Skip to Content

puisi kritik sosial

DAUN MANGGA

Melihatmu
seperti aku kembali pada hijau yang tertendang 
di dalam gedung berkardus-kardus
riuh dengan celoteh pekerja perempuan 

Gonggongan Lama

Orang bijak berkata, “yang lalu, biarlah berlalu
gonggongan di balik jeruji hati pada masa waktu
 
anjingku terkurung dalam kandang berbau busuk

Keringat Ini

Dan tawamu renyah sekali
Di kubangan kucur keringat bertuan
Tulangpun tak kau banting
Senang juga kau berenang

Sudah aku
Tulang terbanting
Remuk

Walau kucur keringat ini
Sebiji jagung

Bisikan-bisikan

udara dingin buatan menyambut
tenang layaknya sungai, sejuk seperti gunung
tapi bukan

aku pilih satu meja kayu
duduk

Retak Juga

dari dalam keluar menuju jalan
dari keramik, beton hingga aspal

pelan menjinjit
tak bersuara seperti tarian waktu

dasar fondasi yang dipingit

SYAIR TAK BERARTI

bagai penyair aku merangkai madah dalam pilu demi
menumpahkan sayang rasaku padamu yang berperi
gebu menggebu tak tertahan biru haruku meratapi

GELANDANGAN MENGGELINDING

sayang, ambilkan korek, akan kunyalakan

lilin ini untuk menerangi malam kita

untuk menerangi masa depan kita

dan untuk mengisi perut-perut kosong kita

Merajut Mimpi

Malam sunyi mencekam sepi Merajut mimpi-mimpi Menjaring angan Merenda rindu Di celah-celah napas sahabat Yang terlelap tidur di samping Terselip pesan perjuangan kaum miskin Mencari sesuap nasi dan

TELEVISI

Sore ini hujan, dan aku

dari ruang tamu

hanya nggrusa nggrusu

hanya nggruta nggrutu

 

televisi rumahku ceriwis sekali sore ini

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler