Skip to Content

Lelaki Ompol

Foto encep abdullah

 

 Bali Post, 3 November 2013

 

LELAKI TUA itu belum juga mau berhenti mencium ompol cucunya. Bahkan sekarang ia mulai meminumnya. Istrinya pusing tujuh keliling memikirkan perilaku suaminya itu. Lagi-lagi ompol. Lagi-lagi ompol. Meski kini Lelaki Tua itu sudah memiliki lima anak dan dua puluh lima cucu—satu anak memiliki lima buah hati—ia tidak pernah malu. Katanya ompol adalah obat penenang. Obat mujarab menghilangkan stres. Obat berjiwa muda. Hal ini semakin dipercaya Lelaki Tua setelah ia mendengarkan berita di salah satu stasiun televisi, bahwa urine telah digunakan oleh banyak orang, di antaranya Mohandas Gandhi, Jim Morrison, dan Steve McQueen. Sebelumnya ia mendapatkan sebuah mimpi yang entah-berentah.

Kamu tahu, ia mendapatkan ompol cucu-cucu perempuannya itu dari pampers-pampers yang sudah penuh dengan air kencing, kemudian diperas ke dalam sebuah galon.Terkadang ia hampir pingsan meminumnya.

“Ini adalah hari fantasi, sebentar lagi purnama akan datang!” ujarnya.

“Pak, mau sampai kapan terus-terusan seperti ini?”

“Udah sih, nenek pikun, nggak usah banyak omong. Mau sampai kapan kek, itu urusanku. Eh, kalau nggak begini mana mungkin aku bisa menghidupimu. Bisa memberimu anak. Bahkan memberimu cucu.”

“Lah, emang apa urusannya dengan kehidupan kita?”

“Sudah, diam saja! Nggak usah banyak bertanya!”

Pertengkaran semacam itu sudah biasa terjadi antara si Lelaki Tua dan istrinya. Sampai kapan pun tetap akan seperti itu jawaban si Lelaki Tua. Istrinya memang selalu curiga, tapi kecurigaannya hanya sebatas pertanyaan. Tidak sampai menginterogasi atau membikinnya menyingsingkan golok atau kapak. Masih mending mikirin belanjaan, katanya. Ya, meskipun sudah berkepala enam, dan usianya terpaut lebih muda tiga puluh tahun dari suaminya, tetap saja tingkahnya seperti anak muda. Mecing. Style.

“Mikirin suami kayak kamu hanya bikin kepalaku miring, meskipun, ya, kau sudah sering kali memuaskanku.”

“Ah, kau ini bisa saja membuatku sedikit tersenyum. Tapi kadang menggelikan. Aku juga nikmat bercinta denganmu. Tapi, itu dulu.”

“Sekarang pun aku masih kuat, kok...”

“Aku kurang berselera,” Lelaki Tua tertawa kecil kemudian menyulut sebatang kreteknya, sedangkan istrinya hanya memandang suaminya dengan kening mengerut.

***

Malam itu, Lelaki Tua sudah siap-siap keluar menuju pohon beringin dekat rumahnya. Dengan beberapa jamuan atau sesajen yang ia bawa kemudian ditaruh di bawah beringin pohon itu. Tidak lupa pula sebotol ompol bayi itu ia siram ke pohon—sisa dari ompol segalon yang ia minum.

            “Mbah, malam ini purnama sudah bulat sempurna. Seperti yang Mbah  katakan dalam mimpi. Di setiap bulan purnama, hamba boleh minta apa pun dengan segala persyaratan atau beberapa jamuan ini. Mbah, sebelumnya saya meminta supaya saya kuat bercinta dan kaya raya. Sekarang saya ingin meminta satu istri lagi. Boleh kan? Istri yang tua sudah kurang menggairahkan lagi. Tolong yah Mbah.…”

            Malam purnama memang malam yang istimewa baginya. Malam yang bisa membikin libidonya memuncak. Malam yang penuh keramat seperti juga yang diyakini oleh banyak orang di sekitarnya—yang menziarahi makan para sultan. 

Lelaki Tua menyatukan kedua telapak tangannya. Kemudian ia menundukkan kepala. Ia menyembahnya. Memujanya. Mulutnya berkomat-kamit, entah apa yang diutarakan. Sesekali ia meminum sisa ompol di botol kecil miliknya itu, kemudian ia menyemburkannya ke pohon yang teramat lebat daunnya itu.

            “Akhirnya, selesai juga. Semoga aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan. Hahaha… Memang malam fantasi,” ujarnya sambil bangkit dari tempat itu. Bersiap-siap pulang. Tapi, langkahnya sulit digerakkan. Ia tahu, mungkin si Mbah Pohon minta ditemani hingga fajar tiba—memang hal ini sering terjadi pada Lelaki Tua itu usai menyembah.

            “Oke deh Mbah, aku bermalam di sini.”

            Wusss… seketika angin berhembus, mengibas dedaunan pohon beringin itu. Lelaki Tua sedikit kaget. Ia pun duduk kembali. Ia berpikir kalau itu sebuah petanda bahwa si Mbah tersenyum. Dan Lelaki Tua berkomat-kamit kembali. Memuja kembali.

***

            Kini cucu-cucunya sudah dewasa. Tapi sayang, belum satu pun dari mereka yang menikah. Padahal ada yang sudah berkepala empat. Yang paling kecil berumur tiga tahun. Selebihnya hanya berselisih tiga sampai empat tahun.

Cucu-cucunya yang sudah remaja dan sudah matang lebih sibuk mengurusi  kecantikan dan ketampanan wajah, serta keawetmudaan fisik. Pernikahan bukanlah hal yang utama. Menurut mereka masih mending tak bersuami atau tak beristri daripada harus kehilangan keindahan tubuh mereka. Menikah hanya akan merusak wajah menjadi keriput.

 “Pikiran yang kolot! Itu hanya alasan kalian saja!” Lelaki Tua marah besar. “Lihat kakek, punya istri dua, tapi masih tetap bugar begini, bahkan bakal punya anak lagi,” lanjutnya sambil mengelus perut istri keduanya yang baru hamil muda.

“Itu semua karena kegilaan kakek yang suka minum ompol bayi perempuan. Itu menjijikkan. Seharusnya kakek sekarang lebih memikirkan bau tanah. Menuju alam akhirat. Bukan terus-terusan mengurusi kehidupan seperti ini. Sudah cukup rasanya rumah sebesar ini bau pesing. Juga bau amis yang tak jelas dari benda-benda yang kakek miliki,” ujar si Perempuan Dua Puluh Lima.

“Kami tahu kenapa kakek menyuruh kami cepat menikah. Biar kami cepat punya anak, bukan? Lebih-lebih anak perempuan. Lalu kakek meminum ompol anak-anak kami. Sudah cukup, Kek! Cukup!” ujar salah satu cucu perempuan yang paling tua.

“Ah, kalian banyak komentar. Lihat si Cucu Kecil, sebentar lagi dia besar, dan dia tidak akan ngompol lagi. Ayah-ibu kalian sudah tidak mau bikin anak lagi. Mereka juga pasti akan butuh ompol itu suatu saat nanti. Kalau bukan dari anak kalian, dari siapa lagi. Kakek minum dari ompol siapa? ompol anak tetangga!” kemarahannya semakin membeludak. Mungkin ini sudah yang kesekian kalinya Lelaki Tua meluapkan kemarahan kepada cucu-cucunya untuk menikah biar segera mendapatkan cicit.

“Masih banyak cara untuk awet muda, Kek. Kami tidak mau menjadi penerusmu!”

***

Sebenarnya ayah dan ibu mereka pun meminta supaya mereka cepat menikah. Mengikuti perintah alam mimpi sang Lelaki Tua. Yakni, meminum ompol bayi –terutama bayi perempuan, karena dalam mimpinya perempuan adalah makhluk yang paling istimewa—hanya saja, ayah dan ibu mereka tidak secara frontal menyuruh anak-anaknya untuk segera menikah, tidak seperti si Lelaki Tua. Mereka meminta secara halus meski dengan sedikit mengemis. Wajah ayah-ibu mereka terlihat layu. Barangkali ini karena efek mimpi itu. Mereka belum menikmati ompol bayi.

Gara-gara ompol itu, pertengkaran keluarga dalam rumah gedongan itu akhirnya memuncak. Semua cucunya sudah tidak tahan terus-menerus hidup seperti ini. Terintimidasi. Mereka sepakat pergi bersama-sama mencari kehidupan baru. Rasanya seperti hidup dalam penjara bila mereka terus berada dalam gedongan itu. Mereka berikrar tidak akan menikah sampai kapan pun sebelum menemukan solusi terbaik. Mereka ingin lepas dari mimpi yang tak berperikemanusiaan itu. Mereka berusaha mencari jalan lain supaya menjadi awet muda. Masing-masing dari mereka mencari dengan jalan mereka sendiri. Ada yang dengan cara tradisional, semisal dengan luluran dari bahan buah-buahan dan sayur-sayuran. Ada pula dengan cara modern, semisal pergi ke tempat kosmetik. Mereka tidak mau mengikuti cara konyol kakeknya itu.

“Sudahlah, kita tunggu saja biar kakek cepat mati. Setelah itu, barulah kita kembali ke rumah, lalu menikah,” ujar si Dua Puluh Lima Tahun.

“Kapan dia mati?” Tanya si Dua Puluh Dua.

“Ya, mungkin setelah kakek sudah tidak meminum ompol bayi lagi. Makanya si Kecil juga kita bawa di rumah yang kita beli ini. Lagian kita banyak uang, kakek kan orang kaya. Biarlah kita memakai uang-uangnya sesuka hati kita. Yang penting kita jangan menjadi regenerasinya,” ujar si Empat Puluh.

“Nasib ayah-ibu kita?”

“Biarkan saja. Tunggu saja akhir dari cerita ini, meski wajah ayah-ibu kita sudah pada keriput dan rusak, kalau sudah ajal, ya sudah, biarlah.”

“Apakah kita ini termasuk anak-anak  yang durhaka?”

“Ah, kamu tahu apa soal itu. Sudahlah! Ini hidup kita. Kita yang harus memegang sendiri. Jangan mengikuti yang sesat walaupun itu ayah-ibu kita.”

***

            Sudah delapan bulan cucu-cucunya belum kembali ke rumah. Lelaki Tua begitu khawatir, apalagi kedua orang tua mereka. Sudah beberapa polisi dikerahkan, tetapi mereka belum juga ditemukan.

            “Ini semua gara-gara ompol! Hilang semua cucu-cucuku!” Istri Tua membentak.

            “Diam nenek pikun! Berisik! Aku hanya minta satu permintaan saja dari mereka. Aku ingin mereka menikah. Itu saja.”

            “Iya, aku tahu. Tapi mereka takut punya anak. Ompolnya kau minum. Bagi mereka itu menjijikkan!”

            “Apa sih repotnya. Punya anak, lalu aku ambil ompolnya. Ya, sudah.”

            “Capek aku bertengkar denganmu!” Istri Tua pergi masuk kamar sambil menggebrakkan pintu. Istri Muda yang ada di sebelah Lelaki Tua begitu syok, sambil memegang perutnya yang sudah buncit.

            Sepuluh menit kemudian perut istrinya merasa kesakitan. Tanda-tanda bayi dalam perutnya sudah minta dikeluarkan. Lelaki Tua panik bukan kepalang. Ia menggedor-gedor pintu kamar istrinya. Pun pintu kamar anaknya.  Tapi, tak ada jawaban.

Lelaki Tua mondar-mandir sekitar rumah, bingung apa yang harus ia lakukan. Di luar hujan sangat deras. Rumahnya jauh dari rumah yang lain. Sedangkan istrinya sudah meringis kesakitan. Bayang-bayang ompol, cucu-cucunya, awet muda, pohon beringin, ia lupa. Yang ada dalam pikirannya hanya “Istriku, bagaimana dengan istriku?”

            Sudah hampir tiga jam hujan belum juga reda. Seandainya mobilnya tidak sedang di bengkel, mungkin sudah dari tadi ia bawa istrinya ke rumah sakit. Mau tidak mau ia tetap berada di tempat, terperangkap dalam rumahnya sendiri. Ia hanya bisa menyaksikan wajah istrinya yang mengerang kesakitan. Tubuh Lelaki Tua gemetar, sampai ia kencing di celana.

            Akhirnya dengan sendirinya bayi itu lahir dari liang peranakan ibunya, saat kilat petir menyambar pohon beringin yang ada di samping rumahnya.

Bayi itu berawakan aneh. Ia perempuan. Alat kelaminnya banyak. Di wajahnya ada. Di tangannya ada. Di kakinya ada. Sekujur tubuhnya dipenuhi alat kelamin, sedangkan ibunya hanya terbaring lemas tak berdaya. Darah di selangkangannya meluber ke mana-mana. Lelaki Tua semakin panik dengan segala keadaan di sekitarnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Anaknya ia lempar ke sofa. Anak itu kencing ke mana-mana. Tiada henti. Rumahnya banjir kencing anaknya. Ia tertawa. Senang bukan main. Tapi, ia tidak tahu kalau pohon beringin di luar rumahnya sudah roboh.

 

                   Serang-Tangerang-Bandung, 2011—2013


 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler