Skip to Content

KERANDA MUDIK MANG SARKIM (Pemenang I Cipta Cerpen Bulan Bahasa Diksatrasia Untirta 2014)

Foto encep abdullah

 

oleh Encep Abdullah

 

            Menjelang lebaran, satu per satu warga Kampung Mudik mulai hijrah. Mereka meninggalkan kampung sesuai dengan nomor urut kocokan masing-masing. Ada dua puluh sembilan kepala keluarga yang tercatat di kampung itu, dan sampai sekarang tidak pernah bertambah. Lurah setempat sudah mematenkan kampung tersebut. Jadi, tidak ada alasan untuk menambah kepala keluarga lagi.

            Mang Sarkim mulai gelisah. Semenjak lima tahun terakhir, ia selalu mendapat urutan terakhir mudik ke kampung halamannya. Keluarga Haji Mahmud selalu menjadi orang pertama yang hijrah terlebih dahulu. Tepatnya pada awal Ramadan. Setelah itu Haji Omah, Pak Saleh, Mang Endin, Ustaz Jefri, Kang Syueb, Mang Juned, Haji Kasmin, dr. Mira, Ir. Rahman, Mpok Romlah, Mang Asep dan beberapa lainnya yang sudah haji.

“Lantas, kapan saya pulang?”  tanyanya sendiri sambil memotong rumput di halaman rumahnya.

“Sabar Mang, nanti juga ada gilirannya mudik duluan,” ujar Haji Omah.

“Iya, sih, Bu, tapi kapan? Sudah lima tahun saya tidak jadi mudik. Saya tidak bisa kalo mudik diurutan terakhir. Masa iya, cuma di kasih waktu sehari perjalanan pulang ke kampung halaman. Paling cepet juga tiga hari naik angkot. Kelewat lebaran di jalan dulu, Bu.”

“Emang urutan ke berapa?”

“Dua puluh sembilan.”

Mang Sarkim masih memotongi rumput sambil ngedumel. Bu Haji Omah—tetangga samping kiri kontrakan Mang Sarkim— hanya geleng-geleng kepala saja. Ia tidak bisa menolong apa-apa. Urusan mudik sudah menjadi urusan masing-masing di kampungnya. Semua warga kampung, memang kebanyakan orang luar. Tak ada satu pun orang pribumi. Jadi, dari RT setempat mengusulkan untuk tidak pulang semua secara bersama-sama. Takut ada maling yang dengan mudahnya mencuri barang-barang milik warga. Orang seperti Mang Sarkim memang susah untuk pulang. Kampung yang berada di tengah-tengah pusat perindustrian baja ini rata-rata sudah pergi haji. Sedangkan Mang Sarkim yang sudah sepuluh tahun tinggal di tempat itu, belum bisa juga naik haji—jangankan naik haji, buat anak istrinya saja ia kewalahan.

Mang Sarkim, salah satu karyawan—lebih tepatnya tukang sapu—di perindustrian baja samping kampungnya itu, semenjak tahun pertama kerja, gajinya belum juga dinaikkan. Hanya cukup untuk dua kali makan saja selama sehari, uang makan yang satu kalinya lagi, ia tabung untuk anak-istrinya di rumah—di rumah mertuanya. Ia kirim sebulan sekali. Paling banyak empat ratus ribu, kalau lagi seret paling lima puluh ribu. Yang penting baginya setiap bulan bisa berkirim uang. Untuk uang kontrakan, ia mencari di luar jam kerjanya semisal menjadi pemotong rumput atau apa pun pekerjaan lain yang menurutnya bisa menambah penghasilan dompetnya.

Hari pertama, kedua, ketiga, hingga ke sepuluh bulan Ramadan, kampung sudah mulai sepi. Musala pun sudah kehilangan jamaah salat. Mang Sarkim, yang juga ditunjuk sebagai imam salat mulai tak semangat—biasanya Ustaz Jefri, tapi ia sibuk beres-beres untuk mudik. Mang Sarkim biasanya lantang melantunkan bacaan ayat-ayat suci nan indah itu ketika salat. Tapi, lambat laun suaranya semakin melemah. Makmum tak pernah tahu apa yang sedang ada di dalam pikirannya selain Bu Haji Omah, yang kemarin mengobrol dengannya—kini ia sudah mudik.

… Salallah, alaihi salaam….

“Allaahu akbar.”

Tarawih sudah memasuki rakaat ke sepuluh. Kepala Mang Sarkim sudah mulai berat. Matanya melirik atas, bawah, samping kanan, samping kiri, …

Ya Tuhan, aku sangat rindu keluargaku. Aku ingin pulang. Tapi, aku tidak bisa. Sebenarnya bukan hanya karena tidak keburu pulang saja, melainkan aku tak punya uang untuk pulang. Aku malu kalau warga tahu aku tidak punya uang, jadi aku hanya bilang tak keburu pulang saja. Kira-kira sedang apa, ya, anak-anak dan istriku di sana. Orangtuaku. Mertuaku. Juga keluargaku yang lain. Beginilah nasib orang kecil. Selalu sulit untuk pulang. Kalau pun pulang, aku hanya punya waktu sehari saja di rumah. Sepertinya ini sangat memaksakan diri. Perusahaan tidak mau rugi. Tidak mau dicap perusahan kotor. Aku hanyalah salah satu dari sekian banyak tukang sapu yang cukup menderita di perusahaan. Aku tak bisa keluar karena sudah terikat di atas materai. Bila keluar, maka gaji selama aku bekerja harus dikembalikan lagi. Oh, Tuhan, dari mana saya bisa mengembalikannya. Nasi sudah menjadi bubur. Biar keras begini, pekerjaan harus tetap aku jalani. Mungkin sampai aku mati. Seandainya aku seperti para tetanggaku yang kerjanya di kantor, mungkin aku bisa beli mobil, beli emas, beli rumah sendiri. Tidak mengontrak begini. Dari dulu ngontrak lagi, ngontrak lagi. Padahal kalau dikumpulkan mungkin bisa sedikit demi sedikit nyicil beli rumah, tapi sayangnya harga rumah sekarang amat menggila, harganya selangit. Mencekik leherku. Aku adalah salah satu dari tiga orang yang mengontrak di Kampung Mudik ini. Ah, lebaran, bagiku sesuatu yang sangat menyedihkan. Kenapa Tuhan tak juga memberiku izin pulang ke kampung halaman. Kenapa orang-orang di sini tak memberikan secuil harta mereka untuk membantuku pulang. Malangnya nasibku ini…

“Allaahu akbar,”

“Samiallahuliman hamidah,”

“Allaahu akbar,”

….

Selama salat tarawih berlangsung, pikiran Mang Sarkim tak berhenti berputar ke sana ke mari. Mulutnya berujar tapi hatinya mengingkari. Mang Sarkim menggerutu tak berkesudahan. Selama lima tahun ini, ia seperti satpam. Ia yang selalu meronda sendirian di lingkungan kampungnya. Salat id pasti ia akan sendiri lagi. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Makan sendiri. Takbiran sendiri. Maklum, Kampung Mudik—sesuai aturan tertulis—tidak bisa dengan mudahnya menerima tamu ketika musim mudik di Kampung Mudik datang. Kejadian pertama kali kampung ini diresmikan tidak boleh terulang kembali, ketika seluruh warga tak ada satu pun yang tinggal dan menjaga kampung, banyak barang-barang warga yang lenyap disita maling. Adanya Mang Sarkim, memberikan ketenangan dan keamanan bagi mereka yang mudik karena sekiranya ada yang menjaga rumah mereka.

“Ikhlas tidak ikhlas, harus dijalani,” ujarnya nyeletuk sendiri.

“Itu risikomu, Mang. Makanya kalau tidak mau di sini terus, dapat kocokannya jangan terakhir terus. Kau Ikhtiar dong,” ujar kawannya, Kang Asep, yang mendengar celetukannya.

“Kamu enak, tak mengeluarkan banyak uang untuk pulang, masih punya bajajmu yang bisa diandalkan. Paling modal solar doang. Lah saya, udahmah berkali-kali naik angkot, BBM naik pula. Ya, Tuhan, hidup memang teramat keras untuk saya.”

Usai tarawih mereka pulang ke rumah masing-masing.

Mang Sarkim langsung menyalakan televisi di rumahnya—televisi yang sudah busam dan gambarnya banyak bintik-bintik semut. Kepalanya masih mumet, sepanjang hari yang ia pikirkan adalah mudik, mudik, dan mudik. Tapi, apalah daya, kendalanya terlalu banyak. Tak bisa ia jelaskan sendiri. Tak bisa ia selesaikan sendiri. Ia butuh orang lain yang mengerti. Butuh bantuan orang lain untuk mencari jalan keluar.

Saluran Satu:

“Menjelang Lebaran, Arus lalu lintas pemudik menuju Pelabuhan Merak mengalami kemacetan cukup parah. Kemacetan tesebut mulai KM 96 di tol Merak, pengendara mobil dan sepeda motor padat merayap bahkan sampai berhenti total. Sistem buka tutup diberlakukan untuk masuk ke pelabuhan … “

“Ah, sudah biasa begitu, ngapain diberita-beritakan segala,” ujarnya.

Ia memencet tombol yang lain.

“Setiap hari rata-rata terjadi 300-an kecelakaan yang merenggut  80-an jiwa pemudik…”

“Ah, lagi-lagi...,“ Mang Sarkim langsung memotong laporan berita reporter televisi itu, lalu mengganti ke channel lain.

“Angka kecelakaan saat mudik Lebaran masih terbilang tinggi …”

“Ah, nggak bosan-bosannya…,” ia ganti lagi.

“Yang paling banyak terjadi adalah tabrakan depan-depan atau adu banteng…"

            “Astagfirullahaladziim…,” ia mengganti sekali lagi.

Pemudik pejalan kaki dan pemudik yang menumpang kendaraan bermotor mulai memadati Pelabuhan Merak, Banten, menjelang Lebaran. Kepadatan calon penumpang kapal pada Minggu kemarin membuat kawasan pelabuhan penyeberangan Merak-Bakauheni macet…”

“Sialaaaaan…!”

Mang Sarkim membanting remot televisi. Pecah. Baterainya mental, memantul ke cermin. Cerminnya retak. Air mukanya seketika memerah. Ia marah. Kesal.

“Kenapa, sih, semua berita tentang mudik lagi, mudik lagi. Lebaran lagi, lebaran lagi. Kayak nggak ada berita yang lain aja. Sudah bosan hidup kalian, para reporter. Saya bunuh juga kalian!”

Tetangga sebelah mendengar sedikit kisruh dari rumah Mang Sarkim. Tapi, mereka tak terlalu menghiraukan. Mereka melanjutkan aktivitas dengan anak-anak dan istri mereka di dalam rumah. Mereka tak pernah tahu akan perasaan Mang Sarkim yang selalu merasa kesepian, yang selalu punya harapan ingin mudik untuk bertemu sanak keluarganya di kampung halamannya. Mang Sarkim segera mengambil air wudu di belakang. Ia pun kembali ke musala. Ia merasa hatinya sedang teramat kalut. Pikirannya kacau-balau. Ia merasa sudah jauh dari Yang Mahakuasa. Mang Sarkim mendirikan salat—entah salat apa. Barangkali salat istiharah. Ia menengadahkan tangan. Mulutnya tak berhenti melafalkan doa. Menjelang subuh, ia pulang. Sahur dan kembali ke musala untuk salat subuh.

“Mang Sarkim, Mang Sarkim, anak Kang Asep meninggal. Tertabrak truk,” geger Mpok Romlah di depan musala.

Mang Sarkim dan beberapa warga yang usai menunaikan salat langsung bejibun menghampiri Mpok Romlah. Mereka langsung menuju ke rumah Kang Asep pagi-pagi buta.

“Astagfirullah…”

Mang Sarkim dan warga tak kuasa melihat anak Kang Asep. Kepalanya pecah. Otak dan polonya keluar. Matanya melotot. Langsung saja Mang Sarkim menutup kain mayat anak Kang Asep.

Matahari sudah terik. Keranda dari musala dibawa menuju rumah Kang Asep. Anaknya yang sudah dibungkus kain kafan siap dibawa ke musala untuk disalati. Mang Sarkim mengimami.

Mungkin anakku sekarang sudah sebesar ini. Ya, Tuhan. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa ia masih lanjut sekolah atau masih luntang-lantung tidak jelas di jalanan seperti yang terakhir aku lihat. Betapa tampan ia seperti kakeknya dulu. Aku takut sekali. Takut ia nakal. Main sama anak-anak berandal. Balapan motor. Mabuk. Main perempuan. Dan sampai akhirnya seperti anak yang sedang aku salati ini. Ya, Tuhan, mohon petunjukmu. Berikan ia kesehatan, keamanan, dan keselamatan, hidup baik di dunia maupun di akhirat. Amin.

Mang Sarkim berdiri lama sekali. Makmum di belakangnya saling senggol. Di hati mereka saling menggerutu. Mang Sarkim lupa bila sudah waktunya salam. Ia langsung tersadar dari lamunan anaknya. “Astagfirullah…” ujarnya dalam hati usai salam sambil mengelus–elus dadanya.

“Kasian anak ini, padahal sebentar lagi keluarga Kang Asep mau mudik,” ujar Mpok Romlah.

“Umur tak bisa ditebak. Sudah takdir Tuhan. Semua pasti akan merasakan kendaraan macam keranda ini, kembali pada-Nya, ke Zat yang menciptakan alam semesta.”

Kali ini Mang Sarkim amat serius. Bulu kuduknya berdiri. Ia memperhatikan keranda itu lagi. Dari keranda itu tiba-tiba keluar sesuatu, putih, halus, dan ia terbang. Makhluk yang entah itu menatap dan menunjuk Mang Sarkim. Tentu saja Mang Sarkim kaget setengah mati. Ia langsung berdiri.

“Ada apa Mang Sarkim?”

“Oh, ngg… ngg… nggak apa-apa.”

“Yakin?”

“Yakin.”

Jantung Mang Sarkim berdebar lebih kencang. Seperti ada yang ingin menyapanya, tapi Mang Sarkim sendiri tak tahu dan tak jelas apa sebenarnya yang tadi keluar dari keranda anak Kang Asep itu. Usai menguburkan, Mang Sarkim dan warga kembali ke rumah masing-masing.

Mpok Romlah pulang. Kang Asep pulang. Beberapa tetangga yang lain sudah pulang. Waktu terus berputar. Jamaah tarawih semakin surut. Tinggal tiga orang lagi. Mang Sarkim, Bejo, dan Boim.

“Maaf, besok aku harus pulang. Anakku sudah ingin baju baru,” ujar Boim.

“Aku juga akan pulang. Mertuaku dari kemarin nelepon terus,” timpal Bejo.

“Ya sudah, biarlah saya sendiri di sini. Di musala ini. Di kampung ini. Masih ada keranda yang menemani saya salat hingga id nanti,” sambil melihat ke arah keranda di samping kirinya.

Kampung Mudik sepi. Tak berpenghuni selain Mang Sarkim. Ia mengelus keranda itu. Sampai ia mencucinya.

***

Orang-orang kembali ke Kampung Mudik. Tapi, warga tidak melihat Mang Sarkim. Juga tidak melihat keranda yang biasa bertengger di musala itu.

 

                                                                                                                                Serang, 2013—2014

 

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler