Skip to Content

Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder) dalam Islam dan Psikologi (Generel Anxiety Disorder, Post Traumatic Syndrome Dysorder dan Obsessive Compulsive Dysorder)

Foto Athena

 

            Penyakit hati merupakan sejenis penyakit yang dapat merusak hati sehingga pada akhirnya sang hati tidak kuasa mencerna kebenaran. Hati yang sakit tidak akan kuasa melihat yang hak sebagai kebenaran dan tidak akan kuasa melihat yang batil sebagai kemungkaran. Hati yang sakit paling tidak akan menjadi berkurang kemampuannya untuk menilai baik dan buruk, sehingga pada akhirnya hati yang sakit akan membenci kebenaran dan akan menyukai kebatilan. Oleh sebab itu, penyakit yang menghinggapinya terkadang disebut penyakit bimbang dan penyakit ragu.

            Banyak hal yang dapat menyebabkan penyakit hati apalagi di zaman yang penuh dengan stressor seperti sekarang ini, orang-orang dengan mudahnya mengalami stress, takut serta cemas yang amat karena kurangnya berserah diri terhadap Allah Swt. Seringkali manusia merasa gelisah akan suatu hal-hal yang belum namak dan belum terjadi. Bahkan yang lebih parah adalah sampai mengganggu aktivitas kehidupan yang normal. Hal yang demikian sudah merupakan suatu penyakit cemas yang mengganggu penderitanya sehingga bisa terjadi depresi. Bisa jadi kecemasan dan depresi muncul secara bersamaan. Islam memandang kecemasan sebagai salah satu penyakit dari hati karena jauhnya hati manusia dari bersandar kepada Allah Swt, sehingga muncul berbagai rasa cemas, was-was dan berbagai ketidak tenangan jiwa.

            Kecemasan merupakan suatu hal yang alami ada pada diri manusia, yang berfungsi sebagai rambu jika dalam taraf yang normal. Tentu saja psikologi sebagai ilmu yang mengkaji aspek psikis manusia menjelaskan pula mengenai kecemasan ini. Bukan hanya kecemasan dalam taraf yang wajar, tetapi juga menjelaskan bagaimana kecemasan menjadi parah hingga tingkat yang akut dan menjadikan seseorang tak dapat berfungsi normal.

            Jauh sebelum psikologi hadir, Al-Quran sudah secara gamblang menjelaskan bagaimana kecemasan dapat terjadi dalam diri manusia hingga ke gangguan kecemasan yang akut. Namun bagaimana kaitan antara konsep kecemasan yang dijelaskan Al-Quran dengan konsep kecemasan dakam psikologi?

Definisi Kecemasan

            Kesulitan dalam menggambarkan kecemasan telah menimbulkan banyak definisi. Karena orang akan menjadi bingung oleh banyaknya definisi yang dikemukakan, maka di sini hanya akan diutarakan tiga definisi mengenai kecemasan, yakni: 1. Suatu perasaan yang berlebihan terhadap ketakutan, kekhawatiran, dan bencana yang akan datang (Goldenson, 1970: 90 dalam Yustinus (2010); 2. Kesadaran akan tegangan yang tidak menyenangkan (Menninger, 1963: 129 dalam Yustinus (2010); 3. Kekhawatiran yang disebabkan oleh suatu ancaman terhadap nilai yang dianggap individu sangat penting bagi eksistensinya sebagai suatu diri (May, 1967: 72 dalam Yustinus (2010). 

            Levit (1967) dalam Yustinus (2010) berpendapat bahwa untuk semua tujuan eksperimental dan praktis, kecemasan dan ketakutan begitu mirip sehingga yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lainnya. Tetapi dia mengemukakan beberapa perbedaan dan gambaran mengenai kedua kondisi tersebut, yakni: (1) Kecemasan – berbeda dengan ketakutan – terjadi bila tidak ada objek khusus yang ditakuti itu diidentifikasi. Orang-orang yang cemas akan takut bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi, tetapi mereka sendiri tidak mengetahui apa yang ditakuti itu. (2) Ketakutan adalah suatu reaksi yang sebanding dnegan bahaya yang objektif dipersepsikan. Sebaliknya, kecemasan adalah suatu reaksi yang tidak sebanding dengan situasi actual serta bersifat subjektif dan imajinatif (3) Kecemasan mungkin lebih merupakan malapetakan karena cara-cara untuk melarikan diri atau untuk menangani masalah itu tidak ada (4) Reaksi-reaksi fisiologis tubuh sama dengan tidak memperhatikan apakah orang itu mengalami ketakutan atau kecemasan (5) Ketakutan bersifat sementara dan dapat ditangani dengan mudah, sedangkan kecemasan kurang akut tetapi akan tetap bertahan dalam jang ka waktu yang lama.

            Jelas, tegangan yang disebabkan oleh kecemasan sangat tidak menyenangkan sehingga orang akan melakukan sesuatu untuk menghindarinya. Bila dia takut, dia akan mereduksikan tegangan dengan cara menarik diri dari, menyerang, bergabung dengan, atau menyerah kepada hal yang menakutkan itu. akan tetapi dengan kecemasan, hal yang membahayakan itu selalu diantisipasi. Kecemasan adalah difus (diffuse) dan bersifat umum, bukan merupakan reaksi terhadap suatu hal khusus. Karena itu jauh lebih sulit menangani tegangan yang disebabkan oleh kecemasan dengan mengambil tindakan. Nasihat, “jangan cemas” jarang mengurangi kecemasan. May (1967) dalam Yustinus (2010) mengemukakan bahwa kecemasan itu timbul sebanding dengan keyakinan individu-individu terhadap ketidakmampuan mereka sendiri. Seligman (1975) dalam Yustinus (2010) berpendapat bahwa perasaan tentang hal-hal yang tidak dapat dikontrol merupakan penyebab kecemasan.

            Apabila orang tidak dapat mempersepsikan apa yang menjadi tindakan konstruktif, maka mekanisme-mekanisme pertahanan digunakan sebagai sarana pengganti yang tidak adekuat. Mekanisme-mekanisme ini tidak beroperasi untuk menghilangkan kondisi-kondisi yang menimbulkan tegangan. Dengan kata lain, mekanisme-mekanisme tidak menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan tegangan, melainkan berusaha menghindari penelitian secara sadar kondisi-kondisi tersebut dan dengan demikian ikut mempertahankan kecemasan.

 

Kecemasan dalam Al-Quran dan As-Sunnah

            Kecemasan adalah salah satu penyakit yang banyak tersebar diantara manusia. Dalam bahasa Arab dikatakan bahwa bila sesuatu cemas, maka ia akan bergerak dari tempatnya. Hingga bisa dikatakan bahwa bentuk kecemasan adalah adanya perubahan atau goncangan yang berseberangan dengan ketenangan yang Allah gambarkan dalam firman-Nya dalam surah al-Fajr ayat 27-30, “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surge-Ku.”

            Kecemasan lahir dari adanya ketakutan akan masa depan atau akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan ataupun adanya pertentangan dalam diri. Bisa dibilang kecemasan lebih parah dari ketakutan biasa. Ketakutan umumnya akan hilang dengan hilangnya penyebab yang memunculkannya. Namun, kecemasan yang sudah muncul seolah akan tetap menjadi lingkaran setan dalam dirinya. Apabila salah satu penyebab kemudian hilang, maka akan timbul sebab lainnya yang datang dari bisikan setan.

            Kecemasan bisa jadi datang dengan tiba-tiba dan hanya sementara sebagaimana yang dikenal pada saat ini dalam kehidupan manusia. Dan, terkadang pula menimpa manusia beberapa waktu, beberapa hari. Terkadang dalam jangka waktu yang lama, terkadang sebentar tergantung keadaan yang ada.

  1. Penyebab Kecemasan

            Sesungguhnya manusia tidak dilahirkan dengan penuh ketakutan ataupun kecemasan. Sesungguhnya ketakutan dan kecemasan itu hadir karena adanya emosi yang berlebih. Selain itu, keduanya pun mampu hadir karena lingkungan yang menyertainya, baik lingkungan keluarga, sekolah maupun pekerjaan. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa penyebab hadirnya kecemasan antara lain sebagai berikut.

a)      Rumah yang penuh pertengkaran ataupun salah pengertian atau penuh dengan kesalahpahaman serta adanya ketidakpedulian orang tua terhadap anak-anaknya.

b)      Lingkungan yang memfokuskan pada persaingan memperebutkan materi ataupun pertengkaran demi mempertahankan hidup dan juga yang menumbuhkan ambisi manusia hingga mampu mengalahkan akhlak dan hati nuraninya.

c)      Menurut Adil Fathi (2004) salah satu penyebab kecemasan yang dialami oleh kebanyakan orang adalah rasa jengkel pada diri mereka dengan tingkah laku dan perbuatan orang lain atau mereka merasa diabaikan oleh orang lain, sehingga ia merasa rendah diri. Berawal dari hal itulah, ia mulai merasa rendah diri dan tidak dihormati oleh orang lain. Akibatnya, ia sering merasa sedih karena ia telah berbuat baik kepada mereka, namun mereka tidak membalasnya dengan kebaikan bahkan mereka membalasnya dengan penolakan.

            Dalam Islam, kekecewaan karena pengabaian tidak akan terjadi karena dasar atau niat dari melakukan setiap kebaikan adalah karena Allah Swt. Jadi apakah akan mendapat balasan atas kebaikan atau tidak, seseorang tak akan mengkhawatirkannya karena keyakinan bahwa setiap balasan sudah diatur oleh Maha Pemberi Balasan.

            Agama Islam yang suci telah mengajarkan kita kaidah yang luhur berkaitan dengan hal ini. Kaidah ini terungkap dalam sabda Rasulullah saw., “Yang dimaksud dengan waasil (penyambung silaturrahmi), bukanlah mukaafi (orang yang membalas dengan balasan setara), akan tetapi yang dimaksud dengan waasil (penyambung silaturrahmi) adalah orang yang apabila ia telah diputus hubungan silaturahminya ia berusaha menyambungnya lagi.” (HR Bukhari dan yang lainnya)

            Demi Allah, itu adalah kaidah yang sangat berharga agar terbebas dari rasa cemas yang timbul karena tidak adanya keseimbangan dalam suatu hubungan.

  1. Deskripsi Kecemasan

            Kecemasan adalah kondisi kejiwaan yang penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan akan apa yang mungkin terjadi, baik berkaitan dengan permasalahan yang terbatas maupun hal-hal yang aneh. Emosi seperti sedih dan sakit umumnya akan hilang dengan hilangnya penyebab kemunculannya, namun tidak dengan kecemasan. Kecemasan umumnya bersifat akut dan inilah permasalahan yang sedang banyak dihadapi pada masa ini.

            Deskripsi umum akan kecemasan yaitu “perasaan tertekan dan tidak tenang serta berpikiran kacau dengan disertai banyak penyesalan”. Hal ini sangat berpengaruh pada tubuh dirasa menggigil, menimbulkan banyak keringat, jantung berdegup cepat, lambung terasa mual, tubuh terasa lemas, kemampuan berproduktivitas berkurang hingga banyak manusia yang melarikan diri kea lam imajinasi sebagai bentuk terapi sementara.

            Kecemasan ini pada awalnya hanyalah bisikan akan kekhawatiran. Apabila kecemasan ini makin lama makin menguat, maka akan menimbulkan banyak penyakit kejiwaan dan juga penyakit tubuh, seperti halnya iritasi lambung, turunnya tekanan darah, kencing manis, alergi kulit dan penyakit asma.

 

Islam memandang Penyebab Kecemasan

            Kecemasan seringkali merampas kenikmatan dan kenyamanan hidupnya, serta membuat mereka selalu gelisah dan tidak bisa tidur lelapsepanjang malam. Ada beberapa hal yang selalu menyebabkan situasi tersebut terjadi di antaranya :

  1. Lemahnya keimanan dan kepercayaan terhadap Allah Swt.
  2. Kurangnya tawakkal mereka terhadap Allah Swt.
  3. Terlalu sering memikirkan kejayaan masa depannya dan apa yang akan terjadi kelak dengan pola pikir dan cara pandang yang negative terhadap dunia dan seisinya.
  4. Rendahnya permohonan mereka tentang tujuan dari penciptaan mereka.
  5. Selalu tergantung pada diri sendiri dan sesama manusia lain dalam urusan di dunia, sehingga lupa menggantungkan hidupnya kepada Allah Swt.
  6. Mudah dipengaruhi oleh hawa nafsu ketamakan, keserakahan, ambisi, keegoisan yang berlebihan.
  7. Meyakini bahwa keberhasilan berada di tangan manusia sendiri atau ditentukan oleh usahanya sendiri.

            Akan tetapi, sesungguhnya manusia tidak dilahirkan dengan penuh ketakutan ataupun kecemasan. Pada dasarnya ketakutan dan kecemasan hadir karena adanya luapan emosi yang berlebihan. Selain itu, keduanya hadir karena adanya faktor lingkungan yang menyertainya, misalnya sekolah, keluarga, dan sosial (pekerjaan dan budaya masyarakat).

 

 

Kecemasan hingga General Anxiety Disorder dan Post Traumatic Syndrome Disorder

            Kecemasan ini pada awalnya hanyalah bisikan akan kekhawatiran. Kemudian seseorang terlalu mendengar dan fokus pada bisikan-bisikan ini tanpa diiringi dengan tawakal kepada Allah Swt. Sehingga makin lama kecemasan makin melingkupi jiwa seseorang sampai bersifat mengganggu dan patologis. Kita mengenal GAD atau General Anxiety Disorder dimana penderita terus menerus mengkhawatirkan segala macam hal yang belum tentu terjadi dan belum tentu ada. Berdasarkan penjelasan sebelumnya diatas, kecemasan yang patologis ini terjadi karena jiwa otonom yang mendominasi fungsi psikis seseorang sehingga jiwa sadarnya sulit untuk mengordinasi impuls-impuls dan dorongan-dorongan. Jiwa otonom ini muncul karena adanya stressor yang membangkitkan mekanisme pertahanan mental sehingga jiwa sadar yang mendominasi berubah menjadi jiwa otonom yang isinya berupa ‘peringatan-peringatan’ supaya jiwanya tetap waspada dan supaya jiwa sadarnya percaya bahwa ancaman (stressor) masih tetap ada, dan mengganggu keseimbangan psikis secara umum.

            Apabila karena sesuatu stressor yang dianggap berat oleh individu itu maka jiwa otonom muncul berlebihan, sehingga jiwa sadar tidak mampu mengontrol keseluruhan jiwa otonom, maka aka nada jiwa otonom yang muncul ke permukaan keasadaran menguasai sebagian kehidupan jiwanya sehingga dirasakan sebagai suatu keadaan yang tidak nyaman. ‘Jiwa otonom’ ini merupakan unsur jiwa yang ada pada setiap orang, dalam keadaan sehat ‘jiwa otonom’ biasanya muncul hanya dalam situasi darurat bersama-sama ‘mekanisme pertahanan mental’, pada orang sehat jiwa otonom tidak dominan karena jiwanya didominasi oleh jiwa sadar.

            Apabila semua kegiatan yang baik dimulai karena niat yang ikhlas karena Allah, dilaksanakan dengan benar, tekun, disertai perasaan hati yang senang serta tawakal menerima nasib takdir ketentuan Allah, maka insya Allah keseimbangan psikis tidak terganggu kesehatan jiwa pun akan terpelihara.

                Kunci supaya setelah mendapatkan stressor, jiwa bisa kembali kepada keseimbangan psikis yang nyaman adalah dengan ikhlas menerima takdir, sabar, tawakal, dan mensyukuri nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya apa adanya.

            Begitu pula dengan keadaan traumatis seseorang dimana seseorang mengalami ketakutan ekstrem, horor, atau rasa tidak berdaya. Biasanya terjadi setelah seseorang mengalami kejadian hebat yang menakutkan bagi dirinya, sehingga setelah kejadian tersebut berlalu, perasaan dan bayangan-bayangan akan ketakutan dan peristiwa traumatis itu selalu muncul, baik melalui mimpi ataupun perasaan yang mencemaskan sehingga menyebabkan maladaptif pada diri seseorang, dalam dunia psikologi gangguan ini dinamakan Gangguan Stress Pascatrauma (posttraumatic Stress Disorder-PTSD). Adapun Simtom/ciri ASD dan PTSD adalah:

  1. Mengalami kembali kejadian yang traumatis à kerap teringat kembali kejadian tersebut dan mengalami mimpi buruk
  2. Penghindaran stimuli yang diasosiasikan dengan kejadian terkait atau mati rasa à mati rasa adalah menurunnya ketertarikan pada orang lain, suatu perasaan keterpisahan, dan ketidakmampuan untuk merasakan berbagai emosi positif
  3. Simtom-simtom peningkatan ketegangan à mencakup sulit tidur, sulit konsentrasi, waspada berlebihan, dan respon terkejut yang berlebihan

            Jika diteliti akar penyebab munculnya gejala-gejala tersebut adalah kurangnya keberserahan kepada Sang Pemilik Takdir dan kurang berbaik sangka kepadaNya. Karena dengan keimanan yang kuat, seseorang akan menerima segala ketentuan baik musibah atau anugerah yang terjadi adalah berdasarkan kehendakNya dan ia tidak akan pernah mengecewakan hambaNya. Seperti yang telah dijelaskan pada mekanisme terjadinya gangguan jiwa, gangguan dapat terjadi jika seseorang berkeluh kesah dan tidak memasrahkan segala yang terjadi kepadaNya. Iblis dapat dengan mudahnya menjerumuskan manusia ke lembah keputus asaan sehingga manusia selalu berada dalam ketakutan dan kecemasan yang amat, hingga akhirnya sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan dan dirinya sendiri karena selalu terkungkung dalam ketakutan. Inilah yang dalam psikologi disebut sebagai Post Traumatic Stress Disorder.

 

Cemas dalam Quran dan Kaitannya dengan Psikologi

 

 

 

 

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang ia muhsin, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut menimpa mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 112)

            Ulama Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah menjelaskan makna ayat tersebut. Melihat redaksi awal “siapa yang menyerahkan wajahnya..” Wajah adalah bagian termulia dari jasmani manusia. Pada wajah terdapat mata, hidung, dan mulut atau lidah. Kegembiraan dan kesedihan, amarah, rasa takut, dan sedih, bahkan semua emosi manusia tampak pada wajah. Wajah adalah gambaran identitas manusia, sekaligus menjadi lambing seluruh totalitasnya. Ayat ini jelas mengandung unsur psikologi mengenai bagaimana manusia menyerahkan seluruh “emosinya” kepada Allah Swt.

            Wajah adalah bagian termulia dari tubuh manusia yang tampak. Kalau yang termulia telah tunduk, maka yang lain pasti telah serta merta tunduk pula. Siapa yang menyerahkan wajahnya dengan tulus kepada Allah, dalam arti ikhlas beramal dan itu adalah amal baik, maka baginya ganjaran di sisi Tuhan-nya.  Amal di sini bukan sembarang amal, tetapi amal yang menjadikan ia wajar dinamai dalam ukuran Allah sebagai seorang muhsin yang lebih banyak kebaikannya dari keburukannya. Ganjaran mereka adalah masuk surga, bahkan mungkin lebih dari surga, yakni ridha-Nya, dan kenikmatan memandang wajahNya. Hal ini diistilahkan al-Quran dengan “Tiada rasa takut menimpa mereka, tidak juga mereka bersedih hati”.

            Penulis memahami makna ayat diatas adalah, dengan menyerahkan “wajah” kepada Allah, yang berarti adalah segala emosi takut, sedih, marah, khawatir dan sebagainya maka seseorang akan merasa tentram dan tidak akan merasa takut atas apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tidak ada yang perlu dicemaskan atau ditakutkan, karena keyakinan terhadap ketetapan Tuhan dan penyerahan diri kepadaNya.

 

 

 

 

 

 

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 262)

 

 

 

 

 

 

 

“Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah. Hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. 

            Cemas atau anxiety adalah salah satu gejala gangguan jiwa yang paling banyak, biasanya cemas berdampingan dengan depresi, sering ditandai dengan kata-kata klasik yang menunjukkan ketidakpastian; kalau, seandainya, apabila, jikalau, merasa khawatir akan terulang kejadian yang mengerikan, takut sakit jantung, takut sakit kanker. Seterusnya diikuti dengan angan-angan akan terjadi kejadian buruk menimpa dirinya.

            Cemas tentunya perlu ada untuk kehidupan manusia karena fungsinya sebagai rambu agar manusia dapat berhati-hati dan melakukan persiapan, namun jika cemas tersebut sudah diluar batasnya hingga mengganggu adaptasi internal maupun eksternal manusia, ini sudah merupakan cemas yang mejadi bagian dari gangguan jiwa.

            Mengutip dari Prof. Dale Carnagie (Prof. Yale Univ) dalam blog Van Paase; 23 Februari 2013, dengan sudut pandang selama 7 tahun membaca buku2 tentang kecemasan manusia, semakin banyak orang mencemaskan sesuatu yang belum terjadi, yang bila ditelaah lebih lanjut, kecemasan tersebut terlalu berlebihan dan tidak masuk akal. Sebagai contoh, seorang pedagang yang harus menyebrang jembatan untuk mencapai tempat kerjanya dan merasa cemas bila jembatan yang akan dilalui akan jatuh dan mencelakainya. Kemungkinan hal itu akan terjadi adalah sangat kecil, sehingga kecemasan yang dirasakan sangat berlebihan. Kecemasan yang berlebihan inilah yang membuat seseorang tidak dapat berfikir dengan jernih.

            Orang yang sering memikirkan hal yang belum tentu terjadi pasti akan mengalami kecemasan yang bisa jadi sampai mengganggu ketentraman dirinya dengan kata lain adaptasi internal dan eksternalnya terganggu. Orang seperti ini seringkali membayangkan hal apa yang akan terjadi di kemudian hari, padahal siapa yang tahu tentang hari esok? Dinding yang tebalnya 30 cm saja seseorang tidak tahu apa yang ada di baliknya, apalagi masa depan yang entah akan didapatkan atau tidak. Mengenai mencemaskan hari esok, sayyidina Umar bin Khathab pernah berkata bahwa “Jika engkau berada di pagi hari jangan memikirkan sore hari”. Sabda sayyidina Umar tersebut mengandung makna untuk fokus pada perbuatan saat ini bukan mencemaskan apa yang akan terjadi di kemudian hari.

 

Obsesif Kompulsif (Was-was, Ragu-ragu)

            Obsesi adalah munculnya pikiran yang tidak diinginkan secara berulang-ulang pada suatu obyek, ide atau keinginan yang tidak bisa dilawan, khayalan atau situasi yang susah untuk dihilangkan dan mengganggu konsentrasi. Kalau pikiran obsesi dilawan akan muncul perasaan gelisah, berdebar-debar, lesu, ketakutan bahkan keringat dingin. Sedangkan obsesif kompulsif selain adanya pikiran berulang-ulang, disertai dengan keinginan untuk bertindak yang berulang-ulang pada suatu perbuatan, dikerjakan secara berulang-ulang sehingga mengalami kelelahan; di masyarakat umum, obsesi kompulsif ini popular disebut dengan istilah was-was.

            Was-was (obsesif kompulsif) yang sering ditemukan adalah tentang kebersihan dan dosa; seperti mencuci najis yang seakan-akan tak mau bersih, bersuci (mandi atau wudhu berulang-ulang) bisa sampai berjam-jam di kamar mandi sampai menghabiskan satu batang sabun mandi, obsesif kompulsif yang lain adalah: bolak-balik mengontrol kunci pintu, melihat-lihat berulang-ulang takut ada yang tersembunyi, dalam beribadah misalnya, orang yang selalu mengulang wudhunya sampai berkali-kali karena merasa wudhu tersebut belum sah, atau orang yang mengulang-ulang takbir ketika sholat akan dimulai karena merasa takbir yang ia ucapkan kurang afdhal hingga ia kelelahan dan jenuh.

Adapun bentuk OCD yang paling sering dimiliki oleh ummat Muslim adalah: 

  • Keraguan tentang jumlah rakaat
  • Ragu sudah melakukan shalat dengan benar 
  • Ragu apakah buang angin dan telah batal wudhu
  • Ragu tentang wudhunya sudah benar/belum
  • Pikiran-pikiran yang menghina Tuhan
  • Perasaan menetap bahwa pakaiannya tidak bersih
  • Mengulang shalat
  • Melakukan sujud sahwi tiap kali shalat
  • Melakukan wudhu berkali-kali
  • Menghabiskan banyak waktu untuk berwudhu
  • Menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan/mencuci. misalnya mencuci tangan setelah makan 

            Ada yang menarik mengenai obsesif kompulsif yang sering ditemukan adalah tentang kebersihan dan dosa, apakah ini ada hubungannya dengan perasaan bersalah yang amat dalam atas dosa yang telah diperbuat dan merasa harus menyucikan diri terus menerus dan mengulang-ulang beribadah agar dapat sah?

            Ada suatu kasus yang disampaikan oleh salah satu dosen mata kuliah abnormal seorang laki-laki yang mengalami obsesif kompulsif, ia terus mencuci tangannya hingga lecet, ternyata setelah ditelusuri hal tersebut terjadi karena perasaan bersalahnya telah “selingkuh dengan wanita lain”. Ia merasa sangat bersalah kepada istrinya sehingga wujud dari perasaan menyesal dan ketidak tenangan itu adalah terus-terusan mencuci tangannya untuk memastikan bahwa tangannya benar-benar “bersih”.

            Kasus lain mengenai kebersihan dan najis: seorang mahasiswa tingkat akhir, skripsinya yang seharusnya sudah selesai tetapi tidak dikerjakan dengan alasan yang tidak jelas, orang tuanya dari kampung datang menjenguknya, mahasiswa tersebut tidak mau menyalami orang tuanya. Orang tuanya melihat anak tersebut kurus kering, buku-buku anaknya seperti terkena air, waktu ditanyakan kepada teman kostnya, penderita sering mencuci bukunya bahan pernah mencuci semua buku-bukunya di kolam di dekat teman kostnya, serta akhir-akhir ini tidak pernah makah bersama kawan-kawannya. Mendengar cerita kawannya tersebut, orang tuanya langsung membawanya berobat, setelah diberi psikofarma di rumah sakit hampir satu bulan serta dilakukan Psikoterapi Holistik Islam beberapa kali, ahamdulillah peserta sembuh serta bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Dalam pemeriksaan terdapat bahwa dalam benak (jiwa)-nya dia merasa bahwa kebanyakan makanan pernah dimakan oleh orang yang suka daging babi yang najis, buku-bukunya juga dibeli dari orang yang suka makan daging babi, jadi buku tersebut pernah dipegang oleh orang yang makan babi, berarti buku-bukunya tercemar najis babi dan baru bisa bebas dari najis kalau dicuci.

            Kasus diatas sepertinya cukup menggambarkan alasan mengapa obsesif kompulsif seringkali ditemukan tentang kebersihan dan dosa.

            Psikologi modern belum mampu menemukan penyebab pasti mengenai masalah OCD ini. ada pendapat yang mengatakan bahwa seseorang dapat mengenali pikiran obsesi itu berasal dari dirinya atau luar dirinya, tapi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana seseorang bisa menciptakan pikiran-pikiran yang bahkan tidak pernah terlintas dalam bayangannya untuk memikirkan hal tersebut?

            Dari perspektif Islam, pikiran-pikiran yang tidak diinginkan disebut was-was, yakni sesuatu yang dibisikkan syaitan ke dalam hati dan pikiran manusia. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “..dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga". (QS. Al-Israa: 64-65)

            Bisikan syaitan ini berperan penting dalam berkembangnya penyakit mental atau gangguan psikologis, dan kita sebagai manusia diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari musuh yang tidak terlihat ini: “Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. raja manusia. sembahan manusia. dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 1-6)

            Di sini nampak bahwa kita memang memiliki pikiran-pikiran tersebut, akan tetapi sebenarnya syaitan lah yang membisikkan pikiran itu kepada kita dan menipu kita seakan itu adalah pikiran yang muncul dalam diri kita sendiri.

            Menurut terapi kognitif-behavior, kebanyakan orang punya pikiran yang menganggu dan tak diinginkan, sama seperti yang dimiliki oleh orang dengan OCD. Tapi, mengapa sebagian orang mengembangkan OCD dan lainnya tidak? Jawabannya, kebanyakan orang tidak menghiraukan pikiran tersebut, sementara orang dengan OCD tidak mampu melakukannya.

            Sebagian orang memang sangat sulit untuk menolak bisikan-bisikan syaitan itu, karena mereka sendiri bingung dari mana asalnya. Mereka jadi mencampuradukkan gangguan syaitan itu dari diri seseorang (pikirannya), dan dari bagian yang lebih dalam lagi yakni ruh. -

            Yang lainnya malah sama sekali tidak mengindahkan kerasnya bisikan syaitan itu (was-was), dan setiap pikiran yang muncul dengan tingkat kekuatan tertentu, dianggapnya bersumber dari dirinya. Dan, ada yang benar-benar tidak percaya pada bisikan syaitan.

            Jadi, karena satu dan lain hal, saat seseorang mulai mempercayai bisikan syaitan itu, ia akan mengembangkan gangguan dalam dirinya. Sebaliknya, siapa yang telah mengalahkan bisikan itu, tidak akan mengembangkan gangguan tersebut. Dan Karena musuh kita ini tak terlihat, maka ada cara yang spesifik untuk melawannya. Ini dia:

- Kita harus sadar akan taktik syaitan, termasuk kekurangan dan keterbatasan mereka

- Kita harus tahu karakteristik was-was yang ditimbulkan oleh syaitan.

- Kita harus mengetahui kekuatan diri kita sendiri serta keterbatasan kita.

            Teori kognitif juga menyebutkan bahwa selama seseorang mengartikan pikiran yang menganggu sebagai suatu “bencana”, maka selama itu pula ia tetap mempercayai bahwa pikiran itu benar adanya. kemudian mereka akan menjadi stres dan melakukan tindakan menghindar atau ritual-ritual.

Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah swt memaafkan umatku terhadap pembicaraan didalam jiwanya selama mereka belum mengatakan atau mengamalkannya.”(HR. Bukhari)

            Ini karena saat kita melawannya, jangan membicarakan hal tersebut atau melakukannya, sehingga, mereka tidak dapat membahayakan kita atas ijin Allah. Was-was, seperti yang disebutkan di atas, adalah suatu fenomena yang terjadi pada kita semua, tapi sebagian memeliharanya dengan frekuensi dan tindakan yang membuat seseorang menjadi budaknya. Tapi, ada solusi pada setiap penyakit: Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

KESIMPULAN

 

          Sebenarnya segala penyakit dan gangguan yang terjadi pada jiwa manusia adalah karena kurangnya keyakinan (keimanan) kepada Sang Pemilik Hidup. Karena dengan iman yang kuat dan kedekatan kepada Allah Swt, hati akan senantiasa dibimbing dan dijaga agar tetap berada dalam cahaya. Geliat hati bermacam-macam dan akan senantiasa berbolak-balik sehingga muncul berbagai perasaan baik positif maupun negatif. Tugas kita sebagai manusia adalah untuk beradaptasi dengan geliat hati ini dengan berbagai cara yang telah dianjurkanNya. Allah Swt Mahatahu bahwa manusia akan mengalami berbagai kecemasan dan ketakutan karena banyaknya tekanan (stressor) dan bisikan-bisikan setan yang selalu menjerumuskannya. Oleh karena itu, Ia pun mempersiapkan berbagai obat untuk mencegah berbagai kecemasan dan ketakutan agar tidak sampai menjadi suatu gangguan jiwa yang akut.

            Umat Islam telah mengetahui mengenai obat penyembuh berbagai penyakit jiwa ini. Yaitu: Sholat malam, Berdzikir malam, berkumpul dengan orang sholeh dalam artian orang sholeh disini adalah orang yang memiliki energi positif, karena energi akan menular makanya Ia memerintahkan kita untuk senantiasa berdekatan dengan orang yang berenergi positif (sholeh). Perbanyak membaca al-Quran, bukan hanya membaca tetapi juga merenungi makna dan mengamalkan ajarannya. Perbanyak berpuasa. Sekarang ini sudah banyak orang yang menerapkan cara berpuasa bahkan mereka yang bukan dari kalangan Islam, karena tahu dan sudah mendapatkan manfaat dari berpuasa ini. Bukan hanya Islam yang mengajarkan berpuasa, berbagai agama pun berisi anjuran mengenai puasa dengan cara yang berbeda tetapi bertujuan sama untu mendekatkan diri kepada Tuhan.

            Berbagai pendekatan psikologi pun kita temukan berbagai terapi untuk menyembuhkan gangguan-gangguan jiwa diantaranya adalah: Berpikir positif atau dalam Islam dikenal dengan Husnu Dzan agar terhindar dari ketakutan dan kecemasan. Kemudian penerimaan positif terhadap diri atau dalam Islam yang dinamakan Qona’ah. Dalam Psikologi Transpersonal ada istilah Letting Go untuk melepas semua beban yang ada dan dalam Islam dikenal dengan istilah pasha (Ikhlas) dengan segala ketentuanNya. Semua konsep tersebut baik dalam Islam maupun Psikologi adalah agar manusia dapat mengobati berbagai kecemasan dan ketakutan.

Tuhan tahu bahwa manusia akan banyak berprasangka buruk atau paranoid, maka Ia siapkan terapi Husnu Dzan

Tuhan tahu bahwa manusia akan mengalami kecemasan yang amat, maka Ia siapkan obat Berserah diri (Tawakal)

Tuhan tahu bahwa manusia akan akan berputus asa, maka Ia anugerahkan Rahmat yang tiada putus-putusnya.

"jangan khawatir, Aku bersamamu"

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Adil Fathi. 2004. Membangun Positive Thinking Secara Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Al-Jauziyyah, Ibnul Qayyim. 2002. Membersihkan Hati dari Gangguan Setan.        Jakarta: Gema Insani Press

Said Az-Zahrani, Musfir. 2005. Konseling Terapi. Jakarta: Gema Insani Press.

Semiun, Yustinus. 2010. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius

Shihab, M. Quraisy. 2002.  TAFSIR AL-MISBAH Pesan, Kesan dan Keserasian al-          Quran. Jakarta: Lentera Hati.

Tadjudin, Ibin Kutibin. 2007. Psikoterapi Holistik Islami. Bandung: Kutibin

http://denyaks.blogspot.com/2013/02/menyikapi-kecemasan-dalam-islam.html

http://denyaks.blogspot.com/2013/02/menyikapi-kecemasan-dalam-islam.html

http://muslimzuhdi.wordpress.com/2011/08/02/penyakit-cemas-dan-gelisah/

http://islamandpsychology.blogspot.com/2013/03/solusi-islam-untuk-ocd-was-was-review.html

 

 

 

 

 

Komentar

Foto ucu

Subhanalloh..syukron

Subhanalloh..syukron

Foto kopihitam

apakah ini termasuk artikel sastra?

postingannya sangat bermanfaat, tapi mohon maaf, kurang cocok dimasukan kedalam genre sastra, mungkin bisa diposting di situs kesehatan, atau psikologi islam...

Foto ucu

SubhanAllah menarik sekali

SubhanAllah menarik sekali artikel ini, semoga Allah Swt membalas kebaikan saudara.benar2 dapat membantu jiwa yang sedang bimbang dan ragu ini. JazakAllah khairan katsiran.BarakAllahu feekum

Foto ucu

terima kasih sekali.. saya

terima kasih sekali..
saya gak tau harus bilang apa lagi
tetapi memang artikel ini sangat bermanfaat
sekarang kecemasan yang sangat menggangu jiwa saya telah hilang..
dan saya serahkan semuanya pada Alloh swt

semoga alloh membalas kebaikan saudara ..

Foto ucu

Semoga Allah membalas kebaikan bapak

Alhamdulillah...
semoga Allah membalas kebaikan bapak
aamiin ya rob

Foto ucu

Bermanfaat sekali artikel anda.

Subhannallah...
saya sampe mau menangis membaca ini semua...
bermanfaat sekali buat saya yg sekarang sedang mengalami rasa kecemasan dn ketakutan yg teramat sangat.
Terima Kasih buat artikel ini... Semoga Allah membalas kebaikan anda.

Foto ucu

Materinya bagus dan membantu

Materinya bagus dan membantu sekali, jazakallahu khairan...

Foto ucu

Terimakasih dan sangat bermanfaaat

Terimakasih dan sangat bermanfaat. Alhamdulillah, dgn tulisan yg Anda posting semoga dapat bermanfaat bagi diri saya, juga untuk org lain. Materinya sangat bagus, dan mengintegrasikan epistemologi umum dgn Islam. Sungguh, Islam pun sdh jauh-jauh hari memberikan kita "obat" dlm tiap penyakit hidup ini. Sekali lagi terimakasih dan sangat bermanfaat.

Foto ucu

Subhanallah sangat bermanfaat

Subhanallah sangat bermanfaat sekali,terimaksih atas pencerahaannya

Foto ucu

subhanallah maha suci allah,

subhanallah maha suci allah, saia sangat bersyukur, semoga diberikan pahala yang tiada henti-hentinya dari allah SWT. SEMOGA BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA, sangat bermanfaat skali buat saia dan mudah-mudahan memberi manfaat buat kita semua, siapapun itu yang membaca artikel ini. AMIN

Foto Mardiana Kappara

Terima kasih artikelnya.

Terima kasih artikelnya. Sangat bermanfaat...

Foto ucu

Terima kasih banyak membantu

Terima kasih banyak membantu sekali dalam jiwa saya , yg saat ini sedang parah,
Sekali lagi terimakasih

Foto ucu

Subhanallah ad artikel ini

Subhanallah ad artikel ini sangat membantu sya yg sdang pnya penyakit kecemasan dan ketakutan

Foto ucu

Terima kasih ..dmn saya

Terima kasih ..dmn saya berkonsultasi secara lngsung untuk mnyembuhkan jiwa saya ini..saya setiap hari seperti berperang melawan bisikan itu..

Foto ucu

subhanallah sangat sangat bermanfaat

saya sampai merenung beberapa menit.. Ternyata setelah dipikir2 saya memang jauh dalam beribadah dan kurang bersyukur..
Semoga dengan melakukan apa yg di katakan di artikel ini kecemasan saya berkurang.amin

Foto ucu

Subhanallah.... terimakasih

Subhanallah.... terimakasih banyak atas artikelnya, gelisah saya hilang alhamdulillah... semoga Allah membalas kebaikan saudara/i aamiin Ya Rabbal aalamiin...

Foto ucu

Bolehkah saya share artikel

Bolehkah saya share artikel ini dgn menyertakan nama web anda?

Foto ucu

Jazakallahu khairan. Ini sg

Jazakallahu khairan. Ini sg memnbantu sy

Foto ucu

alhamdullillah terimakasih

alhamdullillah terimakasih banyak telah men share ilmu yang bermanfaat semoga Allah senantiasa merahmati hidup kita semua Aamiin :)

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler