Skip to Content

agiz

 

idealis

Informasi Pengguna

Foto agiz
Tidak tersambung. Terakhir tersambung 8 tahun 48 minggu lalu. Terputus
Aktif sejak: 04/08/2011

agiz cobain

Informasi Umum
Nama: 
agiz cobain
Lokasi: 
DKI JAKARTA
Minat: 

sastra

Tidak ada tulisan.

Tidak ada tulisan.

JenisTulisanKomentarPengunjung
  agizOrang LainTotalHari Ini
Berita
Karya Sastra838,2980
Wawasan
Bookmark
Dapur Sastra
JUMLAH80038,2980

Komentar

Foto agiz

jika perlu, akan ku bunuh umar bakrie

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam

mulut bisa dibungkam

namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang

dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

suara-suara itu tak bisa dipenjarakan

di sana bersemayam kemerdekaan

apabila engkau memaksa diam

aku siapkan untukmu : pemberontakkan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok

yang merayakan hartamu

ia ingin bicara

mengapa kau kokang senjata

dan gemetar ketika suara-suara itu

menuntut keadilan?

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata

ia yang mengajari aku untuk bertanya

dan pada akhirnya tidak bisa tidak

engkau harus menjawabnya

apabila engkau tetap bertahan

aku akan memburumu seperti kutukan

*. (Sajak suara, Wiji Thukul)

Aku lahir 14 tahun setelah meninggalnya Albert Camus, pada tahun dan bulan yang sama dimana terjadi peristiwa pembunuhan massal di daerah tanjung priok. sejarah seringkali bertingkah seperti pembual besar, dan penipu yang ulung, yang benar ia sembunyikan yang palsu ia tampakkan, sementara diujung lain, orang- orang kecil yang tahu akan peristiwa itu hanya bisa menggerutu di balik bantal, berteriak dalam hati. Ada juga sebagian kecil dari mereka yang berani bernyanyi, namun suara itu hanya terdengar sekali- dua kali, setelah itu hilang,……..entah kemana perginya suara itu,….hilang…………….. bersama……….penyanyinya. suara- suara mereka akhirnya di bungkam oleh tangan- tangan tak terlihat yang besembunyi di balik tirai- tirai kekuasaan, di balik pongahnya keadilan. Dimanapun ada setan, dimanapun ada malaikat, tapi yang menyakitkan di negeri ini…….banyak iblis yang berwajah malaikat.

Surakarta,1990 dalam kelas taman kanak- kanak. Bocah kecil itu berdiri dengan punggung menempel pada dinding disamping papan tulis. Hidungnya kembang kempis, bibirnya gemetar, hampir seluruh badannya bergetar, matanya sembab, bocah itu tetap berdiri mematung sedang gurunya sudah mengijinkan ia untuk duduk. Di raut mukanya yang mungil itu terpampang wajah kebingungan. Ia tak tahu harus berkata apa, hingga bel tanda pelajaran telah usai memecahkan suasana hening itu. Kawan- kawannya yang lain telah hilang satu persatu dengan alat- alat tulis yang telah dikemasi dalam tas ransel masing- masing. Jendela telah di kunci, tampaknya guru muda yang di depannya telah dan hampir- hampir putus asa membujuk bocah kecil itu untuk pulang, tapi sia- sia saja.

“Tok- tok....tok,....” , dari pintu terlihat wanita separuh baya dengan kerudung kecoklatan, badannya tidak telalu tinggi, mukanya begitu teduh, bibirnya menyiratkan seuntai senyum, sorot matanya teduh, roman mukanya secara keseluruhan menggambarkan bahwa ia adalah perempuan sederhana, sabar dan telah kenyang dengan pelajaran hidup. Di rayunya bocah kecil itu dengan sebuah permen berbentuk kaki dengan gagang putih. Selang beberapa menit akhirnya bocah itu mau juga diajak berkemas, bukannya pulang bocah itu mengikuti kemana perempuan paruh baya yang bernama Aminah berjalan. Ruangan itu tidak terlalu besar, hanya terdapat sebuah bangku kecil, meja panjang yang diatasnya terdapat sederetan gelas, piring, sendok dan garpu. Nampan yang sudah terlihat usang tergantung dengan enggan di atasnya, menggantung pada paku yang tertempel pada dinding. teko yang menghitam bagian luarnya masih berdiri kokoh diatas kompor minyak. Tampaknya nyala api yang kecil digunakan agar air didalamnya terjaga panasnya. Dua manusia beda generasi itu duduk saling berhadapan, bocah itu telah akrab dengannya sejak pertama kali masuk taman kanak- kanak,

“Bu, cita- cita itu opo sih?”

“oo..., jadi tadi kau menangis karena di tanya sama bu guru tentang apa cita- citamu?”

Bocah itu menjawab dengan anggukan kepala, bu Aminah berpikir sejenak, ia mulai menerangkan apa itu arti cita- cita pada bocah kecil itu dengan kalimat – kalimat yang paling sederhana agar dapat di pahami bocah berumur lima setengah tahun itu.

“jadi sekarang kau mengerti apa itu cita- cita?”

Sekali lagi bocah itu menjawab dengan anggukan. Sambil mengusap dan merapikan rambut si bocah, bu Aminah berkata......

“apapun cita- citamu kelak....kau harus menjadi orang baik nak,...mau jadi dokter, jadi guru, jadi polisi jadilah yang baik”.

Dan sekali lagi bocah itu menjawab dengan anggukan kepala.

“sekarang kau sudah tahu,....kelak kalau kau besar mau jadi apa?”

Setelah pura- pura membetulkan kancingnya yang sebenarnya tidak apa- apa, bocah itu menjawab.

“Aku pengin jadi seperti ibu Aminah”.

Kejadian itu telah berlalu beberapa tahun yang lalu, tapi dalam kepala bocah itu masih saja terpatri dengan kuat. Selain itu tiap jam istirahat tak jarang ia berkunjung ke tempat bu Aminah, sambil membaca buku cerita, ruangan tempat kerja bu Aminah tak jauh dari rak- rak buku yang dipakai sebagai perpustakaan. Buku pertama kali yang di pinjamnya adalah buku yang menceritakan petualangan manusia dan hewan yang pertama kali menginjakkan kaki di bulan.

6 tahun setelahnya, bocah kecil itu tumbuh menjadi remaja yang kurus, selepas perpisahan kelulusan, sesampainya dirumah. Ia duduk merapat pada meja makan, duduk mendengarkan ibunya bicara, sedang diatas meja terdapat stopmap warna kuning dengan angka satu romawi yang coba di silang , namun akhirnya di tutup dengan tip-ex, dan di ganti dengan angka romawi II.

“Sudahlah Le, kamu ini kan bukan siapa- siapa, bukan anaknya orang kaya, lha wong bapakmu juga hanya seorang petani. Lagi pula itu juga tak berpengaruh banyak pada mu kan....?, toh itu cuman sekedar formalitas saja”

Remaja itu hanya diam, menundukkan kepala menggaruk- garukkan kuku- kukunya di bawah meja.

“ jadi orang itu harus pandai- pandai berterima kasih, pinter- pinter nrimo kahanan, semua itu sudah di gariskan oleh Yang Maha Welas Asih”.

Peristiwa itu berlalu begitu saja. Bulan –bulan berikutnya ia mulai sibuk dengan pelajaran sekolahnya yang baru. Masa pubertas kini mempengaruhi karakter- pribadi remaja itu, ia mulai susah diatur, jarang bicara, hari- harinya dilalui lebih banyak terpekur dengan membacai barisan kalimat dan kertas- kertas, mulai dari biografi sampai novel- novel sastra. Kertas- kertas itulah yang mulai mengisi kepala remaja itu.

Senin, dalam pelajaran kesenian daerah nilaiku di potong, yang lebih sial pada hari kamis dalam pelajaran fisika, nilaiku yang tadinya Sembilan disunat dua angka tidak sampai disitu saja, oleh guruku yang berinisial K itu aku di tuduh menyontek kawan sebelahku dengan dalih tulisanku yang morat- marit. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya.saat itu aku hanya bisa diam…diam…dan….. diam. Selasa pada minggu setelahnya dengan kepalaku sendiri aku memergoki teman sekelasku, peringkat pertama dalam kelasku menyontek pada saat ulangan catur wulan, hal itu juga di ketahui oleh guru pengawas, tapi hanya di tegur dengan senyuman. Mulai saat itulah aku mulai benci dengan namanya belajar.

Sekolah menengah pertama adalah fase terburukku dalam proses belajar, aku tak perduli lagi kalau besok pagi ujian kenaikan kelas, aku tak lagi belajar dengan serius. Aku juga benci kepada hampir semua guru, karena mereka menggunakan ilmu psikologi yang telah usang, entah kenapa tiap mengalami ketegangan yang tak bisa ku kendalikan tulisanku menjadi nggak karuan. Hampir semua guru mengira aku sering menyontek karena tulisanku mengarah pada semua itu, aku teringat pada novelnya Harper Lee. Tak perlu sebuah bukti engkau benar atau salah, asal kau berkulit hitam maka kau adalah tersangka. Hingga lulus smp aku menjadi manusia yang bersembunyi di balik kertas, semua rasa berontakku pada keadaan kutuliskan dalam goresan- goresan pena.

Memasuki masa SMA aku mulai berani mengemukakan apa yang ada di kepalaku, aku merasa adrenalinku makin terpacu saat aku mulai berani menggunakan kata “berontak”, saatnya kita berani bicara, bukan mewakili aku atau mereka, tapi mewakili kebenaran, mewakili keadilan, karena selama ini keadilan telah di kerdilkan, kebenaran seri di sembunyikan. karena diamnya kita terhadap ketidakadilan, adalah sama saja dengan melanggengkan ketidak adilan itu sendiri. Hari ini Aku mulai berani bicara, aku boleh tidak punya harta, tak boleh bermimpi, tapi aku takkan pernah sembunyi dibalik “megah”-nya kata takut.

Dalam temaram lampu lima watt, dalam gubuk yang terlalu “mewah” untuk disebut rumah, seekor kucing belang dengan salah satu kaki belakang terangkat, setelah menandai daerah kekuasaannya ia pergi.

“Le….., kenapa kau jadi seperti ini?, dulu ibumu ini tak pernah ngidam batu, tapi kenapa hatimu sekeras ini. Kalau tiap yang jahat kau lawan, satu persatu kawanmu akan menjadi musuh bagimu”.

Lelaki yang di panggil Le, itu hanya duduk diam. Baginya percuma saja menjawab setiap perkataan ibunya, egoisme anak muda-nya barangkali telah membentuk benteng pertahanan yang takkan tembus sekalipun dengan hantaman dan serbuan kata2 dari ibunya.

“apakah sekolahmu yang tinggi itu yang membuat mu seperti sekarang ini le?, apakah buku- buku yang kau baca itu telah merasukimu? Jawab ibumu ini Le,….kenapa kau hanya bisa diam, sedang di luar sana kau berteriak-berteriak seolah- olah kau bicara pada orang- orang tuli.”

“Kau ini dari kaum sudra le, jangan sekali- kali kau merasa dan bersikap seperti kaum ksatria, kaum sudra itu mestinya seperti rumput, kalau di injak diamkan saja, besok juga akan tumbuh lagi”.

“Apakah kau terlalu banyak bergaul dengan kaum brahmana?....apakah brahmana- brahmana itu yang mengajarimu seperti ini?, apakah kau akan melompat dari kastamu, Le….. Ingatlah pesan almarhum ayahmu dulu, resiko dari orang- orang yang melawan arus itu akhirnya akan kalah, tersingkir dan terbuang Le?, mestinya kau lihat dulu seberapa kekuatanmu, ukur dulu seberapa kemampuanmu, baru kau bicara keras- keras”.

Mungkin bosan dengan sikap acuh anaknya, perempuan itu pergi berbaring diatas dipan bambu yang di buat oleh tangan almarhum suaminya dulu. Sedang anaknya masih menekuri buku yang berwarna kecoklatan karena telah lapuk dimakan usia, ujung- ujung kertas yang dulunya lurus, mulai menghilang sedikit demi sedikit, buku- buku itulah yang kini mulai menemaninya, saat dimana ia tak punya kawan untuk diajak bicara, saat orang-orang tak peduli dengan keadaan sekitarnya. buku-2 itulah yang menggantikan posisi ayahnya, teman boleh hilang, kekasih boleh pergi dan berkhianat, tapi buku akan menjadi sahabat setia bagimu, kemarin, hari ini, esok atau di kemudian hari. Diambilnya pena dari dalam tas yang telah menemaninya hampir 8 tahun itu, dibukanya buku hariannya, mulailah ia menulis.

Hari ini lagi- lagi nilai ulanganku di sunat, apakah guru- guru itu sedemikian benci padaku?, atau guru- guru itu melihat diriku seperti seekor monyet yang duduk diantara kerumunan manusia?, aku takkan gentar meskipun nilaiku kau warnai dengan gincu. Guru bukanlah dewa yang tak pernah salah, dan murid juga bukanlah kambing atau kerbau yang mesti dicocok hidungnya. Omong kosong kalau guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, itu dulu, mungkin dulu sekali, bahkan bukan semuanya, mungkin hanya sebagian kecil. Ada juga guru yang kerjaannya ngobyek kesana- kemari nyari tambahan, muridnya ditinggalkan dengan tugas yang di kumpulkan dalam sesobek kertas, dan kertas itu berakhir pada tukang penjual kacang goreng di pasar malem. Ada juga guru yang kerjaannya tukang kibul, untuk menutupi kebodohannya ia mula bercerita kalau tadi pagi kucingnya mati karena makan tikus yang telah ia racun sendiri, menghabiskan waktu yang tadinya berdurasi 3 jam mata pelajaran dan hanya diisi 20 menit, kadang- kadang bercerita tentang liburannya di makasar, atau di bali. Apakah lagu umar bakri akan terus ada kelak jika aku punya cucu...., mungkin lagu itu harus direvisi, atau paling tidak ada lagu tandingan yang menceritakan kebobrokan para pengajar di negeri ini. Sudah terlalu lama para pengajar itu disejajarkan layaknya dewa. Untuk para guru yang mengajar dengan hati, untuk para guru yang mengajarkan dengan jiwa......, segenap hati tulus dan kepala tertunduk ku haturkan sembah sujudku padamu, tapi tidak untuk guru- guru picisan, tidak untuk tukang mark- up anggaran, tukang sunat nilai, sekalipun takkan ku tundukkan kepalaku pada orang- orang seperti kalian, sudah terlalu lama kalian bersembunyi dibalik topeng pengajar, topeng kenyamanan, suatu saat nanti dan jika perlu.......akan kubunuh umar bakri.

 

Komentar

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler