Skip to Content

KAMAR MANDI

Foto encep abdullah

Oleh Encep Abdullah

 

 Dimuat di Pikiran Rakyat, 24 September 2017

 

“Permisi Pak, boleh saya izin ke kamar mandi?” ujar siswa dengan sopan.

“Memang kamu mau mandi, ya?” saya bertanya balik.

“Bapak suka bercanda. Tidak, atuh, Pak. Saya mau buang air kecil.”

“Oh!”

Tanpa dosa, siswa itu pun pergi ke kamar yang katanya kamar mandi itu. Pernyataan siswa itu terngiang di kepala saya terus-menerus. Saya selalu memikirkan kamar mandi sepanjang waktu. Mengapa ia harus berkata ingin ke kamar mandi kalau ia memang tidak mandi? Apakah tidak bisa, ya, ia berkata begini, “Saya mau ke toilet, Pak!” atau “Saya mau ke kamar kecil, Pak!” bukankah dengan begitu lebih jelas ia mau apa—yang pasti ingin buang air kecil atau buang air besar.

Dalam KBBI, kamar mandi berarti ‘bilik tempat mandi’, sedangkan kamar kecil berarti ‘jamban’ atau ‘kakus’, yakni tempat buang air (besar/kecil). Tentu, ini makna yang berlainan. Nyatanya memang, keduanya digunakan pada tempat yang seringkali dinyatakan sama. Mengapa itu bisa terjadi? Karena ada beberapa orang yang memang membuat kamar mandi menyatu dengan kamar kecil (tempat buang air kecil/besar). Ada pula yang memisahkannya meskipun hanya dibatasi papan triplek. Nah, ketika dipisahkan itu, maka istilah kamar mandi dan kamar kecil bisa berbeda. Lain halnya kalau kedua tempat itu menyatu. Orang bisa berkata, “Mau ke kamar kecil sekaligus ke kamar mandi.” Duh, repot memang!

Istilah lain yang boleh jadi lebih tenar adalah WC (water closet). Sayangnya, banyak orang mengucap we-se ketimbang we-ce. Padahal, bila dibahasaindonesiakan, ya, we-ce bukan we-se. Mari, sebut sekali lagi we-ce! Kata ini lebih populer dibandingkan toilet. Namun, banyak yang kurang tahu, termasuk saya, ternyata kata toilet memiliki dua makna yang berbeda. Kata toilet tak sekadar bermakna jamban atau kamar kecil. Toilet bisa dimaknai sebagai peranti untuk berhias, seperti bedak, cermin, dan sikat rambut atau bisa dikatakan kamar rias.

Oalah, saya baru tahu kalau kamar rias bisa disebut toilet! Selama ini, saya mengartikan kamar rias adalah kamar khusus yang dilengkapi segala perlengkapan untuk berhias—yang notabene mewah dan eksklusif. Arti yang pertama ini memang jarang dipakai daripada toilet yang sepadan dengan jamban itu. Selain makna di atas, toilet juga bisa dimaknai tempat cuci tangan dan muka—barangkali sepadan dengan westafel— yang mungkin sama sekali tidak digunakan untuk buang air kecil atau air besar, apalagi untuk mandi. Hanya orang gila saja yang melakukan hal itu.

Di sini, maka, ujaran “Mau ke toilet/WC”, atau “Mau ke kamar mandi”, atau “Mau ke kamar kecil” itu sejatinya cukup kompleks digunakan karena bisa menunjukkan makna yang berbeda. Akan tetapi, saya sangat meyakini, orang-orang (yang cukup waras) tak mau repot mengartikannya macam apa, sekalipun pakar bahasa yang sudah cukup mafhum. Mungkin, hanya orang macam saya yang sibuk mengurusi hal semacam ini. Tapi, alhamdulillah saya masih waras!

Oh, iya. Saya lupa. Saya ingin berbagi sedikit pengalaman terkait istilah toilet dan maknanya itu. Dalam ruang lingkup sekolah—bagi kalangan siswa— barangkali toilet mengalami pergeseran makna. Sejak zaman saya menjadi murid hingga kini menjadi guru, toilet adalah tempat paling nyawan yang paling banyak diburu oleh siswa—terutama laki-laki. Rinciannya begini. Sebelum bel masuk, mereka asyik nongkrong di toilet. Saat jam masuk, tak lama mereka permisi, lalu berlama-lama di toilet. Tempat itu konon adalah ruang berbagi inspirasi antarsiswa, kadang juga sesekali mereka merokok di dalamnya. Saat jam istirahat, mereka nongkrong lagi di toilet, membasuh muka dan rambut agar tidak kusut. Saat jam pulang, alhamdulillah mereka langsung menuju rumah. Coba bayangkan kalau mereka pulang dan menginap di toilet? Tapi, makna yang saya jabarkan di atas saya rasa cukup mewakili bagi beberapa sekolah yang juga mengalami hal serupa seperti di tempat saya. Semoga pergeseran makna toilet yang saya tawarkan di atas bisa dimasukkan dalam KBBI, mungkin edisi yaumil akhir (?)

Kembali kepada persoalan awal. Beberapa hari kemudian, siswa saya tak lagi menggunakan istilah yang biasa mereka gunakan itu. Kali ini mereka cukup berkata, “Pak, saya mau ke belakang!” Saya sedikit tahu, mereka ke belakang barangkali berarti ke kamar kecil/WC. Berselang waktu yang cukup lama, kok, mereka tak kunjung kembali. Saya malah jadi bingung, lama benar mereka ke kamar kecil itu. Apa yang sedang mereka kerjakan?

“Pak, mereka bukan ke kamar kecil. Mereka bolos, lompat dari pagar!” ujar salah seorang siswa yang melihat aksi temannya itu.

Oalah, saya kira belakang mana. Sebagai guru, saya kira, Anda harus lebih berhati-hati. Siswa kadang bisa lebih cerdas daripada Anda.

 

 
 

Biodata Penulis

Encep Abdullah, pemerhati bahasa dan aktivis literasi. Ia mendirikan Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) di kampung halamannya. Menulis di berbagai media lokal dan nasional. Buku bahasanya yang sudah terbit Cabe-cabean (Kubah Budaya, 2015).  Selain buku bahasa, ia juga menerbitkan buku fiksi. Salah satu buku terhangatnya adalah Lelaki Ompol (YCBK, 2017).

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler