Skip to Content

LEGENDA AEK BUSUK DAN PUTRI ANDAM DEWI

Foto SIHALOHOLISTICK

Alkisah tersebutlah sebuah perkampungan yang penghuninya sangat sepi apalagi pada saat malam hari, suatu ketika singgahlah sebuah kapal laut yang besar yang dipimpin oleh seorang pemuda bergelar St. Bagindo Alam yang berasal dari Sumatera Barat. Kapal laut tersebut terdampar di pantai Barat Pulau Sumatera. Pemimpin atau nakhoda kapal tersebut turun ke daratan dan melihat sebuah perkampungan yang diperkirakannya dihuni oleh banyak manusia, namun dalam benaknya timbul tanda tanya tidak seorang pun manusia yang terlihat di perkampungan itu.
Dari pinggir pantai ia menjalani perkampungan tersebut untuk bertanya kepada siapa saja yang dilihatnya tentang perkampungan tersebut kenapa sesepi itu. Namun setelah letih berjalan tak seorang pun yang dapat ditemuinya. Di samping ingin menanyakan tentang perkampungan tersebut ia juga ingin meminta bantuan bahan makanan untuk melanjutkan perjalanannya ke tujuan asalnya, yakni negeri Arab. Ternyata ia seorang putra saudagar kaya yang sedang berniaga melanjutkan usaha orangtuanya.
Akhirnya sampailah ia di depan sebuah rumah yang bangunannya berbeda dengan bangunan rumah lainnya. Hal ini membuatnya tertarik apalagi rumah tersebut terbuka dalam benaknya tentulah ada penghuninya di dalam rumah tersebut. namun ketika dia mendekat dan memanggil si pemilik rumah tidak ada jawaban dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa rumah tersebut berpenghuni. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan segera diketahuinya bahwa rumah tersebut milik bangsawan perkampungan tersebut. Akhirnya karena kelelahan dia tertidur di dalam rumah tersebut.
Pemuda itu terbangun ketika mendengar ada orang yang berbicara sambil berbisik. Ketika dia membuka mata maka ditemukannyalah dua orang wanita, wanita yang satu masih muda dan berparas cantik, pakaiannya pun begitu anggun dan berbeda dengan wanita yang satunya yang sudah berumur dan kelihatannya seperti dayang-dayang dari putri cantik tersebut. Segera permuda itu bersimpuh
“Ampun beribu kali ampun atas kelancangan saya memasuki rumah ini.” ucap pemuda tersebut sambil menunduk.
“Siapa gerangan engkau wahai pemuda?” tanya putri tersebut.
“Hamba hanya seorang nakhoda kapal yang terdampar di perkampungan ini. Para anak buah hamba sedang menunggu di kapal di pinggir pantai. Kami kehabisan bahan makanan dan bermaksud ingin meminta bantuan warga perkampungan ini. Namun setelah lama hamba berjalan tak seorang pun yang mampu hamba temui hingga hamba menemukan rumah ini dan tertidur karena lelah dan sudah berputus asa. Mungkin pasukan hamba sudah bosan menunggu di kapal arena memang tak seorang pun yang hamba ijinkan untuk meninggalkan kapal.” jelas pemuda tersebut. “Kalau boleh hamba bertanya, apa gerangan yang terjadi di perkampungan ini sehingga tidak seorang pun yang kelihatan di perkampugan ini sementara perumahan sangat banyak hamba temukan?” tanya sang pemuda tak mampu menyembunyikan rasa ingin tahunya.
“Percuma kami beri tahu. Engkau pasti tidak akan mampu menyelesaikan masalah yang sangat pelik ini. Semua warga di sini bersembunyi di tempat yang tertutup karena kampong ini sedang di satroni seekor makhluk raksasa yang sangat ganas. Makhluk itu sejenis burung berkepala tujuh, kami menyebutnya burung garuda.” jelas sang putri cantik tersebut. Warga di sini sangat resah bahkan untuk memasak menyalakan api saja sangat khawatir. Masalah ini semakin berlarut-larut sehingga banyak masayarakat yang mati kelaparan karena tidak memiliki makanan.”
“Kalau kalian percaya, hamba akan mencoba membantu menyelesaikan masalah ini.”
“Jangan sombong anak muda.”
“Jika hamba bisa menyelesaikan masalah ini, apa imbalan yang saya dapatkan?”
Sang putri terdiam memikirkan apa kira-kira imbalan yang sesuai untuk orang yang tak mereka kenal tersebut. Sang dayang-dayang juga berpikirkan hal yang sama.
“Bagaimana kalau saya mempersunting tuan putri?”
“Saya setuju.” jawab putri tersebut.
Mendengar jawaban putri, dayang-dayang tersebut terkejut dan mengingatkan sang Putri kenapa terlalu cepat mengambil keputusan. Sang Putri hanya menyepelekan kemampuan pemuda yang tak dikenalnya itu.
Sang pemuda tersebut mulai merencanakan sesuatu maka mulailah ia menggali tujuh lobang di tempat yang paling tinggi dipemukiman tersebut. Hampir satu bulan ketujuh lobang itu baru berhasil diselesaikannya sendiri. Selesai lobang ketujuh yang ukurannya jauh lebih besar dari lobang pertama sampai keenam maka ia kembali menuju lobang pertama. Di sana ia menyalakan api dan meminta para anak buah kapalnya mengumpulkan daun pohon yang masih hijau dan dibakar untuk menghasilkan asap yang banyak, karena menurut putri tersebut burung garuda berkepala tujuh tersebut akan datang bila melihat adanya kepulan asap. Sementara anak buah kapal yang lain menyalakan api di lobang kedua sampai lobang ketujuh.
Setelah kepulan asap berhasil dibuat pemuda tersebut maka terdengarlah burung raksasa itu mengeluarkan suara dan terbang menuju kepulan asap tersebut. Sang pemuda segera menghunus pedangnya dan siap bertempur dengan burung raksasa itu. Ketika burung raksasa tersebut mendekat ke lobang pertama, melihat ukuran tubuh burung raksasa itu sang pemuda mulai goyah dan gentar dan dia berpikir sampailah ajalnya. Namun setelah berfikir sejenak ia memberanikan dirinya dan dengan kemampuan yang dimilikinya ia melayang di udara dan segera memotong salah satu kepala burung tersebut dan jatuh ke dalam lobang. Burung itu meronta-ronta menahan sakit, kesempatan itu segera dipergunakan si pemuda untuk meninggalkan tempat itu dan menuju lobang kedua.
Di lobang kedua, sang pemuda melakukan hal yang sama seperti apa yang diperbuatnya di lobang pertama. Pada lobang ketujuh, kepala burung garuda yang tinggal satu juga dipenggalnya dan jatuh ke dalam lobang beserta dengan tubuhnya yang besar itu masuk ke dalam lobang tersebut dan tewaslah burung raksasa tersebut. Berita tersebut segera tersebar ke seluruh penjuru negeri bahkan sampai ke luar daerah sehingga warga yang selama ini berada dalam persembunyian keluar dan segera menuju tempat di mana burung garuda yang mereka takuti tersebut tewas.
Keberhasilan pemuda tersebut membuat sang putri berusaha menghindar dan masuk kepersembunyiannya ke dalam sebuah lobang yang berada dalam sebuah pohon. Hal itu diketahui oleh si pemuda dan mengucapkan sumpah kalau putri tersebut keluar dari persembunyiannya tidak akan mampu dilihat oleh manusia biasa dan tidak akan tersentuh oleh kehidupan manusia biasa. Setelah mengucapkan itu halintar sambar menyambar. Melihat itu sang dayang menyesali perbuatan sang putri yang mengingkari janjinya sehingga ia terkurung dalam persembunyiannya dan kalau pun ia keluar dari persembunyiannya ia tidak akan dapat dilihat oleh manusia biasa dan tidak akan mampu disentuh oleh kehidupan manusia biasa. Setelah beberapa lama, dari ketujuh lobang tersebut keluarlah bau busuk dari sinilah dikenal nama Aek Busuk.

(Diceritakan kembali oleh: Sastra Seratus Kilometer (Sihaloho Ar. Zainal)

Komentar

Foto diah

bagus

bagus bnget

Foto SIHALOHOLISTICK

TERIMA KASIH

cerita ini cukup banyak versinya, namun menurut saya inilah yang lebih mendekati pada konsep yang saat ini ada.

=@Sihaloholistick=

Foto diah

Versi lainnya

Seratus sastra..... Cerita legenda biasanya diperoleh dan disajikan dalam versi yang berbeda, karena sumbernya juga tidak berdasarkan fakta yang jelas. Coba anda kunjungi.....versi lain dari versi tuturan saya "Aek Busuk in Andam Dewi" search dari google. Suatu saat bisa kita diskusikan via email.

Foto diah

Panti Rehabilitasi wts

Tolong disampaikan kpd Dinas Sosial agar nama Andam Dewi tidak digunakan sebagai nama panti.
Ini tindakan pelecehan terhadap asset budaya minangKabau ....gantilah dgn nama yg pantas untuk nama panti tsb.

Foto SIHALOHOLISTICK

MOHON MAAF, SAUDARA DATUK SODA

Saya belum pernah mendengar nama Panti Rehabilitasi WTS dengan nama Andam Dewi, di tempat saya, nama Andam Dewi adalah nama sebuah Kecamatan

=@Sihaloholistick=

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler