Skip to Content

Antropologi Sastra

Foto Uman Rejo SS

Antropologi Sastra

Secara umum, antropologi diartikan sebagai suatu pengetahuan atau kajian terhadap perilaku manusia. Antropologi melihat semua aspek budaya manusia dan masyarakat sebagai kelompok variabel yang berinteraksi. Sedangkan sastra diyakini merupakan cermin kehidupan masyarakat pendukungnya. Bahkan, sastra menjadi ciri identitas suatu bangsa.

Antropologi sastra (dianggap) menjadi salah satu teori atau kajian sastra yang menelaah hubungan antara sastra dan budaya terutama untuk mengamati bagaimana sastra itu digunakan sehari-hari sebagai alat dalam tindakan bermasyarakat. Kajian antropologi sastra adalah menelaah struktur sastra (novel, cerpen, puisi, drama, cerita rakyat) lalu menghubungkannya dengan konsep atau konteks situasi sosial budayanya. Pendekatan antropologi sastra cenderung diterapkan dengan observasi jangka panjang. Pendekatan ini juga kerap bersentuhan dengan kajian antropologi sastra.

Pada gilirannya, antropologi sastra, tampil untuk mencoba menutup kelemahan dan kekurangan yang ada pada telaah teks sastra itu (analisis secara structural). Atau sebaliknya melalui sastra, kelemahan dan kekurangan data budaya dapat tertutupi. Jadi secara umum, antropogi sastra dapat diartikan sebagai kajian terhadap pengaruh timbal balik antara sastra dan kebudayaan.

Hubungan antara Sastra dan Kebudayaan

Secara harfiah, sastra merupakan alat untuk mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, dan intruksi yang baik. Sedangkan kebudayaan adalah keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat-istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah laku. Jadi, sastra dan kebudayaan berbagi wilayah yang sama, aktivitas manusia, tetapi dengan cara yang berbeda, sastra melalui kemampuan imajinasi dan kreativitas (sebagai kemampuan emosionalitas), sedangkan kebudayaan lebih banyak melalui kemampuan akal, sebagai kemampuan intelektualitas. Kebudayaan mengolah alam hasilnya adalah perumahan, pertanian, hutan, dan sebagainya. Sedangkan sastra mengolah alam melalui kemampuan tulisan, membangun dunia baru sebagai ‘dunia dalam kata’, hasilnya adalah jenis-jenis karya sastra, seperti: puisi, novel, drama, cerita-cerita rakyat, dan sebagainya.

Pada prinsipnya hubungan antara sastra dan kebudayaan (antropologi sastra, sosiologi sastra, atau fsikologi sastra) lahir karena analisis dengan memanfaatkan teori-teori strukturalisme terlalu asik dan monoton dengan unsur-unsur intrinsik (tema, alur, penotokohan, latar) sehingga melupakan aspek-aspek yang berada diluarnya, yaitu aspek sosiokulturalnya. Intensitas hubungan antara sastra dan kebudayaan juga dipicu lahirnya perhatian terhadap kebudayaan, sebagai studi kultural.

Kenyataan menunjukkan bahwa telah terjadi kesalahpahaman dalam menjelaskan hubungan sekaligus peranan sastra terhadap studi kebudayaan. Kesalahan tersebut sebagian besar diakibatkan oleh adanya perbedaan dalam menyimak hakikat sastra sebagai imajinasi, rekaan, dan kreativitas, termasuk pemakaian bahasa metaforis konotatif. Dalam hubungan inilah disebutkan bahwa kenyataan dalam karya sastravsebagai kenyataan yang ‘mungkin’ telah dan akan terjadi.

Penelitian terhadap dongeng, yang sebagian besar isinya adalah khayalan, tidak dengan sendirinya akan menghasilkan penelitian yang bersifat khayalan. Sebuah cerpen dengan tokoh utama tanpa kepala, misalnya, hasil analisisnya akan memberikan kesimpulan bahwa pada suatu masa tertentu, telah lahir para pemimpin yang tidak bijaksana sebab para pemimpin tidak memiliki otak. Analisis bait dan baris-baris puisi Chairil Anwar, ‘Aku Ini Binatang Jalang’ tidak berarti manusia sama dengan binatang, sebagai analisis biologis, melainkan melalui pemahaman sifat manusia pada saat tertentu, dalam hal ini masa penjajahan. Pada saat itu, bangsa Indonesia mengidentifikasikan dirinya sebagai binatang buas. Kebenaran hasil analisis ini tentunya setelah dikaitkan dengan berbagai maslah lain (ekstrinsik). Dalam hal inilah terkandung peranan sastra dalam studi kultural. Karya sastra adalah rekaman peristiwa-peristiwa kebudayaan.

Masalah-masalah perempuan Indonesia, misalnya dapat dijelaskan lebih mendalam setelah membaca novel-novel Balai Pustaka, Pujangga Baru, dan novel-novel populer yang terbit tahun 1970-an. Kehidupan priyayi Jawa dapat dipahami secara intens melalui Para Priyayi (Umar Kayam), kasta di Bali melalui Tarian Bumi (Oka Rusmini), ronggeng di Jawa melalui karya-karya Ahmad Tohari, komunisme di Indonesia melalui karya-karya para pengarang Lekra. Tanggapan masyarakat Barat terhadap Timur terkandung dalam beberapa karya Shakespeare.

Sebagai dimensi pluralitas, teks (sastra) menampilkan keragaman budaya Sastra modern seperti: novel, puisi, cerpen, dan drama, demikian juga sastra lama seperti: babad, dongeng, dan cerita rakyat termasuk peribahasa, humor, pantun, dan berbagai tradisi lisan yang lain, merupakan objek studi kebudayaan yang kaya dengan nilai. Sebagai dimensi pluralitas, teks (sastra) menampilkan keragaman budaya, menembus makna di balik gejala. Dan untuk menembus makna di balik gejala itu diciptakan jalan dan jembatan, antropologi sastra salah satunya.

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler