kembali ke ruang kelas. Melihat apa yang tertulis di papan tulis, hatinya begitu kesal, menyuruh Kucing maju ke depan lalu menanyakan, apa yang kamu tulis? Catatan Sejarah, Jawab Kucing. Kucing, aku menyuruhmu menulis materi pelajaran, bukan menulis puisi!, Bentak guru tersebut. Bu Guru, yang kutulis memang puisi, tapi berisi tentang materi itu. Materi itu kusarikan lalu kutulis dengan kata-kata indah. Teman-teman juga tak keberatan. Selain ringkas, ketika ditulis, diresapi lalu di bacakan ternyata menghadirkan suasana magis, jawab Kucing sedikit histeris.

Guru tersebut tak mau memperpanjang perdebatan, menghukum Kucing keluar kelas. Bagi Kucing itu hukuman yang mengasyikan, kesempatan melahap buku di perpustakaan.

Sebagian guru pernah mengusulkan men de-o Kucing dari sekolah, dengan alasan kelakuannya dapat memberi pengaruh tak baik bagi murid-murid yang lain. Tapi sebagian guru menolak usul itu dengan alasan meski kucing berperilaku sedikit menyimpang, Kucing adalah kucing pintar. Meski di kelas ia seolah tak pernah memperhatikan pelajaran, ia selalu menjawab dengan benar hampir seluruh pertanyaan dalam setiap ulangan.

Kepala Sekolah hanya manggut-manggut, tak setuju juga tak menolak usul tersebut.

Sehari saja tak melihat Kucing, Meong merasa diri jadi kurang genap. Bertambah hari rasa itu mendesaknya untuk mengungkap. Sebagai Kucing betina yang santun ia malu menyatakan cinta terlebih dahulu. Tapi rasa itu seperti alam raya yang terus berkembang di dalam dada; tak kuasa lagi Meong menampungnya.

Sementara Kucing masih nampak acuh dengan dunia dan segala isinya.

Dilema Meong menyeretnya mencari cara mengatasi, bercerita pada Cici, mendapat solusi, kenapa tidak dengan puisi?

Dua sisi puisi: mengungkap serentak menyembunyikan sesuatu.

Di kamar bercat merah jambu keungu-unguan nampak sobekan kertas berserakan, sudah berhari-hari sepulang dari sekolah Meong menyempatkan diri menulis, menulis puisi. Kegiatannya bermain dengan kawan-kawan ia kurangi, bahkan ia menulis sampai larut malam, beristirahat hanya sebentar saat Kembang Asem, ibunya, menyuruhnya makan dan merapikan kertas-kertas yang berantakan. Meong mau makan tapi tidak mau merapikan kamarnya, kertas-kertas itu adalah bukti perjuangan cintanya.

Menulis puisi ternyata tak semudah yang diangankan, entah berapa kertas sudah Meong habiskan untuk menggabungkan kata-kata, mengungkap rasa hati secara purna, namun keganjilan masih terasa dalam tulisannya. Memang, kadang ia takjub sendiri mendapati bait begitu indah, syarat metafora. Seakan ia tak percaya bait itu tulisannya. Namun ketika dipadukan dengan bait selanjutnya, ia jadi ingin menangis sekaligus tertawa.

Mendapati kondisi anaknya, Kembang Asem yang diberitahu Cici bahwa Meong tengah ditimpa asmara, penuh sayang ia mengelus-elus anaknya, seraya menyemangati dengan gaya seorang pemimpin yang gemar pencitraan: Lanjutkan!

Hari Ibu bertepatan dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Guru pelajaran tersebut menyuruh murid-murid menulis lalu membacakan puisi dengan tema tentang ibu. Belakangan ini Meong kurang tidur, ditambah rasa cinta yang mengambang membuat kesadarannya agak terkoyak. Mengerjakan tugas itu, bagi Meong, waktu pun terasa aneh bergerak.

Sebagai pemegang predikat murid paling rajin di kelas, Meong mendapat giliran pertama. Mendengar namanya dipanggil untuk maju membacakan puisi, Meong pun tersentak. Kenapa begitu cepat? Tanpa Meong sadari dua puluh menit telah berlalu, padahal baru judul dan satu nama yang mampu ia tuliskan.

Di depan kelas rasa gugup membias jelas di wajah Meong, gurunya membimbingnya menenangkan diri. Rasa gugup di wajah Meong berubah ragu, lalu teman-temannya menyemangati.

“Ibu.” Meong membacakan judul puisinya.

“Kembang Asem.” lalu hening.

Menit ke menit berlalu, seisi kelas mulai tak sabar menunggu kelanjutan puisinya. Lalu entah siapa, tiba-tiba ada yang berkomentar:

“Itu saja?”

“Itu sih nama ibumu!”

Lalu huuu...

Meong menundukan kepala di sela riuh kucing-kucing jantan yang suka meledek mulai tertawa. Melihat gurunya tak berbuat apa-apa, Kucing maju ke depan, berdiri di samping Meong, menghadap teman-temannya.

“Kawan-kawan, tahukah kalian?” Semua kucing di kelas terdiam. Begitulah, jika yang jarang bicara mulai bersuara, yang lain pun mendengarkan. Entah segan entah penasaran.

“Puisi teman kita, Meong, adalah puisi terbagus yang pernah ditulis, setidaknya dalam dunia kita, dunia kucing. Dalam dunia manusia, ada seorang penyair, Sutardji Calzoum Bachri, yang mengaku sebagai Presiden Penyair Indonesia, pernah menulis puisi berjudul ‘Kalian’ hanya berisi satu kata: Pun. Salah seorang pengamat sastra, memberi komentar terhadap puisi tersebut, bahwa itu adalah puncak pergulatan Sutardji menekuni puisi. Lewat puisi itu, hanya lewat kata ‘pun’, penyair mengajak pembaca seserius ia dalam berpuisi.

Kembali ke puisi teman kita, Meong. Puisi berjudul ‘Ibu’ dengan bait sebuah nama ‘Kembang Asem’ adalah ungkapan rasa cinta Meong terhadap ibunya. Begitu agung rasa itu sehingga selain nama ibunya tak ada lagi kata yang sanggup mengungkapkannya.”

Seluruh kucing di kelas, termasuk guru Bahasa Indonesia, tercengang mendengar penjelasan Kucing. Darimana ia memperoleh pemahaman seperti itu, tak ada yang tahu. Sama halnya mereka tak pernah tahu apa motif dibalik tindakannya, entah membela Meong entah membela puisi.

Waktu istirahat dengan hati berbunga-bunga Meong mentraktir Cici makan di kantin sepuasnya. Itu adalah saat Meong mendeklarasikan diri bahwa ia mencintai Kucing sejak sesaat sebelum ia lahir ke dunia.

 

MANDUNG

Doplangkarta adalah habitat bagi para kucing bermasyarakat. Layaknya masyarakat beradab, di wilayah itu hidup sesosok kucing bijak jadi panutan warga setempat. Jika ada yang mempunyai masalah, apa pun itu, biasanya mereka mendatangi kucing tersebut, meminta petuah atau cara mengatasi masalahnya. Warga Doplangkarta memanggil kucing itu dengan sebutan Ki Mandung. Namun, setelah punya akun facebook, ia lebih suka disapa dengan nama Mandung Saja.

Sebijak-bijaknya Mandung Saja menghadapi persoalan Kucing jadi nampak tak bijak. Persoalan Kucing adalah persoalan yang ruwet, bahkan, absurd. Adakah cara bagi kucing agar bisa terbang? Kalau kuda terbang, mungkin lebih masuk akal, setidaknya ada walau hanya dalam cerita.

Kucing terbang?

Mandung Saja menekuk wajah sedemikian rupa, menahan agar tawanya tak lepas dari mulutnya. Sembari menyembunyikan kegelisahan menghadapi persoalan tamunya, Mandung Saja pamit ke belakang seusai menawari Kucing kopi yang disambut dengan anggukan.

***

Menunggu tuan rumah kembali ke ruang tamu, pikiran Kucing disinggahi kejadian yang pagi tadi ia alami.

Seperti kondisi di ujung tidur menjelang jaga, sadar-sadar tak sadar, kucing mendengar suara samar.

“Sudahlah, kawan. Sebaiknya kita pergi saja. Bahkan, ia tak menyadari keberadaan kita di sini.”

“Justru di sinilah arti kehadiranku, menyadarkannya; setidaknya membuat ia sadar bahwa ada seekor kucing yang mencintainya setengah mati.”

“Itulah yang kutakutkan, kawan. Cintamu yang setengah mati membuatku bingung nyaris mati. Di luar sana tak sedikit kucing-kucing jantan menawarkan cinta padamu, tapi kau abaikan, demi seekor kucing yang kewarasannya sungguh mengkhawatirkan Organisasi Kewarasan Dunia ini...”

“Siapa yang kalian bicarakan?” Kucing sedikit ragu dengan pertanyaannya. Setengah kesadarannya masih mengawang bahwa ia sedang terlelap di pangkuan bulan, Bulan Purnama. Namun, ketika membuka mata ia mendapati sebulat jeruk kuning tergenggam tangannya juga dua kucing betina berada di beranda rumahnya.

“Siapa lagi kalau bukan dirimu!” Jawab Cici

“Aku? Ada apa denganku?”

“Sebenarnya kau tak tahu atau pura-pura tak tahu? Jika kau tak tahu, baik, maka kuberitahu. Temanku yang bernama Meong, kucing ayu yang kini duduk di hadapanmu telah lama memendam rasa kepadamu...” Keterusterangan Cici membuat Meong malu, malu-malu kucing, tentunya.

“Bahkan, di depanku ia pernah berdeklarasi bahwa ia mencintaimu sejak sesaat sebelum ia lahir ke dunia...” Merah Jingga wajah Meong menahan rasa aneh bergejolak di dalam dada: Malu campur lega.

“Benarkah?”

“Aku berani bersumpah,”

“lalu?”

“LALU?” Suara Cici dan Meong nyaris bersama.

“Lalu?” Kucing mengulangi pertanyaannya.

Lalu tak ada suara. Tiga ekor kucing terjebak dalam keheningan masing-masing, saling berbicara lewat bahasa mata.

“Setidaknya, atas nama Meong, kami ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapnya...”

***

Ehm,” Mandung Saja ber-ehm hingga tujuh kali dari nada terendah sampai tertinggi. Ehm-an Mandung Saja yang terakhir berhasil membuat kesadaran Kucing kembali.

“Bagaimana, Ki?”

“Panggil aku Mandung Saja...”

“Maksudku, bagaimana Ki Mandung?”

“Sejujurnya aku tengah memikirkan arti kata terbang dalam kalimatmu,”

“Maksud Ki Mandung?”

Eit, Panggil aku Mandung Saja...”

“O, ya, lupa. Maksud Ki Mandung?”

“Terbang dalam arti kiasan atau terbang dalam kenyataan?”

“Tentu terbang dalam kenyataan, terbang secara jiwa dan raga...”

“Terbang beneran?”

“Ya, terbang sebenar-benarnya.”

Mandung Saja manggut-manggut sambil mempersilahkan Kucing menikmati kopi juga hidangan yang tersaji di meja.

Di luar pengetahuan Kucing, sewaktu Mandung Saja ke belakang, selain membuat kopi ia mencari-cari jawaban lewat internet terkait persoalan Kucing.

“Mengenai masalahmu, sesungguhnya, aku bingung harus menjawab apa. Persoalanmu sangat sukar ditangkap logika...” Mandung Saja manggut-manggut sejenak, kemudian melanjutkan “Meski begitu aku sudah dapat jawaban atas persoalanmu...”

“Benarkah?”

“Ya, jawabannya ada pada dirimu sendiri. Aku hanya bisa menyarankan teruslah kau mencari, pada saatnya nanti pasti kau temukan.”

“Seperti yang kuduga.”

“Maksudmu?”

“Aku sudah menduga jawaban apa yang akan kau berikan.”

“Berarti kau sudah tahu, kalau sudah tahu, mengapa mesti menemuiku?”

“Penasaran dengan kopi buatanmu, kata orang kopi buatanmu begitu mancleng.

“Dan menurutmu?”

Lumanyer...”

“Sebelum pergi, ada yang ingin kutanyakan.”

“Apa, Ki?”

“Kenapa kau terus memanggilku Ki Mandung, padahal aku telah mengingatkanmu untuk memanggilku Mandung Saja?”

“Menguji kesabaranmu.”

 

KETIBAN BULAN

Rasa riang seusai mengunjungi temannya menyisakan senyum di wajah seorang lelaki saat berjalan pulang. Kepada temannya ia bercerita semalam ia bermimpi kejatuhan bulan. Temannya menanggapi: Pertanda baik, kata orang mimpi bertemu bulan pertanda akan dapat keberuntungan, apalagi kau kejatuhan bulan: keberuntunganmu besar, teman.

Di tengah perjalanan, dari arah berlawanan ia melihat seorang gadis melenggang elok menuju ke arahnya. Kian dekat jarak kian nampak keindahan gadis itu. Keindahan yang makin lama diperhatikan makin menenggelamkan. Keindahan yang menyihir, runtuhkan kesadaran. Sementara tubuhnya tak dapat bergerak, pandangannya terus mengikuti gadis penaut hati.

Dan waktu berhenti.

Kesadarannya kembali utuh usai tersentuh tatapan penuh tanya seorang lelaki setengah baya berpakaian lusuh, sedari tadi mengamatinya dari tepi jalan tak jauh dari tempat ia berdiri. Tatapan itu membuatnya salah tingkah, celala-celili. Kemudian matanya menerawang ke arah gadis itu pergi.

Di kejauhan, lenggak-lenggok tubuh gadis itu ia bayangkan sebulat bulan berlayar di tengah malam.

Sebelum ia melanjutkan perjalanan, selintas ia melirik lelaki berkostum lusuh dengan paduan warna kontras, celana hitam kaos kuning. Di sampingnya seekor kucing terbaring dengan tatapan tak kalah ganjil.

Kucing yang terbaring itu adalah Kucing. Entah sudah berapa lama Kucing berkawan dengan lelaki setengah baya yang biasa mangkal di sudut perempatan Jalan Puteran, jalan yang membatasi wilayah Doplangkarta dengan Penikel Raya, habitat para manusia. Di sudut itu lelaki lusuh itu selalu mengamati orang-orang berlalu lalang sambil bergulat dengan tanya: Apa yang mereka cari?

Teman-teman Kucing tak pernah menyadari kalau Kucing punya hubungan khusus dengan seorang manusia. Sepengetahuan mereka hubungan Kucing dengan lelaki lusuh itu seumum hubungan kucing dengan manusia. Kenyataannya lebih dari itu, Kucing dan lelaki lusuh itu bisa saling berkomunikasi, saling memahami lewat bahasa semesta. Tak jarang mereka berbincang mulai dari masalah ringan sampai yang sedikit berat, seperti Filsafat, tema yang paling digemari lelaki lusuh itu.

“Apa itu?” Tanya Kucing usai rampung dari keterpukauannya.

“Aku tak tahu maka di sini aku mencari tahu.” Lelaki lusuh itu menjawab singkat, sedikit memarodikan gaya Descartes dalam berfilsafat.

“Itukah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?”

“Mungkin,”

“Ada yang tak wajar dalam peristiwa tadi.”

“Dalam dunia manusia kejadian seperti ini sudah biasa, wajar. Terutama bagi orang-orang yang sentimental, pengagung rasa.”

“Bukan itu yang kumaksudkan,”

“lantas?”

“Saat lelaki tadi terpukau dengan gadis yang berpapasan dengannya, lewat mata lelaki yang terpukau itu aku melihat semesta keterpukauan yang teramat agung. Semesta itu, kawan, menyedot kesadaranku ke dalam pusaran yang, begitu memabukkan, begitu membingungkan...”

Nada bicara Kucing begitu bening, melenakan siapa saja yang mendengarnya. Lelaki lusuh itu pun terpana dengan nada bicara temannya yang tak biasa. Secara kebetulan suasana sedang hening. Di sela keheningan itu, entah dari mana datangnya, instrumental “First Touch” karya Yanni mengalun indah, menyublimkan suasana.

“Dan secara tiba-tiba, aku memperoleh pemahaman yang tak pernah kubayangkan: Aku merasa bahwa lelaki yang terpukau itu adalah diriku. Diriku seutuhnya.”

“Kucing gemblung!”

“Aku serius, kawan...”

“Dan kegemblunganmu itu adalah apa yang kusuka darimu.”

Itulah awal penyebab Kucing jatuh, jatuh cinta pada bulan, Bulan Purnama.

Setelah peristiwa itu, secara perlahan namun nyaris mematikan, Kucing diamuk rasa rindu. Melewati malam-malam sunyi merasakan diri sebagai lelaki yang jatuh cinta saat pandangan pertama pada gadis yang berpapasan di simpang jalan itu.

Sesungguhnya Kucing tak memahami apa yang tengah ia alami. Sebagian pikirannya masih menyisakan sedikit kewarasan menyimpulkan kejadian ini adalah sesuatu yang ganjil, sebuah kekonyolan yang tak bisa diterima oleh siapa pun. Kucing tak mengenal lelaki itu apa lagi gadis yang dicintainya. Lantas kenapa ia merasa bahwa lelaki itu adalah dirinya?

Pada titik ini Kucing mulai meragukan kewarasannya.

Namun, cinta yang begitu kuat dirasakan lelaki itu yang bertransformasi menjadi cinta Kucing yang juga sangat kuat kepada Bulan Purnama mematahkan kesimpulan tersebut. Dalam cinta, kegilaan adalah hal yang biasa, demikian perasaan Kucing membela dirinya.

Bersinggungan dengan pembelaan ini, terutama pada bagian akhir, pikiran Kucing dapat menerima. Lalu bagaimana dengan diri Kucing yang merasakan bahwa lelaki itu adalah diri Kucing seutuhnya?

Tak tahu, jawab perasaan Kucing sekenanya. Tahu-menahu bukan urusan perasaan, melainkan urusan pikiran.

Memang susah memikirkan perasaan, keluh pikiran Kucing

Lebih susah merasakan pikiran, balas perasaan Kucing.

Dasar pikiran, weeek...

Dasar perasaan, weeek, juga...

Perseteruan tanpa ending antara pikiran dan perasaan yang saling membanting dalam diri Kucing menjadikan Kucing makin terombang-ambing.

Ditambah cinta pada Bulan Purnama, sumber segala keresahannya, kian hari kian merekah menjadikan kesintingan Kucing makin sempurna.

***

Senja menyajikan semburat langit ungu kemerah-merahan saat Meong termenung di beranda rumahnya, menekuri puisi-puisi Alejandra Pizarnik, penyair perempuan Argentina, terhimpun dalam buku “Luka Tunggal Sang Pecinta”, satu dari sekian buku pemberian Kucing kepadanya.

di tepi lain malam

cinta adalah mungkin

 

-- bawalah aku --

 

bawalah aku di antara lalu lalang hal-ihwal

yang mati setiap saat di ingatanmu.

 

Membaca puisi berjudul “Lupa” menjadi semacam pelepasan kegelisahan Meong dirundung kerinduan tanpa ujung selama bertahun-tahun.

Selain cinta Meong kepada Kucing amat dalam, yang jadi penyebab Meong tak juga menyerah mencintai Kucing adalah sikap Kucing yang seakan mendua terhadapnya: Tak menerima juga tak menolak cintanya.

Adakalanya Kucing sangat perhatian terhadap Meong. Selain sering memberi hadiah buku terhadap Meong, Kucing bila ada waktu selalu menuruti permintaan Meong menemaninya jalan-jalan, sekedar melepas kejenuhan. Bahkan, ada satu momen yang, bagi Meong merupakan momen paling indah mengalami waktu bersama Kucing.

Waktu itu senja baru berlalu digantikan malam. Di pesisir laut Jawa bagian selatan, seusai menikmati keindahan matahari terbenam, Kucing dan Meong berjalan menyusuri pantai diiringi debur ombak bergulung-gulungan. Entah siapa yang memulai, tanpa mereka sadari, tangan mereka saling bergandengan. Kucing yang lebih banyak diam sesekali menatap dalam indah mata Meong berbinaran. Dipandang seperti itu hati Meong jadi deg-degan, tersipu malu tapi senang, kemudian mempererat genggaman.

Bulan purnama yang mulai nampak sejak sore tadi makin bergairah memamerkan keindahannya saat malam makin malam. Ketika tak ada sehelai awan pun menutupi keindahan bulan purnama, Kucing menghentikan langkahnya, Meong turut serta, harap-harap cemas menerka apa yang akan dilakukan Kucing selanjutnya.

Sejenak mereka saling tatap. Meong berharap ini adalah saat bagi Kucing mengutarakan rasa hati secara tepat. Dan memang, mulut Kucing terlihat bergerak-gerak seolah tengah berbicara, namun entah kenapa tak ada suara terucap.

Meong memaklumi, mungkin Kucing merasa grogi.

Kemudian dengan pandangan tertuju pada keindahan bulan purnama, perlahan Kucing menyuarakan puisi dengan begitu khidmatnya:

 

aku melirikmu kau melirikku

kita lirik-lirikan

pada sunyi malam di bawah terang cahaya bulan.

kepada sunyi malam, bulan menebar cahaya kata:

kau yang melirikku adalah aku yang melirikmu

aku yang melirikmu adalah kau yang melirikku.

malam manggut-manggut dalam diam

sementara kau dan aku acuh, khusyuk lirik-lirikkan

pada sunyi malam di bawah terang cahaya bulan.

 

Setelah selesai membaca puisi, Kucing mengantar Meong pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang, mereka hanya saling melempar pandang diselingi senyum penuh makna. Sampai di rumahnya, semalaman Meong tak bisa memejamkan mata, hatinya dikerubuti kebahagiaan dengan apa yang ia simpulkan: Puisi itu adalah ungkapan cinta Kucing terhadapnya.

Tetapi kebahagiaan Meong tak bertahan lama. Rasa itu perlahan pergi meninggalkan kegelisahan yang memporak-porandakan keseimbangan jiwanya.

Ini disebabkan kelakuan Kucing nampak begitu acuh terhadap Meong. Bahkan, sikap Kucing memberi kesan menghindar ketika Meong datang. terhadap sifat acuh Kucing, sesungguhnya Meong dapat memahami. Seluruh warga Doplangkarta pun sepakat kalau Kucing pribadi yang acuh, seolah tak perduli dengan dunia dan segala isinya. Tapi keacuhan Kucing kali ini terasa lain, hal ini menyebabkan Meong bertanya-tanya: Ada apa dengan Kucing?

Dan keacuhan Kucing terhadap Meong makin menjadi-jadi setelah Kucing berkesah pada teman-temannya bahwa ia tengah jatuh, jatuh cinta pada bulan, Bulan Purnama.

Bagi Meong, bila Kucing jatuh cinta pada kucing betina yang lain, meski sakit, hal ini lebih dapat diterima ketimbang jatuh cinta pada bulan, Bulan Purnama.

Kucing betina yang lain? Tak mungkin Kucing jatuh cinta pada kucing betina yang lain, demikian Meong merevisi analisanya: Seumur-umur Kucing tak pernah dekat dengan kucing betina kecuali dirinya. Bulan Purnama? Siapa sebenarnya Bulan Purnama? Sejauh mana arti kata Bulan Purnama dalam kalimat Kucing “Jatuh cinta pada bulan, Bulan Purnama”?

Bulan Purnama bagi Kucing yang penyair hanyalah metafora, perlambang bagi sesuatu yang sangat ia cinta. Jika benar demikian, sementara dalam hidup Kucing satu-satunya kucing betina yang dekat dengan Kucing hanyalah dirinya, Meong mulai yakin bahwa Bulan Purnama tak lain adalah dirinya.

Sampai kesimpulan ini, hati Meong begitu senang, tak kuasa menahan tawa.

Namun, bila Bulan Purnama adalah dirinya, kenapa Kucing tetap mengacuhkannya ketika Kucing berada di dekatnya? Namun, bila Bulan Purnama adalah dirinya, kenapa Kucing ingin tetap terbang ketika Kucing berada di dekatnya?

Sampai kesimpulan ini, hati Meong begitu miris, tak kuasa menahan tangis.

Dua kesimpulan yang berseberangan berkecamuk dalam diri Meong, menjadikan Meong sebentar menangis sebentar tertawa. Sebentar menangis sebentar tertawa.

Siapa pun yang menyaksikan kelakuan Meong, tanpa memahami semesta dalam diri Meong yang tengah bergolak, dipastikan akan menduga-duga: Meong mulai gila.

Dari kejauhan Cici yang tengah berjalan ke rumah Meong, melihat temannya sebentar tertawa sebentar menangis, hatinya hanya bisa mengumpat: Kesintingan Kucing menyebabkan Meong sinting, sungguh-sungguh kucing sialan kau Kucing!

Kehadiran temannya membuat Meong perlahan dapat menguasai gejolak jiwanya, setelah benar-benar tenang Meong berkata dengan nada tak kalah tenang:

“Mungkin, dalam memperjuangkan cinta Kucing, tindakanku kurang total, kurang mati-matian. Mulai saat ini, kawan, aku tak perduli dengan apa pun, tak perduli dengan siapa pun, apa saja akan kulakukan demi mendapatkan cinta Kucing sepenuhnya...”

Emosi Cici meledak, mengalir dalam butir air mata. Meong yang menyangka Cici hanya terharu dengan ucapannya memeluk teman karibnya. Tanpa Meong ketahui, detik itu Cici makin bingung harus berbuat apa. Maksud kedatangannya adalah menyampaikan sebuah kabar yang sempat menggegerkan warga Doplangkarta, baik di jagad nyata maupun di jagad maya. Sebuah kabar yang ia yakini akan membuat Meong oleng saat mendengarnya.

Kabar itu adalah: Kucing telah tiada.

 

FATAMOONGANA

Masih pagi saat aku tiba di Galeri, sebuah tempat dimana aku bekerja. Biasanya aku langsung menyapu, merapikan ruang Galeri kemudian membukanya. Kebetulan hari ini Minggu, biasanya tak banyak tamu. Aku memutuskan membuka Galeri agak siang nanti. Bersantai sambil membaca koran kegemaranku di belakang Galeri, sebuah taman yang tak kunjung selesai. Sesampainya di taman, niatku membaca koran hilang ditelan lintasan ide yang belakangan ini sangat menggelisahkanku: Fatamoongana.

Fatamoongana adalah novel pertama yang kutulis setelah nyaris 11 tahun aku tak menulis prosa. Novel ini rencananya kurampungkan hanya dalam 20 halaman kertas kuarto dengan spasi satu setengah, sebuah ruang yang terlalu sempit untuk sebuah novel. Selain kecermatan memadatkan peristiwa yang dialami karakter-karakter yang kucipta, yang membuatku sedikit kesulitan merampungkan Fatamoongana: Menjelang proses akhir penulisan, mendadak ada sesuatu yang tak bisa kukendalikan.

Berawal pada keruwetan peristiwa yang dialami Kucing perihal ia merasa bahwa lelaki yang jatuh cinta pada pandangan pertama adalah dirinya, sengaja tak kupaparkan sepenuhnya. Hal ini membuat Kucing bingung tanpa ujung, bahkan, nyaris gemblung. Di sini mungkin aku terkesan tidak adil terhadap Kucing: melakoni kehidupan yang sepenuhnya tak ia pahami. Memang sukar bagi Kucing untuk menjalani tapi mudah bagiku untuk mengakhiri novel ini dengan kematian Kucing, sesuai dengan apa yang kubayangkan di tengah proses penulisan Fatamoongana:

 

Segala usaha telah Kucing lakukan untuk bisa terbang, terbang menggapai bulan, Bulan Purnama. Namun segala usahanya tak ada hasil sebab ia sendiri menyadari terbang bagi seekor kucing adalah hal yang mustahil. Meski demikian, kehendaknya untuk menggapai bulan, Bulan Purnama tak pernah labil, bahkan makin stabil.

Suatu malam mendung menyelimuti langit Doplangkarta, menjadikan kelam bertambah-tambah. Di dalam kamar Kucing merasa gerah, mungkin hujan akan tercurah. Merasa tak betah Kucing berjalan keluar rumah menyangking gelisah pergi menuju entah.

Kepergian yang tanpa tujuan mengantarkan Kucing ke sebuah telaga di ujung barat Doplangkarta. Terserap ketenangan jernih air telaga, naungan pohon-pohon rimbun, di bawah kelam langit malam, di dekap kesunyian semesta, Kucing mengheningkan diri.

Kucing merasuk ke dalam diri.

Kesunyian di luar melebur keheningan di dalam mencipta selaksa ketenangan. Dalam ketenangan perlahan Kucing masuk ke dalam kedalaman yang lebih dalam: Menyusuri ingatan dan angan, membaurkan masa lalu dan masa depan, merajut sebab akibat dari segenap peristiwa yang mengantarnya pada kenyataan hidupnya sekarang.

Kucing mulai memahami dengan pemahaman yang begitu lain, sebuah pemahaman yang bersimetris dengan ketidakpahaman: dalam menjalani hidup, memahami atau tak memahami adalah sama. Sama-sama tak penting. Mementingkan yang satu sama halnya tidak mementingkan yang lain. Ketika keduanya sama sama tidak penting, lalu apa yang penting? Yang penting adalah menjalani hidup secara penting baik dengan pemahaman maupun ketidakpahaman.

Di kedalaman selanjutnya ia tak merasakan apa-apa, tak memikirkan apa-apa. Tak ada apa-apa, tak ada siapa-siapa.

Di kedalaman selanjutnya ia merasakan keheningan purba, keheningan merayap lewat musik yang meleburkan irama kesedihan dan kebahagiaan dengan sublimasi komposisi gesekan biola.

Jiwa Kucing begitu syahdu sekaligus sendu: merasakan cinta Meong kepadanya juga cintanya pada Meong yang terhalang cintanya pada bulan, Bulan Purnama.

Di kedalaman selanjutnya ia merasakan keheningan maha purba, keheningan menjalar lewat suara tawa yang ketika dihayati ternyata suara tangis dan ketika suara tangis itu diyakini sebagai suara tangis ternyata suara itu adalah suara tawa. Begitu seterusnya.

Ketika hendak memasuki kedalaman selanjutnya, semesta dalam diri Kucing terusik semesta di luar dirinya. Ia berusaha mengabaikan dan mencoba terus memasuki kedalaman yang makin dalam makin tak terduga.

Namun kekuatan dari luar begitu kuat mendesak, memaksa Kucing untuk menghentikan perjalanannya sejenak. Kucing membuka mata langsung terbelalak, dengan apa yang ia lihat dirinya sungguh tersentak.

Di tengah kebeningan air telaga nampak sesuatu yang amat ia cinta, Bulan Purnama.

O, betapa riang hatinya.

Kucing berjingkrak-jingkrak dengan sentausa. Mendendangkan sajak-sajak yang ia tulis seumur hidup untuk Bulan Purnama. Riang hatinya makin berbuncah usai menyaksikan bahwa Bulan Purnama bersedia turun ke bumi, inikah pertanda Bulan Purnama menyambut cintanya?

Tanpa berpikir panjang Kucing langsung nyemplung ke dalam telaga, berhasrat menyatu dengan bulan, Bulan Purnama.

Semakin ke tengah telaga kedalaman air semakin dalam, Kucing pun tenggelam. Beberapa saat kemudian Kucing muncul ke permukaan, spontan bernafas tersengal-sengal, gelagapan. Kucing yang tak bisa berenang ditambah rasa panik menerjang menyebabkan air ikut tertelan dalam proses pernafasan. Kucing kembali tenggelam.

Semakin dalam Kucing tenggelam semakin berkurang kesadarannya. Sedikit kesadaran tersisa mengabarkan maut di depan mata. Sementara tangannya terus menggapai-gapai, dalam pandangan yang kian remang, ia melihat Bulan Purnama begitu indah di angkasa.

Kematian Kucing bagi warga Doplangkarta masih merupakan teka-teki. Sebab untuk memastikan kematiannya mereka musti menemukan kebenaran di balik berbagai spekulasi yang ada. Salah satu sumber yang tak mau disebutkan identitasnya, memberi kesaksian, di malam itu ia sedang jalan-jalan tak jauh dari telaga, sepintas ia melihat Kucing tengah berjingkrak-jingkrak sambil mendendangkan kalimat-kalimat yang tak ia pahami. Ketika Kucing mendekat ke arah telaga, ia menyangka Kucing memergoki seekor ikan. Lantas ia pergi membiarkan kucing menangkap buruannya. Sementara dari sumber yang lain, sangat yakin Kucing mati bunuh diri. Ketika ia ditanya, kenapa tidak menolong Kucing, ia menjawab sekenanya: Kucing tak meminta jadi tak kuberi. Bila aku bersikeras memberi pertolongan, bukankah aku malah mengganggu prosesi bunuh dirinya?

Setelah dilakukan pencarian selama berhari-hari, jenazah Kucing pun tak pernah mereka temukan. Hal ini menguatkan keyakinan Meong bahwa Kucing masih hidup. Dengan apa yang diyakini Meong, Cici semakin cemas: Teman karibnya mulai tak waras.

 

Kurang lebih seperti itu, ending yang kuangankan ketika proses penulisan Fatamoongana. Yang tak pernah kubayangkan, bahkan tak bisa kukendalikan, ketika aku menggambarkan proses kematian Kucing, entah kenapa, tiba-tiba Kucing hilang, hilang begitu saja. Di luar jangkauanku sebagai penulis novel ini, keberadaan Kucing tak lagi kuketahui. Inilah yang membuatku tak berani memastikan kematian kucing di akhir cerita.

Sesungguhnya aku sendiri bingung, mencari-cari keberadaaan Kucing yang kini entah dimana. Bagaimanapun, Kucing adalah karakter ciptaanku. Karakter yang paling kusuka. Bahkan, setelah rampung novel ini aku telah merencanakan novel lain dengan Kucing sebagai salah satu tokoh cerita.

Kebingunganku memuncak ketika suatu malam saat aku termenung di beranda, menantikan kehadiran bulan, bulan purnama. Di bawah remang cahaya aku melihat sesuatu mendekat ke arahku. Semakin dekat, sosok itu menampak sebagai seekor binatang yang paling kusuka. Memang, ada beberapa kucing biasa berkeliaran di sekitar rumahku, tapi kemunculan kucing itu, entah kenapa membuat kesadaranku merasakan sesuatu yang tak biasa.

Tepat di depanku kucing itu menghentikan langkahnya, menatap tajam kepadaku. Dan, Astaga! aku tersentak seolah tak percaya. Kucing berwarna hitam dengan mata kuning keemas-emasan itu sungguh persis dengan diri Kucing.

Aku semakin yakin kucing itu adalah Kucing, sebab aku dapat memahami apa yang ia utarakan lewat tatapannya padaku.

“Bercandamu keterlaluan!” Demikian Kucing mendakwaku. Dalam bahasa kucing yang sampai ke telinga manusia hanyalah suara:

“Meong, Meong...”

(Taqin Majid, GALERI_Workshop 01/5/16 : 16.31) 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler