Skip to Content

Perempuan Jalang

PEREMPUAN JALANG, 1

 

Di perempatan kota, sepasang mata jalang menyala

senyum-senyum mungilnya hangus terbakar tanduk-tanduk kerisauan

Sembunyikan Waktu

Bayangmu yang menyapaku dalam setiap malam.

membuat hati menjadi risau karena rindumu.

ku tuliskan goresan pena untuk memanggil namamu.

Mungkin Aku Lupa

Aku mungkin lupa

dimana kusimpan aroma hujan

yang kauberi padaku waktu itu

Juga warna mata dan rona senyummu

 

Dua Ratus Kalimat Cinta untuk Mey

Lantunan ayat-ayat cinta itu kembali hadir dalam kemarau hatiku yang kian gersang, dua ratus ayat cinta itu menggantikan sembilan puluh delapan harapan yang hanya menjadi kenangan yang kian menyesakkan. Kini seratus dua harapan baru telah menjemputku untuk menjadi wanita yang paling sempurna setelah jubah hitam sempat menyelimutiku saat aku merasa benar-benar rapuh.

Joan UduPerempuan Jalangannisa rizka roselinaSembunyikan Waktu
Mega Dini SariMungkin Aku LupaHidayatul KhomariaDua Ratus Kalimat Cinta ...

Karya Sastra

Puisi

Siapa aku?

Siapa dia?

 

Aku huruf-huruf menjadi kata, menjadi makna

Aku dikumpul-satukan, sesekali di buang

Dia perangkai kata, penikmat makna

Daun dan Angin

Daun itu semakin menghijau

Dan angin tak membencinya

 

Semilir angin berhembus perih

Berharap dapat sau pada daun itu

Tangisan Puisi di Wajah Ani

Malam-malam aku mengumpulkan kata-kata

Kupetik di tiap tangkai-tangkai sunyi

Malam-malam aku susun bait-bait cinta

Kutulis pada dedaunan bergugur lirih

 

Asa Berujung Lara

Kutelan lara mentah-mentah

Kala aku melihat seraut wajah disela pintu asa

Laju khayalanku terhenti

Pada ironi kembang melati layu sebelum rekah

 

Di Renggut Waktu

Ratusan menit lagi engkau 'kan pergi

Selaksa detik datang paksa menjemputmu

Dalam beberapa purnama engkau 'kan tiada dari pandanganku

Kau penuhi itu!

Hanya Kepada Sepi

Kini engkau tengah jauh

Di batas hutan

Di seberang lautan

Pada titik-titik air mata kubentuk jalur kerinduan

 

Di atas mega-mega kulukis parasmu

First Kiss; Mahligai Cinta

Mahligai Sang Pencipta masih megah berdiri ada

Kulihat di tiap sisinya tak berubah banyak

Interior dan eksteriornya pun masih sama seperti sedia kala

Ani Berparas Gundah

Dewasa ini kata-kata tampaknya lesu

Patah-patah mencari makna tanpa tuju

Memaksa menjadi bait-bait dalam ragu

Seadanya aku jadikan puisi untukmu

 

Aku Orang Lalu dan Puisi Kini

Ceritakanlah kepada pagi

Tentang mimpi dan kristal nestapa

Bicaralah kepada malam

PANJANG UMUR PERJUANGAN

Wakil kami yang budiman

Tolong suara kami engkau dengarkan

Wakil kami yang terhormat

Tolong aspirasi kami engkau catat


Sindikasi materi

Bookmark



Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler