Skip to Content

MANDI BASAH

Foto encep abdullah

Oleh Encep Abdullah

 

Dimuat di Pikiran Rakyat, 6 Agustus 2017

Selepas menulis tentang kamar mandi, saya tertarik dengan mandi basah. Frasa yang satu ini memang cukup sensitif, terutama bagi kalangan remaja yang sudah akil balig. Sebagian dari mereka pasti sudah paham maksud dari frasa ini. Sebagian lagi masih mereka-reka sebab musababnya. Mengapa harus mandi basah? Apa itu mandi basah? Mengapa harus disebut mandi basah? Bukankah kalau mandi memang basah?

Di tempat saya, frasa ini masih banyak digunakan. Padahal dalam KBBI, mandi basah sama sekali tidak tertera. Istilah yang tertera adalah mandi besar, mandi janabat, mandi junub, mandi hadas, mandi luas, dan mandi wajib. Frasa yang memiliki arti yang dijabarkan hanya mandi janabat dan mandi wajib, selebihnya mengacu kepada makna mandi janabat. Mandi janabat berarti mandi untuk bersuci diri (sehabis bersetubuh atau keluar mani), sedangkan mandi wajib berarti mandi untuk bersuci dari hadas besar (junub, keluar mani, nifas, dsb.). Dalam hal ini, mandi wajib maknanya lebih spesifik. Seharusnya semua frasa di atas mengacu kepada frasa mandi wajib bukan kepada mandi janabat.

Selain itu, ada sesuatu yang mengganjal, dalam kamus justru kata janabat sendiri tidak tertera. Setelah saya telusuri yang ada adalah kata janabah. Itu pun maknanya mengacu kepada junub. Jadi, yang baku janabah, janabat, atau junub? Kepala saya agak kebelinger. Kata Junub sendiri berarti keadaan kotor karena keluar mani atau bersetubuh yang mewajibkan seseorang mandi dengan membasahi (membersihkan) tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki; keadaan berhadas yang mengharuskan mandi wajib; janabah. Dalam penjelasan kamus itu tertera pula kata janabah. Berarti dapat dipastikan bahwa janabat itu belum masuk kategori bahasa Indonesia, ia masih dinobatkan sebagai bahasa Arab. Sesuai kaidah yang berlaku, berarti penulisan janabat dalam mandi janabat harusnya cetak miring. Lalu, mengapa kata itu seolah menjadi “raja” di dalam kamus?

            Mengamati hal demikian bagi saya seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Mencari satu kata dalam tumpukan kata-kata di dalam kamus bukan sesuatu yang mudah. Untung saya tak sengaja menemukannya. Jadi, saya tidak cukup pusing menuliskannya kembali dalam bentuk artikel ini sebagai bahan koreksi bersama.

            Baik, kembali kepada istilah mandi basah. Mengapa masih ada orang yang memilih diksi itu padahal sudah ada yang lebih populer seperti istilah mandi wajib di atas? Sebagian orang barangkali mengacu kepada istilah mimpi basah, yang berarti mimpi yang berisi aktivitas seksual dan menyebabkan keluarnya air mani. Bagi umat muslim, setelah mimpi basah, ya, harus mandi. Karena mimpinya basah, mandi pun harus basah. Jadi, seolah penyeragaman istilah. Padahal makna kata basah keduanya berbeda. Mimpi basah hanya bagian tertentu saja yang basah (tentu saja bukan ompol), sedangkan mandi basah (wajib) seluruh tubuh harus basah. Barangkali ini yang disebut wajib.

            Selain itu, perbedaan keduanya, yakni mimpi basah berdiri sendiri di dalam kamus. Tidak ada mimpi besar, mimpi janabat, mimpi hadas, mimpi luas, atau mimpi wajib. Padahal, kalau memang mau adil, ya, istilah itu pun bolehlah digunakan agar mimpi basah tidak cemburu dengan mandi janabat atau mandi wajib yang ada di dalam kamus.

            Keberagaman penggunaan istilah itu di satu sisi justru memperkaya bahasa Indonesia kita. Oleh karena itu, tak dilarang bila kita mau mengkreasikan sendiri bentuknya, misalnya sesekali kita popolerkan mimpi besar, mimpi wajib, atau barangkali mimpi seks atau mimpi bersetubuh yang mungkin maknanya lebih terang. Hanya, penggunaan istilah idiomatis (dalam hal ini) mungkin dirasa lebih santun ketimbang harus memilih mimpi seks atau mimpi bersetubuh. Selain itu, ada kemungkinan daya tarik tersendiri, terutama bagi kaum ABG sehingga mereka bisa lebih dekat memaknainya. Bukankah mecari tahu istilah itu bagian dari semangat juang mereka belajar bahasa Indonesia?

Istilah mimpi basah dan mandi basah (semoga istilah ini bisa masuk ke deretan daftar kamus edisi berikutnya) bisa lebih merangsang otak seseorang untuk mencari sumber muasal maknanya yang ambigu itu. Sebagian orang memang senang dengan keambiguan, sebagian lagi senang dengan sesuatu yang jelas, gamblang, dan terang benderang.

Baiklah, tak perlu panjang lebar. Saya sudahi saya artikel pendek ini. Pesan saya hanya satu: “Ingat, kalau Anda mimpi basah jangan lupa mandi basah, ya!”

 

BIODATA PENULIS

Encep Abdullah, pemerhati bahasa, alumnus Untirta Banten. Tulisan bahasanya yang dimuat di berbagai media dibukukan tunggal dalam Cabe-cabean (Kubah Budaya, 2015).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler