Skip to Content

MERIAM

Foto encep abdullah

 cerpen Encep Abdullah

 

dimuat di Satelit News, 9 Mei 2015

“Kakek, ceritakan padaku tentang sebuah mitos,” ujar Sodik sambil menyiapkan sebuah catatan. Ia menatap kakeknya yang sedari tadi duduk di kursi goyang sembari mengisap sebatang cerutunya—ya, cerutu tua yang sudah menemaninya semenjak sebelum kemerdekaan.

“Tentang meriam,” singkat Kakek.

“Meriam?” Tanya Sodik penasaran.

“Ya, meriam.”

“Cepat Kek, ceritakan padaku,” Sodik tak sabar.

Seketika Kakek melirik dua lukisan meriam yang menggantung di tembok—samping pintu kamarnya. Lukisan yang pernah ia beli di Banten dengan bandrol selangit, karena Kakek orang kaya, tak sulit ia untuk membelinya.

“Dulu, diceritakan ada salah seorang anggota dewan dari negeri Banten, Kakek lupa siapa namanya, ia amat gigih melakukan perundingan dengan Pemerintah DKI Jakarta untuk menyandingkan meriam Ki Amuk Banten dengan meriam Si Jagur Jakarta. Karena ia percaya, ini akan menjadi tontonan yang sangat menjanjikan bagi para wisatawan. Juga untuk nama Banten itu sendiri. Melalui proses berkelit, akhirnya Pemerintah DKI Jakarta menyetujui perundingan itu dengan syarat hanya untuk kurun waktu tertentu saja, yakni lima tahun. Setelah itu meriam Si Jagur dikembalikan lagi. Tentu saja dengan kompensasi dana yang cukup tinggi yang diberikan Pemerintah Banten ke Pemerintah DKI Jakarta, karena meriam Si Jagur merupakan salah satu aset utama kunjungan wisatawan di Museum Fatahillah. Akhirnya, bersandinglah kedua meriam itu di depan Museum Banten.

***

“Ada hal yang menarik darimu, Ki Amuk. Kau punya tiga prasasti berbahasa Arab yang terukir di tubuhmu. Dua prasasti terukir tulisan akibatulkhoir salamatan iman dan prasasti yang satunya terukir la fataa ila ali, la sifaa ila zulfikar, ashbir ala taqwa dahran. Apa artinya kedua tulisan itu?”

Akibatulkhoir salamatan iman artinya kesuksesan puncak adalah keselamatan iman dan la fataa ila ali, la sifaa ila zulfikar, ashbir ala taqwa dahran artinya tiada jawara kecuali ali, tiada golok kecuali zulfikar, bersabarlah dalam takwa sepanjang masa.”  

“Saya tak mengerti. Bisa kau ceritakan maksud lebih dalamnya?”

“Maaf, aku tak bisa menjelaskan. Aku hanya menerima ukiran itu saja. Coba Anda tanyakan saja pada sesepuh yang menjaga museum ini. Atau orang-orang sekitar.”

“Kita, kan, tidak bisa berbicara pada manusia.”

“Iya, maaf, aku lupa. Aku boleh bertanya?”

”Silakan.”

“Kenapa Anda dipindahkan ke tempat ini, Jagur? Apa Anda tidak suka tinggal di kotamu?”

“Saya juga tidak tahu. Saya hanya benda mati yang bisa seenaknya saja di tempatkan di mana pun. Ini untuk yang kesekian kalinya saya dipindahkan. Termasuk di sini. Tapi, saya senang bisa bersanding dengan kau di sini. Setidaknya saya punya teman sejenis dan bisa aman dari sentuhan para perempuan yang sering mendatangiku supaya mereka cepat memiliki anak.”

“Maksud Anda?”

“Para perempuan itu sering kali membuka sedikit bagian bajunya sehingga perutnya bisa bersentuhan langsung dengan badan saya, khususnya pada bagian belakang saya yang bertulis mano in fica, yang kata orang-orang merupakan sebuah simbol pertemuan jantan dan betina untuk memperoleh kehamilan. Sebagian masyarakat percaya bahwa kepalan ibu jari yang dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah saya ini adalah lambang kesuburan. Jadi, mereka percaya bisa membuat para perempuan itu hamil.”

“Apa maksud tulisan pada punggung belakang Anda yang juga terukir bahasa latin ex me ipsa renata sum?”

“Itu artinya dari diriku sendiri aku lahir kembali.”

“Maksudnya?”

“Aku pun tak tahu.”

“Kenapa kita sama-sama tidak tahu maksud dari ukiran di tubuh kita masing-masing. Sedangkan orang-orang, mati-matian memuja kita. Percaya dengan hal-hal gaib dari tubuh kita.”

“Saya kira, hanya tubuh saya yang dijadikan bahan mitos oleh masyarakat. Bisa kau ceritakan mitos apa yang ada dalam tubuhmu, Jagur?”

“Orang-orang mengagumi kehebatanku sedari dulu karena bisa membinasakan musuh dengan membombastis habis-habisan, sehingga banyak dari warga yang meyakini aku memiliki kekuatan gaib. Anggapan itu masih bertahan sampai sekarang. Sebelum di tempat ini, sebenarnya aku pernah disimpan di Pelabuhan Karangantu, tetapi karena warga setempat beranggapan seperti itu, beberapa tokoh setempat kemudian memindahkanku ke tempat ini. Tetapi malah semakin parah, orang-orang kemudian menjalankan ritus-ritus seperti melempar koin, atau memeluk moncongku. Konon katanya apabila lemparan koin itu banyak yang masuk ke moncong atau ada ada orang yang pergelangan tangan mereka bisa bertemu ketika memelukku maka orang tersebut akan kaya, dan bla bla bla. Dari mana mereka punya pikiran seperti itu. Ah, manusia, mikir seenaknya sendiri.”

***

            Kakek berhenti sejenak, menghela napas sambil menyalakan korek api.

            “Terus, Kek, lanjutkan,” Sodik tak sabar, sambil tangannya menyiapkan lembar catatan berikutnya.

            Kakek mengisap cerutunya untuk ketiga kalinya. Asap-asap itu mengolong bulat. Melayang menuju lukisan meriam itu, dan seketika melebur.

            “Baiklah, Kakek lanjutkan. Kamu tahu mengenai asal mula kedua meriam ini? Banyak sekali ahli sejarah atau cerita rakyat yang berbeda pendapat. Ada yang mengatakan meriam Ki Amuk hadiah dari Sultan Trenggono dari Demak kepada Sunan Gunung Jati. Ada juga yang mengatakan hasil rampasan perang dari Belanda. Ada juga yang mengatakan hadiah dari Belanda. Tapi ada juga yang meyakini bahwa kedua meriam ini, Ki Amuk dan Si Jagur adalah perwujudan dari dua saudara kakak beradik laki-laki dan perempuan yang melanggar larangan sultan karena mandi di laut. Akibat pelanggaran itu mereka mendapat kutukan dan berubah wujud menjadi dua pasang meriam.”

            “Terus, Kek?”

“Ki Amuk konon dibuat oleh tenaga impor yang khusus didatangkan dari Persia. Meriam ini sangat diandalkan hingga pihak Banten memasangnya di Karangantu waktu itu. Jadi kalau ada musuh menyerang Banten, Ki Amuk inilah yang pertama menghadapinya," ujar Kakek lagi dengan penuh semangat.

Sodik hanya menggeleng-geleng sambil tangannya dengan cepat memainkan bolpoin. Tulisannya naik-turun di atas kertas—tidak rata. Entah, apa yang diujarkan Kakek dapat ia pahami atau tidak. Sesekali sodik membuka tutup kemasan botol, dan menenggak cairan di dalamnya supaya ia tetap melek karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.30.

“Masih lanjut?”

“Lanjut, Kek.”

Kini gantian Kakek yang meminum cairan dalam botol itu sesudahnya ia menggoyang-goyangkan kursinya supaya ia tidak mengantuk, juga kembali mengepulkan asap dari mulutnya.

“Sampai mana tadi?” Tanya Kakek.

Sodik melihat catatannya, “Ki Amuk konon dibuat oleh tenaga impor yang khusus didatangkan dari Persia, Kek.”

“Oh, Ok. Kalau Meriam Si Jagur itu mulanya tersimpan di Museum Nasional, tapi kemudian dipindahkan untuk dipajang di depan halaman luar Museum Sejarah Jakarta. Letaknya persis di depan Kantor Pos Jakarta Kota, tempat para pedagang pakaian dan barang kelontong lainnya sehingga masyarakat sekelilingnya mengenal betul sosok Si Jagur yang unik itu. Jadi, ia lebih terlihat begitu akrab dengan warga ketimbang Ki Amuk Banten. Meriam kuno Si Jagur ini dibuat oleh MT Bocarro di Macao sebagai peralatan tempur. Kemudian diangkut ke Malaka untuk memperkuat benteng Portugis di Malaka. Ketika Malaka jatuh ke tangan VOC tahun 1641, meriam Si Jagur diangkut ke Batavia. Niatnya untuk memperkuat pertahanan Batavia dari ancaman musuh. Andaikata meriam Si Jagur itu prajurit tempur, pastilah dia sudah berpangkat jenderal,” ujar Kakek sambil menghela napas.

Sodik ikut menghela napas. Keningnya berkeringat. Ia ingat apa yang dikatakan pimpinan redaksi. Deadline berita pukul 00.00 untuk mengisi ‘kolom mitos’ dalam surat kabar di salah satu tempat kerja yang baru saja digelutinya. Kalau tidak jadi, siap-siap ia langsung terkena pecat—ini sudah menjadi perjanjian para wartawan pemula yang sedang magang. Sodik melihat pergelangan tangan kirinya, waktu sudah menunjukkan pukul 22.45. Sedangkan Kakek masih tetap semangat bercerita kepada cucunya yang sudah menginjak semester akhir itu.

***

Orang-orang seperti gerombolan semut mendatangi kedua meriam itu. Mereka penasaran dengan meriam baru, Si Jagur. Meriam Ki Amuk sudah tak asing lagi bagi para pengunjung. Tapi, ada hal lain yang memikat mata orang-orang itu, yakni keduanya di sandingkan layaknya saudara kembar. Tak dibatasi apa pun. Tak ditutup apa pun. Tergeletak begitu saja di bawah udara terbuka. Bila terik matahari memancarkan sinarnya, tubuh kedua meriam itu sedikit memuai seolah menggelembung karena kepanasan. Bila turun hujan, maka badan kedua meriam itu terasa dingin dan mengkilat. Namun karena letaknya dekat dengan keramaian pasar, orang-orang bisa sesuka hati memegang, memeluk, bahkan menjilati kedua meriam itu. Kedua meriam itu saling diam. Sedangkan orang-orang di sekitarnya tak mungin bisa mendengar jeritan hati kedua meriam itu. Mereka masih tetap memuja keduanya, menyentuh tubuh Si Jagur supaya bisa hamil, memeluk Ki Amuk, dan melempar koin di moncongnya supaya bisa cepat kaya. Dan bla bla bla…. Setiap hari Museum Banten dipadati pengunjung dari berbagai penjuru.

“Ah, ternyata saya masih salah tempat. Padahal saya berharap dipindahkan ditempat ini, saya bisa lebih tenang dan nyaman tanpa ada gangguan dari manusia-manusia bodoh itu. Nyatanya malah lebih ramai begini. Kita hanya dijadikan objek materi bagi orang-orang yang tak berkepentingan itu. Andai saya punya kaki, pasti saya sudah kabur dari sini sekarang,” ujar Si Jagur. “Apa gunanya sekarang kita ini? Kita sudah tak digunakan dalam peperangan lagi. Kita sudah menjadi bagian dari jejak sejarah yang begitu sakral. Kini tidak ada lagi peperangan secara fisik, yang ada hanya peperangan melawan pemikiran dan melawan perkembangan zaman yang sudah semakin edan ini,” ujarnya lagi.

“Memang, meriam kita kini sudah tidak bisa mengamuk lagi. Untuk melawan peperangan batin ini, kita tidak bisa apa-apa selain hanya berdiam diri menyaksikan tingkah laku mereka yang tak dimasuk akal itu. Tingkah laku yang kolot. Ya, kita harus terima nasib. Barangkali kita sudah ditakdirkan begini,” ujar Ki Amuk berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Mereka sudah buta. Padahal ukiran di tubuhmu itu bagian dari sasmita bagi mereka. Tentang iman dan takwa. Tapi, kenapa mereka menentang sendiri ukiranmu itu.”

“Sudahlah, tak usah diributkan. Bukankah kata Anda ex me ipsa renata sum (dari diriku sendiri aku lahir kembali)?”

***

“Orang-orang terkejut dan terheran-heran. Sosok Ki Amuk dan Si Jagur yang baru bertengger di depan museum selama dua bulan itu tiba-tiba menghilang entah ke mana. Pupus sudah simbol keakraban yang selama ini lekat di dada orang-orang itu. Padahal belumlah ada bukti dari mitos dan kekuatan gaib itu kepada mereka. Pupus sudah harapan-harapan mereka ingin cepat kaya dan memiliki anak. Tapi, itu tidak berlaku untuk Kakek.”

“Kenapa tidak berlaku untuk Kakek? Kenapa mereka bisa hilang, Kek. Ke mana kedua meriam itu sekarang?” Tanya Sodik berbondong-bondong.

Kakek bangkit dari kursi. Ia berjalan menghampiri lukisan itu. Menatapnya.

“Di sinilah mereka sekarang,” ujar Kakek tiba-tiba sambil menunjuk lukisan itu .

“Maksud Kakek?”

“Ya, berkat mereka Kakek punya rumah ini. Berkat mereka Kakek bisa membeli satu-satunya lukisan termahal yang sakral di Banten ini. Lukisan ini hasil karya turun-temurun dari para sultan. Oh, ya, kamu juga harus tahu, tanpa mereka tak mungkin nenekmu bisa melahirkan ibumu. Tapi, ibumu tak butuh mereka untuk melahirkanmu karena meriam itu sudah keburu hilang. Itu tak masalah, Kakek percaya dengan hanya memandangi dan menghayati lukisan ini saja orang-orang bisa hamil dan bisa kaya. Sayangnya, mereka tidak tahu itu.”

“Lantas, bagaimana dengan perjanjian dengan Pemerintah DKI Jakarta itu?”

“Kakek tidak tahu untuk urusan itu.”

“Terus, yang Kakek ceritakan tentang lukisan ini, fakta atau mitos?”

“Ini bukan perkara fakta atau mitos. Ini wasiat dari Kakek. Kamu sebagai cucu harus percaya akal hal itu dan kamu harus menjaganya.”

Sodik tertegun sambil mengerutkan alis. Ia menghentikan catatannya. Ia langsung pergi tanpa pamit. Gubrakan pintu terdengar amat keras. Kakek menoleh ke arah Sodik sambil tersenyum sinis. Perlahan-lahan Kakek kembali menatap lukisan itu, dan seketika ia terperanga, wajahnya kosong melompong seperti orang yang hendak kesurupan. Ia tak menemukan sedikit pun goresan cat yang tampak dalam bingkai lukisan itu.

 

                                                                                                   Serang, 21 Agustus 2013

 

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler