Skip to Content

GAMANG (gadis kecil pada bundanya)

Foto Sinku Din
files/user/8514/newproject_1_original-1.jpg
google.com//editing

Di pelataran sebuah gubuk dekat pantai, riang bermain kawanan anak-anak kecil menjelang senja. Bersorak sorai tertawa menari-nari di iringi laju angin yang berhembus menerpa dedaunan, nampak ilalang di tepi pelataran turut serta bergoyang-goyang. Sengguh suasana damai alam menyelimuti mereka.

     Kinanti... biasa di panggil kinan, gadis kecil yang usianya menginjak enam tahun. Kinan sudah masuk sekoh Taman kanak-kanak(TK), dia tinggal bersama neneknya di gubuk dekat pantai itu. Orang tua kinan telah bercerai tiga tahun lalu. Semenjak perceraian itu Ayah kinan belum pernah sekali pun menjenguknya, entah di mana tak ada kabar berita. Sementara ibunda kinan memutuskan menjadi TKW di negeri seberang setahun setelah perceraian. Kinan sudah mulai mengerti apa yang terjadi pada kedua orang tuanya karna dia tergolong anak yang cerdas namun itu tak menjadi beban baginya, dia tetap riang menjalani hari-hari. Setiap minggunya pun ibunda menelephone melepas rindu mendengarkan cerita puterinya riang bermain bersama teman-temannya.
     Hari ini selepas pulang sekolah kinan bergegas berganti pakaian setelah itu dia menonton TV serasa tak ingin tertinggal film kartun kesayangannya. Namun tak seperti biasanya, dia tak mendapati film kartun itu. Kinan pun mengganti chanel berulang kali berharap menemukan film kartun yang lain, namun semua acara memberitakan hal yang sama. Kinan terpaku, matanya mulai berkaca-kaca, wajah riangnya mendadak pucat pasi, tak kuasa hatinya, dia matikan TV lalu dia rebah di tempat tidur dengan terisak.tak berapa lama gadis kecil itu pun terlelap. Dalam tidur dia mimpikan bundanya bersimbah darah di cambuk, melingkar sebuah tali di leher bundaya siap di hukum gantung

  "kinan... tolong bunda nak...tolong bunda sayang..."

serasa berkali-kali bundanya meronta, memanggil-manggil dalam mimpi itu. Serentak gadis kecil itu berteriak histeris memanggil bundanya. Nenek mendengar suara itu, dengan segera menghampiri kinan. Nampak gadis kecil itu terengah dengan air mata yang mengalir di pipinya. Nenek memeluknya

"cucu nenek mimpi buruk ya... mimpi buruk apa sampai kinan memanggil-manggil bunda..?"

Sedikit pun kinan tak menjawab

"Ya sudah kalau nggak mau cerita sama nenek. Basuhlah mukamu, lihat teman-temanmu sudah menunggu bermain di luar"

     Seusai membasuh muka kinan duduk di pintu depan, beberapa temannya memanggil

"Kinan... ayuuk main..."

mereka nampak riang mengajak kinan

"Mainlah... aku nggak ikutan..."

begitulah jawab kinan dengan nada lemah, seraya menyandarkan kepalanya di daun pintu. Tak berapa lama kemudian suasana hening, teman-temannya sudah kembali ke rumah masing-masing. Surya mulai tenggelam, senja sore ini tak seperti biasanya. Tak ada hembusan angin menerpa dedaunan, tak ada ilalang bergoyang-goyang. Semua nampak menunduk seakan turut serta merasakan kegundahan, kegamangan hati gadis kecil itu. Matanya berkaca-kaca, dia pandangi senja. Dia gambar sosok wajah anggun berseri. Sesekali datang hembusan angin dingin, dia titipkan salam kerinduan. Rambutnya tergerai, bening di sudut matanya mengalir. Kegamangan menyelimuti hati dan pikirannya tentang berita yang dia lihat di TV tadi siang, seorang TKW yang di eksekusi mati. Belum lagi mimpi tentang bundanya yang selalu membayang. Dia tak ingin itu terjadi, wajahnya menunduk, bibirnya yang mungil pelan berbisik

 "entah berapa lama...
  aku takut...
  kehilangan...
  aku rindu...
  bunda...
  pulanglah..."

Tanpa kinan sadari neneknya mendengar apa yang dia bisikkan. Nenek menghampiri, di peluklah cucu kesayangannya itu

"Cucu nenek kangen ya sama bunda...?"

Sembari menyodorkan telephon genggam

"Kalau kangen bicaralah sama bunda...!"

tak sepatah kata pun terucap dari bibir mungil gadis kecil itu. Namun dia menatap dan memeluk erat neneknya.


     Pagi ini gadis kecil itu masih terbaring di tempat tidur. Selimut masih membalut, tak biasanya kinan semalas itu. Dia sudah terbangun tapi enggan beranjak, matanya terlihat bengkak, sebab tangis kegamangannya. Nenek datang menghampirinya yang masih terbaring

"heemm... cucu nenek kenapa ya...? , biasanya jam segini sudah mandi...... sudah siap belajar ke sekolah..."

gadis kecil itu menatap neneknya, dengan nada lemah berkata

"Kinan panas nek..."

 nenek pun memegang pergelangan tangan dan dahi kinan

"Cucu nenek demam rupanya..., sebentar nenek belikan obat di warung"

sebelum neneknya beranjak kinan pun menyahut

"Nenek jangan lupa bilang sama bu guru, hari ini kinan nggak bisa belajar..."

nampak senyum kecil sang nenek menganggukkan kepala menatap cucunya.

    
     Menjelang senja tiba, telephone genggam berdering di sebelah kinan berbaring, kinan pun terbangun. Nampak pada layar telephone genggam itu "Bunda memanggil...". Kinan tak segera mengangkatnya, membiarkan telephone genggam itu berdering hingga tiga kali panggilan. Sambil memandangi telephone genggam yang berdering itu matanya berkaca-kaca. Nenek mendengar dering telephone itu lalu menghampiri ke kamar kinan

"Mengapa hanya di pandangi, itu bunda yang menelphone..."

tanya neneknya dengan senyum sembari meraih telephone genggam itu. Kinan nampak memalingkan diri memeluk guling di sampingnya.


"Kinan... ini bunda mau bicara sama kinan..."

seru nenek pada cucunya yang masih murung. Gadis kecil itu masih tak menghiraukan panggilan neneknya.


"Cucu nenek yang baik... gak boleh begitu sama bunda... ayuuk bicara sama bunda...!"

rayu neneknya sembari mendekatkan telephone genggam di telinga kinan.


"Kinan sayang..."

suara bundanya memanggil di telephone. Kinan masih tak menjawab, matanya semakin berkaca-kaca.


"Kinan kenapa nggak mau bicara sama bunda...?"

kembali bundanya berusaha mengajak kinan berbicara.


"Bunda pulang....!!!"

Sahut kinan sambil terisak.


"Iya sayang... bunda akan segera pulang, kinan sedang sakitkah...?"

"Bunda pulang...!!!"

kembali, hanya kalimat itu yang kinan serukan.

"Iya sayang... beberapa hari ke depan bunda akan segera sampai rumah, ini bunda sedang kemas-kemas, kerjaan bunda sudah selesai. Kinan minta di bawain oleh-oleh apa sama bunda...?" 

 
Dalam isak dan linangan airmata gadis kecil itu menjawab

"Kinan gak minta apa-apa bunda... kinan cuma mau bunda pulang... bunda selamat sampai rumah... bunda pulang...!!!"

Telephone genggam di jauhkannya dari telinga, berkali bundanya memanggil, kinan sudah tak mau mendengar lagi. Tangisnya tersedu, dia tutupi wajahnya degan guling. Nenek pun keluar kamar dan berbincang dengan ibunda kinan di telephone. Beberapa saat kemudian nenek kembali menghampiri cucunya itu "kinan... bunda berjanji akan pulang segera dengan selamat, asalkan kinan juga mau berjanji satu hal...?!"

"Apa itu nek...?" tanya kinan dalam seguk tangisnya

 "Bunda ingin kinan berjanji harus cepat sembut demamnya dan nggak boleh nangis..."

kinan pun mengusap air matanya segera.

"Nah pinter cucu nenek... sekarang makan, habis makan minum obat lagi biar cepat sembuh..."

"Iya nek..." jawab kinan dengan nada pelan.



     Tiga hari kemudian, kinan pun telah sembuh dari sakit demamnya. Pagi ini kinan telah bangun lalu merapikan tempat tidurnya, kebetulan hari ini libur sekolah. Dia buka jendela kamar, melangkah gadis kecil itu keluar membuka pintu depan. Nampak hangat sinar mentari mulai merangkak. Dia pandangi sekeliling pelataran tempatnya bermain. Angin bertiup sepoi-sepoi menarikan kecil dedaunan, embun berkilau di pucuk ilalang yang sesekali melambai seakan ingin menyapa "Selamat Pagi Kinan...".Senyum kecil terlihat di bibir mungilnya, dia rindu beberapa hari tidak bermain bersama teman-temannya. Tiba-tiba nampak di ujung jalan sosok perempuan membawa tas besar tersenyum, perempuan itu berjalan menuju ke arahnya. Kinan pun menatapnya, sosok perempuan itu tidak asing bagi kinan. Sosok perempuan yang selalu melekat di hatinya, yang selalu di rindukannya. Semakin dekat langkah perempuan itu, senyumnya semakin melebar. Namun kinan tak menyambut dengan senyuman, matanya justru berkaca-kaca. Hanya beberapa langkah di hadapan kinan, terlihat bibir perempuan itu mulai terbuka ingin menyapa. Seketika itu kinan berlari masuk ke dalam, berlari masuk ke kamar. Perempuan itu memanggil-mangil dan mempercepat langkahnya menuju kamar kinan. Nampak gadis kecil itu terisak menutup wajahnya dengan guling.

"Sayang... bunda pulang... bunda rindu nak..."

di peluklah putri kesayangannya itu dari belakang.

"Sayang... bunda sudah tepati janji, bunda pulang dengan selamat untuk kinan..."

gadis kecil itu membalikkan tubuhnya dan langsung memeluk erat bundanya, tangisnya pecah

"Bunda jangan pergi lagi... kinan nggak mau... kinan takut bunda..."

"Iya sayang... bunda nggak akan pergi lagi... bunda akan di rumah... bunda akan temani kinan..."

diciuminya wajah putrinya itu, air matanya mengalir di kedua pipinya melihat putrinya histeris ketakutan mengkhawatirkannya. Sementara nampak nenek berdiri di pintu kamar mengusap airmatanya turut larut dalam keharuan.

"Sudah sayang... ingat kemarin bunda minta sama kinan untuk berjanji apa...?"

"harus cepat sembuh dan nggak boleh nangis" jawab kinan menatap bundanya.

"Nah sekarang penuhi janji yang bunda minta..." segera kinan tersenyum dan mengusap air matanya lalu memeluk erat kembali bundanya.


     Samar terdengar burung-burung berkicau di pelataran, kian terbang bersahutan hinggap di dahan. Bunga-bunga mawar yang di tanam kinan di dekat jendela kamarnya pun bermekaran semerbak mewangi, seakan mereka tahu dan turut memberi warna kebahagiaan di lubuk hati kinanti.

 

 

                  >>> S E K I A N <<<

Komentar

Foto Sinku Din

Permohonan

Pembaca yang budiman, mohon kesediaannya memberikan saran dan kritik.
Terimakasih

Foto Starharu

Hahahaha...maestro mas

Hahahaha...maestro mas guru...haha..

Foto Sinku Din

Belajar

Msh belajar kok, belajar kesabaran sama bu guru, hehe

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler