Skip to Content

PEMOTONG KAKI YANG BISA MEMOTONG KAKI SIAPA SAJA

Foto encep abdullah

 dimuat di Radar Banten, 18 Agustus 2013


Golok yang sedikit berkarat itu membelah kedua pergelangan kaki Rusdi. Darahnya meluber. Mengalir dari toilet biliknya ke aliran got yang penuh dengan jentik-jentik nyamuk. Teriakannya membikin kelelawar di luar rumahnya terbang berseliweran ke berbagai arah yang entah. Baginya seakan tak ada lagi dunia. Lamat-lamat buram. Matanya perlahan-lahan terpejam.

“Dengan begitu, aku akan bisa cepat kaya,” sembari mengelap simbahan darah di goloknya dengan kain.

“Tapi, Mas, tak begini juga caranya. Dia itu anakmu, anakmu, Mas, anakmu… sadar Mas, sadar …” sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya yang terikat di sebuah kursi—mencoba menengok keadaan anaknya yang berada di luar. Air matanya membasahi pipi dan bajunya, bahkan tembus ke pakaian dalamnya.

“Persetan dengan anak kandung. Urusan perut tak bisa tawar-menawar!”

“Sekalian saja kakiku juga kau potong!”

“Ah, diam kau!”

Sebulan yang lalu, Mardi berkeliling kota. Ia bosan memungut barang-barang rongsokan di tempatnya. Tempat yang tak berlampu. Tak bersinyal hanphone. Tak berjejak kendaraan roda dua, apalagi beroda empat. Permukiman yang sudah ada sejak tujuh tahunan tahun itu memang tak berpenduduk banyak. Barangkali hanya terdapat dua puluh kepala keluarga. Permukiman yang merupakan pemekaran itu berjarak lima kilometer dari kantor kelurahan.

Mardi tak berjalan sendiri. Ia bersama rekannya yang sudah berkali-kali main ke kota. Mereka berjalan kaki. Wajah Mardi memerah. Napasnya tersengal-sengal. Ia tak biasa jalan sejauh ini. Barangkali sudah hampir lima jam perjalanan. Kakinya yang hanya menggunakan sandal jepit lusuh semakin tampak memerah.

 Orang-orang kota menutup hidung kala mencium bau baju mereka. Baju yang barangkali sudah dua minggu tak dicuci. Mardi, melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang baru. Matanya terbelalak kala melihat orang-orang yang makan enak dari balik kaca mal. Melihat anak-anak kecil makan es krim. Air liurnya menetes. Ia melihat berbagai macam kesemrawutan. Kepalanya lama-lama mumet menatap wajah kota. Polusi udara dari knalpot-knalpot itu membikinya batuk yang tak kunjung reda.

“Saya capek,” sambil ngos-ngosan, “sebenarnya kita mau cari apa?” sambungnya lagi.

“Aku mau bertemu dengan temanku.”

“Di mana?”

“Ya, kurang lebih dua jam lagi dari sini.”

“Apa?”

“Iya, dua jam lagi.”

“Sudahlah, cukup. Saya tunggu di sini saja.”

Kini Mardi sendiri. Ia duduk di depan toko yang sudah tak digunakan lagi. Matahari di atas kepalanya akan segera lenyap. Ia mengusap wajahnya dengan sapu tangan. Keringat di wajahnya mengering. Tampak seraut wajah yang lusuh dan kumel. Sapu tangannya ia letakkan di depannya. Ia  melendehkan kepalanya ke tembok. Matanya terpejam.

***

            Di perempatan lampu merah itu, Mardi menunggu cukup lama. Mengantre lampu merah yang sudah lima kali ganti, sedangkan ia masih berada di belakang lima buah mobil—tiga truk dan dua sedan. Di tempat itu, para pengemis dan pengamen ala-ala metal berkeliaran ke sana ke mari. Mereka beberapa kali mengetuk kaca mobil Mardi. Mereka menengadahkan tangan sambil memelas. Mardi teringat akan masa lalunya walaupun menurutnya, profesinya itu lebih mulia ketimbang apa yang ia lihat sekarang. Ia memberikan beberapa rupiah yang cukup tinggi. Berkali-kali ia memberi rupiah itu kepada mereka dari balik kaca mobilnya. Barangkali sudah habis ratusan ribu rupiah yang dikeluarkan dari dalam dompetnya.

            “Ah, biarlah. Mereka juga butuh makan.”

            Pada lampu merah selanjutnya, ia iseng membeli koran. Sekilas judul dibacanya di halaman depan, Gaji Pengemis di Kota Serang Melebihi Gaji Para Pengusaha. Matanya terbelalak. Ia membaca koran itu dengan seksama hingga titik akhir.

            “Sialan! masak gajiku sebulan lebih kecil daripada pengemis-pengemis macam itu! Sompret!”

            Beberapa pengemis berulang kali mengetuk kaca mobil Mardi. Namun, tak sedikitpun wajah Mardi menoleh.

“Enak saja! Kalian pikir cari uang gampang!” Wajahnya semakin sinis.

Pengemis itu menggedor kaca mobilnya semakin keras. Semakin keras. Dan semakin…

            Mardi terbangun dari tidurnya. Uang recehan berserakan di atas sapu tangannya. Ia mengusap-usap kedua matanya. Uang-uang itu masih juga ada di depan matanya. Seketika ia langsung berdiri. Ia melihat kiri-kanan. Tak ada sesiapa. Hanya mobil-mobil saja yang berlalu lalang di depannya. Ia jingkrak-jingkrak kegirangan. Seperti ketiban durian runtuh.

            “Mimpi apa aku barusan…,” ujarnya sambil memegang lembaran uang itu, “gampang sekali ternyata mencari uang. Tapi, tapi… mimpi itu… kan, aku jadi orang kaya, kan, aku benci pengemis. Ah, biarlah. Itu kan hanya mimpi,” ujarnya lagi.

            Malam sudah menunjuk pukul sembilan. Kawannya yang sedari tadi pergi belum juga kembali. Ia agak kebingungan hendak ke mana kakinya menjelimpat.

            “Ah, biarlah aku pulang sendiri saja besok pagi. Semoga jalannya masih ingat. Malam ini lebih baik aku mengitari sudut kota, mencari tempat untuk mencari uang. Seperti yang tak sengaja aku lakukan tadi.”

            Ia bertemu dengan beberapa pengemis di pinggir jalan. Ada pengemis yang hanya berkaki satu. Bertangan satu. Menggendong bayi. Menuntun kakek. Menuntun nenek. Dan bermacam wajah lagi. Mardi merasa ia paling sempurna di antara mereka.

“Pasti aku kalah melas dari mereka,” keluhnya.

Ia ikut mengemis di kerumunan orang-orang itu. Ia tak mendapatkan banyak uang seperti orang-orang di sampingnya. Tak ada yang bisa ia lakukan, selain berusaha berekspresi dengan wajah semelas-melasnya. Bajunya yang sedikit sobek, ia bikin tambah sobek lagi. Rambutnya diacak-acak biar terlihat kumel. Celana panjangnya dilepas. Kini ia tinggal pakai kaos oblong dan celana kolor yang di belakangnya ada tambalan.

“Sialan! Kok, orang-orang nggak ada yang memberiku uang.”

Ia berpikir lagi apa yang harus dilakukan supaya orang-orang tertarik untuk melihatnya. Tak jauh dari tempatnya, ada seorang penjual pisau. Ia membelinya. Ia pergi ke toilet. Tanpa pikir panjang, ia memotong jari-jari tangan kirinya. Ia menjerit. Ia ikat dengan perban meski darahnya masih bercucuran. Ia kembali ke tempat pengemis-pengemis itu dengan wajah meringis—baginya ini sakit yang teramat sangat.

“Tak masuk akal!” ujarnya.

Esok pagi, recehan yang didapatkan tak sebanyak orang yang berada di samping kiri-kanannya.

***

            “Mas, jangan bersikap konyol, Mas. Lepaskan tali ini! Lepaskan…!”

            “Aku tak punya cara lain.”

”Lebih baik kamu bunuh saja aku!”

“Sudah, diam!”

***

Rusdi sudah memucat. Virus karat golok Mardi membikin infeksi pada pergelangan kaki Rusdi—meski sudah dibungkus dan diobati. Mardi menggendongnya. Menancapkan erat sekali dipunggungnya. Ia kembali ke kota. Kembali mewujudkan mimpinya.

“Aku harus jadi orang kaya. Tanggung, aku sudah kehilangan jari-jari tanganku,” gumamnya.

Setengah perjalanan, Mardi merasakan dingin dipunggungnya. Tak ada hembusan nafas Rusdi di lehernya.

“Sial! ini bocah pake mati segala.” Ia geletakkan begitu saja mayat anaknya—tak ada orang memang di sekitarnya.

***

            Mardi menghempaskan goloknya ke arah siapa pun yang ada di sekitarnya. Orang-orang lari terbirit-birit. Siapa pun yang kena di tangannya, pastilah kaki orang itu akan seketika ia potong. Tak mengenal siapa orang itu, baik saudara maupun aparat setempat. Seluruh warga geger seperti kerumunan semut yang di acak-acak di dalam toples gula.

            Tak ada yang dapat menghentikan ulah Mardi. Orang-orang takut mendekatinya. Apalagi menangkapnya. Sepanjang jalan pulang, barangkali ia sudah memotong 6 pasang kaki perawan, 4 pasang kaki anak-anak, 2 pasang kaki bayi, dan 8 pasang kaki lansia.

            “Kenapa, ya, dia?”

            “Entah.”

            “Sudah gila.”

            “Stres!”

Orang-orang disekitarnya mengira Mardi sudah tidak waras. Mardi pun menuju arah pulang ke rumahnya.

***

            “Mana anakku?”

            “Sudah mati.”

            “Bajingan kamu, Mas!”

            “Diam!”

            “Bajingan! Buka ikat tali ini, Mas!”

            Mardi mengambil pengasah golok. Ia mengasah goloknya di dapur. Bunyinya membikin ngilu kuping istrinya. Juga orang-orang yang berkerumun di sekitar rumahnya.    

“Mau apa lagi kamu, Mas?”

Tak ada jawaban dari Mardi selain bunyi asahan golok itu yang semakin keras. Semakin mengkilap. Semakin tajam. Semakin mengerikan. Dan golok itu bisa menyerang kaki siapa saja yang ia inginkan. Termasuk istrinya. Termasuk juga Anda!

 

     Serang, 04 Juli 2013      

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler