Skip to Content

Mungkin Aku Lupa

Aku mungkin lupa

dimana kusimpan aroma hujan

yang kauberi padaku waktu itu

Juga warna mata dan rona senyummu

 

Dua Ratus Kalimat Cinta untuk Mey

Lantunan ayat-ayat cinta itu kembali hadir dalam kemarau hatiku yang kian gersang, dua ratus ayat cinta itu menggantikan sembilan puluh delapan harapan yang hanya menjadi kenangan yang kian menyesakkan. Kini seratus dua harapan baru telah menjemputku untuk menjadi wanita yang paling sempurna setelah jubah hitam sempat menyelimutiku saat aku merasa benar-benar rapuh.

Sembunyikan Waktu

Bayangmu yang menyapaku dalam setiap malam.

membuat hati menjadi risau karena rindumu.

ku tuliskan goresan pena untuk memanggil namamu.

Mega Dini SariMungkin Aku LupaHidayatul KhomariaDua Ratus Kalimat Cinta ...
Ag. Andoyo SulyantoroPuisi2 Ag. Andoyo ...annisa rizka roselinaSembunyikan Waktu

Karya Sastra

PULANGLAH NAK

Pulanglah . . .

Ayah nan papa menunggumu.

Sekerlip lilin senyum manis tertengadah.

Ihtiarkan sang buah hati di ujung tunggu.

 

Tentang Rindu, Rumah dan Pulang

“Jika engkau Tulus menyayangi maka hendakLah ketulusanMu laksana sepasang Merpati yang kemanapun pergi dia tahu Rumah untuk segala pulang, menjadikanNya tegar sekalipun tubuh terhuyung kala ditampar nakal sang angin , di tikam terik mentari dan diguyur Hujan badai namun Rindu, Rumah dan Pulang memantik Semangatnya untuk tetap mendayung Ikhtiar untuk menuai rindu dalam Rumah Kasih Sayang”

Catatan tanpa Titik

[Hurung – Adonara Barat, akhir Agustus 2017]

 

 

Deretan cemara berjejeran tengah bercengkeraman dengan Angin malam yang Genit 

Nanti pagi

KETIKA SEMUA TERSEMATKAN,

NANTI PAGI.

ADALAH SEPERTI HUJAN YANG SEJUK

LEGENDA AEK BUSUK DAN PUTRI ANDAM DEWI

Alkisah tersebutlah sebuah perkampungan yang penghuninya sangat sepi apalagi pada saat malam hari, suatu ketika singgahlah sebuah kapal laut yang besar yang dipimpin oleh seorang pemuda bergelar St. Bagindo Alam yang berasal dari Sumatera Barat. Kapal laut tersebut terdampar di pantai Barat Pulau Sumatera.

Serupa Kita

Kita serupa kumpulan hari di lingkar waktu

Mendaur siang dan malam pada akhir menuju

Berakhir dari mula dan bermula dari akhir

Merindumu dalam Kenang

5 tahun setelah kau pergi, Adik

Abangmu ini begitu merindumu

 

Lihatlah pohon akasia yang tumbuh di halaman rumah kita

Aku, Pikiran dan Kata

Kami berdiri dalam satu barisan yang sama:
Aku, pikiran dan kata
Kau tahu, siapa yang akan lebih dulu bersuara?

Antalogi Puisi Rindu

I

Aku menunggu hujan turun 

sebab mendung sudah menggantung

Berharap airnya hanyutkan gelisah 

yang jumlah denyutnya tak sanggup kuhitung

Dalam Hujan Aku Mengenang

Di, hujan datang lagi. Nopember tahun ini hujan begitu rajin datang dan pergi. Ia selalu tahu saat-saat aku sendiri dan merasa sepi. Ia datang seperti ingin menemani.

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler