Skip to Content

ANAK-ANAK YANG DEWASA SEBELUM WAKTUNYA

Foto encep abdullah

 

Dimuat di Satelit News, Rabu, 22 April 2015


Oleh Encep Abdullah

 

 

Setahun belakangan ini, dunia hiburan di televisi kembali dirajai oleh musik dangdut. Karena ratingnya naik, tentu saja jam tayang pun semakin lama. Animo masyarakat pun tak terbendung mengikuti arus. Dua media yang heboh mendangdut adalah MNC tv dan Indosiar. Setiap malam keduanya saling bersaing merebut hati pemirsa. Bahkan, sore hari pun acara sudah dimulai. Pemirsa dari kalangan ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, hingga anak-anak, saling berebut remot televisi—ini terjadi kalau televisi di rumah memang terbatas. Bapak-bapak pengin menonton berita atau bola, ibu-ibu pengin menonton dangdut, remaja pengin menonton GGS (Ganteng-Ganteng Serigala), sedangkan anak-anak di bawah umur hanya pasrah mengikuti orang tua karena memang tak ada tayangan anak-anak di malam hari. Anak-anak hanya gigit jari!

Selain itu, ada juga keluarga seisi rumah yang kompak satu suara menonton dangdut. Karena maraknya dangdut, bapak-bapak dan para remaja yang tak sepaham dengan ibu-ibu pun mengalah. Tayangan favorit mereka pun tersingkirkan. Akhirnya, mereka mengikut kepada mulut ibu-ibu yang ‘cerewet’ itu. Mengapa saya sebut ibu-ibu? Karena rata-rata yang menguasai remot televisi untuk urusan dangdut adalah ibu-ibu. Begitulah fakta yang saya temukan—entah bagi Anda. Terutama di kampung-kampung, dangdut tak pernah sepi. Tak pernah terlewatkan. Lantas, siapa yang jadi korban?

Saya sebut saja anak-anak—terutama yang masih balita dan sekolah dasar. Anak-anak yang setiap hari dicekoki orangtuanya menonton dangdut ternyata secara tidak langsung mengubah perilaku anak-anak tersebut. Ini terjadi pada salah satu anggota keluarga saya— adik saya.  Ia perempuan dan masih kelas tiga sekolah dasar.

Begini ceritanya, suatu hari tiba-tiba adik saya menangis dihadapan ibu saya. Ketika ditanya, adik saya diam saja. Ibu saya agak kesal. Ibu saya bertanya lagi. Adik saya pun menjawab sambil menangis “beli kaset (CD) akumah apa atuh!” Ibu saya langsung mengerti, karena ia juga hobi dangdut. “Itu salah satu lagu Cita-Citata, kan,” ujar ibu saya. Lalu ibu pun menyuruh saya mengantar adik membeli CD Cita-Citata (tentu yang bajakan karena di kampung tidak ada penjual CD original). Saya hanya geleng-geleng kepala sambil bercibir “Ibu dan anak sama saja!”

Kepada ibu, barangkali saya tak menyoal. Yang saya prihatinkan adalah perilaku adik saya yang menangis hanya demi Citata-Citata itu, demi dangdut. Mengapa bukan menangis minta buku, atau minta lagu anak-anak, atau apa, yang sekiranya masuk akal untuk seusianya. Di rumah, adik saya pun tak kenal waktu memutar lagu “Aku mah apa atuh” dari Cita-Citata itu.

Yang membuat saya heboh, ia mengajak teman-teman seusianya ke rumah. Beberapa hari kemudian, adik saya dan teman-temannya itu tiba-tiba mendadak hapal lagu-lagu dangdut itu. Juga ikut berlenggak-lenggok seperti penyanyi yang dilihatnya itu. Bagaimana kalau apa yang dilihatnya itu adalah sesuatu yang tidak senonoh. Toh, banyak artis dangdut yang tak keruan berpakaian dan berlenggak-lenggok. Untung saja ketika saya membeli CD itu, videonya masih tergolong standar. Jadi, saya tak begitu khawatir. Karena di luar sana, sebut saja di youtube, banyak video Cita-Citata yang model klipnya tak layak dilihat oleh anak-anak (baca: cewek seksi).

 Jujur, sebagai kakak, juga sebagai penghuni rumah, saya cukup terganggu dengan ulah adik saya itu. Akhirnya saya nasihati, jangan terlalu kencang volume televisinya. Juga jangan berisik mulutnya. Ia dan teman-temannya duet, sekaligus adu hapalan lagu. Saya semakin geleng-geleng kepala. Saya larang pun mereka pasti akan memberontak dan menyalahkan saya, juga orangtua saya. Seperti yang sudah-sudah.

Sepertinya adik saya sudah lelah. Ia pun mematikan televisi dan berpindah ke kamar saya. Tiba-tiba ia bertanya pada saya yang sedang membaca buku, “Kak, selingkuh itu apa, pacar gelap itu apa?” Saya menelan ludah mendengarnya. Saya yakin pertanyaan itu adalah reaksi atas lagu Cita-Citata itu, juga karena sampai ia menghapal liriknya itu. ‘Selingkuh’ tidak saya jawab, hanya ‘pacar gelap’ yang saya jawab. Itu pun sambil bercanda. Entah, ia mengerti atau tidak. Dalam hati kecil, saya amat cemas, inikah generasi anak-anak zaman sekarang?

Di bawah ini, saya tulis beberapa lirik lagu Cita-Citata yang saya dapatkan dari internet.

 

Aku mah apa atuh cuma selingkuhan kamu

Aku mah apa atuh pacar gelapmu

(Aku Mah Apa Atuh)

 

Sakitnya hatiku hancurnya jiwaku

Di depan matamu kau sedang bercumbu

(Sakitnya Tuh Di Sini)

 

Abang pilih yang mana

Perawan atau janda?

Perawan memang menawan

Janda lebih menggoda

(Perawan atau Janda )

 

            Coba Anda perhatikan lirik-lirik di atas. Lirik lagu seperti cumbu, pacar gelap, perawan atau janda (mana yang menggoda) tentu saja bukan untuk dinyanyikan oleh anak-anak, melainkan untuk orang dewasa. Beberapa hari setelah pertanyaan di atas, adik saya bertanya lagi tentang lirik-lirik yang lain kepada saya—ini sudah saya duga sebelumnya. Dalam hati saya “lama-lama, otak adik saya rusak!”. Itu baru satu kumpulan lagu Cita-Citata yang menurut saya masih standar—meski tidak bagi anak-anak. Lalu, bagaimana dengan lirik-lirik lagu dangdut lainya, yang beberapa di antaranya sangat ekstrem dan menjurus kepada hal-hal yang lebih  mendewasa. Bukankah hal demikian akan berdampak pada pola pikir anak-anak, bahkan bisa mengubah perilaku menjadi anak-anak yang dewasa sebelum waktunya.

Pada akhirnya, semua itu dikembalikan kepada peran Anda sebagai orangtua. Karena saya belum berstatus sebagai orangtua, posisi saya masih terkalahkan dengan pola pikir orangtua saya—terutama ibu. Jadi, apa mau di kata, saya lebih memilih masuk kamar dan membaca buku ketimbang menonton televisi! Karena itu satu-satunya cara saya mengalihkan perhatian adik saya agar otaknya kembali segar pada ilmu pengetahuan.

             Dari pernyataan saya itu, tenang, Anda yang menyukai dangdut tak usah risau. Saya tak menyalahkan profesi penyanyi atau lirik lagu atau acara dangdut yang sedang booming itu. Saya hanya prihatin saja atas apa yang terjadi pada adik saya. Saya percaya, di satu sisi musik dangdut juga banyak manfaatnya. Selain menghibur, juga bisa mengubah derajat seseorang. Dan itu sesuatu yang patut dibanggakan. Karena dengan berkesenian, para penyanyi (yang kontes itu)  setidaknya mempunyai harapan agar hidup menjadi lebih baik lagi. Nah, terkait anak-anak yang dewasa sebelum waktunya, itu berserah Anda, berserah didikan Anda!

 

*Encep Abdullah, alumnus Diksatrasia Untirta dan penikmat dangdut.

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler