Skip to Content

Sajak untuk Buruh Seumur Hidup

Foto Rumah Seorang Penyair
SAJAK UNTUK BURUH SEUMUR HIDUP
Karya Muhammad Rois Rinaldi



Apa kabar
anak-anak yang dilahirkan dari rahim pendidikan?
Kelahiran-kelahiran serba salah
kelahiran dari pemerkosaan dan pemaksaan itu,
sudahkah pakai seragam jeans tebal?
Seperti dalam kisah para budak pemecah batu Bumi Barat
sebelum lenyap tanpa sempat dicatat.

Apa kabar anak-anak yang dilahirkan dari rahim pendidikan
tanpa kesempatan tanpa pilihan,
sudahkah sarapan empat sehat lima sempurna?
Karena buruh harus segar dan bugar
Seperti kerbau Pak Tani, tidak boleh kurus kering.
Sebelum kalian berdesakan di jalan-jalan berlubang
antara ibu-ibu yang gelisah menuju pasar,
mahasiwa kupu-kupu yang diteror
iuran serta nilai ujian,
dan para pengemis yang menyewa bayi-bayi
memenuhi emperan dan trotoar
dengan wajah kemiskinan
yang terus diperdagangkan.

Apa kabar anak-anak
yang dilahirkan dari rahim pendidikan?
Aku dengar kalian akan menggelar demonstrasi.
Membela hak outsourcing?
Sudahkah benar-benar dipertimbangkan,
kemenangan macam apa yang hendak direbut
dengan tangan kalian yang disegel kontrak kerja?
Sudahkan dihitung benar,
berapa uang makan, ditambah bensin sebulan,
pakaian anak bini, juga jalan-jalan?
Agar harapan kalian tidak selalu cukup
dengan 50 ribu kenaikan gaji.
Lalu kalian pulang
dengan perasaan menang yang, aneh.

Agar kalian tidak kembali dibuat hilang akal
menghadapi masa depan
di balik kabut rencana penguasa
yang menjadi puzzle rumit penuh jebakan.
Menjadi kotak Pandora bagi nasib dan nasab
segenap turunan kalian!

Apa kabar anak-anak
yang dilahirkan dari rahim pendidikan?
Buku-buku yang cerewet sebenarnya terlalu gagap
mengabarkan kenyataan di bangku sekolah.
Karena itu, aku sampaikan ini,
agar kalian kembali bertanya-tanya.
dalam ketidakberdayaan,
apa yang layak diperjuangkan?
Di mana mestinya kalian titipkan
deru redam suara para buruh yang melelahkan itu?

Lembaga perlindungan rakyat
makin gemar menernak keroco birokrat
yang diangkangi para pengerat.
Orang menggadang kemakmuran sambil kasak-kusuk
menjual apa saja yang kalian miliki dengan sangat murah.
Dan kehidupan yang serba diobral ini,
melampaui batas kewajaran.
Di mana kalian tidak akan memiliki apa-apa
Warisan dari dan bagi kalian
adalah takdir sebagai buruh seumur hidup.
Benih-benih kalian hari ini
adalah tumbuhan yang dimakan anak cucu.
Tumbuhan nasib tanpa kemerdekaan.

Wahai buruh seumur hidup,
perjuangkanlah yang layak diperjuangkan!

Jl. Raden Sastradikarta, 2013


(dari buku kumpulan puisi Terlepas-Muhammad Rois Rinaldi, Pustaka Senja 2015)
Muhammad Rois Rinaldi, penyair kelahiran Banten 8 Mei 1988. Koordinator Nasional Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (Gaksa) dan Presiden Lentera Sastra Indonesia (LSI) ini bersastra sejak 1998, dimulai dari dunia perpanggungan puisi. Tulisannya berupa puisi dan esai dimuat di berbagai media massa, baik lokal, Nasional, maupun beberapa media massa di beberapa negara Asia Tenggara.


Karya-karyanya juga telah diterbitkan dalam bentuk buku, di antaranya Puisi Sepasang Angsa (Abatatsa, 2012); puisi Terlepas (Pustaka Senja, 2015); esai Sastracyber: Makna dan Tanda (Esastera Enterprise, 2016); esai Koperasi dari Barat (Gaksa Enterprise, 2017), Pemanggungan Puisi; Panduan Praktis Baca Puisi (Gaksa Enterprise, 2018), dan Membaca Puisi-puisi Penyair Perempuan Asia Tenggara (Gaksa Enterprise, 2018).


Rois telah menerima berbagai penghargaan di bidang sastra, di antaranya Anugerah Utama Puisi Dunia (Numera, 2014) dan Anugerah Utama Penyair ASEAN (E-Sastera, 2015 dan 2016). Bukunya yang bertajuk Sastracyber: Makna dan Tanda menjadi buku terbaik  terbitan Esastera Enterprise di Malaysia dalam kurun waktu 10 tahun (2006-2016).

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler