Skip to Content

Kumpulan Puisi "Buton dan Pertanyaa"

Foto Rahmat adianto

Buton dan Pertanyaan 

 

Sebelum mengenal Buton

jinakkan dirimu

siap jasadmu?

siapakah kau?

Sebab tasawuf nantimu di hadapanya-Nya

 

Kendari, 2017

 

Buton dan Pertanyaan 2

 

Benakmu terbentur pertanyaan tentang bentuk batu Keraton?

alif dan serumpunya memahat wolio, membesarkan orang buton

tak perlu gelisah, Wa Ode enggan datang mengulas kitab tembaga

di helai tubuhnya Buton merangkai sejarah dan membaca peradaban.

 

kenali jasadmu

ketuk pintu di pemukiman dalam jasadmu

tidak pula kau tau wujud tuhan

meski kau rabai seisi kepala

 

termenung, tamparan menyakitkan dari masa silam

berapa mata air yang menganak samudera

dari perempuan kau panggil ina?

 

akalmu kaku menjelam malingkundang episode baru.

 

Kendari, 2017

 

Kenangan Abadi Lewat Senyum

 

: Kepada Anna Marnita

 

Tak ada yang istimewa dalam puisiku, selain semilir senyummu.

di sebuah sore, langit memahat senja jingga

angin mewartakan bahwa senyuman itu terindah.

 

Jika jemariku mulai menulis tentang senyuman

seperti draf-draf yang tak habis kuceritakan

menjadi surat, bercerita tentang riak pantai

sebagian kisahku bersamamu

tepat saat kau tersenyum di mataku.

 

Kendari, 02 Desember 2017

 

Rahasia yang Gelisah 

 

Kepada : Sitti Khotimah

 

Pada nuansa pertama,

kau dulang aku dengan semilir hangatnya senyuman

kuraba inderaku

barangkali kuterkapar dalam khayal.

 

Kau wartakan rindu

kau tawarkan resah

sebab jawaban dari pertanyaan yang kusuguhkan

belum impas terjawab.

 

Entah gamang sandiwara

atau riak yang tersembunyi

dibalik geming bibir kerontangmu.

 

Kau mencoba menghindar

dari suasana yang sama

walupun sebenarnya kau tahu

dan memilih terperangah dalam gelisah.

 

Jika aku jadi kau

muara kita akan sama

berarak menuju asmara.

 

Kendari, 09 September 2018

 

 

 

Sepuluh November


Di Surabaya, dada-dada kekar terguncang

darah meraih-raih tanah

tangis bersandar di dada suami mereka

 

Siapa betah menyimak perih?

menikmati sendu dan menghayati duka

mengantongi luka-luka atas kepergian yang lupa pulang

bahkan kemarau tak sanggup meringkai air mata

 

Dan kau dapati mereka ibah tak berwujud

saban waktu mereka hanya akan bercerita pada ranjang-ranjang kosong

kenangan masih segar melambai pada air mata

malam menjelma rindu menjadi kisah suram

 

Pamflet-pamflet menguyur Surabaya

ribuan infantri mengalun ritme gamang

amuk lantang Bung Tomo dan kawan-kawan

adalah riak gelombang senandung perlawanan

menikam sepi sampai ke jantung kota

sebab hanya dua pilihan meneguhkan pendirian

Merdeka atau Mati”

 

Kendari, 30 Oktober 2018

 

Kenangan Abadi Lewat Senyum

 

: Kepada Anna Marnita

 

Tak ada yang istimewa dalam puisiku, selain semilir senyummu.

di sebuah sore, langit memahat senja jingga 

angin mewartakan bahwa senyuman itu terindah.

 

Jika jemariku mulai menulis tentang senyuman 

seperti draf-draf yang tak habis kuceritakan

menjadi surat, bercerita tentang riak pantai

sebagian kisahku bersamamu 

tepat saat kau tersenyum di mataku.

 

Kendari, 02 Desember 2017

 


Puisi tentang Buton, Asmara dan Kritik.

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler