Skip to Content

TAQIN MAJID ǀ FIKSI ǀ KLUNTING!

Foto taqin majid

Klunting! Singkek terpelanting dari ngelangut pikirannya memandangi rumput liar yang merambat di pagar belakang rumahnya. Bunyi itu adalah penanda pesan masuk di handphonenya. Digeragapi saku celananya, tempat handphonenya berada. Tak ada SMS di layar handphonenya. Suara itu muncul darimana? Demikian Singkek bertanya.

***

Ide mematikan handphone untuk selamanya sebenarnya sudah lama mengendon di kepalanya. Tapi entah kenapa, gagasan itu belum terlaksana juga. Selama ini, bagi Singkek, handphone cukup menganggu kebebasan menikmati diri secara total.  Sebagai misal, lagi asyik-asyiknya Singkek merayakan kenangan yang seringkali terajut dengan angan, mendadak prosesi itu terhenti bunyi klunting yang kadang hanya mengabarkan pesan dari seorang teman yang isinya tak begitu penting. Lebih dari itu, pada tingkat kesadaran tertentu, ia merasa bukan dirinya lagi yang mengendalikan handphonenya, malah sebaliknya: dirinya yang dikendalikan oleh handphonenya.

Pernah ia mencoba mematikan handphonenya di malam hari. Sebab di siang hari, bagaimanapun juga, sebagai pemilik kios di bidang servis komputer, sekali waktu ada pelanggan yang membutuhkan jasanya hanya lewat pesan singkat. Malam-malam itu terasa nyaman bagi Singkek menikmati kesendirian. Namun, itu tak berlangsung lama. Sebab adakalanya, terutama di malam-malam yang begitu sepi -sepi yang tak menemani, sepi yang membantai-, ia merasa tergoda untuk menghidupkan handphonenya kembali. Barangkali, ada pesan dari seorang teman, sekedar iseng menanyakan kabarnya.

Setelah beberapa saat handphonenya menyala, Singkek menanti alat itu bersuara. Tetapi bunyi klunting tak kunjung menyapa. Ia keluar kamar menuju beranda rumahnya. Mudah-mudahan, batin Singkek, di kolong langit ada sepotong bulan untuk meredakan sepi tak tertahan.

Duduk-duduk menikmati asap rokok masuk keluar dari mulutnya, mata Singkek jauh menerawang gumpalan mendung menjadikan malam kian kelam. Sepi pun makin mencekam. Tak habis sebatang, Singkek kembali masuk ke dalam. Mendekati handphonenya terkapar di meja. Secara refleks tangan Singkek memencet tombol untuk memeriksa pesan masuk. Mendapati apa yang ia harapkan tak ada, sedikit keras ia melempar handphonenya ke tempat semula.

Merebahkan tubuh di atas kasur, Singkek mengupayakan diri tertidur. Tapi sepi yang menggerogoti jiwa bahkan mungkin raganya memaksa kesadarannya tetap terjaga. Dibacanya sebuah buku yang seringkali mampu mengalihkan kesepiannya, tetap saja sepi tak mau pergi. Sambil terus berusaha memejamkan mata, Singkek menyelami kesepiannya.

***

Satu-satunya hal yang masuk akal untuk menjelaskan dirinya suka kesendirian, demikian Singkek berpikir, adalah dengan siapa pun ia berada, bersama satu apalagi banyak orang, ia selalu merasa sendiri, sepi. Hal ini didasari kesepakatannya dengan ide seorang filosof-penyair yang ia kagumi, Muhammad Iqbal, yang menyatakan hakikat hidup adalah kesunyian. Lebih jauh Singkek menelusuri, jika Iqbal menyatakan gagasan itu setelah ditinggal mati istri tercinta, Singkek mengamini gagasan itu setelah bertahun-tahun yang lalu ditinggal mbojo oleh Nawang Yanti, satu-satunya perempuan yang dapat menumbuhkan cinta hingga tahap begitu murni, memberi tanpa menerima kembali.

Bagi Singkek, cintanya pada Nawang Yanti merupakan tragedi sekaligus komedi. Tragedi karena Nawang Yanti tak mencintainya. Meski begitu, dalam arti tertentu menjadi komedi sebab Singkek selalu mencintainya. Tragedi-komedi ini menjadi pondasi Singkek membangun rumah kesunyiannya, tempat dimana sepi terasa begitu nyaman, tempat dimana kenangan juga angan ia rayakan. Dalam perayaan ini, kecuali dirinya, orang lain tak pernah ada. Jika pun ada, orang itu adalah Nawang Yanti, itu pun dalam wujud bayang. Bayang dari lintas peristiwa di masa silam maupun kilas kejadian di masa depan.

Hingga pada tahap pemahaman tertentu, perayaan itu lebih menyerupai sebentuk kekonyolan yang sukar dijelaskan. Kenangan berkelindan menuju angan, angan berpangkal pada kenangan. Kepergian Nawang Yanti di masa silam menjelma kehadirannya di masa depan. Kenangan dan angan bersekutu dalam lingkar kekekalan. Kekekalan dari dua masa yang berlawanan. Kekekalan ini mengabaikan kenyataan kini: ia membutuhkan seseorang, ia dibutuhkan seseorang. Pengabaian akan membutuhkan dan dibutuhkan ini membuat ia bertahun-tahun kemudian betah bergumul dengan sepi, mencipta kesunyian.

Namun, seberapa khidmat kenangan maupun angan dirayakan, dua momen itu bukanlah kenyataan, setidaknya kenyataan di waktu sekarang. Kenyataannnya sekarang dirinya begitu sepi: sepi mengabaikan, sepi terabaikan.

***

Klunting! Singkek merasa terbanting dari hening pikirannya. Keresahan dibantai sepi sesaat tadi telah teratasi oleh bening pikirannya. Awalnya ia tak tergoda dengan bunyi  itu. Tetapi entah dari mana datangnya, sesuatu semacam bisikan meledek pikirannya. Barangkali, pesan dari perempuan yang suka iseng menanyakan kabarnya. Kali ini ia tak akan mengabaikannya, seberapa pun bosan ia menanggapi pesan-pesan perempuan itu, ia coba bertahan. Dengan cara ini, barangkali, sepi dapat dialihkan.

Dipencetnya tombol kotak masuk di layar handphonenya, penawaran bon pulsa dari layanan operator terbaca disana.

***

Klunting! Itu adalah bunyi yang ia tunggu-tunggu. Bukan itu, tetapi sesuatu di balik bunyi itu. Diperiksa layar handphonenya, tetapi pesan masuk tak ada. Suara itu muncul darimana?

Klunting! Belakangan ini Singkek sering mendengar bunyi itu. Tetapi ketika ia memeriksa layar handphonenya, pesan masuk seringkali tak ada. Ini menjadi awal bagi Singkek mulai meragukan kewarasannya.

(Taqin Majid_GALERI Workshop, 20.49 : 24/08/16)

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler