Skip to Content

ORANG-ORANG SERIGALA

Foto eswa achmad

ORANG-ORANG SERIGALA

Sri Wintala Achmad

 

Dikatakan mimpi, namun di alam nyata. Dikatan nyata, namun serasa di dunia mimpi. Bagaimana tidak? Sewaktu tersesat di perkampungan di wilayah Kalurahan Nguditentrem, aku menyaksikan seluruh orang yang merangkak seperti serigala. Kedua mata mereka menyala bara serupa mata iblis. Lidah mereka menjulur-julur berliur menjijikkan. Bila marah, mereka meraung-raung. Mencakar-cakar tubuhnya sendiri hingga berdarah.

Semakin aku dibuat terheran-heran. Saat mengetahui, kalau orang-orang serigala itu tidak memakan nasi, sayur, dan buah. Mereka memakan besi, kaca, dan plastik. Terkadang mereka memakan sampah dan kotoran yang keluar dari duburnya sendiri. Lebih menyeramkan, mereka memakan bayi yang baru dilahirkan istrinya. Sungguh! Ini perkampungan iblis yang belum pernah diberitakan televisi dan koran. Diunggah oleh pengguna twitter atau facebook.

Sejak menyerupai sarang iblis, kampung yang kemudian dikenal dengan Kampung Serigala itu terisolir dari kampung-kampung lainnya. Hanya orang-orang bernyali besar yang nekad datang ke kampung itu. Bukan sekadar melihat ketandusan sawah dan ladangnya hingga tidak dapat ditanamai padi, ketela, jagung, sayuran, dan buah-buahan; namun seluruh penghuninya.

Lambat laun, persediaan makanan di Kampung Serigala ludas tidak tersisa. Karenanya, orang-orang serigala mulai nekad mengadu nasib di kampung-kampung sekitarnya. Mengais-ngais gunungan sampah untuk mencari besi, kaca, dan plastik. Dengan membabi buta, mereka mencuri bayi-bayi yang baru dilahirkan ibunya untuk dimangsa.

Menanggapi laporanku tentang petaka yang melanda kampung-kampung lain di Nguditentrem, Lurah Dulkemit bergegas bertindak. Mengerahkan seluruh anggota Hanra dan Hansip untuk menghabisi orang-orang serigala yang berkeliaran di wilayah kelurahan itu. Sebagai warga yang terbilang baru, aku turut membantu menyukseskan misi itu. Meskipun harus bertaruh nyawa. Mengingat mereka lebih berbahaya dari harimau, singa, atau buaya liar.

***

 

Siang-malam, orang-orang Kalurahan Nguditentrem selalu berjaga-jaga di setiap tepian kampung mereka masing-masing. Tidak hanya kampung-kampung lainnya, seluruh warga Kampung Pasiraman di mana aku tinggal selalu bergiliran untuk menjaga keamanan dari ancaman orang-orang serigala.

Pada malam bulan penuh, aku mendapatkan giliran jaga di Poskamling. Ditemani Kyai Miswan, Kontet, Panjul, dan Gondes; aku menjadi tidak gentar untuk menghadapi bahaya yang kemungkinan muncul malam itu. Terlebih kampak, linggis, dan pedang tidak jauh dari jangkauan.

“Sesungguhnya aku tidak tega membunuh orang-orang serigala itu!” Kyai Miswan memecah suasana senyap. “Seharusnya kita mendoakan, agar mereka dapat terbebas dari kutukan. Kampung Serigala kembali menjadi sejahtera. Sawah dan ladang mereka dapat kembali ditanami padi, jagung, ketela, sayuran, dan buah-buahan. Hingga mereka tidak lagi memakan besi, kaca, dan plastik. Hingga mereka tidak lagi memangsa bayi. ”

“Kenapa mereka kena kutukan, Kyai?” Aku semakin penasaran. “Kenapa kampung mereka bertanah tandus?”

“Semula Kampung Serigala dikenal dengan nama Kampung Ngudimakmur. Karena kemakmurannya, orang-orang di sana terninabobokan. Mereka tidak menjaga sawah dan ladang mereka yang subur. Sebaliknya, mereka memanfaatkan hasil bumi yang berlimpah untuk ditukar dengan uang. Uang itu, mereka tukar dengan kenikmatan dunia. Bermain perempuan hingga banyak anak kharam dilahirkan. Mabuk tuak. Ngibing dengan sindhen tayup. Bersabung jago. Berjudi kartu, dadu, dan rolet.”

“Sungguh sangat kasihan orang-orang itu.”

“Karenanya aku tidak setuju dengan kebijakan Dulkemit yang ingin membunuh mereka. Kejahatan jangan dilawan dengan kejahatan. Kejahatan harus dilawan dengan kebajikan. Bukankah api selalu padam oleh air?”

“Aku juga tidak setuju dengan pendapat Kyai.” Gondes yang masih suntuk bermain remi dengan Kontet dan Panjul itu menyela pembicaraan. “Orang-orang serigala harus dibunuh. Mereka telah memangsa bayi-bayi kami. Hutang nyawa dibalas dengan nyawa.”

“Sabar! Sabar!”

“Kyai Miswan bisa sabar, tapi aku tidak.” Gondes membanting kartu King di ujung deretan kartu yang mengular di atas tikar. “Sebagai ayah yang bayinya dimangsa orang serigala, aku tidak bisa bersabar. Aku tidak bisa tidur nyenyak, sebelum mencabik-cabik tubuh orang serigala yang memangsa bayiku.”

Suasana mendadak senyap. Di tengah kesenyapan itu, terdengar raungan orang serigala dari kejauhan. Tanpa berpikir panjang; Gondes, Kontet, dan Panjul yang menghentikan permainan reminya itu meninggalkan Poskamling. Demikian pula, aku. Kami yang membawa senjata berjalan cepat ke arah sumber suara raungan. Sementara, Kyai Miswan hanya tinggal di Poskamling.

Menapaki jalan berumput yang mulai basah embun, kami serasa pahlawan yang akan membasmi kejahatan. Saat mendekati sumber suara raungan, kami melihat orang-orang berseragam Hansip dan Hanra yang berlarian tunggang langgang memasuki kampung Pasiraman. Salah seorang bilang, “Jangan hadapi mereka! Bahaya! Ratusan orang serigala menculik Lurah Dulkemit. Mereka mencabik-cabik tubuhnya, sebelum beramai-ramai memangsanya.”

Mendengar kabar dari orang itu, nyali kami sontak melempem seperti kerupuk di kubangan kuah. Bersama orang itu, kami bergegas mengambil langkah seribu. Gondes, Kontet, dan Panjul pulang ke rumah masing-masing. Aku yang masih punya nyali kembali ke Poskamling untuk menemui Kyai Miswan. Namun, ia sudah tidak ada di sana.

***

 

Pagi hari, Kalurahan Nguditentrem geger. Seluruh warga membicarakan tentang peristiwa tewasnya Lurah Dulkemit yang diculik, dicabik-cabik, dan dimangsa orang-orang serigala. Sebagimana mereka, aku pun memerbincangkan peristiwa itu di rumah Kyai Miswan. Namun, orang yang dituakan di Kampung Pasiraman itu tampak tenang. Seolah ia menganggap bahwa kematian lurah Dulkemit itu adalah wajar.

“Tampaknya Kyai tidak merasa berduka atas meninggalnya lurah kita?”

“Dulkemit telah memetik buah dosa yang dilakukannya.” Kyai Miswan sejenak mengisap rokok dan menghembuskan asapnya lewat lubang hidung dan mulutnya. “Manakala Kampung Serigala dalam kesejahteraan, Dulkemit yang telah menjadi lurah selama dua periode itu selalu mengambil kesempatan untuk membeli hasil buminya dengan harga murah. Mengizinkan orang-orang di sana untuk pesta tuak dengan nanggap tayub, main perempuan, sabung jago, dan berjudi. Sesudah kampung itu terkena kutukan hingga warganya berubah menjadi orang-orang serigala, ia tidak berusaha membebaskannya. Sebaliknya, ia memiliki rencana besar yang tidak diketahui semua warga Nguditentrem.”

“Rencana apa itu?”

“Membinasakan orang-orang serigala. Bila mereka telah binasa, Dulkemit akan menjual wilayah Kampung Serigala kepada pengusaha terkaya yang memiliki hubungan erat dengan pajabat tinggi negara.”

Aku terperangah seusai mendengar jawaban Kyai Miswan. Karenanya, aku tidak menyertai beberapa warga untuk melaporkan kasus tewasnya lurah Dulkemit ke kantor polisi. Aku pun tidak membantu, manakala ribuan orang berseragam dan bersenapan membinasakan orang-orang serigala. Aku hanya bisa mendoakan agar mereka dapat tinggal di negeri arwah yang paling damai.

***

 

Setahun kemudian. Aku lebih dibuat terperangah, saat menyaksikan Kampung Serigala menjadi kawasan pabrik. Konon pabrik-pabrik yang dibangun di atas genangan darah orang-orang serigala itu milik pengusaha terkaya. Orang-orang yang memiliki relasi dekat dengan pejabat tinggi negara.

Sejak pabrik-pabrik itu beroperasi, orang-orang Nguditentrem mulai suka minum air limbah. Memakan plastik, semen, diterjen, dan pengawet mayat. Hingga kelak, mereka akan serupa mayat-mayat yang berkeliaran sebagai vampir atau drakula. Kebiadaban mereka akan melampaui orang-orang kanibal yang tega memangsa saudara, istri, dan anak-anak mereka sendiri.

 

Cilacap, 25 Mei 2015

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.