Skip to Content

Puisi-Puisi Muhammad Rois Rinaldi

Foto Rumah Sastra Indonesia

Di Bumi Ini

 

 

… semua peristiwa membentuk bangunan tua,

jam berkejaran di pematang setelah berburu belalang

itu telah lama runtuh. Saya sering

tergoda membayangkan sebuah dapur abadi,

usia tidak beranjak dan musim hujan

yang tipis kekal menyisir daun dadap.

 

Di traso lembab dan dingin, saya ingin terus

telungkup. Biar Ibu duduk di depan televisi,

seorang pembawa berita selamanya di layar kaca.

 

Di bumi ini

semua tangan menggenggam terlalu yakin

dan semua manusia berpengalaman melerai jari.

Saya sering mengingat seorang pengantar surat

dan penjual jamu, mereka mengetuk pintu

lalu berlalu.

 

Saya membayangkan tidak lagi menerima tamu,

menyambut kedatangan semua orang

yang pada akhirnya pergi.

Musim panas di sini tidak kekal dan saya sekali

waktu ingin cuaca tidak kemana-mana.

Biarkan Abah berteduh di bawah rimbun daun

jambu batu.

 

Saya mau tidur di ayunan dari lilitan kain

di batang pohon jambu batu itu.

 

Di bumi ini

semua manusia terhubung dengan bahasa kabung

dan begitu banyak yang berlebihan

saat melihat burung tersuruk di langit cekung.

Beberapa manusia suka mengenang setiap hal

yang tinggal bayang.

 

Waktu senja terlalu singkat, saya ingin

angin tidak pernah berjinjit menemui malam.

Biarkan Ibu berkali-kali menutup jendela

dan Abah merapikan meja dapur.

Saya akan membuat pesawat kertas

sebanyak mungkin,

di waktu itu.

 

2018


 

Di Sekitar Tungku yang Selalu Kau Nyalakan

 

 

Tungku itu

masih menyala seperti 30 tahun lalu.

Membersamaimu

memasak untuk makan sehari-hari.

Sesekali tungku itu lebih sibuk

ketika hajatan kumpul bersama anak cucu

atau perayaan-perayaan.

 

Kesetiaanmu telah dimulai

sejak dinikahi Abah.

Sejak keinginan-keinginanmu

dicukupkan di situ.

Sebuah rutinitas hidup

yang menjemukan.

Bangun subuh sekali

untuk menyalakan api,

meletakkan dangdang,

memasak apa saja yang ada.

Di situ kau menetap,

dari suatu hari ke hari yang lain.

Dari kelahiran anak pertama

ke kelahiran yang lain.

Dari menimang kedatangan

dan melepas kepergian.

 

Suatu ketika kelak,

tungku itu akan kehilangan api.

Mencari tanganmu,

mencari napasmu

yang mengalir agak kasar

melalui lubang semprong.

Sebuah dapur

mungkin akan terus dikunjungi

oleh setiap orang

 

yang pernah melahap masakanmu

di dekat tungku

atau sedikit menjauh di depan pintu.

Sebab kitab-kitab ketabahanmu

tersembunyi pada abu

dingin dari kayu yang

tak seutuhnya terbakar,

semua akan mencari jejak sabda

yang senantiasa kau ucapkan

dengan bahasa diam;

memeriksa getar bunyi

pada sunyi

rongga dangdang.

 

Kau yang telah khatam

memaknai garis tangan,

mengerti

bahwa bukan dari tungku

galur nasib tak berjarak di situ,

tapi dari keralaanmu

memenjarakan diri

dari godaan pergi ke dunia luar

seumur hidup.

Karena kau seorang ibu

dan menjadi seorang ibu

bagimu adalah bersedia

menjaga tungku,

menjadikan tubuhmu

sebagai satu-satunya

alamat pulang anak-anakmu.

 

Sekali waktu,

kau memang terkejut

dan tertegun

menatap nyala api

yang semakin kecil

dan beras pada dangdang

yang semakin sedikit.

Anak-anakmu

telah lama meninggalkan rumah,

tapi kau tetap memilih

bersetia di situ,

menanti mereka

kembali kepadamu,

di sekitar tungku itu.  

 

Cilegon, 2018


 

Beberapa Jam Setelah Pemakaman

 

 

Sudah begitu lama kita tak saling bicara,

di dapur ini akhirnya kita duduk berhadapan.

Jangan sekaku itu, kita pernah begitu dekat.

Dahulu, aku selalu menaikkan tubuh kecilmu

ke pundakku, bila matahari naik satu depa.

Kubawa kau mengelilingi kampung.

Melihat kerbau, kambing, bebek, dan ayam

di pekarangan Almarhum Mang Haji Misran,

saudagar ternak di kampung kita. Entah

mungkin kau lupa, Ayah selalu membuatkanmu

layang-layang. Kita menerbangkannya

jika hari agak redup, angin lembut berkesiup.

 

Sekarang pasti kau sudah mengerti

bagaimana perasaanku kepadamu waktu itu.

Mencium keningmu setelah memakaikan dasi

di lehermu sebelum kau berangkat ke sekolah

adalah saat-saat paling membahagiakan.

Setelah kau remaja, kita memang

seperti dua orang asing yang dipaksa hidup

satu atap. Matamu yang penuh kebencian

tak dapat melihat cinta di mata Ayah.

Jangan menganggap ini aneh. Cinta seorang lelaki

memang terdengar janggal ketika diperkatakan,

tapi sudah lama sekali kita tak bicara, bukan?

 

Anakku. Ayahmu lelaki, kau juga lelaki.

Setiap lelaki berhak menentukan

nasibnya sendiri.  Tetapi ada

yang tak dapat diputus begitu saja di antara kita.

Sebab itu, kita selalu bertengkar.

 

Dahulu mungkin kau berpikir aku tak peduli.

Tetapi setiap menjelang tidur kutanyakan

pada ibumu tentang keadaanmu juga

setiap hal yang kau inginkan.

Ibumu kadang bercerita sambil terisak.

katanya, kau pergi dari rumah

setelah membentak dan membanting pintu.

Kau mana peduli bagaimana perasaan ibumu

apatah lagi perasaan ayahmu ini.  

Sementara ketika gadis yang kini jadi istrimu

merengut, kau berdiri di depan rumahnya

dari malam hingga subuh

hanya agar ia kembali tersenyum

dan memaafkanmu untuk suatu kesalahan

yang kau sendiri pun tak tahu

di mana letaknya.

 

Ayah tahu, ini kecemburuan yang aneh.

Lelaki tidak boleh mencemburui lelaki. 

Ayah sangat bisa menerima semua

yang kau lakukan, tapi ibumu perempuan. 

Rasa sakit yang kau tanggung

dari pengkhianatan gadis-gadis yang kau cintai

waktu dulu, tak seujung kuku pun

dibanding dengan kesakitan yang harus ditanggung

ibumu karena ulahmu.

 

Anakku, mohon maaf untuk sebutan ini

jika kau masih tak suka. Ayah pikir,

sudah bukan waktunya kita berbicara begini.

Yang berlalu telah berlalu, meski ribuan malam

kita membicarakannya.

Kita abadikan saja semua ini di dalam ruang

kenangan hidup kita. Hari sudah petang,

anak istrimu menanti. Pulanglah.

Kubur ibumu yang basah itu, biar kesepian.

Tak apa-apa. Jangan mengkhawatirkan

yang tak dapat dan tak perlu dikhawatirkan.

Setiap manusia pada akhirnya

akan menghadapi kesepiannya sendiri-sendiri.

Lagipula ibumu sudah biasa kesepian.

 

Waktu hidup, ia sering duduk di ruang depan.

Setiap mendengar celoteh anak-anak di luaran

ibumu berlari  dan dengan tergesa-gesa

ia membuka pintu. Katanya, siapa tahu kau pulang

membawa istri dan anak-anakmu.

Ia tak pernah kapok melakukannya berulang kali

padahal ia selalu kembali duduk dengan lemas

setelah bersusah payah berlari mengharapkanmu.

Ia menatap foto pernikahanmu lalu berkata:

“Aku mulai pikun sekarang. Tak dapat lagi

membedakan mana suara cucu-cucuku

dan mana suara cucu-cucu tetanggaku.”

 

Ibumu tak percaya meski berkali kukatakan

anak-anakmu harus pergi ke sekolah setiap hari.

Di hari Minggu, kau mengajaknya berlibur di mal.

Bila pun kalian punya waktu untuk libur panjang,

kau ajak mereka ke luar kota.

 

Ayah mengerti, Anakku, rumah tempatmu lahir ini

bukan tempat berlibur yang menyenangkan

bagimu, tentu juga bagi istri dan anak-anakmu.

Tetapi ibumu tak bisa diajak bicara begitu.

 

Tak perlu menangis.  Ayah mengatakan ini

tak untuk membuatmu menyesal.

Ambillah minum jika kau belum lupa

di mana letak gelas atau segeralah pulang.

Hari mulai gelap.

Jangan berpikir yang tidak-tidak,

Ayah baik-baik saja.

2018

 

Pertaruhan

 

Jangan tangisi aku, Ibu.

Kakiku yang meninggalkan ketenteraman

rumah mungkin akan memberai

bayangku sendiri pada suatu ketika

yang jauh. Kampungku dan kunang-kunang

perlahan akan lindap di balik asap

kota yang menguasai semua subuh

setelah tanganmu kulepaskan

seperti randu melepas kapas

kepada angin untuk menatap sebuah dunia

dan menantangnya sebagai singa.


Aku tidak dapat memastikan

akan selamat atau celaka. Akan pulang

dengan tegak seperti kisah seorang ksatria

atau berpeluk kepadamu karena didera luka.

Tetapi ini tetap saja sebuah pertaruhan

yang sederhana. Berlaluan anak manusia

dari gua garba, berjuta hilang

tak menemu jalan kembali di mana

dahulu ditimang.

 

Barangkali kelak aku memilih

beberapa kenangan untuk seakan

masih dalam buaian.

Tetapi tidak ada yang dapat ditarik

dari kelebat waktu, Ibu.

Sesaat setelah kutinggalkan pintu,

rindu dipaksa jadi debu.

Aku yang menemu deru di langit haru,

dikepung huru

tidak boleh lagi merengek

minta diberi peluru.

 

Beri aku kerelaan.

Lelaki diledek masa depan

di luar pagar,

kepada dunia aku

datang telanjang tangan.

Entah siapa akan berdarah.

Antara kami tidak tahu,

siapa yang diburu.

 

Serdang, 2012

 

 

 


Aku Kehilangan Begitu Banyak Hal

Aku kehilangan

begitu banyak hal.

Hujan dan aroma tanah.

Senja keemasan

dan subuh yang putih.

 

Di rumah megah,

rutinitas yang tak pernah bertanya

bagaimana hatiku itu,

tak ada yang tahu

seperti apa malam-malam
marun kubangun

dalam lembaran HVS

—yang kupinta dari guruku

di sekolah—sementara

tak mungkin ada kisah baru

dari hidup

 

yang dikelilingi

wajah masam.

 

Dari usiaku

yang telah di menara,

kusaksikan musim

menguap ke jagat meninggi.

Mereka yang kucari

—yang hendak kuberi ampun—

telah pergi

                                               

seperti debu terakhir

di tepi jurang tersapu angin.

Aku sangat mengenali

setiap hal yang hilang itu.

Mengemas, merawat,

dan memilikinya.

 

Aku dan burdahku

yang terlepas seperti kucing lapar

mengendus lemas

di ujung sebuah jalan,

barangkali akan pergi

memeluk setiap yang terampas

ketika malam

dan mimpi menuju ke arah di mana

 

aku kembali menerima                                      

kehilangan begitu banyak hal.

 

 

Cilegon, 2018

 


Muhammad Rois Rinaldi, lahir di Banten 8 Mei 1988. Koordinator Nasional Gabungan Komunitas Sastra ASEAN dan Redaktur Sastra Biem.co. Bersastra sejak 1998. Tulisannya berupa puisi dan esai dimuat di berbagai media massa, baik lokal, Nasional, maupun media massa di beberapa negara ASEAN.

Rois menerima penghargaan Anugerah Utama Puisi Dunia (Numera, Kuala Lumpur, 2014) dan Anugerah Utama Penyair ASEAN (E-Sastera, 2015 dan 2016). Bukunya yang bertajuk Sastracyber: Makna dan Tanda menjadi buku terbaik terbitan Esastera Enterprise di Malaysia dalam kurun waktu 10 tahun (2006-2016).  

Komentar

Foto atfaliyah

puisi

apakah puisi ini pantas dibaca oleh anak SD

Foto Rumah Sastra Indonesia

Pantas

menurut saya, pantas saja. malah ini puisi cocok dibaca oleh semua umur

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler