Skip to Content

BANTEN KEHILANGAN RUANG SASTRA

Foto encep abdullah

Dimuar di Radar Banten, 21 Februari 2015 


Oleh Encep Abdullah

  

 

Pilihan

Melihat realita yang ada sekarang ini—bahkan sejak dulu—perkembangan sastra sudah sangat massif di berbagai media. Baik media koran, blog, maupun majalah. Walaupun hanya seminggu sekali atau paling banyak dua kali seminggu rubrik sastra nongol di koran—itu pun hanya seabatas penghibur saja—perlu ditelusuri keberadaannya.

Bagi saya, karya sastra adalah persoalan antara pengarang, pikiran, hati, kata dan kehidupan. Kelima unsur tersebut merupakan hal pokok dalam karya sastra. Salah satunya dalam cerpen. Cerpen adalah prosa. Prosa adalah bercerita. Bercerita melalui kata, pikiran dan hati. Ketiganya tidak akan terlepas dari sisi kehidupan—meskipun mengarang dengan sebebas-bebasnya.

Ketika membaca cerpen di berbagai koran setiap minggu, terbesit dalam ruang pikir saya, apakah karya sastra harus dikelompokkan seperti ini? Mengapa tidak diberikan ruang sebebas-bebasnya. Bagi saya, hal ini adalah sebuah persoalan sekaligus pilihan. Cerpen-cerpen yang dimuat di Republika, misalnya, lebih menyodorkan karya yang berbau religi, agamis, dan santun. Misalnya dalam karya Rifan Nazhif berjudul Gerobak Bakso (Republika, 6 Juni 2010), bercerita tentang seseorang yang sering melalaikan salat karena sibuk dengan dagangannya. Dalam kutipannya, ”Ris, kau tak salat dulu? Dengar tuh, sudah adzan!” juga Fandy Hutari dalam cerpennya Kepura-Puraan (Republika, 18 Juli 2010), bercerita tentang kesabaran seorang satpam yang selalu diusik keprofesiannya. Dalam kutipannya, ”Sabar ya Bu, serahkan semua urusan kepada Allah. Allah tidak tidur. Allah berserta orang-orang yang sabar.”

Lain halnya di Kompas, cerpen-cerpen yang dimuat lebih beraura syahwat. Bebas tanpa batas. Misalnya, karya Djenar yang berjudul Air (Kompas, 25 Juni 2006), bercerita tentang perjuangan seorang ibu saat melahirkan dan membesarkan anaknya. Dalam kutipannya, Air putih kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Mengalir deras sepanjang rongga vagina hingga lengket, liat sudah di indung telur yang tengah terjaga. Menerima. Membuahinya. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Rasa mual merajalela. Pun mulai membukit perut saya. Ketika saya ke dokter kandungan untuk memeriksakannya, sudah satu bulan setengah usia janinnya. Selain itu, Gerhana Mata (Kompas, 20 Mei 2007), bercerita tentang kerinduan seseorang akan suaminya. Dalam kutipannya, namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Walaupun kami hanya bertemu kala siang, atau kala pagi dan malam yang tak asli. Kalimat di bungkus kondom “ASLI, SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Bunyi ranjang berderak. Jantung keras berdetak. Suara yang semakin lama semakin serak, adalah asli. Membuat saya selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali.

Begitu juga dengan Eep Saefulloh Fatah dalam Cinta pada Sebuah Pagi (Kompas, 25 Mei 2008), bercerita tentang hubungan perselingkuhan antara majikan dan pembantunya. Dalam kutipannya, ”Tak apa-apa hidungmu pesek. Lebih baik berhidung pesek tapi dengan dua bukit mancung dan terurus di bawahnya,” kata Arnando sambil menyentuh lembut salah satu bukit yang menjulang di dada Asti, pada sebuah pagi yang lain.

            Tidak hanya dari sifat antara kedua media tersebut saja yang religi dan bebas, tetapi juga masih banyak perbedaan dan pengelompokkan lainnya yang lebih mendasar. Misalnya saja, dalam Republika, bahasa yang digunakan lebih ringan dan mudah dipahami. Sebaliknya, Kompas tampak lebih berat bacaannya. Kata-kata yang disuguhkan penuh dengan metafor, surealis, dan absurd. Isi cerita terkadang selalu tersembunyi dibalik kata-kata. Misalnya, dalam cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Dodolidodolibret, Agus Noer dalam cerpennya Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia, dan Djenar Maesa Ayu dalam cerpennya Ikan, seperti kutipannya berikut, Ia ikan yang terbang. Ia burung yang berenang. Dan saya, adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang. Hal yang benar-benar di luar logika.

 

Subjektivitas Vs Objektivitas

Dimuatnya sebuah cerpen di media massa—khususnya koran—tidak akan terlepas dari beberapa faktor: (1) selera redaktur; (2) hubungan emosional redaktur dengan pengarang; (3) kualitas karya (mengikuti perkembangan sastra itu sendiri). Ketiga faktor tersebut kadangkala dapat merugikan penulis, dapat pula menguntungkan penulis.

Misalnya di Kompas, faktor kedekatan emosional antara redaktur dengan pengarang begitu terasa dirasakan. Orang-orang yang sudah tenar, semisal Agus Noor,  Putu Wijaya, Ayu Utami, mudah sekali karyanya dimuat. Mungkin mereka dianggap sebagai senior yang karyanya memang pantas dipublikasikan. Padahal, belum tentu kualitas dari karya pengarang tersebut bagus dan layak. Seharusnya redaktur memberikan peluang lebih kepada penulis-penulis muda. Saya rasa, yang tua  lebih baik mengalah saja—terbitkan saja menjadi buku. Toh, kalian (para penulis tua) sudah berkontribusi banyak dalam perkembangan kesusastraan bangsa ini—subjektif saya pribadi. Sekiranya kalau karya para penulis muda kurang berkaidah dalam menulis karya sastra, sepatutnya para penulis seniorlah yang seharusnya membimbing dan membenahi, beri kritik dan saran kepada penulis muda—terutama para redaktur koran untuk melampirkan penjelasan kala karya ditolak. Pemibinaan para penulis muda cukup penting supaya ada regenerasi mendatang yang bisa membangkitkan gairah sastra Indonesia—khususnya cerpen—setelah mereka (penulis tua) tutup usia.

Koran Republika, saya rasa pun sama, hanya menerima karya pada satu sisi saja—sisi religi. Seharusnya, media memberikan ruang yang sebebas-bebasnya kepada penulis muda. Menghindari keegoisan. Selektif dalam memilih karya (tanpa melihat siapa pengarangnya terlebih dahulu). Subjektivitas dan objektivitas ini memang sulit dihindari. Keduanya seperti sistem yang saling mengganduli. Terkadang miring ke kiri dan terkadang pula ke kanan. Namun, keduanya saling melengkapi. Pada intinya, inilah fakta yang ada dalam kesusastraan bangsa kita. Subjek—Objek (kaidah sastra).

 

Pengarang Tidak Konsisten

Semakin melihat beraneka ragam jenis tulisan dalam koran, semakin banyak saya lihat pengarang tidak konsisten dengan gaya kepenulisannya (atau kreatif?). Misalnya saja, Rifan Nazhif, cerpennya Gerobak Bakso dan Suatu Pertemuan pernah dimuat di harian Republika dan Kompas. Saya melihat Rifan tampaknya tidak konsisten dengan gaya literasinya. Di satu sisi ia berbicara religiusitas dalam cerpen Gerobak Bakso (Republika, 6 Juni 2010). Namun, disatu sisi ia keluar dari sisi religiusitasnya dalam cerpen Suatu Pertemuan (Kompas, 22 November 2009). Inilah kelemahan yang tersodorkan diwajah penulis—ketidakjujuran pada akidah karyanya. Bagaimana penulis bisa konsisten jika dalam berkarya selalu dituntut untuk mengikuti aturan-aturan dalam berbagai media koran tersebut. Jika karya kita ingin dimuat di Republika otomatis karya kita harus sesuai dengan seleranya—yaitu religius. Jika tidak, maka karya kita pun hanya menjadi sampah yang dibiarkan begitu saja (dalam tanda kutip). Begitupun di koran Kompas, karya religi susah untuk masuk, terkecuali karya tersebut memang sesuai dengan selera redakturnya.

Dari uraian panjang lebar di atas—yang seharunya tidak penting untuk diperdebatkan—sebenarnya saya hanya ingin mengutarakan sebuah pertanyaan. Ke manakah ruang (media) sastra di Banten saat ini? Saya sudah tak menemukan lagi cerita-cerita menarik setiap sabtu dan minggu di koran atau setiap bulan di majalah yang biasa saya beli. Semua tiba-tiba redup dan hilang entah ke mana. Bukankah fungsi sastra adalah untuk mendidik dan menghibur? Bukankah juga gunanya media adalah untuk memudahkan dan memfasilitasi para penulis (sastra) dan para pembaca (sastra) mengekspresikan diri? Mohon dengarkanlah jeritan ini.

 

*Encep Abdullah, penyuka sastra. Tinggal di Pontang.

 


 

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler