Skip to Content

PECAH

Foto encep abdullah

 

Pikiran Rakyat, 15 April 2018

 Oleh Encep Abdullah

 

 

Beberapa bulan belakangan ini saya cukup rajin menonton ajang musik berbakat di salah satu stasiun televisi—yang sebentar lagi mungkin akan berakhir—, sebut saja Indonesian Idol. Beberapa kali pula saya mendengar istilah “pecah” yang diujarkan oleh pembawa acara tersebut (Daniel Mananta), juga oleh beberapa kontestan. Ujaran Daniel yang sering saya dengar, misalnya “Sumpah, penampilan lo pecah banget!” Sepecah apa penampilan para kontestan itu? Apakah penampilannya buruk?

Berikut makna istilah pecah dalam kamus: 1 terbelah menjadi beberapa bagian; 2 retak atau rekah (tentang kulit, tanah, dan sebagainya; 3 rusak atau belah kulitnya (dindingnya) hingga isinya keluar (tentang telur, ban, bisul, dan sebagainya; 4 menjadi cair atau bergumpal-gumpal (tentang air susu, santan, dan sebagainya) 5 bercerai-cerai (tidak bersatu atau tidak kompak lagi); hilang (tentang kepercayaan); 6 tersiar (tentang kabar, rahasia); 7 mulai (tentang perang); 8 kalah (tentang perang); 9 sember (tentang bunyi suara); 10 kl bubar; usai; 11 terkalahkan (tentang lawan); tercipta (tentang rekor baru).

Kalau dikaitkan dengan konteks makna pecah di atas, kita tidak akan menemukan jawaban atas maksud yang diujarkan oleh Daniel. Adapun makna nomor 9 itu tidak mengindikasikan bahwa yang dimaksud pecah adalah ‘sember’.

Penelusuran saya di internet barangkali bisa sedikit “memecahkan” masalah itu. Dalam laman kamusslang.com, pecah diartikan sebagai sebuah suasana yang luar biasa asyik, seru, dan menyenangkan. Begitu juga menurut Kamus Gaul (lihat.co.id/arti): 1 suasana seru, asyik, gokil, dan sedang high-nya; 2 suasana yang seru, kocak, ya, pokoknya momen-momen pas baru mulai saik-saiknya [asyik-asyiknya]; 3 sesuatu hal yang dianggap asyik atau menyenangkan. Jadi, inti dari kata pecah yang dimaksud Daniel adalah sesuatu/suasana yang luar biasa, seru, dan asyik.

Penggunaan istilah “pecah” sebenarnya sudah lama dipakai oleh  masyarakat kita, terutama kaum remaja. Entah karena saya kurang gaul atau apa, saya baru mendengar istilah itu lagi di televisi beberapa pekan ini. Beberapa tayangan musik selain Indonesian Idol, saya belum pernah mendengar istilah ini. Ajang musik semacam Dangdut Academy, misalnya, lebih sering menggunakan ungkapan “luar biasa” atau “masyaallah” atau “wow, wow, wow!”—bila ada kontestan yang sangat memukau—daripada istilah “pecah” atau serupa itu.

Manusia Indonesia pada zaman now memang sangat gemar menggunakan kata-kata yang berlawanan dengan makna aslinya. Ketakjuban sesorang kepada sesuatu, misalnya, yang seharusnya diujarkan dengan perkataan baik, justru diujarkan sebaliknya. Lidah para manusia—termasuk saya—terkadang suka berlebihan menilai sesuatu. Padahal sudah ada ungkapan-ungkapan fatis yang mungkin cukup familiar untuk menyatakan kekaguman, misalnya, wah, amboi, subhanallah, dan seterusnya. Faktor apa yang membuat mulut kita kesulitan menggunakan istilah ini? Barangkali karena faktor zaman now yang sudah mewabah itu.

Istilah-istilah yang serupa dengan “pecah” yang biasa digunakan oleh khalayak, misalnya gokil (gila), parah, edan, bahkan ada yang lebih ekstrem lagi, misalnya anjir, anjay, anjing, anjrit. Beberapa teman saya ada yang lebih memilih bedul, babi, dan sejenisnya. Istilah yang mungkin sering kita dengar sebagai ungkapan makian itu, kini malah beralih fungsi menjadi suatu ujaran yang mungkin “dianggap” baik. Ujaran-ujaran semacam itu sebenarnya menandakan bahwa penutur dan mitra tutur sudah sangat akrab. Tidak ada jarak dan basa-basi lagi di antara mereka. Oleh sebab itu, ujaran-ujaran tersebut bukanlah penghalang atau sebuah dosa yang harus disesali.

Kemarin, saya juga mendengar perkataan begini dari teman saya setelah saya memberikan sedikit uang kepadanya, “Astaga! Astagfirullah! Lo, kok, jadi nggak enakan begini sama gue. Santai aja, sih!” Berkali-kali ia ber-astaga dan ber-istigfar di hadapan saya. Perlakuan saya itu tidak lain sebagai bentuk rasa terima kasih saya atas hasil kerjanya sebagai petukang bangungan dadakan yang saya sewa beberapa waktu lalu. Niat saya adalah ingin membalas jasanya, tetapi ujaran teman saya itu seolah menyatakan bahwa ada yang kurang baik atau tepatya ia merasa tidak enak hati atas apa yang sudah saya lakukan itu. Padahal ketika saya tidak memberikan upah, saya lebih tidak enak hati lagi karena ia sudah banyak mengeluarkan keringatnya. Berselang beberapa menit setelah ujaranya itu, teman saya pun berucap syukur dan berterima kasih.

Ah, betapa ironi dan “pecahnya” hidup ini!

 

*Penulis adalah alumnus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pendiri Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (Banten).

 

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler