Skip to Content

Puisi-Puisi untuk Ibu Karya Muhammad Rois Rinaldi

Foto Rumah Sastra Indonesia

 

Kita Takkan Berpisah

 

      Sudah kutinggalkan kotak

kelereng di pojok gudang belakang!

Kita tak perlu menghitung

beberapa butir dan kembali meluncurkannya

di teraso merah.

 

Biar  saja hari bergerak dan bermilyar

badan berpindah. Semuanya

takkan kuasa memastikan apa-apa.

 

Perpisahan-perpisahan di dunia

bagiku, dibangun dari teori sains yang runtuh, Mak.

Karena itu, kita takkan benar-benar berpisah.

Meski tahun-tahun berkelana

memungut jasad musafir yang tergeletak

di gua, kita takkan berpisah.

 

Cilegon, 2012 

 

 

 

Hingga di Lembah Gelap Hening Ini

 

… hingga di lembah gelap hening ini

mengertilah aku. Gemerisik angin di lorong dekat

kamar pada puncak malam mengirim tanda

dari masa depan.Tapi jauh sekali

jarak yang harus kutempuh untuk belajar

mengampuni. Kaki-kaki yang bergerak pergi

di bawah hujan—di mana aku mendengar

pekik batinku di dedaunan dan gigil lampu.

 

Mereka tak mungkin mengingat

apa yang membawaku pergi sampai di sini.

Karena itu, aku ingin pulang tanpa ingatan.

Menghapus beberapa puisi dengan lembut

di dinding dan muka pintu, seperti tiupan

Ibu pada nyala lilin sebelum aku tertidur.

 

Tapi aku tak tahu di mana jalan

yang tak dibayangi ringkik keledai.

 

 

 

Aku Kehilangan Begitu Banyak Hal

Aku kehilangan

begitu banyak hal.

Hujan dan aroma tanah.

Senja keemasan

dan subuh yang putih.

 

Di rumah megah,

rutinitas yang tak pernah bertanya

bagaimana hatiku itu,

tak ada yang tahu

seperti apa malam-malam
marun kubangun

dalam lembaran HVS

—yang kupinta dari guruku

di sekolah—sementara

tak mungkin ada kisah baru

dari hidup

yang dikelilingi

wajah masam.

 

Dari usiaku

yang telah di menara,

kusaksikan musim

menguap ke jagat meninggi.

Mereka yang kucari

—yang hendak kuberi ampun—

telah pergi

 

seperti debu terakhir

di tepi jurang tersapu angin.

Aku sangat mengenali

setiap hal yang hilang itu.

Mengemas, merawat,

dan memilikinya.

 

Aku dan burdahku

yang terlepas seperti kucing lapar

mengendus lemas

di ujung sebuah jalan,

akan pergi

memeluk setiap yang terampas

ketika malam

dan mimpi menuju ke arah di mana

 

aku kembali menerima       

kehilangan begitu banyak hal.

 

Cilegon, 2018

 

 

Di Bumi Ini        

 

… semua peristiwa membentuk bangunan tua,

jam berkejaran di pematang setelah berburu belalang itu telah lama runtuh. Saya sering

tergoda membayangkan sebuah dapur abadi,

dan usia tidak beranjak, agar hujan yang tipis kekal

menyisir daun dadap di beranda.

 

Di traso lembab dan dingin, saya ingin terus

telungkup. Biar Ibu duduk di depan televisi,

dan para pelawak tua selamanya tertawa

di layar kaca.

 

Di bumi ini

semua tangan menggenggam terlalu yakin

meski semua manusia berpengalaman melerai jari.

Saya sering mengingat seorang pengantar surat

dan penjual jamu, mereka mengetuk pintu

lalu berlalu.         

 

Saya membayangkan tidak lagi menerima tamu,

menyambut kedatangan semua orang

yang pada akhirnya pergi.

Musim panas di sini tidak kekal dan saya sekali

waktu ingin cuaca tidak kemana-mana.

Biarkan Abah berteduh di bawah rimbun daun

jambu batu.

 

Saya mau tidur di ayunan dari lilitan kain

di batang pohon jambu batu itu.

 

Di bumi ini

semua manusia terhubung dengan bahasa kabung

karena berlebihan menatap setiap hal yang hilang.

Itulah mengapa saya sering dihantui keinginan

menerbangkan layang-layang, meski tahu

bayang sepasang kaki saya makin jauh

dari aroma panen dan keluguan kanak-kanak.

 

Waktu senja ternyata terlalu singkat. Padahal dahulu

saya kira angin yang berjinjit menemui malam

takkan mendepak saya dari rumah yang saya cintai.

Saya kadang berpikir, andai senja tak kemana-mana

Ibu akan selamanya menenun renda mukena

dan Abah membaca surat An-Nur di dapur.

Saya juga selamanya membuat pesawat kertas di situ.

 

2018

 

Kisah Suatu Malam Ketika Kanak-Kanak

 

I

Sebelum larut, Ibu melepas ikat kelambu.

Abah membaca ayat-ayat Tuhan.

Sorban hijau yang Abah beli di Mekkah

tak pernah dikenakan—sekadar  

jadi alas kitab suci.

 

Abah yang gemar bersongkok hitam

sering tak mendengar protes Nenek.

Kata Nenek, Abah sudah haji

mestinya memakai kopyah putih dan sorban.

 

Aku seorang anak kecil, hanya mendengarkan

bila Nenek dan Abah bersilang pendapat

di dapur Nenek yang bergaya Belanda

—yang terlihat tua tapi megah itu.

Aku lebih suka pendapat Abah.

Katanya, seorang haji punya tanda pada hati.

Tetapi aku mengerti maksud Nenek,

seorang ibu selalu ingin melihat anaknya

terlihat bermartabat.

 

II

Aku berbaring lemas. Tangan kananku kuletakkan

di paha Abah, tangan kiriku meraba dingin

pada dinding.  Entah aku sangat menyukai suhu

dinding, seperti aku suka meneguk air

dari mulut kendi.

 

Di  langit-langit kamar

ada dua ekor laba-laba yang begitu telaten

menyusun dunianya sendiri.

Sebuah dunia, yang barangkali, semacam kota-

kota besar manusia.

Aku tak tahu, jam berapa

laba-laba tidur.

 

III

Duniaku yang sekadar sekotak ruang

bernama kamar, di antara ayat-ayat

terasa berbeda: teduh dan tenteram.

Seperti gemericik air di sungai

seberang kampungku;

seperti angin pada gemericik air itu.

Itulah mengapa  aku tak suka dongeng

perang. Menakutkan sekali.

Ribuan manusia, bahkan ratusan juta,

mati di ujung pedang,  diporak-porandakan bom.

Aku juga membenci Dragon Ball.

Di sana terlalu banyak monster.

Sialnya, aku suka Conan—serial anak-anak

yang setiap episodenya berisi adegan

pencarian seorang pembunuh.

 

IV

Di bawah lampu lima watt, aku melihat

wajah teman-temanku:

Jejen, Jaelani, Mukmin, Mumtaji, dan Juhron.

Mereka mencurangiku ketika main kelereng

siang hingga petang tadi.

Kecurangan mereka membuatku kehilangan

sekotak kelereng yang kukumpulkan

berminggu-minggu.

 

Tetapi mungkin mereka tak curang, hanya saja

orang-orang kalah sepertiku

sering merasa dicurangi.

 

Jejen, Jaelani, Mukmin, Mumtaji, dan Juhron

mungkin sudah menarik sarung

meringkuk di risbang atau mereka masih bermain

di gang tengah.

Pada malam empat belas purnama

orang-orang di kampungku tidur ba’da shubuh.

 

Besok masih libur.  Aku, Jejen, Jaelani,

Mukmin, Mumtaji, dan Juhron

pasti main kelereng lagi.

 

V

Malam liat makin jauh, mataku makin berat.

Lampu kamar dimatikan. Kitab suci diletakkan

di lembedang.  Abah berbaring

membaca shalawat.

Aku yang sudah cukup hafal, mengikutinya.

 

Suara Abah terasa semakin dalam, suaraku

habis ditelan nyanyian sekumpulan jangkik

di luar. Aku tertidur di sisi Abah,

begitu saja.                                               

 

Cilegon, 2017

 

Pada Sebuah Perjalanan

 

Di dekatmu atau di kejauhan darimu

—di perjalanan menempuh kota-kota—

aku selalu dapat mendengar sabda

berlepasan dari sepasang matamu.

 

Seperti jutaan burung berterbangan

sesaat setelah cahaya pertama

dari langit pertama

menyentuh pucuk-pucuk daun.

 

Jakarta Timur, 2018

 

 

Pada Malam yang Sama

 

Di rumah-rumah, beberapa

tukang sihir hadir dalam mimpi

anak-anak yang menonton film

sebelum memeluk bantal.

 

Anak-anak di kampung masih

tidur bersama ibu dan di kota

anak-anak memiliki kamar

sendiri

 

sejak lahir. Semua anak memiliki waktu

pada malam yang sama

— hanya aksen langit  yang berbeda.

Tetapi malam tidak hadir

merdeka dari perasaan.

 

Mereka yang tidak menyaksikan

bulan dihalau gorden tebal

akan dewasa dikuntit ingatan,

bagaimana dahulu dipeluk.

Menempati tempat-tempat

yang jauh dari bahasa seorang ibu.

 

Ada yang menggenggam dendam.

Ada yang memberi maaf.

 

2017

 

 

 

Segalanya Bermula dari Rumah


Segalanya bermula dari rumah,

kisah-kisah hidup kemudian

adalah kemah dari sebuah parasut

ditopang lima pancang kayu.

Didirikan untuk dibongkar

untuk terus meninggalkan

jejak, kenangan, dan beberapa luka.

 

Suapan ibu pada pagi hari

—beberapa saat sebelum berangkat sekolah—

adalah satu-satunya alamat yang kutuju

dari semua perjalanan yang kutempuh.

Bukan aku tak mengerti,

sebuah rumah hanya bangunan

yang tegak dalam mimpi-mimpi buta.

Batas-batas ruang tak mampu

memastikan di mana langkah terakhir

akan berhenti.

 

Udara di sekitar tubuhku
sering menakut-nakuti dengan bisikan

seakan makna lahir adalah fatamorgana

pada pandang mata seorang musafir

yang terperangkap serbuan debu

di batas bias antara hidup dan binasa.

 

Langkah pertama yang digerakkan amarah

(kau tentu mengerti seorang anak kecil

yang terluka akan menemui kemarahan

semacam dendam ketika dewasa,

ketika punya tenaga dan merasa berdaya)

dan kesadaran yang terlambat

membentuk jutaan garis peta;

nasib yang senantiasa rumit dan rahasia.

 

Kini tubuhku berbahasa maut.

Bukan aku tak tahu, arah tak pernah

menuju masa lalu, tapi aku telah lama ragu

bahwa aku benar sedang berjalan,

mendirikan dan membongkar kemah.

 

Segalanya bermula dari rumah. Ibu,

bila rindu kepadaku ia meraba pigura

memainkan bedil-bedilan kayu

yang kubuat suatu ketika dahulu.

 

Kami sama meraba muka sendiri.

Membayangkan kami masih memiliki

beberapa kesempatan berbagi mimpi.

Tetapi rumah hanya kemah

dari sebuah parasut

ditopang lima pancang kayu.

 

Kuala Lumpur, 2016

 

 

Di Dapur Waktu Larut

Hanya dapur dan keheningan.

Layang-layang lesap di plafon

dan sebuah klereng tergelincir

di jogan, dekat saluran pembuangan air.

Ada yang datang minta direngkuh

Ada yang pergi

sebelum aku sempat menyiapkan

semacam kata perpisahan.

 

Apakah yang kini belum berubah

belum hilang, belum lebih rusak dari sedia?

Tak ada lagi yang dapat kusentuh

dengan degup dan debar

semenggembirakan waktu dahulu.

Jalanan dan rumah-rumah

yang mengungkungku, ini hidup

bergerak atau sekadar ilusi?

 

Tak ada kelebat sesiapa

di dapur waktu larut begini.

Hanya hatiku makin jauh

ke kedalaman langit, melampaui

planet, kegelapan, dan jejak-jejak

tersesat yang merintih:

Tuhan, kirim kami pada rahim Hawa.

Kami tak kuasa lagi

mencari jalan yang tak celaka.

 

Aku tak pernah dapat memastikan

di mana suaraku.

 

Hangtuah, 2016

 

Kepada Perempuan yang Kuseru Emak

 

I

Kalau aku pulang lalu bilang padamu,

rumah akan jadi hening;

kerling dan kening tiba-tiba geming,

sementara  malam bersamamu,

belum kuakrabi.

 

Bantu aku, Mak!  Bantu aku

mengambil sorban hijau di lemari Abah

untuk kutangkupkan di pasi wajahku.

Sebelum kurapal mantra,

memesan pelukan kepada…

 

… angin sakal serakah

yang merampas suara-suara

adalah duka tak terduga, Mak!

 

II

Aku tahu,

kau sedang menggamit-gamit damar dan doa.
Aku tahu, kau menantiku pada sebuah pintu.

Tetapi, kita terlalu lama kehilangan kata-kata.

Jarak yang durjana membuatku

terlontar sebegini jauh.

 

Mak, keakuanku ini

adalah kuku-kuku iblis, merobek-robek kulit ari,

daging, dan, merangsek ke belulangku.

Ngilu, Mak. Ngilu!

 

Tetapi katamu, lelaki yang lahir di tanah Banten

dilarang menangis.

Maka, dalam sendiri dan kepung gigil aku

menyenandungkan shalawat

yang tak khatam kaubacakan di dekat telingaku.

Shalawat yang menikam-tikam jantungku

bila malam saru dan dunia hilang deru.

 

III

Kutatap genting hitam berbaris,

kamar di kota asing ini mengingatkanku

pada kamar waktu aku kecil, tanpa plafon.

Begitu banyak sarang yang ditinggal

laba-laba. Ada kecoa terperangkap

dilumat rayap dan semua lenyap

sesaat setelah aku terlelap.

 

Mak, ada senyap tiba-tiba menderap

dan sesuatu memerangkap.

Tubuhku semakin meringkuk ditekuk ketakutan.

Lampu lima watt  seperti mata setan

mengabarkan petaka pada musim durna.

Maut dan sebuah rahasia

yang belum sempat kukatakan padamu

menjulurkan lidah.

 

IV

Dalam lelah dan leleh jiwaku masih tahan,

sebagai orang sakit yang menyaksikan dunia

dibias secerca cahaya dari tungkai jendela

di mana kita dahulu bertatapan

dan bertukar cerita.

 

Tetapi jasadku terasa ringan, Mak.

Kupandangi langit-langit,  lalu kubiarkan 

sesuatu berbinar sebelum ia melepaskan diri 

dari kungkungnya.

 

Mak, bukankah engkau pernah berkata

seorang lelaki lahir sebagai ksatria:

menghadapi luka dan derita sebuah dunia.

Lantas, untuk apa air mata itu

terus mengalir, Mak?

Untuk apa?

 

Cilegon, 2013

 


 

Di Sekitar Tungku

yang Selalu Kau Nyalakan

 

Tungku itu

masih menyala seperti 30 tahun lalu.

Membersamaimu

memasak untuk makan sehari-hari.

Sesekali tungku itu lebih sibuk

ketika hajatan kumpul bersama anak cucu

atau perayaan-perayaan.

 

Kesetiaanmu telah dimulai

sejak dinikahi Abah.

Sejak keinginan-keinginanmu

dicukupkan di situ.

Sebuah rutinitas hidup

yang menjemukan.

Bangun subuh sekali

untuk menyalakan api,

meletakkan dangdang,

memasak apa saja yang ada.

Di situ kau menetap,

dari suatu hari ke hari yang lain.

Dari kelahiran anak pertama

ke kelahiran yang lain.

Dari menimang kedatangan

dan melepas kepergian.

 

Suatu ketika kelak,

tungku itu akan kehilangan api.

Mencari tanganmu,

mencari napasmu

yang mengalir agak kasar

melalui lubang semprong.

Sebuah dapur

mungkin akan terus dikunjungi

oleh setiap orang

yang pernah melahap masakanmu

di dekat tungku

atau sedikit menjauh di depan pintu.

Sebab kitab-kitab ketabahanmu

tersembunyi pada abu

dingin dari kayu yang

tak seutuhnya terbakar,

semua akan mencari jejak sabda

yang senantiasa kau ucapkan

dengan bahasa diam;

memeriksa getar bunyi

pada sunyi

rongga dangdang.

 

Kau yang telah khatam

memaknai garis tangan,

mengerti

bahwa bukan dari tungku

galur nasib tak berjarak di situ,

tapi dari keralaanmu

memenjarakan diri

dari godaan pergi ke dunia luar

seumur hidup.

Karena kau seorang ibu

dan menjadi seorang ibu

bagimu adalah bersedia

menjaga tungku,

menjadikan tubuhmu

sebagai satu-satunya

alamat pulang anak-anakmu.

 

Sekali waktu,

kau memang terkejut

dan tertegun

menatap nyala api

yang semakin kecil

dan beras pada dangdang

yang semakin sedikit.

Anak-anakmu

telah lama meninggalkan rumah,

tapi kau tetap memilih

bersetia di situ,

menanti mereka

kembali kepadamu,

di sekitar tungku itu.  

 

Cilegon, 2018

 

 

Anak-Anak yang Mengetuk Pintu Rumah Ibu

 

Seorang bocah tak pernah berpikir

Ibu adalah seorang babu,

tapi anak-anak yang telah bekerja

menikah dan punya momongan

meminta dengan sangat sopan agar

Ibu bersedia

menjadi baby sister.

Tentu tak

persis dengan sebutan itu.

 

Hidup kadung terjebak jam sibuk dan

malam habis tenggelam dalam mimpi.

Itu alasan masuk akal

untuk terus mengetuk pintu kamar

ibu setiap pagi, menitipkan bayi

yang terlelap.

 

Ibu dari anak-anak yang sibuk

menghitung jam sore

sebab meski bahagia

meladeni celoteh lugu seorang bayi sambil mengenang betapa indah

 

suatu masa ketika anak-anak

masih di rumah, menciptakan

hari-hari yang selalu berasa istimewa,

lengan dan tulang-tulang pinggangnya

tak sekuat ketika muda.

 

Di tembok yang terkelupas, jiwa ibu

meraba kamar sepi dan beberapa boneka,

ketapel dan memar di pelipis anak lanang,

dongeng tentang sebuah kutukan

dan seorang kiayi di surau

yang berbicara tentang kemuliaan

setiap perempuan yang dipanggil Ibu.

 

Seorang bocah tak pernah berpikir

Ibu adalah seorang babu,

tapi anak-anak yang telah bekerja

menikah dan punya momongan

bergantian datang,

menitipkan bayi-bayi.

 

Seorang ibu tak menolak, karena pesing

ompol bayi seperti mengembalikan

aroma anak-anak yang telah lupa

cara yang benar mengetuk pintu

rumah ibu.

 

2019

 

 

Makna Terbaik

dari Waktu Makan & Rumah

 

I

Jika telah petang, segera pulang

kata ibuku, setan masuk dari jendela dan pintu.

Tetapi Ibu tak pernah menelantarkanku

di teras, meski aku pulang

setelah bedug surau ditabuh seorang tua.

 

II

Rumah; pintu dan jendela-jendelanya

bukan soal susunan bata dan kayu

atau siapa yang masuk dan keluar.

Ada Ibu dan itulah makna

terbaik dari semua pengertian rumah.

III

Seorang anak lelaki menikah,

membeli tanah dan membangun rumah.

Seorang anak perempuan menikah,

menempati sebuah rumah.

Belajar memosisikan pintu dan jendela;

mengecat dinding dan beberapa

aksesoris, semacam pigura atau bunga;

meletakkan meja dan menata sofa.

 

Semua dimulai dari semacam nol

dan tetap menjadi semacam dari nol.

 

IV

Ibu takkan melepaskan apapun

yang lahir dari perutnya. Ruang dan waktu

—jarak dalam hitungan umum manusia—

dan takdir yang seolah sendiri-sendiri itu

tak sebagai tanda bahwa seorang anak

telah sungguh-sungguh meninggalkan rumah.

Kecuali jika ada yang berpikir bahwa

bumi yang, kata orang-orang Israiliyat

tempat dua malaikat diuji ini

bukan semata-mata tempat senda gurau.

 

V

Bukan rahasia seorang anak kadang merasa

ingin merdeka dari ketiak ibu.

Itu yang disebut kemandirian dan kadang

jadi bahan para motivator kurang baligh

untuk mengatakan bahwa setiap pribadi

harus merdeka dari ketergantungan.

 

VI

Ketiak ibu adalah jalan lurus menuju bintang

—jika orang kini masih menjadikan bintang

sebagai simbol harapan-harapan besar.

Mereka harus duduk di bangku sekolah dasar

lagi untuk memahami itu.

Rasa, perasaan, dan merasa tidak sama.

 

Tetapi di bangku sekolah dasar tak diajarkan

definisi. Anak-anak belajar dari keluguan

sebelum pengetahuan mengacaukan semuanya.

Pengertian hanya untuk menjawab pertanyaan

profan.  Setiap diri hanya perlu sesekali
mengingat begitu banyak arti kata

atau sepenuhnya melupakan.

 

VII

Jika matahari telah tegak di langit, kata ibuku,

segera pulang. Waktu makan telah tiba.

Ibu selalu tepat menghitung jadwal

dan porsi makan anak-anaknya.

 

 

Aku  pulang jika matahari agak turun

beberapa jengkal. Meski aku terlambat,

Ibu tak membiarkanku

kehilangan kesempatan untuk makan.

 

VIII

Rumah; dapur, tungku, meja, dan tudung saji

bukan soal nasi, lauk pauk, dan sendawa.

Ada Ibu dan itulah makna

terbaik dari semua pengertian waktu makan.

 

IX

Seorang gadis SMP makan di kantin;

seorang mahasiswa makan di kafe;

dan seorang komisaris makan di restoran.

Semua anak pada akhirnya memilih tempat

dan menu makan sendiri-sendiri.

Tetapi setiap yang dikunyah dan ditelan

dimulai dari suapan pertama

seorang ibu. Itu tak sama sekali terputus.

 

X

Jika kokok ayam telah nyaring, segera mandi

kata ibuku, bersiaplah berangkat ke sekolah.

Aku selalu berangkat sekolah setelah mencium

tangan ibu; menatap kedalaman matanya.

 

XI

Apa makna terbaik dari waktu makan dan rumah

selain yang bermakna “Ibu”?

 

2019

 

 

Pada Senandungmu Malam Ini

 

… kupulangkan suaraku kepadamu,

seperti senyap alir arus sungai  kepada laut.

Rumah kita, biar kunamai lagi

dengan nama yang tak tersusun

 

dari kata. Sebab sejak dari kata

aku mengenal definisi-definisi waktu;

mendapati beberapa istilah

tentang penciptaan juga menjadi tua itu.

 

Badan manusia yang rangka

memang akan terus menemui kerusakan,

tapi kita mengenal kelahiran

dan maut sebagai istilah yang semata

menunjukkan ketidakabadian.

 

Semua yang kulalui, kunamai,

dan kucatat terlalu sementara

untuk dapat sepenuhnya

merangkum cintamu kepadaku.

Takkan ada yang mampu

menyitaku darimu, Ibu.

 

Pada senandungmu malam ini

biar kutempuh jalan hening

menuju rahim asal lahirku.

Kembali belajar mencintaimu, seperti
ketika aku belum mengenal kata.

 

2017

 

 

Sebelum Sabda

 

Setiap ibu dan setiap anak memang

selalu dibayangi hari-hari kehilangan,

karena niscayalah setiap tangan

yang terlepas setelah sebuah pelukan mendarat

di bumi yang mulanya tak ada apa-apa ini.

Tetapi Ibu dan semua maknanya,

tak sefana gunung-gunung.

Tak serapuh tebing dan dermaga.

 

Tahun-tahun adalah bunga pagi buta,

gampang gugur. Ibu terus menata kisah

seperti menata gelas pada lemari kaca.

Musim-musim singkat akan lewat,

udara berkuda pada muka waktu.

Tangan ibu akan berhenti mencatat,

kisah pergi ke jagat  tak bertanda

jam matahari.

 

Aku mesti segera jadi perawi

sebelum sabda dianggit sepi kacapuri.

 

2018

 

 

 

Pekarangan

 

Pekarangan adalah semesta tak berbatas.

Puluhan tahun ibuku menernak ayam dan bebek.

Beberapa pohon papaya pernah tumbuh di situ.

Pohon jambu batu pernah tumbuh di situ.

 

Hujan dan kemarau adalah tamu-tamu agung

yang Ibu jamu dengan shalawat dan rapalan doa.

Anyaman kandang jerami dan rak-rak telur

adalah sekelumit wajah dari gairah cintanya

yang menjaga napas kehidupan.

 

Cerita-cerita telah lama dibangun di sana.

Sejak Abah menegakkan pagar bambu.

Sejak Ibu membeli anak ayam pada suatu musim

sebelum anak pertama dilahirkan.

 

2015

 

 

Aku Mencintaimu, Ibu

Aku mencintaimu, Ibu. Mungkin karena kau ibuku.

Karena aku anakmu. Karena pada darahku

ada darahmu atau mungkin tanpa karena apapun.

Bukankah cinta tak menyerah pada sebab-sebab?

Atau cinta menyerah pada sebab-sebab?

Sebab Tuhan menyifati kita dengan cinta.  Tetapi

kita tak sekali pun punya kesempatan merunut

mula ia tiba. Bagaimana ia terbentuk.

Bagaimana ia mewujud begitu saja dalam diri kita.

Kita tak dapat memastikan di mana letak cinta.

Di hati? Seperti merpati bertengger di dahan

atau seperti bangau di punggung seekor kerbau

pada sebuah penghujung musim rindu?

Segala yang bertengger akan pergi, tapi cinta tak

pernah pergi.

 

Cinta abadi sejak dimulai. Menyifati pakaian kita.

Menyifati begitu banyak kejadian, kenangan

dan semua yang kita namai cita-cita.

Tetapi yang abadi  tak punya  permulaan.

Tuhankah cinta itu? Atau Ia menyifati kita

dengan cinta-Nya. Cinta disifatkan kepada kita

agar kita yang fana ada sebagai yang tak sia-sia.

Kita diberi makna dalam ketakbermakaan.

Cinta pada diri kita membentuk makna

untuk semua yang tak punya makna. Dan kau, Ibu

puncak makna cintaku.

 

Cinta memang kadang kelayaban seperti laron

pada cahaya. Atau kita perlu menyepakati,

sebetulnya cahaya itu cinta dan laron adalah kita

atau laron dan cahaya ada karena keduanya ada.

Menjadi tak ada jika keduanya tak ada.

Aku mencintaimu, Ibu. Sejak aku mengamini

bahwa aku hidup sebagai manusia di bumi

yang apa saja di dalamnya dapat membuat kita

bosan. Atau aku mencintaimu seperti seorang

yang berkata, aku berpikir maka aku ada.

Aku yang ada telah ada sebelum pikiran ada

itu ada. Jadi barangkali, aku mencintaimu
jauh sebelum perasaanku merasai cinta.

 

Tetapi aku pernah mencintai beberapa manusia,

kemudian aku menjadi tak cinta.

Kubersamai mereka untuk kutinggalkan.

Aku tak tahu mengapa tiba-tiba merasa cinta

dan mengapa tiba-tiba merasa tak cinta.

Cinta barang habis yang dapat diperbarui
Habis cari yang baru, itukah cinta

atau hanya ilusiku tentang cinta

atau cinta memang memiliki sisi-sisi ilusi?

Cinta mesti tak punya sisi ilusi. Tak mungkin

ilusi. Hanya saja prasangka kehadiran

dan ketakhadiran menentukan wujud

mana cinta dan bukan cinta

memang ujian yang terlalu berat.

 

Cintaku kepadamu

tak pernah menemu bosan. Makin waktu

makin kuat. Berarti cinta dapat melemah?

Itu aneh. Cinta mesti tak melemah tak menguat.

Pada kesadaran dan ketaksadaran

barangkali bersandar menguat dan melemah itu.

Kita pada suatu ketika memang akan kehilangan

kesempatan saling mengunjungi. Tatapan

kita akan sama-sama berhenti, tapi cinta

bukan tentang pertemuan jasad kita.

Sebagaimana api pada tubuh Ibrahim.

Api panas, ketika panas hilang api tak padam.

Api tetap ada ketika panas tak ada.

Apikah panas itu atau sebab ada api panas ada?

 

Aku mencintaimu, Ibu. Ini sama sekali

tak perlu ditanyakan lagi.

 

2019

 

 

Di Kampung

 

Ungu kelopak kangkung

di bawah matahari kemerahan

menggelincirkan angin

hingga ke ujung lengkung

pematang.

 

Merayap malam di genting-genting.

Jendela dan pintu ditutup Ibu.

Aku pulang seperti seorang bocah

telanjang membawa patahan

layang-layang.

 

2017

 

Ibu dalam Begitu Banyak Puisi

 

/1/
Ibu dalam puisi penyair wara’

—dari abad pertama manusia—

adalah kata  pada kalimat yang gagal

menyusun metafora dan simile:

mayang siwalan,

goa pertapaan,

                kolam

                gunung

                rumah

                tanah

berjejeran

                dalam

                amsal

yang tak menemukan tubuh ibu.

Kasih buih

kepada laut

                rengkuh udara

                kepada daun

adalah yang berlaluan

tiba sebagai yang meninggalkan

sementara Ibu

tak pernah pergi

sekalipun ditinggalkan.

 

/2/
Seorang penyair

menulis kerinduan kepada ibunya

hanya ada kenangan masa kanak.

Mencatat jumlah jejak kaki sendiri

pada pekarangan rumah

beberapa foto             

di dinding

almanak

dan pagi terakhir

menerima suapan.

         Ibu dikira

         hanya tangan

         merengkuh

         banyi telanjang

waktu malam

dikunjungi badai sawan.

Semacam prasasti

tanda dari mana sebuah kisah

         bermula.

        

/3/

Penyair lain terisak

meminta maaf karena tak sanggup

membayar lunas hutang kasih

dari buaian hingga Ibu berpulang.

Membandingkan

harum                                      

ibu

dengan

bunga.

Laksana bulan di langit,

mutiara di dasar laut.

 

Harum ibu pada puisi

hanya yang gugur

ketika musim hujan terlambat tiba

atau terlambat pergi.

Di laut mutiara mengendap

di langit bulan tidak punya cahaya.

Ibu tidak begitu.

 


/4/
Ibu

pada puisi penyair patah hati

hanya curahan kepedihan.

Rumah tua alamat pelarian

seorang muda terluka.

Pada semua tubuh puisi

Ibu adalah benda mati

tanpa denyut

              tanpa tanda 

              ada nyawa.

Ibu semata batu

bagi seseorang yang ingin meratap.

 

/5/
Ibu pada begitu banyak tangan penyair

tidak dapat disentuh dan puisi telah menyerah

sejak huruf pertama

tapi para penyair

memang pemaksa

yang keras kepala.

Puisi-puisi tentang ibu terus ditulis,

Ibu tetap tidak ditemukan      

di dalam puisi.

 2018

 
   

 


Muhammad Rois Rinaldi, lahir di Banten 8 Mei 1988. Koordinator Nasional Gabungan Komunitas Sastra ASEAN dan Redaktur Sastra Biem.co. Bersastra sejak 1998. Tulisannya berupa puisi dan esai dimuat di berbagai media massa, baik lokal, Nasional, maupun media massa di beberapa negara ASEAN.

Rois menerima penghargaan Anugerah Utama Puisi Dunia (Numera, 2014) dan Anugerah Tokoh e-Sastra Asia Tenggara (E-Sastera, 2015 dan 2016). Bukunya yang bertajuk Sastracyber: Makna dan Tanda menjadi buku terbaik terbitan Esastera Enterprise di Malaysia dalam kurun waktu 10 tahun (2006-2016).  

 

Komentar

Foto atfaliyah

puisi

apakah puisi ini pantas dibaca oleh anak SD

Foto Rumah Sastra Indonesia

Pantas

menurut saya, pantas saja. malah ini puisi cocok dibaca oleh semua umur

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler