Skip to Content

Mungkin Aku Lupa

Aku mungkin lupa

dimana kusimpan aroma hujan

yang kauberi padaku waktu itu

Juga warna mata dan rona senyummu

 

Renjana

Renjana

Oleh Iyus Yusandi

 

senja kini

lembayungmu tak ronakan semburat jingga

Sajak Ombak

Ada yang ingin disampaikan ombak

melalui gulungannya

sesuatu yang ingin ia ceritakan

bersama deburan

tapi, selalu tertahan di bibir pantai

Perempuan Jalang

PEREMPUAN JALANG, 1

 

Di perempatan kota, sepasang mata jalang menyala

senyum-senyum mungilnya hangus terbakar tanduk-tanduk kerisauan

Mega Dini SariMungkin Aku LupaIyus YusandiRenjana
kesaSajak OmbakJoan UduPerempuan Jalang

Puisi

Satu detik saja

Sibuk-sibuk


Tiap hari tiap waktu tiap detik


Engkau selalu bilang "I'm busy"


Ya.. Busy


 


Serasa tak pernah ada waktu


Serasa tak pernah ada aku

Apa salah aku matre?

Kau bilang aku matre


Tapi kau tak sadar kau pelit


Kau bilang aku matre


Tapi kau tak sadar kau sungguh pelit


 


Ini itu kau hitung

Rusuh

Bermanis muka beriang canda


Ibarat mentari tak pernah lelah meski tiap hari bersinar


Tapi bintang pudar kala mentari datang


 


Oh...kalah

Kau pecah cermin di mukamu

Berkali kau ucap maaf


Berkali kau ucap lupa


Berkali kau buat salah


Berkali kau ucap "Ah.. ndak sengaja"


 


Kadang kau lalai kau

Minggu nan Suram

Minggu baru kemaren


Oh...sekarang sudah minggu


 Seperti amnesia saja


Belum jelas terasa bekasnya


 


Entah berapa minggu sudah

Aku Belajar Untuk Tidak Percaya

bagaimana mungkin percaya

bila dirimu sendiri yang telah mengajarkan ketidakpercayaan

 

ketika tanah direlakan, dengan rasa bangga sebagai warga

Senandung Tengah Malam

senandung itu
memecah kesunyian
rasanya tak asing

mencari asal suara
menjaring langit
merogoh bumi

jauh-dekat
tak lagi bisa ditebak

senandung itu
ya, senandung itu
rasanya tak asing

SUARA ANGIN : SATU

SUARA ANGIN : SATU

 

Begitu sepi di Cot Crueng

Hanya deru angin

Di punggung bukit

Di dahan akasia, dan ngarai

Hutan kesumat

JATINEGARA, 28 OKTOBER 1998

JATINEGARA, 28 OKTOBER 1998

 

Mengembara dari lorong

Ke lorong cuaca. Ke gang dan gedung

Berhala,  ternyata kedamaian itu

BALADA PUtus cinta

Kenapa kau bersedih kawan?
Kenapa kau buang kertas tulismu?
Biar kini aku yang akan membacanya

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler