Skip to Content

Timur, Matahari Terbenam

Foto Dadox

(Refleksi Cita & Kasih)

 

Sepatu
derap tumit keroyok itu bumi
betis betas
riuh macam beruk saja !
Berisik !

Jubahmu serupa, sepadan satu citra
mahkota, 
Bah !! itu mimpi yang kau renggut dari kodratmu
Kau lari dari takdirmu karenanya
Tawamu itu siksa abadi!

Kau seka itu liur basi sisa mimpi tadi malam
meleleh di pipi sebelah kiri
naik, melingkar hingga pelipis yang kanan
jejaknya mengiris wajahmu jadi dua
atas dan bawah 
masuk ke telinga
merajalela, menggeliat liarnya dibalik pori
ke orasi
ke mulut
ke timur
ke arah matahari terbenam

Sepatu
derap tumit keroyok ini bumi
betis betas
berisik kau, kulit kayu !
Tadi pagi, itu belalang 
dia datang bangunkan kau dari imaji seharga satu kresek !
Grasak Grusuk! Ricuh dia ribut dengan kusen jendelamu
supaya kau bangun
supaya kau lihat pagi itu bagaimana
Tadi pagi, itu belalang menunjuk pantat panjangnya ke timur
matahari terbenam disana !
dia datang, supaya kau berhenti tertawa
jidatmu yang beminyak tidak lagi terkecoh penjabaran kentut
supaya kau berhenti melucu
supaya kau berhenti berfilsafat
supaya kau berhenti berorasi dengan mengigau
supaya kau..
kau,bangunlah!
Pelototi itu langit tanpa tanya
Pelototi itu langit sambil mengatup mulutmu
Pelototi itu 
Timur, Matahari terbenam




Malang, 6 Juni 2014__ di duapuluhdualebihkosongdua


Saya sangat mengharapkan Komentar. kritik dan saran dari para Expert terkait kiriman saya, di samping melihat saya sebagai seorang pemula yang mau merangkak naik di dunia sastra :)

salam sastra Indonesia

Komentar

Foto Beni Guntarman

Dialog dengan diri sendiri...

Sepertinya anda sedang berdialog dengan diri sendiri lewat puisi ini, karena saya tidak menemukan kata atau kalimat kunci untuk menemukan apa atau siapa yang menjadi objek puisi ini, atau saya yang kurang jeli menemukannya. Puisi ini bagus, inspiratif, gaya anda dalam bertutur lewat puisi ini mengingatkan saya pada sosok WS Rendra. Salam sastra.

Beni Guntarman

Foto Dadox

Terima kasih Pak Beni Guntarman.

benar begitu pak Beni. Berangkat dari kenyataan bahwa tanah saya itu (di belahan timur indonesia) "benar-benar tidak dihiraukan" oleh berbagai elemen, maka saya pikir dialog dengan diri sendiri seperti ini bisa jadi cermin yang dapat menggambarkan/menyuarakan lebih banyak hal daripada apa yang dapat diungkapkan, dan apa yang dapat disaksikan.
apakah saya berhasil Pak Beni?
saya mohon pencerahan dari anda, pak.

terima kasih atas apresiasi anda,
salam sastra

Foto Beni Guntarman

Timur, tempat matahari lama terbenam...

Timur, tempat matahari lama terbenam
detik-detik waktu berdetak lambat
lebah madu kehilangan pohon-pohon rindang tempatnya hinggap
patung asmat menatap bisu pada bumi papua yang terkoyak
anoa kebingungan mencari induknya yang hilang entah ke mana

Timur, tempat matahari lama terbenam
malam-malam terasa lebih panjang, lebih dari dua belas jam
pencuri leluasa bergerak menjarah desa, bukit, dan hutan
sementara engkau di kejauhan cuma berorasi dan bermimpi
tentang sebuah negrimu yang kaya, yang adil dan makmur!!!

Ya orang-orang timur harus lantang berkata tentang ketimpangan dan keterbelakangan, ciptakan lagi puisi-puisi indah tentang derita timur, tempat matahari lama terbenam! Salam sastra.

Beni Guntarman

Foto Dadox

TERKESIMA

sajak-sajak anda diatas benar-benar membuat saya terkesima. menggugah nafsu saya untuk mulai lagi mencorat-coret kertas, atau apa saja.
itu benar-benar brilian. pak!!!

Terima kasih sudah memberi pencerahan.
Terim kasih sudah 'mau mengerti' keberadaan kami

Salam sastra

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler