Skip to Content

puisi renungan

KERETA WAKTU

Aku tidak pernah tahu

kereta waktu seperti apa

yang telah membawaku hingga tiba ke detik ini

 

Aku tidak pernah tahu

TERTIPU CINTA

Cinta itu sepenuhnya bersemayam di dalam kalbu

Tapi aku si orang dungu mencarinya di dalam simbol-simbol

Ketika KAU nampak-kan kepadaku si anjing hitam

CAMAR TERBANG MENJAUH

Burung camar putih terbanglah

Sebatas jauh pandang aku menatapmu

 

Gumpalan awan senja mengelam

Mentari pun tenggelam, air laut mulai pasang

 

CINTA DIATAS CINTA

Aku punya banyak cinta

Tetapi hanya satu yang setia bagiku

Ketika yang lain meninggalkanku

Ia tetap setia disampingku

Menemaniku di dalam liang kubur

DUA PERTIGA MALAM

Jejak perjalanan anginku terhenti di ufuk fajar

Di bibir waktu ia menghilang dan rembulan menggigil di kejauhan

 

KEMARAU

Helai-helai daun kering

Berjatuhan di sepanjang jalan itu

Musim panas, penghujan masih jauh

Gersang terasa hingga penghujung jalan

 

DERAI-DERAI DAUN KERING

Jemari kokoh angin timur menggoyang pucuk pepohonan

Berderai-derai daun kering melayang hingga jauh

Kulihat engkau pasrah, jatuh terkulai di sisi jalan 

Alternatif Cinta

Bila kau sudi memberiku cinta

berilah aku sepotong kayu yang terbaik

agar ia ku jadikan bara yang terus menyala di hati

agar menjadi cinta yang tak lapuk oleh waktu

Bara Yang Tak Kunjung Padam

Edelweis

Begitu lama kita tak jumpa

Tiga dasawarsa tiada kabar berita

Ribuan kilometer jarak memisahkan kita

Engkau bagai bara yang tak kunjung padam

Menarilah Sepuasmu

Wahai badut-badut penari topeng

Menarilah sepuasmu, lampiaskan nafsumu

Menarilah dalam alunan suara gendangmu

Menarilah engkau hingga kehabisan malam

 

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler