Skip to Content

puisi renungan

PELAUT TUA DAN SENJA

Seorang pelaut tua berada di bawah naungan senja

Berdiri di tepian pantai, menatap ke lautan lepas

Nun di kejauhan di sana terlihat langit mulai mengelam

 

HAMBA YANG FAKIR

Kulihat engkau

semisal sajak, puisi, amsal, atau apa pun namamu

berlumpur kata berbalut makna

berserak di sepanjang jalan yang kulalui

MATA HATI

Samudera hikmah_Mu

Lautan ilmu, luas tak berbatas

Mengalun di dalamnya ombak keperkasaan-Mu

Melekat pada segala makhluk yang tercipta

SELAMAT BEKERJA PRESIDEN RAKYAT

Laksana guyuran hujan

Datang membawa kesejukan

Membangkitkan hijau rerumputan

Merapatkan kembali tanah yang retak-retak musiman

 

SENANDUNG DUKA LAUTAN

Malam ketika purnama menyinari pantai

Sebuah jendela kamarku terbuka lebar

Dari sana aku melihat keberadaanmu

Sepotong bulan yang tengah bernyanyi

ANGGUR SECAWAN

Aku datang kepadamu

Mengetuk pintu-pintu kesunyian malam

Memohon untuk menjadi cawan anggurmu

Tempat kau tuangkan anugrah kehidupan

 

Kudambakan ia

LAUTAN CAHAYA

Lihatlah lautan cahaya yang luas membentang

Gerak ombak-Nya yang tiada berpantai

Jelajahilah hingga jauh guna mengungkap tabir-Nya

NOBEL PERDAMAIAN

Terbetik kabar tentang keluguan anak-anak

mendambakan kehidupan dunia yang damai

suara hati sang anak yang ditulis dengan tinta emas

meraih penghargaan Nobel Perdamaian!

TERSENYUMLAH NEGRIKU

Betapa keras dan panjang perjuangan menggapaimu

Hanya untuk mendapatkan seulas senyummu, negriku

 

Sepanjang siang, sepanjang malam, dan sepanjang waktu

SENAYAN

Saat-saat seluruh mata memandangmu

Tidak tercium gelombang harum keluar dari pintu-pintumu

Kecuali berita-berita besar tentang perseteruan dan persekongkolan

 

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler