Skip to Content

puisi kritik sosial

DAUN MANGGA

Melihatmu
seperti aku kembali pada hijau yang tertendang 
di dalam gedung berkardus-kardus
riuh dengan celoteh pekerja perempuan 

PENGUASA AGUNG

Aku berdiri di depan sebuah gerbang masa lalu

menyaksikanmu berdiri sebagai sang penguasa agung

engkau tampil dengan segala atribut kebesaranmu

POLITIKUS BUSUK

Wahai para pemimpin negri, wahai para negarawan, wahai para politikus busuk

lelah kami dengan hingar-bingar politik di negri ini, lelah lahir dan bathin

Keramahtamahan Bengis

Semuanya tentang rasa

Dalam dunia ide dimuntahkan dalam benda

Mendayunya curiga

Andai saja aku presiden

andai saja aku presiden...

tak lagi berjubelan dalam angkot yang sesak oleh nafas dan asap rokok

Tikus Kecil Bermata Liar

Engkau datang dari kemustahilan kata-kata

dari tumpukan sampah yang berbau menyengat

dari sudut-sudut kumuh metropolitan yang garang

Republik Kata

Kata-katamu tumbuh di dalam hati dan pikiran

terpompakan oleh jantung mengalir ke mata, bibir, dan mulut

jadilah sebuah ucapan darimu, sebuah janji, sebuah pencerahan

Rakyat Menggugat

terlalu lama terlelap dalam tidur

kini kami berteriak

menumpahkan sesal atas amarah...!!!

pun...ketika diammu

suara kami menerobos ulu hatimu

Sayap Keheningan

Wahai penari topeng

menari dan menyanyilah dengan irama suara hatimu

ikuti gendang dan seruling yang berkumandang

tatap wajah-wajah yang ada di sekelilingmu

BUNGLON

Bunglon, sang penyamar hati di pohon kekuasaan

pada warna siapa yang berkuasa ia 'kan menyesuaikan warna diri

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler