Skip to Content

Mengkisahkan Kenangan. Untuk: D

Foto Diyan Fauziyah

Pernah ku dengar suatu kisah. Di negeri yang entah bergelar apa. Nun jauh disana.

Tersebutlah seorang lelaki, yang dengan seluruh ke-apa-adaannya, tengah jatuh hati pada seorang gadis. Yang jelita bak purnama, bundar sempurna wajahnya. Yang gemulai sungguh laku tingkahnya. Bagai menarikan melodi dari dawai surgawi. Yang memikat sangat senyum-senyumnya. Bulan sabit pun rela menumpahkan segala cahyanya pada senyum gadis itu. Memesona.
dan segala perandaian lain yang indah-indah menurut sudut pandang lelaki itu. Katakan saja, namanya “Boy”.
di dekatilah oleh Boy gadis jelita pujaan jiwanya itu. Tak lepas siang malam ia sebutkan nama gadisnya. Tak kurang berbagai kembang-kembang taman ia berikan pada sang gadis. Tak sedikit waktu yang ia curahkan hanya demi menyamankan hari-hari  gadis yang telah membuatnya bertekuk lutut. Tak apa lah. Kebahagiaan gadisnya sudah menjadi hal mutlak bagi Boy. Boy sudah terlanjur jatuh cinta. Cinta mati pada gadis harapannya.

Dikisahkan,
 Si gadis jelita itu merantau, ke suatu daerah yang tak mampu Boy menemaninya. Karena masih banyak tentunya hal-hal yang di tanggung Boy bagi keluarganya. Maka berpisahlah dua insan ini.
tanpa tangisan pilu yang menggeletar. Hanya sebuah perpisahan biasa. Yang di rekatkan dengan janji tanda kepercayaan untuk saling menjaga indahnya rasa yang menaungi langit-langit mereka selama ini.
Selang, beberapa waktu berlalu. Kehidupan sedikit demi sedikit berubah. Boy, masih tetaplah menjadi lelaki yang apa adanya. Menyimpan segala mimpi dalam cinta-cintanya kepada gadis jelita yang di nantikan.

Hingga tibalah hari di kala sang gadis kembali.

Gadis jelita tak bersuara apapun ketika mendatangi Boy yang tengah berdiri menatap leladang di belakang rumahnya. Sampai ia menepuk bahu Boy.
terserentaklah Boy. Dikiranya ada hantu.
segeralah ia sadar, itu memang hantu. Gadis yang menghantui hari-harinya dengan segala bentuk pesona keindahan. Bersoraklah hatinya. Rianglah tawa-tawa mereka.

“Boy, tahukah engkau apa yang akan ku beritahukan padamu?”

“Tak lah ku mengerti kehendak hatimu, duhai dewiku. Gerangan apa yang ingin kau sampaikan padaku?”
“Aku telah menemukan belahan jiwaku, Boy. Di rantauan. Aku telah bertunangan dengannya.”
Hati Boy hampir hancur. Namun ditahankannya.

Boy tak mampu berkata-kata.
lengang beberapa saat.
“Sungguhkah itu duhai kasihku?”

“Boy, untuklah apa aku mendustaimu? Aku sungguh-sungguh mengatakannya padamu.”
“Boy, aku hanya tak mengerti harus berlindung dengan siapa ketika di rantauan. Itulah mengapa, kemudian seseorang datang padaku. Menjagaku. Aku hanya, aku membutuhkannya.”
 Boy tertunduk pasrah. Namun di lukiskannya senyum di wajah kuyunya.
“Duhai cintaku, tak apa. Tak apa. Jangan kau risaukan apapun. Kau nampak cukup bahagia dengannya, bukan?”

“kau tak marah, Boy?”
Boy menggeleng lemah. “Tidak”.
“Aku tak marah. Aku hanya menyanyangkan diriku sendiri. Bagaimana bisa aku tak mampu menemanimu di rantauan sana. Menjagamu. Melindungimu. Menyamankanmu.”

Si gadis mulai menggeleng-nggelengkan kepalanya.
“Tidak, Boy. Jangan berpikir begitu. Aku merasa bersalah. Bagaimana bisa aku mendustai janji kita? Namin sungguh, Boy. Aku hanya menginginkanmu. Karena tak ada yang setulus engkau dalam mencinta. “
“Gadisku, kau janganlah khawatir. Kau masih sama seperti yang dulu. Masih bersemayam di hatiku. Aku tak mengapa. Sungguh tak mengapa. Mungkin, aku sendiri mulai berpikir bahwa aku tak waras. Namun, ini, dengan sesadar-sadarnya kukatakan padamu. Kau berikan saja satu senyuman pada bintang yang kau anggap indah di malam-malammu. Maka aku tak lagi pedulikan yang lain-lain. Asal kau bisa pastikan, seseorang disana, bisa bahagiakanmu. Aku akan terus disini sampai kau mengunjungi ku lagi. Sebagai siapapun aku atasmu."

Berlinang- linanglah air mata si gadis. Merasa tak berarti di hadapan sebuah ketulusan.
“Boy, kau, ketahuilah, di waktu-waktu mendatang, akan ku pastikan, dirimulah yang paling bisa ku sanjungkan dalam cerita-cerita pengantarku tidur. Kupastikan. “

Boy hanya tersenyum kecil. Mendekatkan kepalanya pada kening si gadis. Dan menciumnya lembut.
“Aku mencintaimu karna ketulusan. Maka, cintailah seseorang itu dengan ketulusan yang jujur”

Boy memetikkan satu kuntum mawar merah yang tumbuh tepat di sampingnya. Meraih tangan sang gadis, memberikan bunga itu dalam genggaman tangan gadis pujaannya. Kemudian berbalik langkah, menjauh pergi.

Sedudah itu, si gadis tak pernah lagi bertemu dengan Boy.

Entah, lenyap kemana.

 

Midnight, 11 November 2013

Malang


Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler