Skip to Content

JALAN YANG BENAR

Foto encep abdullah

 

Majalah Kandaga #Nov 2017 

oleh Encep Abdullah

 

 

Beberapa waktu yang lalu bertanya kepada kawan-kawan pemerhati bahasa di sebuah grup WA. Sebenarnya pertanyaan ini ada di kepala saya sejak lima tahun yang lalu. Terutama sejak tahun pertama saya mengajar di tempat bimbel. Namun, tak kunjung jua saya temukan jawaban. Selama itu, saya masih berulang kali membaca soal pilihan ganda baik soal-soal pada buku bimbel maupun soal-soal pada lembar Ujian Nasional (UN) tentang bagaimana cara penulisan "Jalan" yang benar dalam surat, baik dalam kop maupun alamat.

Beberapa versi jawaban yang diberikan biasanya sebagai berikut (1) Jalan, (2) Jln., dan (Jl.). Saya sudah sering mengerjakan soal semacam itu dan cukup mudah menjawabnya. Sayang, saya sendiri masih bertanya mengapa jawabannya harus “Jalan”. Mengapa tidak boleh disingkat Jl. atau Jln.?

Sungguh, ketika itu—saya masih pengajar pemula—ada siswa yang bertanya demikian, saya cukup ngilu. Saya tak bisa menjawab secara pasti karena tidak cukup referensi. Saya hanya bilang bahwa penulisan yang baku adalah “Jalan”.

"Iya, mengapa Pak tidak boleh disingkat?"

"Saya juga kurang tahu mengapa bisa begitu. Yang pasti ketika kamu menjwab soal, itu jawabannya. Tidak boleh disingkat."

Sebagian siswa tidak puas dengan jawaban saya sendiri. Saya sedikit merasa berdosa dengan jawaban semacam itu. Biar bagaimana pun, sebagian siswa mengangguk saja. Bagi mereka, kalau tidak begitu, nilai ujian mereka bisa berkurang hanya karena salah jawab. Namun, jujur, pertanyaan-pertanyaan itu masih terngiang di kepala saya hingga kini. Sampai kapan saya menyesatkan siswa dari "Jalan" yang benar itu. Cukup rumit memang.

Persoalan itu tak bisa saya cari penjelasannya di internet atau Mbah Google. Sama saja saya mencari jarum di tumpukan jerami. Semua pendapat berkata bahwa “Jalan” tidak boleh disingkat, tetapi tidak memberikan alasan yang pasti. Ke mana "Jalan" yang harus saya tempuh untuk mencari jawaban? Buku apa yang harus saya baca? Mohon pencerahan Saudara-saudara. Maklum, jalan mencari buku-buku kajian bahasa Indonesia itu lebih sulit daripada mencari novel-novel roman picisan.

Karena tak menemukan jalan, saya mencari jalan lain. Saya sangat beruntung bisa dimasukkan ke dalam grup WA Klinik Bahasa yang di dalamnya berisi para pemerhati bahasa di Indonesia bahkan Malaysia. Selain kepada para pemerhati bahasa, saya juga sebarkan kepada teman-teman di grup lain. Setelah saya ajukan pertanyaan itu, alhamdulillah jawaban-jawaban itu cukup mencerahkan meskipun tak memuaskan karena sebagian jawaban berasal dari keraguan seperti saya menjawabnya dengan "barangkali" dan "mungkin".

Berikut jawaban dan pernyataan mereka—mohon maaf tidak saya sebut nama pengomentarnya satu per satu—: 1) Kata Jalan hanya dua ketukan maka tidak boleh disingkat dan buat apa pula disingkat; 2) dalam surat resmi tidak boleh menggunakan singkatan; 3) kata siapa tidak boleh disingkat, lembaga mana yang tidak membolehkannya?; 4) kalau kata jalan disingkat betapa malasnya orang Indonesia; 5) lihat saja PUEBI dan KBBI semua sudah jelas; 6) semuanya boleh digunakan asal konsisten; 7) penyingkatan Jln. masih diperbolehkan, tetapi Jl. tidak karena maknanya bisa "Jual" (8) Kata Jalan tanpa disingkat terdiri atas lima karakter, sedangkan kalau tidak disingkat terdiri atas empat karakter, nanggung; 9) dan sebagainya.

Kalau merujuk aturan Permenpan Nomor 80 tahun 2012 tentang Pedoman Tata Naskah Instansi Pemerintah, kata Jalan  memang tidak ada yang disingkat dalam jenis surat resmi mana pun. Sayang, dari pedoman itu tidak ada satu pun penjelasan secara mendetail—mungkin karena memang bukan wilayah kajian. Penjelasannya sekadar urutan saja, misalnya Surat Dinas yang ditujukan kepada pejabat negara ditlis dengan urutan sebagai berikut: 1) nama jabatan; 2) jalan; 3) kota; 4) kode pos. Jadi, dalam rincian itu tidak dijelaskan kembali.

Beragam penjelasan yang saya paparkan di atas memang tidak menemukan jawaban pasti, malah menimbulkan pertanyaan kembali. Oleh sebab itu, aturan kebakuan singkatan ini perlu dipertegas lagi dengan jabaran yang lebih rinci dan pasti—tidak sekadar “sebaiknya kata jalan tidak disingkat” atau “kata jalan dianjurkan tidak disingkat”. Dalam soal Ujian Nasional (UN) atau soal-soal semacamnya, jawaban yang dipilih harus pasti: disingkat (Jln. atau Jl.) atau tidak disingkat (Jalan). Kalau Anda bukan guru, memang dirasa tidak cukup penting perdebatan semacam di atas dan tidak harus pasti jawabannya apa. Akhirnya, saya menyimpulkan sendiri saja sejauh ini kepada siswa saya begini, “Kata Jalan yang benar dalam soal itu tidak boleh disingkat dan itu sudah pasti, tetapi kepastian itu akan berubah ketika kalian berdebat dengan orang lain di luar soal ujian itu!”

Selamat mencari jalan yang benar!

 

BIODATA PENULIS

Encep Abdullah, pemerhati bahasa. Buku bahasanya yang sudah terbit Cabe-cabean (Kubah Budaya, 2015). Kini sedang mempersiapkan buku bahasa keduanya berjudul Bikini

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler