Skip to Content

Hijrah Cinta

Foto SUYATNA

Hujan tadi malam masih menyisakan rasa dingin yang merasuk ke dalam tubuh. Samar-samar terdengar senda gurau dari sebuah rumah panggung yang bersih dan asri. Tampak di pekarangan rumah berjejer bunga yang sedang bermekaran. Bunga-bunga itu tertata rapi sehingga menambah keasrian suasana rumah itu. Di sebelah kanan terdapat sebuah kolam kecil berukuran 2 x 6 meter. Riak gelombang air kolam itu menandakan bahwa seolah-olah ikan-ikan itu sedang berkejaran satu sama lainnya.

"Kang, minum air tehnya nanti keburu dingin lho!" ucap seorang wanita berjilbab yang tampak anggun.

"Iya, Neng... Terima kasih!" sahut seorang laki-laki yang tengah duduk bersila seraya menghadap ke arah hamparan sawah yang luas. Suaranya begitu bergema, menandakan seorang lelaki yang penuh wibawa. Di hadapannya secangkir teh panas dengan aroma khas.

Beberapa potong singkong goreng tersaji di atas sebuah piring plastik. Rumah panggung itu ditempati oleh Darman dan Mira. Sepasang suami istri yang tengah menantikan kelahiran buah cintanya.

"Kang, terima kasih sudah mengangkat Neng dari dalam lumpur dosa... Kalau tidak, entah apa jadinya Neng sekarang ini..." Ucap Mira lirih. Tampak airmatanya menetes di pipinya. Ia sandarkan kepalanya di pundak Darman.

"Sudahlah Neng, tidak usah diungkit-ungkit lagi. Semoga itu semua menjadi pelajaran bagi kita untuk menjalani rumah tangga ini. Yang sudah ya sudah, biarkan ia berlalu..." Sahut Darman seraya mengusap-usap kepala Mira.

Dulu... Pertama kali, Darman bertemu dengan Mira di sebuah hotel bintang lima. Saat itu, Darman di beri tugas oleh atasannya untuk bertemu dengan mitra kerja perusahaannya. Sedangkan, Mira tengah bertemu dengan salah satu partnernya. Yang kebetulan bertempat di hotel yang sama. Di depan pintu hotel, Darman dan Mira berpapasan. Keduanya beradu pandang. Ada sesuatu yang bergetar di dada Darman tatkala melihat wajah Mira.

"Permisi A, saya mau lewat!" ucap Mira seraya menundukan kepalanya.

"Oh, iya..." Sahut Darman sembari menggeser badannya ke kiri. Dari semenjak pertemuan pertamanya, wajah Mira selalu terbayang di ingatan Darman. Sepertinya, Darman telah terpikat hatinya oleh Mira.

"Duh, siapa ya namanya?" Darman bertanya dalam hatinya. Rasa penasaran dalam dirinya begitu besar. Ia ingin mengenal sosok wanita yang selalu mengganggu pikirannya.

Akhirnya, pada suatu malam Darman pergi ke hotel tersebut. Setibanya di hotel, ia melihat Mira tengah berbincang-bincang dengan satpam hotel itu. Sepertinya, Mira sudah akrab sekali dengan satpam itu. Tampak dari ekspresi dan roman muka yang di selingi dengan gelak tawa dari keduanya. Darman mencoba memperhatikan gerak-geriknya. Ibarat seorang detektif yang tengah mencari informasi.

"Pak, permisi mau tanya," ucap Darman kepada satpam itu, setelah Mira berlalu dari hadapan satpam.

"Oh, iya. Ada yang bisa saya bantu!" sahut satpam itu seraya tersenyum ramah. Sejenak Darman menarik nafasnya.

"Wanita yang baru saja ngobrol sama bapak, siapa ya dan tinggal di mana? Sepertinya bapak sudah akrab sekali..." Tanya Darman dengan merendahkan nada suaranya.

"Oh, yang baru saja sama saya namanya Mira. Kalau tinggalnya sih saya kurang tau!" jawab Satpam seraya tersenyum.

"Bapak mau ngeboking dia ya?" tanya satpam itu kemudian.

"Boking...!" ucap Darman kaget.

"Iya, Pak. Ngeboking untuk teman tidur!" Darman bagai disambar petir, tubuhnya bergetar. Ia terkejut mendengar apa yang disampaikan satpam itu.

"Gimana, Pak?" tanya satpam. Darman tidak segera menjawab. Tampak ia bengong, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.

"Pak, jadi ya mau ngeboking Mira?" tanya satpam itu lagi seraya menepuk pundak Darman.

"Eh... Oh, iya, Pak!" sahut Darman grogi.

"Sekarang, kebetulan Mira sedang ada di hotel ini ..." ucap satpam itu kemudian. Sejenak, Darman termenung. Ia tak menyangka sebelumnya, kalau ternyata wanita yang sedang ia pikirkan itu adalah seorang wanita panggilan.

"Gimana, Pak ... mau ngeboking berapa malam?" tanya satpam itu menyadarkan Darman.

"Eh, iya Pak. Nanti aja lihat-lihat dulu!" jawab Darman. Satpam itu mengatakan kepada Darman, bahwa Mira adalah seorang wanita panggilan kelas atas. Mira sangat terkenal di kalangan para elit. Bukan hanya sehari dua hari dia diboking melainkan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Tempatnya pun selalu berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lainnya. Status Mira belum menikah, ia masih sendiri. Bekerja sebagai wanita panggilan adalah karena pergaulannya.

Lima jam setelah Darman ngobrol panjang lebar dengan satpam, tiba-tiba Mira keluar dari hotel. Mira digandeng oleh lelaki yang berumur sekitar 50 tahunan. Mungkin lelaki itu berumur hampir sama dengan bapaknya Mira.

"Mira!" sapa Darman pelan. Spontan saja Mira melirik ke arah Darman seraya tetap berjalan. Darman pun segera memberikan isyarat kepada Mira agar menemuiya. Tampak Mira menganggukan kepalanya sembari berjalan mengantarkan tamunya ke depan pintu hotel. Setelah lelaki itu masuk ke mobilnya, Mira segera menghampiri Darman yang tengah duduk menantinya.

"Maaf, ada keperluan apa ya, Kang?" tanya Mira seraya menghampiri Darman.

"Eh, saya mau mengajak kamu untuk menemani saya minum. Apakah kamu berkenan?"

"Mangga, Kang!" Sahut Mira seraya tersenyum. Darman dan Mira duduk berhadapan, di mejanya tersaji minuman dan beberapa hidangan.

"Maaf, Neng kalau saya mengganggu waktunya."

"Ah, enggak apa-apa atuh Kang. Santai aja."

"Maaf, Akang ini siapa dan dari mana?" lanjut Mira bertanya.

"Eh, iya saya Darman dari Bandung."

"Saya Mira dari Sukabumi."

Tidak terasa sudah hampir 15 menit, Darman dan Mira asyik ngobrol ngaler ngidul. Kring...kring... Tiba-tiba terdengar nada dering yang datangnya dari dalam tas Mira. Segera Mira mengambil handphonenya. "Sebentar ya, Kang!" ucap Mira seraya berjalan menjauhi Darman. Entah apa yang sedang diperbincangkan Mira di teleponnya itu. Tampak perubahan roman pada wajah Mira. Ia kelihatan tegang, tiba-tiba telpon terputus. Mira menghampiri Darman dan kembali duduk di tempatnya semula.

"Ada apa, Neng?" Tanya Darman penasaran.

"Eh, itu... Katanya ada teman saya keciduk KPK dan nama saya disebut-sebutnya..." ucap Mirna dengan wajah lesu.

"Astaghfirulloh."

"Iya, Kang. Harus gimana saya ya, Kang?" Darman tidak segera menjawab, ia pun bingung harus berkata apa. Kini, keduanya diam membisu dengan pikirannya masing-masing.

"Eh... Akang sudah tahu ya siapa saya?" tanya Mira tiba-tiba. Darman hanya menggelengkan kepalanya sembari menatap tajam ke arah Mira. Dari sorot matanya, sepertinya Darman ingin tahu lebih jauh lagi siapa Mira sebenarnya. Ditatap seperti itu Mira pun menundukan wajahnya.

"Mungkin kalau Akang mengetahui siapa saya...pasti Akang tidak mau lagi bertemu saya...!"

"Hus, kata siapa tidak mau bertemu lagi!"

"Sebenarnya, saya itu sampah...sampah yang kotor sekali, hidup saya penuh dengan dosa... Saya melayani setiap lelaki yang bisa membayar saya dengan bayaran yang mahal... Barusan yang ngbel saya itu adalah teman seprofesi dan yang keciduk KPK itu adalah salah satu langganan saya... Saya takut terbawa-bawa Kang, sebab uang yang digunakan untuk membayar saya itu uang hasil korupsinya..." ucap Mira sambil menangis.

"Saya tidak akan menghindar sedikit pun... Saya akan menemani Neng, jika terbawa dalam kasus itu"

"Apa benar itu, Kang?" tanyaMira seraya mengangkat wajahnya yang penuh dengan air mata. Mira menatap lekat wajah Darman, seolah ia mengharapkan suatu kepastian dari pernyataan Darman itu.

Seminggu telah berlalu, kini Mira dihadapkan di pengadilan sebagai saksi.Seorang perempuan yang merupakan istri dari tersangka, membentak dan mencaci maki Mira. Sumpah serapah dan teriakannya menggema memenuhi ruang persidangan. Darman menggandeng kuat lengan Mira, ia memberikan kekuatan kepada Mira agar tidak terpancing emosi.

"Sudah, Bu! 'Kan saksi tidak salah, yang salah itu suami ibu..." ucap seorang anak laki-laki yang menemani si ibu. Dihati Darman membenarkan ucapan anak laki-laki itu.

"Ini siapa?" tanya si ibu kasar sembari telunjuknya mengarah ke wajah Darman.

"Saya calon suaminya!" jawab Darman tegas. Mira terkejut mendengar jawaban Darman seperti itu. Namun, ia tetap melangkah dengan tenang menuju meja persidangan. Genggaman telapak tangan Darman telah memberikan kekuatan kepadanya untuk menjalani persidangan ini.Di ruang sidang Mira jadi saksi, tidak menjadi terdakwa. Hanya saja, seluruh uang pemberian si bapak itu harus dikembalikan.

Setelah berakhirnya sidang kasus itu, Mira menjadi bangkrut karena seluruh harta dan kekayaannya dikembalikan ke pemgadilan.

"Lebih baik begini, hidup saya menjadi tenang..." ucap Mira lirih.

Darman tidak ingkar janji, ia menikahi Mira. Akan tetapi, ia diberhentikan bekerja oleh perusahaannya. Katanya kawatir, perusahaannya akan terbawa jelek karena Darman menikahi Mira yang notabene adalah seorang hostes. Darman tidak berkecil hati, uang pesangon dari perusahaannya dan tabungannya dibelikan rumah dan sebidang tanah di desa yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Di tempat ini Darman dan Mira hidup tenang dan damai. Mereka telah melupakan masa lalunya. Akhirnya Darman menjadi seorang Penyuluh Pertanian di desanya karena kebetulan ia adalah seorang Sarjana Pertanian. Masyarakat setempat memberinya upah dengan hasil panennya.

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler