Skip to Content

Puisi Religi

PUISI-PUISI SRI WINTALA ACHMAD

 DALAM SEMBAYANG

 

Melolongkan doa seperti srigala

Atas arakan awan tipis di bawah purnama

Refleksi

 

Betapa banyak tangisan-tangisan telah kubuat

Berapa banyak keringat yang telah kau cucurkan hanya untuk sesuap nasi

Perjuangan

Malam menepi di ujung subuh

Aku terjaga, seraya merangkak menepis dingin

Dari tempat tidur, toilet berbatu,

hingga membeku di mimbar

Shalat serta dzikir

Malam Bergema

Sore ini sempat ku pikirkan tentang malam

Hanya senyum dan mimpi yang kutawarkan padanya

Bukan lukisan atau dara cantik yang hiasi alam ini

Horarium

 

HORARIUM, 1

Kulinting namamu, Mempelai

(dengan desiran angin, dengan bisikan

lembut liukan anak sungai).

 

Ruang Ini

Mazmur bagimu membubung

meninggikan dirimu mengatasi langit

di ruang berpintu kaca ini

kemuliaanmu mengatasi bumi

seberkas kipasan angin

meniup tengkuk

Jam Sembahyang

Abdi menghantar hati

membawa jiwa

menabur doa

 

Benarkah hati 

sungguh terarah?

bukan terpukau

status sosial

Perempuan Penenun

Senja turun

rintih burung menyesali 

angin kering yang cepat datang

perempuan itu menenun lagi

terlalu gerah menenun di kala siang, katanya

SENJA BERTEDUH

Senja berteduh.

Pada seraut hujan.

Tinggalkan tanda kehidupan.

Dan seraut ihsan dalam tidurku.

 

Pergilah fana.

DAN TITIK TIGA

Dan . . .

aku mendapati dalam sunyi

keberadaan waktu dan diri

hati yang terjaga dalam tulus

menguntai kalimat dalam keteduhan

 

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler