Skip to Content

Puisi-puisi Muhammad Rois Rinaldi

Foto Rumah Seorang Penyair

Di Sekitar Tungku yang Selalu Kau Nyalakan

Tungku itu masih menyala seperti tiga puluh tahun lalu.
Membersamaimu memasak untuk makan sehari-hari.
Sesekali tungku itu lebih sibuk ketika hajatan
kumpul bersama anak cucu, atau perayaan-perayaan.
Kesetiaanmu itu telah dimulai sejak dinikahi Abah.
Sejak keinginan-keinginanmu dicukupkan di situ.
Sebuah rutinitas hidup yang menjemukan.
Bangun subuh sekali untuk menyalakan api,
meletakkan dangdang, memasak apa saja yang ada.
Di situ kau menetap, dari suatu hari ke hari yang lain.
Dari kelahiran anak pertama ke kelahiran yang lain.
Dari kebersamaan kepada perpisahan-perpisahan.
Dari menimang kedatangan dan melepas kepergian.

Suatu ketika kelak, tungku itu akan kehilangan api.
Mencari tanganmu, mencari napasmu
yang mengalir agak kasar melalui lubang semprong.
Sebuah dapur mungkin akan terus dikunjungi
oleh setiap yang pernah melahap masakanmu
di dekat tungku atau sedikit menjauh di depan pintu.
Sebab kitab-kitab ketabahanmu tersembunyi
pada abu dingin dari kayu yang tak keburu seutuhnya
terbakar. Semua akan mencari jejak sabda
yang senantiasa kau ucapkan dengan bahasa diam.
Memeriksa getar bunyi pada sunyi rongga dangdang.

Kau yang telah khatam memaknai garis tangan,
mengerti bahwa bukan dari tungku galur nasib
tak berjarak di situ, tapi dari keralaanmu
memenjarakan diri dari godaan jalan ke dunia luar
seumur hidup. Karena kau seorang ibu
dan menjadi seorang ibu bagimu adalah bersedia
menjaga tungku, menjadikan tubuhmu
sebagi satu-satunya alamat pulang anak-anakmu.
Sekali waktu, kau memang terkejut dan tertegun
menatap nyala api yang semakin kecil
dan beras pada dangdang yang semakin sedikit.
Anak-anakmu telah lama meninggalkan rumah,
tapi kau tetap memilih bersetia di situ,
menanti mereka kembali kepadamu,
di sekitar tungku itu.

(Dari buku kumpulan puisi Muhammad Rois Rinaldi, Nada-nada Minor Cetakan ke-III, Gaksa Enterprise 2018)


Beberapa Jam Setelah Pemakaman

Sudah begitu lama kita tidak saling bicara.
Di dapur ini akhirnya kita duduk berhadapan.
Jangan sekaku itu. Kita pernah begitu dekat.
Dahulu, aku selalu menaikkan tubuh kecilmu
ke pundakku, bila matahari naik satu depa.
Kubawa kau mengelilingi kampung.
Melihat kerbau, kambing, bebek, dan ayam
di pekarangan Almarhum Mang Haji Misran,
saudagar ternak di kampung kita.
Bila panen raya, ketika kau sudah dapat berlari
aku selalu membuatkanmu layang-layang.
Aku tak seberapa yakin, kau masih ingat
bagaimana caraku mengajarimu mengikat
tali timbang dan menggulung benang.

Mungkin sekarang kau sudah dapat merasakan
bagaimana perasaanku kepadamu waktu itu.
Menjadi seorang ayah adalah takdir yang indah.
Mungkin sekarang kau dapat mengerti
mengapa aku selalu mencium keningmu
setelah memakaikan dasi merah di lehermu
sebelum kau berangkat ke sekolah.
Tetapi setelah kau remaja, kita memang
seperti dua orang asing yang dipaksa hidup satu atap.
Jangan menganggap ini aneh. Cinta seorang lelaki
memang terdengar janggal ketika diperkatakan,
tapi sudah lama sekali kita tak saling bicara, bukan?

Ya, Anakku. Aku ayahmu yang selalu mendongeng
sebelum kau tidur, pada suatu ketika dahulu.
Jangan sekaku itu. Kita pernah begitu dekat.
Ya, Anakku. Ayahmu lelaki, kau juga lelaki.
Setiap lelaki berhak menentukan nasibnya sendiri.
Tetapi ada yang tak dapat diputus begitu saja
di antara kita. Bagaimana pun kau mengusirku
dari duniamu yang haus kemerdekaan itu
aku tetap ayahmu. Sebab itu, kita selalu bertengkar.

Kau mungkin berpikir aku tak peduli kepadamu,
tapi setiap menjelang tidur kutanyakan pada ibumu
bagaimana dirimu dan keinginan-keinginanmu.
Ibumu kadang bercerita sambil terisak, karena
katanya, kau pergi setelah membanting pintu.
Kata ibumu, seingatku, ketika kau kuliah semester 4
kau menangis tersedu-sedu di kamar.
Berhari-hari kau tak mau makan hanya karena
gadis yang kau cinta mencintai sahabatmu sendiri.
Hidupmu seolah-olah hancur dalam sekejap mata.
Sebegitu sakitkah? Kataku pada ibumu.

Kau, kata ibumu,
bahkan pernah berdiri di depan rumah gadis itu
sejak malam hingga pagi ketika gadis itu terluka
oleh kata-katamu. Ketika itu, batinku bertanya-tanya:
sebegitu merasa bersalahkah
sementara kepada ibumu dan kepadaku
kau yang terus bersikap semena-mena
tak sekalipun meminta maaf.
Aku tahu, ini kecemburuan yang aneh.
Lelaki tak boleh mencemburui lelaki.
Tetapi, ibumu perempuan. Kecemburuannya
seribu kali lipat lebih bergejolak dari kecemburuan
seorang bujang kasmaran yang memergoki
kekasihnya bermesraan dengan lelaki lain.

Anakku, mohon maaf
untuk sebutan ini jika kau masih tak suka.
Aku pikir, sudah bukan waktunya kita bicara begini.
Hari sudah petang, anak istrimu sudah menanti.
Pulanglah. Kubur ibumu yang basah itu, biar kesepian.
Tak apa-apa. Jangan mengkhawatirkan
yang sudah tak dapat dan tak perlu dikhawatirkan.
Setiap manusia pada akhirnya
akan menghadapi kesepiannya sendiri-sendiri.
Lagipula ibumu sudah biasa dengan kesepian.
Waktu hidup, ia sering duduk sendiri di ruang depan.
Katanya, siapa tahu kamu pulang
membawa cucu-cucunya.

Setiap mendengar suara anak-anak di luaran
ibumu berlari kecil dan membuka pintu
sebelum akhirnya ia kembali duduk dengan lemas
lalu menatap foto pernikahanmu.
Ia pikir suara itu adalah suara anak-anakmu.
Ibumu tak pernah percaya meski berkali-kali kukatakan
anak-anakmu harus pergi ke sekolah setiap hari.
Pada hari Minggu, kau mengajaknya berlibur di mal.
Bila pun libur panjang, kau ajak mereka ke luar kota.
Ayah mengerti, Anakku. Rumah tempatmu lahir ini
tak pernah jadi tempat berlibur yang menyenangkan
bagimu, tentu juga bagi istri dan anak-anakmu.
Tetapi ibumu tak bisa diajak bicara begitu.
Kadang ayah tak tega melihat ibumu seperti itu
dan berniat meneleponmu, tapi ibumu melarangku.
Katanya, ia tak mau mengganggu hidupmu.
Ya, begitulah, Anakku. Serindu apapun ibumu
ia tak mau menyita waktumu walau hanya satu detik.

Tak perlu menangis begitu.
Ayah mengatakan ini tak untuk membuatmu menyesal.

Mohon maaf, Ayah harus mandi. Ambillah minum
jika kau belum lupa di mana letak gelas
atau segeralah pulang. Hari sudah mulai gelap.
Jangan berpikir yang tidak-tidak,
ayah baik-baik saja.

Cilegon, 2018

(Dari buku kumpulan puisi Muhammad Rois Rinaldi, Nada-nada Minor Cetakan ke-III, Gaksa Enterprise 2018)


Kisah Suatu Malam Ketika Kanak-kanak


Sebelum larut, ibu melepas ikat kelambu.
Abah membaca ayat-ayat Tuhan.
Sorban hijau yang Abah beli di Mekkah tak dikenakan,
sekadar jadi alas kitab suci.
Abah yang gemar bersongkok hitam,
duduk menghadap kiblat
(Nenek tak suka melihat Abah pakai songkok hitam
karena, kata Nenek, Abah sudah haji
tapi Abah songkok hitam ketimbang kopyah haji ).

Aku berbaring lemas, tangan kananku kuletakkan
di paha Abah, tangan kiriku meraba dingin pada dinding.
Aku menatap langit-langit kamar tanpa plafon
di mana dua ekor laba-laba
begitu telaten menyusun dunianya sendiri.
Sebuah dunia, yang barangkali, semacam kota-
kota besar manusia.

Duniaku yang kini sekadar sekotak ruang
bernama kamar, di antara ayat-ayat terasa lain:
begitu teduh dan tenteram. Itulah mengapa
aku tidak suka lagu cengeng dan dongeng perang.
Aku juga membenci Dragon Ball
karena di sana terlalu banyak monster.
Sialnya, aku suka Conan
—serial anak-anak yang setiap episodenya
berisi adegan pencarian seorang pembunuh.

Di bawah lampu lima watt, aku seperti melihat
wajah teman-temanku yang menyenangkan:
Jejen, Jaelani, Mukmin, Mumtaji, dan Juhron.
Mereka mencurangiku ketika main kelereng
pagi hingga petang tadi
—anak-anak seperti kami memang sering lupa
waktu jika sudah bermain di luaran.
Kecurangan-kecurangan kecil yang membuatku
kalah banyak: aku kehilangan sekotak kelereng
yang kukumpulkan berminggu-minggu.

Mungkin kini mereka sudah menarik sarung
dan meringkuk di risbang,
atau mereka masih bermain di gang tengah,
karena pada malam purnama
orang-orang di kampungku sering tidur
ba’da shubuh. Kecurangan teman-temanku itu
sama sekali tidak membuatku marah.
Besok masih libur. Kami pasti bermain lagi.

Malam liat makin jauh, mataku makin berat.
Lampu kamar dimatikan. Kitab suci
telah diletakkan di lembedang dan Abah berbaring
sambil membaca shalawat kepada Kanjeng Nabi.
Aku yang sudah cukup hafal mengikutinya.

Suara Abah terasa semakin dalam, suaraku
sudah habis ditelan nyanyian sekumpulan jangkik
di luar. Aku tertidur di sisi Abah,
begitu saja.

Cilegon, 2017

(Dari buku kumpulan puisi Muhammad Rois Rinaldi, Nada-nada Minor Cetakan ke-III, Gaksa Enterprise 2018)


PERJALAN KEMARIN
bersama Kang Omat

Kemarin kita satu kereta. Di gerbong lima.
Dari stasiun Merak ke Tanah Abang.

Matamu menelusup
antara tubuh penumpang yang berdesakan.
Mengerdip kepadaku lalu berpaling
ke jendela, ke pemukiman-pemukiman itu
dengan sedih.

“Kita masih sangat muda untuk mengalah…”
katamu terbata.

Aku tahu dalam pikiranmu, tugas-tugas kuliah
dan nilai-nilai katrolan menjadi monster seram
dan kau takkan bisa lari. Telah lama
bangku pendidikan membuat kita menjadi penakut.
Kita seperti tidak pernah diberi kesempatan
berpikir lain dan menempun jalan yang lain.

Di hari depan, kau dibayangi oleh kemungkinan:
serjana-sarjana lulusan negeri yang malang ini
harus memilih jadi buruh, penggangguran,
penipu, atau pelacur yang mati bunuh diri.

“Kita akan segera tiba,” kataku. “Mungkin
setelah pemasangan toga,
hidup kita adalah hidup dua burung
yang menangis di dalam sangkar yang berbeda
dan tuan yang berbeda. “

Senen-Merak, 2013

(Dari Buku "Terlepas" cetakan ke-I, Pustaka Senja 2015)

MADYAN

tuhan di mulut kita
adalah hafalan dalam ritus manipulasi bandul timbangan
penimbunan barang dagang
dan sumpah palsu dalam tawar menawar.

Kita menganut kepercayaan yang aneh. Kita percaya
Tuhan ada tapi kita tidak percaya Tuhan
sungguh-sungguh hadir di pasar.
Keuntungan tanpa kecurangan, bagi kita, mustahil.

Hidup kita berlomba-lomba menegakkan tipu daya.

Cilegon, 2012

(Dari Buku "Terlepas" cetakan ke-II, Gaksa Enterprise 2019)


Muhammad Rois Rinaldi, penyair kelahiran Banten 8 Mei 1988. Koordinator Nasional Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (Gaksa) dan Presiden Lentera Sastra Indonesia (LSI) ini bersastra sejak 1998, dimulai dari dunia perpanggungan puisi. Tulisannya berupa puisi dan esai dimuat di berbagai media massa, baik lokal, Nasional, maupun beberapa media massa di beberapa negara Asia Tenggara.

Karya-karyanya juga telah diterbitkan dalam bentuk buku, di antaranya Puisi Sepasang Angsa (Abatatsa, 2012); puisi Terlepas (Pustaka Senja, 2015); esai Sastracyber: Makna dan Tanda (Esastera Enterprise, 2016); esai Koperasi dari Barat (Gaksa Enterprise, 2017), Pemanggungan Puisi; Panduan Praktis Baca Puisi (Gaksa Enterprise, 2018), dan Membaca Puisi-puisi Penyair Perempuan Asia Tenggara (Gaksa Enterprise, 2018).

Rois telah menerima berbagai penghargaan di bidang sastra, di antaranya Anugerah Utama Puisi Dunia (Numera, 2014) dan Anugerah Utama Penyair ASEAN (E-Sastera, 2015 dan 2016). Bukunya yang bertajuk Sastracyber: Makna dan Tanda menjadi buku terbaik terbitan Esastera Enterprise di Malaysia dalam kurun waktu 10 tahun (2006-2016).

Komentar

Foto atfaliyah

puisi

apakah puisi ini pantas dibaca oleh anak SD

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler