Skip to Content

SAPAAN

Foto encep abdullah

Oleh Encep Abdullah

 Dimuat di Haluan Padang, 25 Maret 2017

 

Beberapa waktu yang lalu saya mengirim paket buku saya kepada salah seorang kawan asal Cilegon bernama (pena) Gulmania Nagiri. Alamat yang ia kirim kepada saya:

 

Rusniati (Mamah Fatih)

Perum Taman Warnasari Indah, Blok ...

Kec. Citangkil ...

 

Rusniati adalah nama asli dari nama pena-nya itu. Namun, bukan itu yang saya tanyakan. Apa maksud dalam kurung “Mamah Fatih”? Siapa “Fatih”? Apa mungkin anak Rusniati? Karena sebelumnya saya memang tahu, Rusniati sudah menikah—saya tak sempat hadir waktu itu, semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warahmah. Beberapa bulan kemudian mungkin ia hamil, melahirkan dan punya anak, dan ia memberi nama anaknya itu “Fatih”.  

Tak henti saya meyakini bahwa maksud Rusniati—atau biasa saya panggil “Ade” (mengapa juga harus Ade?) Ah, itu soal lain—bukan bermaksud pamer kalau ia sudah punya anak, sedangkan saya belum. Barangkali maksudnya, siapa tahu paket kiriman saya itu nyasar ke rumah orang lain. Dan, orang lain itu tahu, “Oh ini punya Mamahnya Fatih”—karena biasanya nama anak lebih melekat di telinga para tetangga ketimbang nama ibunya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa harus ada peralihan nama dari Rusnati menjadi Mamah Fatih setelah punya anak? Entahlah.

Nah, hal itu pernah terjadi kepada ibu saya. Waktu itu tetangga rumah—sekarang sudah pindah—selalu menyapa ibu saya dengan nama “Encep”—nama saya. Jadi, kalau ia memanggil-manggil nama saya dari rumahnya itu, saya malah bingung. Tetangga saya itu sebenarnya memanggil saya atau ibu saya. Kadang saya keluar menemuinya, tetapi saya salah. Ia ternyata memanggil ibu saya. Kadang, tetangga lain pun sering menyapa ibu saya dengan nama adik terakhir saya, Qonita. Begitu pun sebaliknya.

Dulu, saya selalu menyapa tetangga yang kini sudah pindah rumah itu bukan dengan nama aslinya. Saya menyapanya “Ibu Mprit” karena barangkali suaminya sering disapa orang-orang dengan “Pak Mprit”—meski nama aslinya Supriatman. Nama asli Ibu Mprit itu “Yeti.” Kadang ibu saya memanggilnya cukup “Yeti” saja, kadang juga memanggilnya “Caca” karena anak terakhir Ibu Mprit ini bernama “Caca.”

Mengapa ibu saya tidak menyapa Ibu Mprit dengan “Mamah Feby”—karena anak pertama Ibu Mprit bernama Feby Hermana. Mengapa ibu saya harus menyapanya “Caca”? Bukankah Caca anak terakhir Ibu Mprit, sedangkan Ibu Mprit menyapa ibu saya dengan nama saya, “Encep”—saya adalah anak pertama. Sebenarnya yang punya predikat penting untuk menggantikan nama ibu itu anak pertama atau anak terakhir? Tidak ada referensi atau kejelasan. Semua manasuka. Sesuka hati, begitu saja.

Fenomena ini memang cukup berkeliaran di masyarakat kita—terutama di kota dan di kompleks perumahan. Salah satunya di tempat saya. Saya tinggal di Perumahan Bumi Ciruas Permai (BCP). Saya dan istri saya adalah orang baru yang menempati perumahan tersebut. Tetangga sebelah, yang saya tahu, sering disapa “Bapak Njep” dan “Mamah Njep” (suami-istri). Oh, mungkin nama tetangga saya itu memang Njep—hampir mirip dengan nama saya: EncepàNcep.

Setelah beberapa hari saya tinggal di perumahan tersebut, ada seseorang yang bertanya, “Rumah Ibu Anu (saya lupa ia menyebut siapa) di mana?” Sedangkan yang saya tahu hanya nama Bapak Njep itu. Saya tidak bisa menunjukkan rumah mana yang orang itu tuju. Saya bilang saja “Saya masih baru di sini. Jadi, saya kurang tahu.” Di dalam rumah, saya bertanya lagi kepada diri saya sendiri, “Kira-kira nama asli bapak dan ibu tetangga sebelah itu siapa ya?” Yang saya tahu hanya, Pak Njep. Tak lama, saya mendekati rumah tetangga itu untuk memastikan diri. Di depan rumahnya ada papan nama tertulis “Jefri.” Kok Jefri? Oh, berarti nama bapak yang punya rumah ini, Jefri.

Sayangnya, tak lama kemudian ada seorang remaja memanggil-manggil nama “Jefri” dengan suara lantang. Tentu saja suara itu terdengar jelas karena rumah Pak Njep berdempetan dengan rumah saya—tepatnya kontrakan—, “Kok, anak itu tidak sopan, ya, memanggil Pak Njep dengan Jefri?”—Maksud saya, ia memanggil namanya langsung, tanpa sapaan “Pak”.

Saya mengamati dari jendela, yang keluar dari rumah tetangga sebelah malah anak Pak Njep. Ternyata nama Jefri itu adalah nama anak Pak Njep. Nama Njep berasal dari Jefri. Dan, nama itu pun secara otomatis disematkan untuk sapaan bapak-ibunya: Bapak Njep dan Mamah (baca: Mama) Njep. Aih, aing lier! Jujur, sampai sekarang pun saya tidak tahu nama asli Bapak Njep dan Mamah Njep itu siapa.

Kemarin, saya juga sempat menghadiri kegiatan sekolah di Serang. Saya membawa istri saya. Kemudian, rekan-rekan saya—guru—menyapa istri saya dengan “Ibu Encep”. Padahal nama aslinya Siti Suharyani. Mengapa rekan-rekan saya tidak bertanya saja, “Siapa nama Teteh?” Bukankah dengan begitu keakraban lebih terjalin ketimbang harus menyapanya “Ibu Encep”—nama saya. Apakah memang budaya manusia Indonesia itu malas bertanya langsung? Termasuk saya kepada tetangga saya itu?

Ah, barangkali tak seharusnya saya menyalahkan siapa pun. Hal ini, toh, memang terjadi begitu saja. Tanpa direkayasa maupun dibuat-buat. Makna sebuah kata atau sapaan, toh, kadang bisa sendirinya dipahami oleh masyarakat. Mengapa harus disapa begini, mengapa harus disapa begitu. Bisa dianggap baik, bisa juga dianggap buruk. Dalam bahasa Indonesia, kasus Mamah Njep atau Bapak Njep memang mengalami ketaksaan, yakni bisa bermakna ganda (1) Njep (Jefri) nama asli si bapak/ibu itu dan (2) Njep (Jefri) nama anak si bapak/ibu itu.

Aih, kelak saya punya anak, kemudian saya memberinya nama “Bambang”, apakah nama saya dan istri saya otomatis ikut berganti juga menjadi “Pak Bambang” dan “Bu Bambang?” Ah, tak apalah, asal jangan “Pak Bimbang” dan “Bu Bimbang” saja!

 

Encep Abdullah, alumnus Untirta Banten dan aktivis Kubah Budaya. Buku bahasanya yang sudah terbit Cabe-cabean (Kubah Budaya, 2015). 

 Nomor kontak: 087771480255.

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler