Skip to Content

puisi renungan

SENANDUNG DUKA LAUTAN

Malam ketika purnama menyinari pantai

Sebuah jendela kamarku terbuka lebar

Dari sana aku melihat keberadaanmu

Sepotong bulan yang tengah bernyanyi

ANGGUR SECAWAN

Aku datang kepadamu

Mengetuk pintu-pintu kesunyian malam

Memohon untuk menjadi cawan anggurmu

Tempat kau tuangkan anugrah kehidupan

 

Kudambakan ia

LAUTAN CAHAYA

Lihatlah lautan cahaya yang luas membentang

Gerak ombak-Nya yang tiada berpantai

Jelajahilah hingga jauh guna mengungkap tabir-Nya

NOBEL PERDAMAIAN

Terbetik kabar tentang keluguan anak-anak

mendambakan kehidupan dunia yang damai

suara hati sang anak yang ditulis dengan tinta emas

meraih penghargaan Nobel Perdamaian!

TERSENYUMLAH NEGRIKU

Betapa keras dan panjang perjuangan menggapaimu

Hanya untuk mendapatkan seulas senyummu, negriku

 

Sepanjang siang, sepanjang malam, dan sepanjang waktu

SENAYAN

Saat-saat seluruh mata memandangmu

Tidak tercium gelombang harum keluar dari pintu-pintumu

Kecuali berita-berita besar tentang perseteruan dan persekongkolan

 

BULAN MERAH DI MATAMU

Bulan merah darah terlihat di matamu

menatap letih pada senja yang berawan

 

Kemelut hati membara,  meradang laksana badai

PRAGMATIS

pragmatisme pragmatisme pragmatisme

punggungmu semakin bongkok di makan usia

tak mampu lagi memanggul kepentingan bangsa

Ujian atau Cobaan

Berjalan menuju ke kota sejuk

Jalan panjang harus kutempuh

Mengarungi lautan matahari

Panas membara membakar telapak kaki

Panas menyengat menusuk ke ubun-ubun

RINDU PELAUT

Dalam tatap sorot mata jalang bulan perindu

Berkhayal para pelaut dalam ayunan gelombang

Melaju kencang kapal layar dalam hembusan angin

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler