Skip to Content

Puisi Religi

episode baru

aku rindu meramu hari dengan katakataku

entah, mungkin pagi ini

 

selaksa pesan yang mengalir melalui jarijemariku

masih terngiang jelas

TELANJANG

Kutulis suara dengan ludah
tanpa alinea dalam daging; sebab “harus” diakhiri lewat akibat.
Mati; bagiku titik
Berhenti seruncing nafas, berhembus khianati nyawa.
Hingga derai

LUKA MENGADUH BERALAMATKAN TUHAN

Senggang mengenang luka.

Airmata pupuh menyungai ke jantung.

Tambo hinggap mengawan.

Mengumpul lalu jatuh derai berderai.

Kenang menggenang, sesenggang hari.

Sajak Tubuh dan Ruh

panggilan isak berkumandang meregang katakata

Lingkaran Kasih Sayang

Duhai  ar-Rahim.
Engkaulah retina bagi jiwaku,
tanpamu; arahku senja, lalu buta.

Kesedihan hidup mengenang masa dari kesepian malam
Engkau tau?

KELOPAK MATA

Ada sesuatu yang tajam pada kelopak matamu

hingga aku pun tertunduk

mengiyakan raut.

 

Mengapa sesuatu yang baru meruntuhkan

sisa-sisa yang lampau?

Metafisik Bahasa

yang terlahir dari pena akan tersimpan dalam angin
bingkai dari makna, antara pola-pola jiwa
menangis, meronta, tertawa
luka adalah tanya; sakit induknya bahasa

Tawanan Sepi

kekuatan waktu terikat lebih menekan-menelan sadar di dasar penjamuan

Menelan Cahaya

keinginan menjelma dari rajutan labalaba
mengikat tanpa pintu
terkunci dalam antara
diam jadi mangsa,
jatuh adalah seribu dari satu pilihan;

Siapa Aku? Tuhan

Syair ini kutulis untukmu Tuhan
kuterjemahkan ayat-ayatMu kedalam tubuhku
saat aku buta akan huruf yang kubaca

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler