Skip to Content

Ne Bonong

Foto Gellis Deka Salaqi

                                                         Ne Bonong

CERITA INI berasal dari Sumbawa. Pada zaman dahulu, hiduplah seorang laki-laki yang tampak pula seperti orang bodoh, tetapi panjang akalnya. Si pandir yang cerdik mungkin sindiran itu lebih patut untuknya. Ia tidak beristri dan tidak pula punya keluarga. Hidupnya sebatang kara. Ne Bonong demikian nama laki-laki itu biasa dipanggil sehari-hari.

Di samping tampak seperti orang bodoh, maka pemalas adalah sifat lain yang melekat pada diri Ne Bonong. Ia tidak mau bekerja keras. Segala perkara  mau gampangnya saja. Begitulah riwayat hidupnya.

Banyak sudah korban menjadi sasaran tipu dayanya. Meskipun begitu sifat dan tabiatnya, Ne Bonong tidak pernah dicibir dan menjadi buah bibir karena sepak terjangnya acap kali membuat orang takjub. Padahal sesungguhnya, di balik semua sepak terjangnya itu terkandung maksud yang tersembunyi. Demikianlah cara Ne Bonong memanfaatkan kebodohannya untuk memperdayai orang lain.

Dasar Ne Bonong si pandir yang cerdik. Meski telah berusia lanjut dan di kepalanya telah mulai ditumbuhi banyak uban, namun sifat dan perilakunya tak juga kunjung berubah. Ne Bonong semakin tak tahu diri saja. Tua-tua keladi, kata peribahasa untuk  menggambarkan tabiatnya itu. Semakin tua Ne Bonong semakin menjadi-jadi pula akalnya.

Demikian pada suatu siang bolong. Matahari bersinar sangat terik hingga menimbulkan rasa haus di tenggorokan. Di tengah jalan Ne Bonong bertemu Ne Kodong, yang baru pulang dari kebunnya. Ia tengah memikul empat butir kelapa muda. Nah, ini dia, pikir Ne Bonong sejurus. Ne Kodong adalah seorang yang juga bodoh, tapi sangat jujur hatinya. Telah beberapa kali Ne Kodong ditipu daya oleh Ne Bonong. Tapi naif, Ne Kodong tak pernah merasa ditipu oleh Ne Bonong.   

Maka, pucuk dicinta ulam pun tiba. Seketika terbitlah air liur Ne Bonong melihat kelapa muda di atas pikul Ne Kodong. Jakun Ne Bonong tampaklah naik turun. Terbayang nikmatnya minum air kepala muda itu di siang hari yang terik itu. Pasti menyegarkan tenggorokan.

Aih, Ne Kodong. Hendak kemana gerangan kaubawa kelapa muda itu?” tanya Ne Bonong riang. Dikulumnya seulas senyum untuk Ne Kodong.   

“Istriku lagi ngidam, Ne Bonong. Ia ingin minum air kelapa muda,” jawab Ne Kodong jujur. Sudah lama Ne Kodong ingin menimang  seorang anak sebagai penerus keturunannya kelak. Umur Ne Kodong telah pula sepantar umur dengan Ne Bonong. Gelisah hati Ne Kodong menanti hadirnya seorang buah hati yang tak kunjung-kunjung itu. Siang pun malam mereka tak pernah lelah berdoa pada Tuhan, memohon agar segera diberi momongan.

Ketika pada waktunya, istri Ne Kodong tiba-tiba memproklamirkan diri tengah mengidam. Pada layaknya perempuan ngidam pasti banyak keinginannya. Begitupun dengan istri Ne Kodong. Ia ingin meminum air kelapa muda.

Berbunga-bungalah hati Ne Kodong mendengar berita istrinya itu tengah mengidam. Ia sangat menginginkan seorang anak laki-laki tumbuh dalam rahim istrinya. Maka, segala permintaan istrinya pun segera dikabulkannya pula.

Tak ambil waktu lama, Ne Kodong bergegas ke kebunnya demi memenuhi permintaan istrinya. Ia memetik beberapa butir kelapa muda. Dan, di tengah jalan, sepulangnya dari kebun itulah Ne Kodong bertemu Ne Bonong.           

“Jadi istrimu mengidam?” tanya Ne Bonong takjub. “Aih, sungguh sebuah berita gembira. Tapi, tak berkecil hatikah kau jika kuramal jenis kelamin si jabang bayi dalam rahim istrimu itu?”

Ne Kodong kena jerat muslihat Ne Bonong. Kontan ia mengangguk setuju. Perasaannya senang bukan kepalang. “Tentu saja boleh, Ne Bonong!” katanya. 

Ne Bonong senyam-senyum. Tengak-tengoklah dia ke kiri dan ke kanan. Tampaklah cuping hidung Ne Bonong kembang kempis; nges nges

Aih, kaulihatkah di sana ada pohon rindang? Marilah kita ke sana, Ne Kodong. Aku akan bersemadi sejenak di sana untuk mengetahui jenis kelamin jabang bayimu,” ajak Ne Bonong.

Tanpa pikir panjang Ne Kodong segera menyetujui usul Ne Bonong. Rasa senangnya membuncah seketika. Ne Kodong inginlah segera mengetahui jenis kelamin si jabang bayi. Semoga laki-laki, harap Ne Kodong di dalam hati. Kepada Ne Bonong ia melempar senyum. Mereka lalu menuju ke bawah rindang pohon dengan langkah gegas, akhirnya.

Ne Kodong segera menurunkan kelapa yang tengah dipikulnya. Kedebrak suara kelapa muda itu menyentuh tanah. Ne Bonong pasang muka kaget.

Aih, janganlah kaubanting kelapa muda itu,” Ne Bonong melotot pada Ne Kodong. “Bukankah kelapa itu kauperuntukkan istrimu?”

Ne Kodong mengangguk. Wajahnya tiba-tiba murung. Tanpa kata-kata ia menyesali perbuatannya.

“Wahai sahabatku, Ne Kodong,” Ne Bonong menepuk-nepuk pundak Ne Kodong. “Seharusnya kauperlakukan kelapa muda itu dengan lembut. Jangan kaukasari begitu.” Sendu sorot mata Ne Bonong menatap Ne Kodong. Alamak!

Ne Kodong tambah murung.

“Perlakukan kelapa muda itu layaknya kauperlakukan anakmu sendiri. Aih, Ne Kodong. Sesungguhnya si jabang bayimu yang menginginkan air kelapa muda itu. Bukan istrimu,” lanjut Ne Bonong penuh hikmah.

Ne Kodong trenyuh. Sudut matanya menyimpan bening air mata.

Aih, Ne Kodong. Baiklah aku akan bersemadi sejenak untuk mengetahui jenis kelamin si jabang bayimu. Janganlah kaupotong kata-kataku. Lakukan saja apa yang kuperintahkan. Mengertikah kau itu?” Ne Bonong lalu duduk bersila sembari memejamkan mata. Bersemadi layaknya.

Semangat Ne Kodong meletup kembali. Bercahaya wajahnya. Akan tetapi, diam-diam Ne Kodong menyusut titik-titik air mata yang mengambang di sudut matanya.

Sejurus lamanya ke depan, Ne Kodong menunggu apa yang diperintahkan Ne Bonong dalam semadinya itu. Dua menit berlalu. Ketap-ketip kelopak mata Ne Bonong. Ne Kodong menunggu isyarat itu dengan perasaan harap-harap cemas. Keringat mengucuri pelipisnya.

Aih,…!” pekik Ne Bonong.

Ne Kodong terkesiap.

Auh, aih…!” Ne Bonong tambah memekik.

Ne Kodong melonjak. Sontak pasang kuda-kuda seperti pemain pencak silat siap menahan serangan lawan.

Aih, siapkan dua butir kelapa itu. Pilih yang paling muda. Ingat yang paling muda. Ini perintah!” perintah Ne Bonong dalam pekiknya.  

Ne Kodong gelagapan. Sigap, disiapkannya dua butir kelapa seperti yang diperintahkan Ne Bonong.

“Ambil parang lalu potong dan lubangi kelapa itu. Aih, lucu sekali si jabang bayimu. Aih, geli sekali, aiiiihhh!” Ne Bonong menggelinjang seperti terserang rasa geli yang hebat. Laksana kerasukan roh halus Ne Bonong menari-nari. Beringkrak-jingkrak sambil mulutnya bernyanyi; nang ning nung …

Ne Kodong berdebar-debar melihat tingkah Ne Bonong. Bertanya-tanya di dalam hati; mengapa Ne Bonong berkelakuan seperti itu? Tapi, jangan dulu. Ia tak hendak pula bertanya karena hal itu dianggapnya pamali. Ne Kodong menelan ludah. Gemetar tangannya memegang parang. Dua butir kelapa muda itu akhirnya  dilubanginya dengan tangan gemetar.

Aih, menarilah bersamaku. Ayolah hibur si jabang bayimu. Aih, aih,” Ne Bonong semakin berapi-api.

Ne Kodong bingung.

“Cepat!” hardik Ne Bonong.

Ne Kodong gelagapan.

“Pegang tanganku,” Ne Bonong menjulurkan tangannya.

Ne Kodong kikuk. Tak ada pilihan lain. Ne Kodong menurut saja seperti kerbau dicucuk hidung. Dari kejauhan tampaklah dua orang laki-laki itu menari-nari amatlah lucunya. Aih!

Selang beberapa saat lamanya…

“Stop!” Ne Bonong tiba-tiba memberi komando. Sontak ia menghentikan gerakannya. Demikian pula dengan Ne Kodong.  

Aih, Sahabatku,” ujar Ne Bonong melanjutkan, “Dalam semadiku itu aku melihat si jabang bayimu itu. Aih, lucunya. Menggemaskan sekali!”

Ne Kodong sumringah.

“Untuk mengetahui jenis kelamin si jabang bayimu itu,” Ne Bonong tarik napas. “Aih, kita diperintahkan untuk meminum air kelapa muda itu, Ne Kodong. Jika air kelapa muda itu terasa manis dan gurih, berarti si jabang bayi berjenis kelamin perempuan,” ujar Ne Bonong sambil menerawangi langit. Kembali ia menarik napas dalam-dalam. Sejenak.

“Namun...,” Ne Bonong melanjutkan kata-katanya, “Kalau air kelapa itu terasa tidaklah begitu manis berarti bakal calon anakmu itu seorang laki-laki. Aih, pahamkah kau, Ne Kodong?!”

Ne Kodong mengangguk. Ditatapnya dua butir kelapa muda yang telah ia lubangi itu dengan perasaan berdebar. Ne Kodong ingin anak laki-laki.

Jeda yang sangat mendebarkan sekaligus menjengkelkan.

“Janganlah kauberkecil hati, Sahabatku,” Ne Bonong menyentuh pundak Ne Kodong. “Untuk mengetahui jenis kelamin si jabang bayimu, marilah kita cicipi air kelapa muda itu. Ingat teguk pelan-pelan. Nikmati sensasinya!”

Ne Kodong menarik napas. Laksana robot yang dikendalikan oleh remote control, ia menurut. Dicicipinya air kelapa muda itu seteguk. Cuma seteguk!

“Maniskah?” tanya Ne Bonong menahan rasa haus.

Ne Kodong mengangguk. “Perempuan!” katanya sambil menahan napas.

“Belum tentu,” tampik Ne Bonong berkilah.

“Rasalah!” Ne Kodong mengangsurkan kelapa itu. Siasatnya mengena.

Ne Bonong meraihnya. Diminumnya air kelapa itu dengan penuh selera, hingga tandas airnya. Lalu…

“Laki-laki!” Ne Bonong berteriak penuh kemenangan. 

Ne Kodong mengangkat alisnya. Dipasangnya telinga baik-baik: “Apa katamu, Ne Bonong? Laki-lakikah!?” Ne Kodong menginginkan seorang anak laki-laki tumbuh dan lahir dari rahim istrinya. Terbaca semburat kegembiraan itu pada air mukanya.

“Laki-laki,” tegas Ne Bonong.

Ne Kodong melonjak-lonjak sambil bernyanyi; nang ning nung …

“Masih ada satu kelapa muda lagi yang belum kaucicipi airnya. Aih,” Ne Bonong mengambil kelapa itu dan diberikannya pada Ne Kodong.

            Ne Kodong menghentikan aksi lonjaknya. Mulutnya pun sontak terdiam. Diliriknya Ne Bonong. Ia nunut. Diteguknya air kelapa muda itu seteguk seperti yang dilakukannya pada kelapa pertama. Hanya seteguk. Ia cecap rasa airnya. Binar sorot mata Ne Kodong  menyala. “Laki-laki,” teriaknya.

            “Belum tentu,” sergah Ne Bonong pura-pura tak percaya.

            Ne Kodong merengut. “Laki-laki, Ne Bonong.”

Ne Bonong menggeleng, “Belum tentu!”

“Rasalah air kelapa ini. Terasa tak manis,” urai Ne Kodong.

Ne Bonong tak ambil waktu lama. Disambarnya kelapa muda masih penuh air itu dari tangan Ne Kodong. Rasa hausnya belum benar-benar enyah. Secepat kilat ia tenggak air kelapa itu sampai tuntas. Puas rasanya.

Ne Bonong bersendawa. Rasa hausnya terobati sudah. Telah ia tandaskan air kelapa segar dua butir. Kenyang perutnya tak terkira-kira.

“Laki-laki, bukan?” Ne Kodong menunggu komentar Ne Bonong.

Ne Bonong menarik napas. Tersenyum penuh kemenangan.

“Bagaimana? Laki-lakikah anakku itu, Ne Bonong?” tanya Ne Kodong disertai sorot mata lugunya.

Ne Bonong mengangguk; “Ya, laki-laki!”

Ne Kodong berteriak senang. “Marilah sejenak kita rayakan kehadirannya, Ne Bonong!”

Sorot mata Ne Bonong menyatakan setuju. Maka, tanpa dikomando, Ne Kodong menyambar parangnya. Melubangi dua butir kelapa sisanya. Ditebasnya satu persatu kelapa muda yang sudah tak berair itu hingga terbelah dua. Mereka memakan isi kelapa muda itu sambil bercerita bahwa sudah lama sebenarnya Ne Kodong menginginkan seorang anak laki-laki. Istrinya pasti gembira mendengar si jabang bayi dalam rahimnya itu berjenis kelamin laki-laki. Aih, senangnya.

“Puas hatiku, Ne Bonong. Anakku laki-laki. Lama sekali kami menunggu kehadirannya!” kata Ne Kodong  dengan sinar mata takjub menatap Ne Bonong.

Ne Bonong diam sambil menelan ludah. Seperti tengah memecahkan suatu masalah berat, ia menatap juga ke arah Ne Kodong dengan sorot mata iba. Aih, Sahabatku. Dasar engkau lebih bodoh dariku. Tidak pula engkau mau belajar dari pengalamanmu. Begitu mudahnya engkau percaya padaku. Padahal telah berkali-kali aku menipumu. Dasar bodoh, umpat Ne Bonong dalam hati. Lalu tersenyum lirih menatap Ne Kodong berangkat pulang sambil bersiul-siul riang tanpa membawa kelapa sebutir pun. Kasihan Ne Kodong kena tipu lagi…***


NB : Pernah diikutsertakan dalam lomba menulis cerita rakyat tahun 2011, penyelenggara KOSA Mataram.

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler