Skip to Content

Mungkin Aku Lupa

Aku mungkin lupa

dimana ku simpan aroma hujan

yang kau beri pada ku waktu itu

Juga warna mata dan rona senyummu

 

Gadis Jalang

GADIS JALANG, 1

 

Di perempatan kota, sepasang mata perempuan jalang menyala

senyum-senyum mungilnya hangus terbakar tanduk-tanduk kerisauan

Sembunyikan Waktu

Bayangmu yang menyapaku dalam setiap malam.

membuat hati menjadi risau karena rindumu.

ku tuliskan goresan pena untuk memanggil namamu.

PUISI-PUISI SRI WINTALA ACHMAD

 DALAM SEMBAYANG

 

Melolongkan doa seperti srigala

Atas arakan awan tipis di bawah purnama

Mega Dini SariMungkin Aku LupaJoan UduGadis Jalang
annisa rizka roselinaSembunyikan Waktueswa achmadPUISI-PUISI SRI WINTALA ...

Karya Sastra

Dua Ratus Kalimat Cinta untuk Mey

Lantunan ayat-ayat cinta itu kembali hadir dalam kemarau hatiku yang kian gersang, dua ratus ayat cinta itu menggantikan sembilan puluh delapan harapan yang hanya menjadi kenangan yang kian menyesakkan. Kini seratus dua harapan baru telah menjemputku untuk menjadi wanita yang paling sempurna setelah jubah hitam sempat menyelimutiku saat aku merasa benar-benar rapuh.

damai

kedamaian

keheningan malam takkan pernah menghilang.

sunyi, merambat pada jiwa yang sendiri.

DI ALTAR PEMEDAL AGUNG

Langit  terdiam memainkan masa silam

menatap sunyi para leluhur

diantara bongkahan patung patung

dan lumut lumut yang tertahan

DAUN MANGGA

Melihatmu
seperti aku kembali pada hijau yang tertendang 
di dalam gedung berkardus-kardus
riuh dengan celoteh pekerja perempuan 

KETIKA POLITISI BERPUISI

ketika politisi berpuisi

alih alih orasi

caci dan maki

ujung jalan kita

akan kutemukan kau diujung jalan ini

jalan yang sedang kulalui

jalan yang kau lewati

Malady of The Soul

Kepada Alanna,


19 tahun berlalu,

dan sebuah pertanyaan abadi membawaku padamu :

Puisi Moral Nominal

Moral Nominal

 

Apa ini? Ku saksikan tiap hari

Politisi bernyanyi

Polisi menari

Pejabat saling maki

 

Angkara ( penantian telah usai )

Suatu malam dengan cahaya yang remang, di atas panggung tampak seorang Pria/wanita sedang duduk termenung.

Sementara gerak tubuhnya menandakan bahwa ia sedang membutuhkan sesuatu.

 

Angkara : Di antara langit serta selubung tanah, aku tetap menunggu dalam malam dan kepedihan.

Berontak lah Sahabatku

Siap! Aku pasti akan menyelesaikan ini dengan sempurna, kalimat itu kiranya yang pas untuk menafsirkan raut wajah Gandi yang tampak tegas sekali. Aku menghampirinya dan kemudian berbisik kepadanya.

" Apakah kau sudah benar - benar yakin ",tanyaku berbisik

Ia menatap tajam ke arahku. Aku paham sekali apa maksudnya. Ia benar - benar sudah siap lahir batin.

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler