Skip to Content

Kritik Sastra Feminis

Foto Uman Rejo SS

Pemberontakan Perempuan Bali terhadap Diskriminasi Kelas dan
Gender dalam Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini
(Perspektif Kajian Antropologi Sastra dengan Teori Feminis)


Pengantar

Sebuah karya sastra merupakan kebulatan yang utuh, khas, dan bisa berdiri sendiri, serta merupakan dunia keindahan dalam wujud bahasa yang telah dipenuhi dengan kehidupan dan realitas. Menurut Kurnia (2004: 227; 2009: 82) menyatakan bahwa karya sastra merupakan produk budaya. Karya sastra diyakini dapat mengkomunikasikan suatu pengalaman batin manusia berupa permasalahan kemanusiaan yang lahir dari pengarang sebagai pencipta, sekaligus sebagai bagian dari kelompok masyarakat setempat. Permasalahan yang diajukan oleh pengarang dapat bersifat permasalahan setempat, dapat juga bersifat kreasi rekaan yang berada dalam angan-angan pengarang. Kenyataan yang berada dalam angan-angan pengarang memberi kemungkinan dan keleluasaan untuk memperkenalkan pembaca pada dunia lain dengan sistem nilai kehidupan yang berbeda dengan sistem nilai kehidupan masyarakat setempat. Karya sastra lewat imajinasi dan konsep kehidupan pengarang dapat merupakan sarana untuk mendialogkan sisi lain pemikiran tentang kehidupan dan budaya masyarakat setempat.
Berdasarkan pemikiran tersebut, novel karya Oka Rusmini yang berjudul Tarian Bumi (2000) dipandang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengungkap pemikiran nilai-nilai yang hidup di tengah lingkungan budaya Bali. Gambaran pemikiran tersebut secara tidak langsung merupakan sarana mengekspresikan budaya lewat tokoh-tokoh dan masyarakat imajinernya. Satu dari banyak permasalahan yang diangkat dan diungkap oleh Oka Rusmini adalah diskriminasi kelas dan gender sebagaimana tergambar pada peran tokoh-tokoh dalam novel tersebut.
Struktur sosial masyarakat Bali, terutama perkastaan, menempatkan status kelompok juga individu dalam hierarki prestise masyarakat. Adanya status kelompok dan individu yang mewujud dalam perkastaan yang memunculkan diskriminasi kelas. Diskriminasi itu tampak pada pembagian peran, yakni pola kebutuhan, sikap, nilai, tingkah laku antarkelas (golongan), terutama antara kelas brahmana dengan kelas sudra yang pada akhirnya menimbulkan konflik rumit yang menempatkan golongan lemah pada posisi yang dikalahkan.
Diskriminasi kelas yang diangkat Oka Rusmini dalam Tarian Bumi adalah diskriminasi antara kasta brahmana dengan kasta sudra , sedangkan diskriminasi gender yang diangkat adalah diskriminasi antara laki-laki dengan perempuan. Ketidaksetaraan kasta pada tokoh-tokoh dalam Tarian Bumi menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan konflik kelas dan gender. Konflik kelas yang muncul adalah konflik antara tokoh Ida Ayu Sagra Pidada dengan Jero Kenanga (Luh Sekar); antara Jero Kenanga dengan ibunya Luh Dalem; dan antara Ida Ayu Telaga Pidada dengan ibunya, Jero Kenanga. Sementara itu, konflik gender yang muncul adalah konflik antara Ida Bagus Ngurah Pidada dengan Jero Kenanga; dan antara Ida Ayu Telaga Pidada dengan keluarga Wayan Sasmita.
Masalah-masalah tersebut terasa sangat menonjol dalam Tarian Bumi yang sekaligus sebagai daya tarik dan alasan pemilihan sebagai objek kajian, di samping alasan-alasan berikut. Pertama, novel tersebut ditulis oleh seorang penulis perempuan Bali yang nota bene adalah bangsawan (brahmana). Kedua, novel tersebut secara terbuka (baca: berani) memaparkan "kesadisan" aturan-aturan yang dipakemkan, baik pada masyakat kelas paling atas (brahmana) maupun kelas paling bawah (sudra). Ketiga, novel tersebut menampilkan tokoh-tokoh perempuan berkarakter kuat dan kukuh meskipun mengalami masalah bias gender. Berdasarkan pemahaman itulah, kajian terhadap novel Tarian Bumi ini dilakukan. Adapun permasalahan yang dibahas adalah bagaimanakah diskriminasi kelas, diskriminasi gender, dan perempuan memberontak terhadap diskriminasi kelas dan gender dalam Tarian Bumi.
Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah feminis, suatu kritik ideologis terhadap cara pandang yang mengabaikan permasalahan ketimpangan dan ketidakadilan dalam pemberian peran dan identitas sosial berdasarkan jenis kelamin (Budianta, 2002: 201). Dalam penerapannya, konsep itu dikaitkan dengan teori Marxis, yakni memperhatikan masalah kelas dengan gender. Hal itu sejalan dengan fungsi teori-teori feminis (Ratna, 2004: 186), sebagai alat kaum wanita untuk mempejuangkan hak-haknya, erat kaitannya dengan konflik kelas dan ras, khususnya konflik gender. Artinya, antara konflik kelas dengan feminisme memiliki asumsi asumsi yang sejajar, mendekonstruksi sistem dominasi dan hegemoni, pertentangan antara kelompok yang lemah dengan kelompok yang lebih kuat. Feminisme menolak ketidakadilan sebagai akibat masyarakat patriarkat, menolak sejarah dan filsafat sebagai disiplin yang berpusat pada laki-laki, subjek ego-centric (menggunakan pikiran-pikiran), sementara wanita sebagai hetero-centric (untuk orang lain). Oleh karena itulah, feminisme memiliki kaitan erat dengan Marxisme, seksisme, rasisme, dan perbudakan sebab ternyata paham-paham tersebut menyatakan adanya penindasan terhadap kelompok atau kelas lain yang lebih lemah. Dalam hubungan itu, teori-teori feminis mencoba memberikan jalan tengah untuk menemukan keseimbangan agar kedua belah pihak memperoleh makna sesuai dengan kondisi dalam masyarakatnya.
Teori feminis relevan untuk mengkaji pemberontakan perempuan Bali terhadap diskriminasi kelas dan gender dalam novel Tarian Bumi sebab pemberontakan perempuan terhadap diskriminasi kelas dan gender tidak selalu bersifat negatif. Karena diskriminasi itu pada dasarnya "diciptakan" oleh manusia (masyarakat) berdasarkan konsesi, diskriminasi harus ditantang, dibatasi, dan diubah oleh tekanan dari luar dalam ini perempuan sehingga terjadi keseimbangan antara kelas yang kuat (memiliki kekuasaan) brahmana dan laki-laki dengan kelas yang lemah (tidak memiliki kekuasaan sudra dan perempuan. Oleh karena itu, kajian dalam makalah ini rnenggunakan teori ferninis untuk mengungkap hubungan antara kelas brahmana-sudra dan laki-laki-perempuan dalam segala aktivitas kehidupan bermasyarakat.

Diskriminasi Kelas dalam Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini
Diskriminasi kelas dalam Tarian Bumi mengacu pada perbedaan peran, status, dan posisi antara kelas brahmana dengan kelas sudra yang termanifestasi lewat sikap dan perilaku tokoh Ida Ayu Sagra Pidada terhadap Luh Sekar (Jero Kenanga); sikap dan perilaku tokoh Ida Bagus Ngurah Pidada terhadap Jero Kenanga; dan sikap dan perilaku tokoh Jero Kenanga terhadap Ida Ayu Telaga Pidada (setelah kehilangan kebangsawanannya).
Diceritakan bahwa tokoh perempuan penari bernama Ni Luh Sekar berambisi untuk membangun generasi yang lebih baik dengan cara menggaet Ida Bagus Ngurah Pidada untuk menjadi suaminya. Dengan cara menikah dengan laki-laki brahmana, ia berharap mampu mengangkat derajat keluarganya, mengakhiri penderitaan-kemiskinan, kesialan (baca: karma) ibunya, Luh Dalem. Luh Dalem adalah perempuan yang selalu memperoleh kesialan ditinggal suaminya yang konon PKI, juga disiksa dan diperkosa oleh perampok yang mengakibatkan ia buta dan melahirkan dua anak perempuan kembar yang haram. Berkat kecerdikkan dan kemahiran dalam menari, Ni Luh Sekar berhasil disunting Ida Bagus Ngurah Pidada, anak semata wayang dari Ida Bagus Tugur dengan Ida Ayu Sagra Pidada.
Kesuksesan Luh Sekar ternyata hanya sampai pada menikah dengan laki-laki brahrnana, tidak ada kebahagiaan yang ia peroleh di balik kesuksesannya, hanya rasa sakit yang ia peroleh sepanjang hidupnya. Rasa sakit pertama yang harus ditanggungnya adalah tidak dapat lagi memakai nama Luh Sekar. Ni Luh Sekar harus sudah dianggap telah pergi. la harus membiasakan dengan nama baru, Jero Kenanga. Jero adalah nama yang harus dipakai oleh seorang perernpuan kebanyakan yang menikah dengan laki-laki bangsawan. la juga tidak dapat lagi bersembahyang di sanggah, pura keluarganya. Ibunya, Luh Dalem harus mernperlakukannya dengan sangat istimewa, harus menggunakan bahasa yang halus jika berbicara padanya, tidak boleh makan bersama, dan tidak berani menyentuh rambutnya.
Yang lebih menyakitkan lagi, ketika Luh meninggal, Luh Sekar tidak boleh memandikan dan menyentuh mayatnya karena Luh Sekar telah rnenjadi manusia yang derajatnya lebih tinggi daripada ibunya. ltulah pengorbanan yang harus dibayar Luh Sekar. la harus meninggalkan/kehilangan dunia yang ikut membentuk wujud keperempuannya. la harus membentuk dunia baru, dunia yang dianggap dapat mengangkat derajat keluarganya dan menjamin kehidupan lebih baik.
Di lingkungan griya , Luh Sekar diperlakukan sebagai manusia (perempuan) kelas bawah (sudra) yang tidak memiliki kekuasaan dan kebebasan baik sebagai istri maupun sebagai anggota keluarga griya meskipun secara sah ia telah menjadi keluarga griya yang ditandai dengan penggantian namanya menjadi Jero Kenanga. la harus rnengikuti semua perintah ibu mertuanya, Ida Ayu sagra Pidada. Suatu ketika ibu mertuanya menyuruh Jero Kenanga untuk mengikat kaki Ida Bagus Ngurah Pidada, suaminya, dalam kondisi mabuk sepulang dari adu ayam (hal.15). Dengan berlinang air mata, Jero Kenanga menuruti perintah ibu mertuanya.
Konon, Ida Ayu Sagra Pidada adalah putri bangsawan tertinggi, tercantik, dan terkaya di lingkungan griya. la adalah anak tunggal dari seorang pendeta yang ditunjuk sebagai sentana sehingga ia memiliki kedudukan lebih tinggi dan terhormat dibanding perempuan perempuan lain di griya. Dalam rumah tangga, ia berstatus sebagai suami yang melamar laki-laki sehingga memiliki kedudukan dan kekuasaan lebih tinggi dibanding suaminya, Ida Bagus Tugur yang berstatus sebagai istri. Dengan adanya perbedaan status, Ida Bagus Tugur pun sering mendapat perlakuan yang merendahkan derajatnya sebagai laki-laki. Demikian pula dalam hal pemberian nama anak, mereka mengikuti garis keturunan ibu yang terlihat dari nama belakang Ida Bagus Ngurah Pidada, anak laki-laki satu-satunya.
Aturan-aturan griya termanifestasi lewat sikap dan tingkah laku individu masing-masing golongan terasa sangat membelenggu dan menindas golongan yang lebih rendah. Dalam kelas yang sama, misalnya brahmana, pun masih ada diskriminasi kadar kebangsawanannya. Kadar kebangsawanan dapat berkurang apabila mereka tidak dapat mempertahankan kemurnian kebangsawanannya melalui perkawinan yang sederajat. Dalarn konteks Tarian Bumi, perbedaan kadar kebangsawanan dapat dilihat pada tokoh-tokoh golongan brahmana. Di dalam griya, Ida Ayu Sagra Pidada memiliki kadar kebangsawanan paling tinggi dibanding kebangsawanan Ida Bagus Tugur, Ida Bagus Ngurah Pidada, dan Ida Ayu Telaga Pidada meskipun mereka adalah golongan brahmana. Sementara itu, Jero Kenanga memiliki kadar kebangsawan paling rendah di dalam griya. Oleh karena itu, ia harus menghormati dan memperlakukan istimewa terhadap semua orang griya, termasuk Ida Ayu Telaga Pidada, anak kandungnya. Kepada Ida Ayu Telaga Pidada, ia harus memanggil Tugeg (Ratu Jegeg), sebutan untuk anak perempuan brahrnana bagi orang yang kastanya lebih rendah. Kadar kebangsawanan memang ikut menentukan tingkat kekuasaan. Semakin rendah kadar kebangsawanannya makin rendah pula tingkat kekuasaannya.
Wacana lain tentang diskriminasi kelas dalam Tarian Bumi dapat dilihat dari hubungan brahmana-sudra lewat hubungan individu antara Jero Kenanga dengan Ida Ayu Telaga Pidada, anaknya. Jero Kenanga yang memperoleh status kebangsawanan brahmana melalui kawin masuk, begitu gigih mernpertahankan kebangsawanannya. la menginginkan dapat menciptakan generasi yang lebih baik dan terhormat dari generasi keluarganya yang sudra. Oleh karena itu, ia memperketat aturan-aturan griya dan memaksa anak perempuan satu-satunya, Ida Ayu Telaga Pidada agar kelak bersuamikan seorang Ida Bagus (hal. 83 - 85).
Akan tetapi, betapa kecewanya ketika anaknya, Ida Ayu Telaga Pidada lebih memilih laki-laki sudra untuk dijadikan suaminya. Jero Kenanga tidak mengizinkan anaknya menikah dengan laki-laki selain laki-laki yang rnenggunakan narna depan Ida Bagus. Ida Ayu Telaga Pidada, akhirnya "kawin lari" dengan laki-laki pilihannya, yaitu Wayan Sasmita. Suatu ketika atas permintaan keluarga Wayan Sasmita, Ida Ayu Telaga Pidada mau rnelakukan upacara patiwangi , dan pamit leluhur, ia harus pamit terlebih kepada ibunya di griya. Dalam menanggapi keinginan anaknya itu, Jero Kenanga bersikap begitu angkuh dan naif, disebabkan bahwa anaknya, Ida Ayu Telaga Pidada yang semula berstatus sebagai brahmana telah turun derajat rnenjadi (Luh) Telaga yang berstatus sebagai sudra. Jero Kenanga yang angkuh itu dapat dilihat pada kutipan berikut.
"Meme, tiang ingin pamit. Tiang percaya Meme mendengar kata-kata tiang."
Masih tidak ada suara. Tetapi sebuah benda hampir saja melukai kaki Telaga. Benda yang dibungkus kain putih itu keluardari bawah pintu. Telaga mengambilnya. Membukanya pelan-pelan. Ada getaran aneh mengalir dari benda itu. Sebuah tusuk konde! "Untukmu." Hanya itu kata yang didengar Telaga (Tarian Bumi, hal. 220 - 221 ).

Sikap Jero Kenanga, ibu (meme) yang brahmana terhadap anaknya, Telaga yang sudra karena menikah dengan laki-laki sudra, menggambarkan betapa berkuasanya kelas brahmana terhadap kelas sudra sehingga tidak lagi mempertimbangkan hubungan darah dan kemanusiaan. Jero Kenanga yang berasal dari kelas sudra rnerasa lebih brahmana dari seorang brahrnana ask Telaga, karena telah menjadi seorang sudra dan kehilangan kebangsawanannya, ia "sah" diperlakukan sewenang-wenang oleh ibunya yang "brahmana". Kekuasaan, kesewenang-wenangan, dan penindasan selalu terjadi dalam diskriminasi kelas. Kelas yang rendah selalu kalah atau dikalahkan. Diskriminasi memang selalu merugikan (mengorbankan) pihak yang lebih lemah.

Diskriminasi Gender dalam Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini
Diskriminasi gender dalam Tarian Bumi mengacu pada perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang termanifestasi lewat sikap dan perilaku tokoh Ida Bagus Ngurah Pidada terhadap istrinya, Luh Sekar (Jero Kenanga); sikap dan perilaku Ida Bagus Tugur terhadap istrinya, Ida Ayu Sagra Pidada; dan sikap dan perilaku keluarga Wayan Sasmita terhadap Ida Ayu Telaga Pidada.
Dalam Tarian Bumi, kedudukan perempuan berada pada posisi yang terhegemoni oleh laki-laki, baik di sektor domestik maupun publik. Mereka harus dapat memahami bahwa dirinya adalah individu-individu kelas dua dalam kelompok masyarakatnya. Oleh karena itu, untuk memperoleh kebahagiaan hidup sebagai perempuan, mereka harus berjuang dengan kemampuan sendiri.
Ida Bagus Tugur semula mempunyai kedudukan lebih rendah dari Ida Ayu Sagra Pidada karena berstatus sebagai istri dalam rumah tangganya, berubah peran dan statusnya setelah memperoleh karir yang mampu mengangkat wibawa, baik di mata istrinya maupun dimata masyarakat (umum). la tidak lagi menjadi laki-laki yang kalah wibawa di depan istri dan tidak punya kekuasaan, tetapi menjadi laki-laki yang tidak peduli terhadap istri, bertingkah laku semaunya sendiri. Perubahan sikap itu digambarkan narator lewat pemikiran Ida Ayu Telaga pada kutipan berikut.
Terwujudnya impian itu telah membuat Ida Bagus Tugur merasa baru merniliki kekuasaan yang sesungguhnya. Laki-laki itu lupa, punya seorang anak laki-laki. Dia lupa telah beristri. Dia lupa, bahwa pernah nyentanain. Uang dan kedudukan membuat Kakek seperti lepas dari himpitan kemiskinan. Himpitan keluarga istrinya yang sering sekali dia anggap merendahkan derajatnya sebagai laki-laki. Padahal, Nenek telah berusaha menempatkan laki-lakinya sederajat dengan laki-laki lain di griya.
....
Laki-laki itu rnulai jarang di rurnah. Nenek juga takut menanyakan ke mana saja laki-laki itu pergi. Nenek takut ditinggalkan.
....
Sampai terdengar desas-desus, ternyata Kakek memiliki sirnpanan seorang penari yang sangat cantik. .... (Tarian Bumi, hal.18 - 19).

Kutipan itu merepresentasikan bahwa perempuan (istri) selalu terhegemoni oleh laki-laki dalam segala aspek kehidupan. Pada aspek ekonomi (pencari nafkah), IdaAyu Sagra Pidada (Nenek) sebenarnva telah menduduki status lebih tinggi dibandingkan Ida Bagus Tugur karena Ida Ayu Sagra Pidada berstatus sebagai sentana. Namun Demikian, ia berusaha mengangkat status laki-laki (suami) agar memiliki kedudukan yang sama dengan dirinya di mata keluarga dan masyarakat dengan cara memperlakukannya sederaiat. Setelah memperoleh jabatan sebagai lurah, lda Bagus Tugur bertingkah laku semaunya sendiri, tidak ada tanggung jawab terhadap keluarga. Dari aspek kehidupan rumah tangga, ia merendahkan istrinya, yang tergambar pada perilaku "memelihara" perempuan lain meskipun sang istri berusaha menghormatinya sebagai laki-laki (kepala rumah tangga) dengan menyiapkan makanan setiap hari.
Pemaharnan perempuan tentang posisi dan tanggung jawab sebagai perempuan juga tergambar melalui kata-kata atau pesan Luh Dalem kepada Luh Sekar, anaknya pada kutipan berikut.
"Perempuan Bali itu, Luh, perempuan yang tidak bisa mengeluarkan keluhan. Mereka lebih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup. Keringat rnereka adalah api. Keringat itulah asap dapur bisa tetap terjaga. Mereka tidak hanya menyusui anak yang lahir dari tubuh mereka. Mereka pun menyusui laki-laki. Kebahagiaan Telaga hanya berlangsung enam tahun. Wayan Sasmita meninggal dunia di dalam galerinya karena serangai jantung (hal.193)

Luh Gambreang, ibu Wayan menuduh Telaga sebagai sumber kesialan keluarganya. Semua orang beranggapan bahwa Wayan Sasmita mati karena kawin dengan seorang Ida Ayu yang ketika menikah belum pamit ke griya dan melakukan upacara pamit pada leluhurnya. la juga belum melakukan upacara patiwangi upacara penanggalan nama Ida Ayu, pelepasan kebangsawanan dari golongan brahmana ke sudra. Luh Gumbreng menuntut Telaga untuk segera melakukan upacara-upacara itu agar tidak selalu mendatangkan mala petaka di keluarganya.
Karena Telaga tidak mau dituduh terus menerus sebagai perempuan pembawa petaka, ia pun bersedia melakukan upacara pamit leluhur dan upacara patiwangi. Upacara pamit leluhur dilakukan tanpa kehadiran keluarga dari griya. Jero Kenanga juga tidak mau keluar dari griya ketika Telaga pamit. Telaga sebenarnya menginginkan ibunya, Jero Kenanga menginjak ubun-ubunnya terlebih dahulu sebelum orang lain melakukannya pada upacara patiwangi, tetapi
tidak berhasil.
Dengan perasaan sakit yang luar biasa, prosesi upacara Patiwangi dilakukan (hal. 222). Seorang pemangku mengucapkan mantra, sementara kaki Luh Gambreng diletakkan di kepala Telaga, tepat di ubun-ubunnya. Hati Telaga tersayat-sayat memperparah luka di hatinya. Telaga membiarkan perempuan tua itu mencuci kaki di ubun-ubunya untuk menjelmakan dirinya menjadi perempuan baru, perempuan sudra.
Uraian tentang sikap dan perilaku keluarga Wayan Sasmita dan peristiwa upacara patiwangi secara jelas menggambarkan bahwa kedudukan perempuan terutama pada sektor domestik menempati posisi yang lemah. Ida Ayu Telaga yang sebelum menikah adalah perempuan yang sangat dihormati oleh keluarga Wayan Sasmita, tetapi setelah menikah, masuk menjadi anggota keluarganya, menjadi perempuan yang seolah tidak ada tidak ada harganya. Betapa mengerikan
prosesi upacara patiwangi itu. Luh Gambreng yang biasa menempatkan Ida Ayu Telaga sebagai "sutya" dapat berbalik menempatkannya sebagai perempuan yang paling rendah dengan mencuci kakinya di atas ubun-ubun Telaga. Luh Grambreng sebagai wakil dari keluarga laki-laki (suami) mempunyai kedudukan dan kekuasaan lebih tinggi sehingga ia "boleh" melakukan apa pun yang dianggap sah menurutnya atau kelompok masyarakatnya atas dasar alasan yang tidak jelas yaitu sebagai perempuan pembawa sial. Sementara itu, bagi Telaga, penghinaan itu ia jalani demi cintanya kepada suami dan anaknya yang telah terlahir sebagai manusia sudra. Oleh karena itu, ia bersedia melakukan penderitaan apa pun untuk
mempertahankan kehidupannya, menjelmakan dirinya menjadi perempuan baru, perempuan sudra.

Pemberontakan Perempuan terhadap Diskriminasi Kelas dan Gender dalam Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini
Pemberontakan perempuan terhadap diskriminasi kelas dan gender dalam Tarian Bumi mengacu pada "perlawanan" yang dilakukan tokoh perempuan Luh Sekar dan tokoh Ida Ayu Telaga Pidada yang dapat diamati melalui sikap, perilaku, dan pikirannya. Sistem penstratifikasian manusia secara hierarkis dalam masyarakat Bali menjadi hal pertama yang ditentang oleh tokoh Ida Ayu Telaga Pidada.
Tokoh Luh Sekar yang yang mencoba meraih hak asasinya sebagai manusia (perempuan) untuk meraih kebahagiaan-kehormatan, dengan cara masuk ke kelas brahmana melalui perkawinan, tidak berhasil. Meskipun ia berhasil menikah dengan laki-laki brahmana, ia tidak pernah memperoleh kebahagiaan hidup dengan statusnya yang konon mampu mengangkat derajat keluarganya. Perlakuan orang-orang griya dan aturan-aturannya justru menjerat dirinya dalam penderitaan yang berkepanjangan.
Persoalan perkastaan mengakibatkan kerumitan pada soal perkawinan antara Ni Luh Sekar yang sudra dengan Ida Bagus Ngurah Pidada yang brahmana. Dalam keluarga griya, ia menjadi manusia (perempuan) yang terhegemoni oleh suami dan keluarganya. Persoalan lain yang tidak kalah rumitnya adalah persoalan
kehidupan lainnya. Dalarn bersosialisasi antarindividu, misalnya dalam berkomunikasi dengan "mantan" keluarganya yang sudra, harus ada jarak. Mereka, termasuk ibu kandungnya harus menggunakan bahasa yang halus jika berbicara dengan Ni Luh Sekar yang telah menjadi Jero Kenanga. Demikian pula dirinya, karena berasal dari kelas sudra, harus menghormati anak kandungnya sendiri dengan sebutan Tugeg (Ratu Jegeg) apabila rnemanggilnya. Persoalan lain yang tidak kalah rumit adalah dalam hal yang berkaitan dengan ritus keagamaan. Misalnya dalam hal sembahyang, ia tidak boleh melakukan di sanggah keluargnya yang sudra, bahkan untuk memandikan jenazah ibunya pun dilarang.
Sisi lain akibat dari perkastaan yang hierarkis adalah adanya diskriminasi gender. Dalam hal ini, perempuan sejajar dengan kelas bawah (sudra) yang berada di pihak yang dikalahkan. Tokoh perempuan Ida Ayu Telaga Pidada, anak Luh Sekar dengan Ida Bagus Telaga, mencoba meraih kebahagiaan sebagai perempuan dengan cara keluar dari lingkungan kebangsawanannya. Hal itu dilakukan atas dasar pengamatan dan pemahaman terhadap para lelaki brahmana yakni tokoh Ida Bagus Tugur, kakeknya dan Ida Bagus Ngurah Pidada, ayahnya. Di mata Ida Ayu Telaga Pidada, mereka adalah sosok laki-laki brahmana yang tidak bertanggung jawab. Kebiasaan mereka suka keluyuran, adu ayam, mabuk, dan mengumbar nafsu birahinya, terutama Ida Bagus Ngurah Pidada. Ayah Telaga ini tidak memiliki andil sedikit pun dalam mernbentuk dirinya sebagai perempuan. Bagi Telaga, ia adalah laki-laki ediot yang menjijikkan (hal.13).
Dengan demikian, dalam benak Ida Ayu Telaga, laki-laki brahmana adalah individu-individu yang tidak menarik, bahkan memuakkan sehingga ia mencoba berpaling kepada laki-laki sudra dengan harapan memperoleh kebahagiaan hidup sebagai manusia (perempuan). Meraih kebahagiaan dalarn kehidupan golongan sudra pun sangat sulit. Lagi-lagi ia terbentur dengan status dirinya sebagai perempuan. Perlakuan keluarga suaminya dan tuntutan keluarga atau adat memposisikan dirinya sebagai manusia yang lemah (kalah). Tuntutan keluarga suaminya untuk melakukan upacara patiwangi membuat dirinya sadar, betapa sulitnya menjadi perempuan.

Simpulan
Dalam konteks Tarian Bumi, sistem perkastaan di Bali yang hierarkis dan patriarkis membawa dampak-dampak negatif terhadap kaum lemah, yaitu kelas sudra dan kaum perempuan. Dampak-dampak negatif itu terlihat pada diskriminasi yang kental baik diskriminasi kelas rnaupun diskriminasi gender. Diskriminasi kelas sangat jelas dalam perbedaan peran, status, dan posisi antara kelas yang berkuasa, yaitu bramana dengan kelas yang tidak memiliki kekuasaan yaitu sudra.
Demikian pula dengan diskriminasi gender. la selalu muncul baik dalam kalangan bangsawan-brahmana, maupun dalam kalangan orang kebanyakan-sudra. Apabila dalam kelas brahmana ada lapis-lapis kadar kebangsawanan, dalarn kelas sudra pun ada meskipun tersamar. Dengan demikian, pemberontakan perempuan terhadap diskriminasi kelas dan gender dalam Tarian Bumi, tidak sepenuhnya memihak kepada golongan lemah yaitu sudra dan perempuan. Di sini, "pemberontak" masih berada pada situasi ambivalen, antara menentang dan menerima. Dua kubu yang bertentangan itu sama-sama memiliki sisi negatif rneskipun lebih cenderung pada kubu atau golongan kuat.

Daftar Pustaka
Atmadja, Nengah Bawa. 2010. Ajeg Bali: Gerakan, Identitas Kultural, dan Globalisasi. Yogyakarta: LKiS.
Barker, Chris. 2009. Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Budianta, Melani. 2002. “Pendekatan Feminisme terhadap Wacana” dalam Analisis Wacana. Yogyakarta: Kamal.
Djajanegara, Soenarjati. 2004. “Dari Marginal ke Mainstream: Perkembangan Penulis Wanita di Amerika” dalam Menyoal Sastra Marginal. Ibnu Wahyudi (editor). Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi (Edisi Revisi). Yogyakarta: Media Pressindo.
Geertz, Clifford. 2002. Hayat dan Karya: Antropolog sebagai Penulis dan Pengarang. Diindonesiakan oleh Landung Simantupang. Yogyakarta: LKiS.
Harvey, Penelope. 2009. “Feminisme dan Antropologi” dalam Pengantar Teori-teori Feminis Kontemporer. Stevi Jackson dan Jackie Jones (editor). Yogyakarta: Jalasutra.
Jackson, Stevi. 2009. “Teori Sosial Feminis” dalam Pengantar Teori-teori Feminis Kontemporer. Stevi Jackson dan Jackie Jones (editor). Yogyakarta: Jalasutra.
Kurnia, Fabiola Dharmawanti. 2004. ”Unsur Dualistik dalam Wacana Seksual Fiksi Bali: Kajian Intertekstualitas”. Dalam Prasasti, Jurnal Ilmu Sastra dan Seni, Vol. 54, Tahun XIV Agustus 2004 halaman 227-254.
. 2006. Bali dalam Dua Fiksi Oka Rusmini: Konkretisasi Budaya dalam Sastra. Disertasi tidak diterbitkan. Depok: Program Studi Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
. 2009. Pelangi Sastra dan Budaya. Surabaya: Unesa University Press.
Liliweri, Alo. 2009. Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta: LKiS.
Mansur, Fakih. 2001. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. “Antropologi Sastra” dalam Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
. 2010. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratih, In Bene. 2005. “Perempuan dan Teater” dalam Teori-teori Kebudayaan. Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto. Yogyakarta: Kanisius.
Rusmini, Oka. 2000. Tarian Bumi. Magelang: Indonesiatera.
Sudikan, Setya Yuwana. 2007. Antropologi Sastra. Surabaya: Unesa University Press.
Sugihastuti. 2000. Wanita di Mata Wanita: Perspektif Sajak-sajak Toety Heraty. Bandung: Nuansa.
. 2009. Rona Bahasa dan Sastra Indonesia: Tanggapan Penutur dan Pembacanya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sutarto, Ayu. 2010. “Harga Perempuan dalam Cerita Ande-ande Lumut dan Dewi Sri Tanjung” dalam Rona Budaya: Festchrift untuk Sapardi Djoko Damono. Riris K. Toha Sarumpaet dan Melani Budianta (editor). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Sutrisno, Mudji. 2005. “Penutup: Identitas Budaya Manusia Indonesia” dalam Teori-teori Kebudayaan. Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto. Yogyakarta: Kanisius.
Triadnyani, I Gusti Ayu Agung Mas. 2010. “Perempuan di Mata Oka Rusmini: Telaah Atas Kenanga dan Sagra” dalam Rona Budaya: Festchrift untuk Sapardi Djoko Damono. Riris K. Toha Sarumpaet dan Melani Budianta (editor). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Diindonesiakan Melani Budianta. Jakarta: PT Gramedia.

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler