Skip to Content

Puisi-puisi Narudin

Foto Narudin
POHON CINTA


1)

Di bawah pohon cinta
yang tak berbunga
dan tak berbuah,
kau jangan bertanya,
“Untuk apa
pohon yang tak berbunga
dan tak berbuah?”
Setidaknya, aku dapat
menjadi tempat
untuk berteduhmu sementara.
 
2)

Di luar jendela kaca,
hujan tak kenal cuaca
menegur pohon di mana
kau bernaung di bawahnya.
Bila kau kena basah,
tak perlu resah karena
kau tak pernah menyuruh Tuhan (di sana)
agar tak menciptakan “basah”.
 
3)

Lebih baik, pergi saja!
Sebelum hujan hafal bagaimana reda,
meninggalkan yang terlupa,
dan yang baru sebagai rencana—
diganti matahari yang teriknya
hampir-hampir membakar kakimu
walau kepalamu terlindung amat sempurna.
 
4)

Sesudah segala kejadian
sementara usai,
tempuh lagi perjalanan
di antara rumput-rumput gemetar,
burung-burung mengerjap di sana-sini
di kejauhan:
mendaki gunung, menyeberangi lautan,
melewati awan demi awan,
keluar dari semesta alam!
 
5)

Tapi, dengan syarat,
jangan kau tengok ke belakang
karena pohon takkan pernah
menangisi kepergianmu,
karena hujan dan matahari
hanya hiasan
sebelum mimpi—. 

2015

(Diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia oleh Dr. Victor Pogadaev, dimuat dalam buku puisi dua bahasa Indonesia-Rusia, Mencari Mimpi [2016])








DIRI KITA SESUNGGUHNYA


Pelita redup mampir, bersarang dalam tanah liat.
Kau bilang, “Perjalanan ini hampir-hampir akan selesai, lihat!”

Remuklah tanah liat itu, dan kita mendekati Kilau
Sumber, “Tak perlu kaupadamkan pelita itu,
                                           bekal di gulita jalan kita.”
Santai-lah, semua telah diatur sebegitu rupa sehingga....

(Dimuat di Indo Pos, Sabtu, 11 Oktober, 2014)









KITA SAKSIKAN


“Biarkan jendela itu terbuka, Ibu!” katamu.
“Izinkan bulan berlari, mengunjungi waktu.”
Sebab, dari semula, aku telah dipastikan
bahwa bulan-bulan akan habis atas nama keabadian.

                            “Biarlah aku merasuki bulan itu sebentar, Ibu,
                 agar kutahu bahwa pengembaraan malam
itu sia-sia belaka!” Bukankah tak ada keelokan malam
itu, Ibu? Selain tidur sempurna seraya menebak keabadian semu?

(Dimuat di Majalah Basis, No. 09-10, Tahun ke-63, 2014)










HINGGA


Kupandang sungai dengan
semestinya pandangan,
mengalir bukan menuju lautan,
pada ombak asmaramu berdeburan.

Engkau menghanyutkanku
dengan gelisahmu,
tentang bulan sabit yang turun hati-hati,
tentang pagi yang berhenti.

(Dimuat di Pikiran Rakyat, Minggu, 12 Juni 2011)







DI MATAMU

Telah kukembalikan api kepada api:
kini kutanam mawar dalam hati.

Telah kukembalikan cahaya kepada cahaya:
kini kutumbuhkan duri dalam kepala.

Telah kukembalikan bulan kepada matahari:
kini tak ada yang kusirami.

Telah kukembalikan bumi kepada langit:
kini ulat-ulat itu telah kusabit.

Dari api ke cahaya, bulan ke matahari, dan bu-
mi kepada langit dunia, kutemukan dua belah matamu:

perih menahan cinta,
pedih melawan rindu.

Maka biarlah kukecup kedua belah matamu
agar kita menjadi mawar cahaya—

dan fana.

(Dimuat di Indo Pos, Minggu, 7 Juni 2015)





 

PESAN SINGKAT UNTUK KEKASIH

Kasih, tak usah khawatir,
kita tak di-ada-kan untuk tak ada,

hanya dipulangkan saja
ke alam akhir.

Cinta ialah napas seperti dunia. Bila 
dihentikan, tak perlu merana,

ada debar waktu yang lama,
sungguh lama. Ketika itu tiada lagi cinta. 

(Dimuat di Indo Pos, Sabtu, 11 Oktober 2014)







PERPISAHAN

Meski jarak terbentang sudah, tak usah berkeluh, 
rembulan tampak indah dari jauh.

Karena ombak-ombak laut terpisah 
menguatkan seluruh desah. 
Bagai air tumpah dari retak wadah

takkan sirna; semua kan tetap meresap 
dalam debar cinta sekejap.

Maka ciumlah mulut, laut, dan mautku!

(Dimuat di Indo Pos, Sabtu, 11 Oktober, 2014)





 

DIALOG

Cinta ialah api. Kalau kau takut terbakar, menepi!
Untuk apa punya tubuh kalau tak merasakan api?

Biarlah panasnya mendidih,
bukankah dengan panas tubuhmu luka lalu perih?

Bukankah kelopak-kelopak bunga luruh demi bakal biji?
Bukankah agar hidup, dipotonglah tali ari bayi?

Bukankah dengan luka kita menjadi manusia?
Rahim ibu yang terdesak sakit tiada tara,
sebelumnya selaput dara dirobek, secara paksa atau suka….

Bahkan kelak api tetap dibutuhkan neraka tak terperi,
mencari-cari wajah cintamu yang luhur tapi lalai.

Agar kau sempat mengenal api itu panas lagi pedih
agar kau sempat menikmati keagungan yang merintih….
 

(Dimuat di Indo Pos, Minggu, 7 Juni 2015)

 

 

 

_

 

 


 

Komentar

Foto Beni Guntarman

Mantaap....

Mantaap Bung Narudin....puisi-puisinya bernas. Mudah-mudahan bisa memicu semangat para anggota Jendela Sastra untuk meningkatkan lagi karya-karyanya. Salam Hangat.

Beni Guntarman

Foto Narudin

Kepada Bang Beni

Bang, terima kasih, tapi tolong, nama saya "Narudin", bukan "Nuruddin", ya. Mudah-mudahan, Bang.

Foto Beni Guntarman

Oh...maaf...

Oh ..maaf terjadi salah ketik namanya....sudah diperbaiki. Salam.

Beni Guntarman

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler